
"Kau sangat menyebalkan!" kesal Sheria. Dia berdiri dan ingin meninggalkan Chade. Dia ingin mencari tahu bagaimana bisa Chade ada di dalam pesawat yang sama dengan dirinya.
Namun, saat Sheria berdiri, tangannya dicekal oleh Chade yang otomatis membuatnya duduk lagi.
"Lain kali kalau kau menyentuhku tanpa permisi begini, aku akan benar-benar menembak kelapamu!" ancam Sheria.
Chade mengangkat kedua tangannya karena ancaman itu. "Bisakah dengarkan aku sebentar?"
"Memangnya kau pernah meminta persetujuanku?" sinis Sheria.
"Setidaknya jika ingin menembak kepalaku, tunggu benjolnya hilang dulu. Kau akan membuat kepalaku tidak punya harga diri," balas Chade seraya memegangi kepalanya yang diperban di bagian benjolnya.
Sebenarnya Sheria ingin tertawa mendengar itu tapi dia sekuat tenaga menahannya.
"Dasar bodoh!" umpat Sheria. Dia memilih mengalihkannya dengan umpatan.
Chade tersenyum miring karena emosi Sheria yang menurun. Kalau sudah begitu, dia akan menjelaskan semuanya pada gadis itu.
"Kau tenang saja, ini semua rencanaku dengan ayahku," ungkap Chade.
Sheria mengerutkan keningnya mendengar pernyataan Chade itu. "Apa maksudmu? Bukankah kau selama ini membantu Ronan?"
"Aku membantu dan memastikan supaya mereka tidak menyerang keluarga Brown atau Volstaire lagi. The Green Hornet dan The Eagle sudah mulai kembali menunjukkan eksistensi mereka jadi aku berencana akan merebut organisasi itu," jelas Chade.
Bola mata Sheria terbelalak mendengar itu, dia tidak percaya kalau Chade merencanakan hal sebesar itu seorang diri di kandang musuh.
"Aku tahu kau mengamati kami selama ini jadi aku menangkap anggotamu sebagai pancingan untuk membawa Ronan dan Aaron di satu titik," jelas Chade lagi.
"Jadi, ini yang membuatmu kembali?" tanya Sheria.
Jantung Sheria berdegup kencang tiba-tiba, kalau dulu pasti dia akan memukul Chade karena menganggap kata-kata seperti itu adalah lelucon tapi kalau sekarang rasanya sangat aneh. Apalagi Sheria tahu kalau laki-laki itu menganggapnya wanita.
"Maafkan aku Sheria, aku terpaksa melakukannya," sambung Chade. Dia membicarakan masalah penusukan dua tahun lalu.
Chade harus bisa meyakinkan Ronan waktu itu. Andai Sheria tahu kalau dia tidak bisa tidur berhari-hari karena memikirkannya apalagi ditambah Sheria yang menerima perasaan Bryan.
Suasana jadi hening karena Sheria tidak akan mudah luluh dengan kata-kata seperti.
"Kami semua mengalami kesulitan selama dua tahun ini, kami semua sibuk sampai lupa akan keberadaan Ronan, saat semua sudah kembali stabil tiba-tiba kau datang mengatakan rindu dan maaf. Kau tahu, kau sangat brengsekk!!"
Sheria mengepalkan kedua tangannya karena masih tidak terima dengan apa yang dialami keluarganya.
"Aku tidak akan menghindar dan kau bisa membunuhku. Tapi, setidaknya kau harus bergabung bersamaku untuk menghancurkan Ronan," balas Chade.
Pesawat terus berjalan dan Sheria lebih memisahkan diri dari Chade. Dia tidak mau bicara lagi walaupun sekarang tujuan mereka sama.
"Ambilkan aku wine!" pinta Sheria pada pramugari. Dia duduk di kursi paling belakang sekarang.
Beberapa jam berlalu akhirnya pesawat mendarat dengan selamat. Buru-buru Sheria turun, dia mengaktifkan ponselnya dan mendapati banyak panggilan dari Bryan dan Trevor.
Pasti Bryan sudah memberitahu papanya.
"Sheria!?" geram Trevor ketika anak gadisnya melakukan panggilan.
"Maafkan aku papa, aku tidak bisa sepertimu! Aku akan tetap membalaskan dendam orang tuaku," ucap Sheria yang tidak bisa berdamai dengan dirinya sendiri.