My Boyfriend Having Affairs

My Boyfriend Having Affairs
10. Cerita Lama Yang Kembali



Hye Sun Pov


Aku menangis bersimpuh di depan kedua orangtuaku karena apa yang telah aku perbuat telah mempermalukan mereka di depan keluarga Seokjin.



Seokjin telah mengetahui jika anak yang ku kandung bukanlah anaknya.


" Anak siapa yang kau kandung??!! Siapa ayah dari anak tersebut." dia memicingkan matanya padaku.


Aku belum pernah melihatnya semarah itu padaku.


" Ini adalah anakmu. Memangnya anak siapa lagi?" aku menjawab sekenanya karena tak tau jika ia akan mengetahui rahasia secepat ini.


" Tak mungkin!! Setelah kita menikah kita tak berhubungan suami istri. Lalu beberapa bulan kemudian kau mengatakan jika kau hamil."


" Apa kau sudah gila?!! Dengan siapa kau melakukan hal itu?!!! Aku akan membunuhnya sekarang juga!!" bentaknya.


Aku berlutut di depan Seokjin dan memohon agar ia memaafkanku. Namun Seokjin memberikan sebuah pilihan padaku.


" Baik. Aku akan memaafkanmu. Tapi ada satu syarat."


" Apa?? Syarat apa yang kau inginkan? "


" Beritahu siapa ayah dari anak tersebut dan gugurkan kandunganmu. Aku tak ingin anak orang lain hidup bersamaku di rumah ini. "


Mataku membulat seakan tak percaya dengan apa yang di ucapkan oleh Seokjin kali ini.


Dia benar-benar sudah murka padaku hingga memintaku untuk melakukan aborsi.


Tapi ini memang salahku.


" Maaf tapi aku tak bisa."


Seokjin membanting vas bunga disampingnya hingga sedikit lagi mengenai wajahku.


" Baiklah. Lebih baik kita bercerai. Rumah yang ku berikan pada orangtuamu tak akan ku ambil. Tapi kau tak akan ku berikan apa-apa selain rasa malu. Kau akan melihatnya nanti."


Seokjin mengeluarkan nada ancaman padaku. Ia selalu menepati kata-katanya. Namun itu bukanlah hal yang penting sekarang. Aku harus bagaimana menghadapi kedua orangtuaku?? Seokjin menyuruhku pulang ke Korea malam itu juga.


" APA KAU BILANG!!! BERCERAI DARI SEOKJIN!!!" ibuku memukuli punggungku dengan keras. Ia tak bisa menerima kenyataan ini terjadi padaku.


" Memang kau melakukan kesalahan apa? Hingga kau diceraikan olehnya?!"


" Aku... Karena.. Aku.. Hamil..." ucapku pelan.


" Bicara yang jelas agar aku mendengarmu."


" AKU HAMIL!!"


Orangtuaku diam terpaku melihatku, mereka menatapku bergantian karena bingung.


" Hamil??! Bukankah itu bagus?! Lalu mengapa dia meminta bercerai."


Aku diam dan menunduk tak berani menatap wajah mereka. Sikap mereka tak pernah menjadi kalap seperti ini sebelumnya, walaupun aku melakukan kesalahan.


Namun ini adalah kesalahan terbesarku selama menjadi anak mereka.


" Kau hamil berapa bulan??" tanya ayahku kemudian.


" Empat bulan." Jawabku lirih.


Mereka menghela nafas dengan kasar hingga terdengar di telingaku.


" Jadi calon bayi itu bukan anaknya??!!"


Aku mengangguk.


" Lalu anak siapa?"


" Aku tak bisa memberitahu kalian." aku tak ingin orangtuaku akan melakukan hal di luar nalar jika tau Myung Soo adalah ayah calon bayi ini.


Atau mereka akan memberitahu Seokjin. Itu akan lebih buruk lagi.


" Dasar anak durhaka!!! Keluar kau dari rumah jika tak ingin memberitahu siapa anak dari calon bayi tersebut!!"


Ibuku menyeretku keluar sedang ayahku hanya melihatku, tak mampu memberikan pembelaan padaku kali ini.


" Seokjin mengatakan tak akan menceraikanmu jika kau mau menggugurkan kandunganmu kan??? Baiklah kalau begitu. Kita pergi ke rumah sakit sekarang juga."


Aku melepas tangan ibuku yang mengenggam tanganku dengan kasar.


