
"Maaf acara camping kita jadi berantakan," ucap Sheria pada Bryan. Dia juga tidak menyangka jika Trevor akan menjemput mereka.
"It's okay. Sepertinya ada masalah serius," sahut Bryan mencoba memaklumi. "Aku harap kita bisa sering bertemu!"
"Kau akan kembali kerja di kota?" tanya Sheria.
"Ya begitulah," jawab Bryan yang sebenarnya ingin tinggal lebih lama lagi. "Kau akan membalas pesan dan menerima panggilan dariku, 'kan?"
"Tentu saja," jawab Sheria dengan seutas senyuman.
"Thanks Sheria." Bryan kelihatan begitu lega karena berarti Sheria menganggapnya laki-laki.
"Aku harus kembali, papa dan mama ku pasti sudah menunggu," pamit Sheria.
Sheria melambaikan tangannya dan kembali ke peternakan sapi.
Di dalam rumah, Trevor menghancurkan barang-barang karena emosi. Seharusnya dia menyelidiki lebih lanjut mengenai mata-mata yang mengintainya.
"Trey, hentikan!" Gwen berusaha menghentikan aksi suaminya. "Tenanglah dulu!"
"Sekarang kau tahu Gwen, tidak akan semudah itu keluar dari dunia mafia," geram Trevor.
Gwen membimbing Trevor untuk duduk, dia mengelus dada suaminya pelan supaya tenang.
"Beberapa tahun ini kita sudah tenang, Trey! Kita bisa mengembangkan peternakan sapi, membesarkan Sheria dan melihat cucu-cucu kita tumbuh, kita juga membaur seperti di dunia sosial, apa kau tahu bagaimana perasaanku?"
"Aku sangat bahagia, jadi..." Gwen mulai memasang wajah serius, dia menendang meja di depannya sampai terbalik. Dia mengambil pistol tersembunyi di bawah meja. "Jika ada yang akan merampas kebahagiaan itu, aku tidak akan tinggal diam!"
"Wow, kau ternyata masih cukup gesit, Gwen!" komentar Trevor.
Pada saat itu, Sheria yang masuk ke rumah merasa kaget karena melihat barang-barang yang hancur dan berantakan.
"Mama... Papa..." panggil Sheria. "Kalian tidak bertengkar, 'kan?"
Gwen melemparkan pistol yang ada di tangannya pada Sheria. "Mulai sekarang kau harus berlatih Sheria!"
...°°°°°...
Chade yang kembali ke mansion Keiner memeriksa keadaan lehernya. Jujur saja dia masih merasakan sakit.
Dari kemarin dia tidak bisa tidur karena memikirkan semuanya. Dia sangat yakin pasti keluarga Brown dan keluarga Volstaire tidak akan tinggal diam atas kaburnya Ronan.
"Argghhh..." Chade berteriak sambil mengacak rambutnya. "Kenapa aku harus hidup!?"
Di kamar lain, Keiner duduk di sofa sambil memutar-mutar gelas wine di tangannya. Dia juga memikirkan semuanya.
"Babe..." panggil Juvel yang baru saja masuk ke kamar. Dia baru saja dari kamar Ares dan Athena untuk mengecek keadaan kedua anaknya, dia berharap mereka tidak tahu masa lalunya yang seorang mafia.
"Apa kau sudah bicara pada Chade?"
Keiner menggeleng. "Aku takut akan menyakitinya!"
"Aku tahu perasaanmu," sahut Juvel yang ikut duduk dan memeluk suaminya. "Pasti rasanya serba salah!"
"Chade harus segera pergi ke asrama supaya dia tidak mendengar tentang Ronan. Biarlah dia fokus belajar!" ucap Keiner kemudian.
"Dan terus awasi anak-anak saat mereka bersekolah. Aku akan menemui daddy mertua dan kakak ipar," tambahnya.
Juvel jadi merasa bersalah, dia tahu bagaimana Keiner sangat menjauhi dunia mafia tapi sekarang karena menikah dengannya membuat Keiner ikut terlibat.
"Maafkan aku,"
"Maaf untuk apa?"
"Karena aku, kau jadi..."
"Ssstt! Aku yang memberi ide tentang kutukan itu jadi aku juga harus bertanggung jawab!"
"Yang harus kita khawatirkan sekarang adalah Irene, jangan sampai Ronan mencari Irene!"