
Sheria merasakan sapuan hangat di bibirnya, dia berpikir itu adalah mimpi. Ciumannya semakin lama semakin menuntut, rasa bibirnya sangat berbeda dengan bibir Bryan.
Perlahan tapi pasti Sheria mulai membalas dan Sheria mulai tersadar kalau itu bukanlah mimpi.
Saat ciuman terlepas, Sheria terbangun dan membuka mata. Dia ingin melihat siapa pelaku pencuri ciuman itu tapi sayang tidak ada siapa-siapa.
"Aneh," batin Sheria.
Dia meraba bibirnya dan masih merasakan ciuman beberapa detik lalu sampai bulu kuduknya berdiri.
"Apa ini ulah penunggu pohon!" Sheria bergegas berdiri dan langsung kembali ke peternakan sapi.
Saat sampai di rumah, Sheria ingin membersihkan diri. Dia membuka pintu rumah dan langsung berseru pada Gwen.
"Mama, aku pulang!"
Tapi, hal tak terduga terjadi. Bryan sudah menunggunya sedari tadi di dalam rumah.
"Bryan..."
Lelaki itu mendekati Sheria dan memeluk kekasihnya. Setelah Sheria pergi dari apartemen, Bryan memikirkan semuanya kemudian menyusul gadis itu ke peternakan sapi. Dia tidak mau kehilangan Sheria.
"Aku akan menerimamu apa adanya, Sheria," ucapnya.
Sheria pun membalas pelukan Bryan, rasanya lega karena dia tidak perlu berbohong lagi tapi kenapa dia merasa masih ada yang mengganjal?
"Ehem!"
Gwen yang melihat itu berdehem dan akhirnya Sheria membawa Bryan ke kamarnya.
"Kita bicara berdua," ucap Sheria seraya menarik tangan Bryan ke kamarnya. Saat pintu tertutup, Bryan langsung mengunci pintunya.
Bryan merapatkan tubuh Sheria ke dinding dan menciumnya. Tangannya sibuk membuka baju Sheria helai demi helai.
"Aku berkeringat," ucap Sheria ketika Bryan menciumi tubuhnya.
"Justru aku suka baunya," balas Bryan yang saat ini ingin membuka pengait bra Sheria.
"Bry, aku belum siap!" tolak Sheria sebelum mereka melakukan hal lebih jauh lagi.
"Kenapa? Bukankah malam itu kau sudah siap?" tanya Bryan menuntut.
"Beri aku waktu dulu,"
"Sudah dua tahun Sheria, apa masih kurang?"
Bryan merasa kecewa, dia pun melepas Sheria. Lelaki itu mengusap wajahnya dan berusaha untuk tidak emosional.
"Aku akan ke tempat orang tuaku jika kau sudah siap menyusul lah, kita bicarakan pernikahan kita," ucap Bryan kemudian.
Bagi Sheria membahas masalah pernikahan adalah sesuatu yang terburu-buru. Tapi, Bryan sepertinya benar-benar ingin mengikat Sheria.
"Huft!" Sheria tidak bisa berpikir untuk sekarang. Dia hanya bisa melihat Bryan yang membuka pintu kamarnya dan pergi.
Dengan keadaan yang masih memakai pakaian dalam, Sheria ingin membuka jendela kamarnya supaya ada udara yang masuk. Dan lagi-lagi dia dikejutkan oleh sesuatu.
Ketika Sheria membuka jendela tiba-tiba ada suara seseorang yang terkena pintu jendela. Karena sedari tadi orang itu mengintip dan mencoba menguping. Orang itu tidak menyangka jika Sheria akan membuka jendela dan pintu jendela itu mengenai kepalanya.
"Argh!" erangnya.
Pupil mata Sheria membesar saat tahu siapa yang mengerang seraya memegangi kepalanya itu.
"Chade!" seru Sheria.
Merasa Sheria tidak dalam posisi siap perang, Chade langsung melompat masuk ke kamar gadis itu dari jendela. Dia menerjang Sheria supaya Sheria tidak menyerangnya duluan.
"Apa yang kau lakukan, lepaskan aku!" ronta Sheria.
Chade justru semakin kuat mencengkram Sheria, dia tidak memperdulikan kepalanya yang benjol. Justru dia sibuk melihat lekuk tubuh Sheria yang seksi dan berisi.
Apalagi matanya tak jemu memandang bra Sheria yang membuatnya refleks menunduk dan mencium bra itu.
"Aromanya masih sama," gumamnya dalam hati.