Ia benar-benar menikmati harta yang diberikan Seokjin selama ini. Yang dulunya sangat miskin kini ia bisa berfoya-foya. Namun jika Seokjin bercerai denganku mungkin orangtuaku akan kembali menjadi miskin seperti dulu.


Aku benci melihat mereka hidup susah namun aku juga benci dengan mereka, Karena sudah seperti menjual anaknya kepada orang lain.


" Aku tak akan membunuh calon bayi ini!! Jika kalian ingin mengusirku. Baiklah aku akan pergi dan hidup menggelandang."


Aku keluar membawa tas yang berisi beberapa baju. Dan meninggalkan rumah yang di berikan Seokjin pada orangtuaku.


Hujan sangat deras dan aku tak memiliki tujuan.


🐾🐾🐾


Aku pergi ke stasiun bawah tanah. Banyak gelandangan dan pengemis yang sudah tidur dengan kardus sebagai alasnya.


" Haruskah aku meminta bantuannya?? Tapi ia mengatakan jika akan menikah dengan Sarang."


Aku kemudian ragu. Namun aku juga tak tahu harus bagaimana lagi. Jika aku memberitahu Seokjin jika Myung Soo adalah ayah dari calon bayi ini. Pasti dia benar-benar akan membunuhnya.


Selama ini aku tidak mencintai Seokjin. Aku masih mencintai Myung Soo.


Kenapa semua harus seperti ini???


Aku menenggelamkan wajahku di kedua lututku. Dan menangis.


" Yeobseoyeo??!" Myung Soo menjawab telponku.


Aku tak menyangka jika ia akan mengangkatnya.


" Tolong aku." tangisku semakin pecah begitu mendengar suaranya.


" Ada apa??? Ada apa denganmu?? Mengapa menangis???"


" Aku diceraikan Seokjin karena ia sudah mengetahui semuanya."


" Apa?!"


" Kau dimana sekarang?"


" Di stasiun bawah tanah. Aku tak tau harus kemana lagi. Orangtuaku juga mengusirku dari rumah."


" Bagaimana ini?!! Aku sedang di Busan." ucap Myung Soo juga terdengar bingung.


" Kau masih ada uang kan??!"


" Iya."


" Naiklah kereta menuju ke Busan. Aku akan menjemputmu disana."


" Benarkah???"


" Iya. Untuk sementara kau kesini dulu setelah itu akan ku pikirkan hal lainnya."


Aku langsung bergegas dengan sisa tenaga yang ada. Sisa uang yang diberikan Seokjin ku belikan tiket menuju Busan.


Myung Soo masih mempedulikanku?? Bukankah itu berarti ia masih memiliki perasaan yang sama denganku???


Mungkinkah aku bisa kembali padanya lagi seperti dulu??


🐾🐾🐾


Aku mencari sosok bayangan Myung Soo setelah sampai di Busan.


Seseorang menepuk pundakku dan saat aku menoleh. Ia adalah Myung Soo.


" Myung Soo ssi!!!" Aku langsung memeluknya erat.



Aku menangis di pelukannya dan menceritakan semua padanya. Berharap ia akan memahami kondisiku saat ini.


" Aku bekerja di Busan selama dua bulan. Mungkin kau bisa tinggal disini juga selama itu."


" Lalu setelah itu aku harus bagaimana??"


" Pertama kita cari tempat tinggal untukmu dahulu. Aku tinggal dengan orangtuaku. Jadi tak mungkin jika aku membawamu untuk tinggal disana."


Aku hanya menuruti ucapan Myung Soo karena hanya dia satu-satunya orang yang aku miliki saat ini.


🐾🐾🐾


Myung Soo mengajakku makan, karena ia tau aku belum makan sejak semalam. Dan itu akan berbahaya untukku dan calon bayi yang ku kandung.



" Kau akan menikah dengan Sarang?" tanyaku pada Myung Soo yang sibuk dengan ponselnya.


" Iya."


" Lalu bagaimana denganku?"


Myung Soo menatapku kecewa.


" Jika dulu kau tidak menikah dengannya dan memilihku mungkin semua tak akan terjadi. Namun, tak aku pungkiri, aku juga bersalah padamu."


" Dan kau tak tau kan betapa hancurnya aku saat itu??" imbuhnya.


" Maafkan aku."


Sarang menelponku aku akan keluar sebentar.


Aku menatap punggungnya yang berjalan keluar. Dia tersenyum dan tertawa saat menerima telpon dari Sarang.


" Apakah kau sudah menerima Sarang sepenuhnya? " gumamku.


" Tak bisakah kita kembali seperti dulu?"