My Boyfriend Having Affairs

My Boyfriend Having Affairs
Episode 36



Sarang Pov


Aku berpikir berulang kali mengenai Junhee dan Kangjun. Tentang rahasia Junhee yang tak pernah diketahui oleh Kangjun, jika mereka adalah saudara namun berbeda ibu. Aku sangat berharap mereka bisa dekat dan akrab. Karena aku tau disini Kangjun tidak memiliki siapa-siapa, ia hanya memiliki Jaebum dan aku.


Sejak pertemuan di reuni tersebut aku merasa jika Junhee sudah sedikit berubah. Dia tak banyak berulah lagi seperti dulu. Entah apa yang membuatnya bisa berubah aku tak begitu yakin. Tapi aku sangat ingin sekali membuat mereka berdua dekat seperti saudara.


Mungkin saja jika Kangjun mengetahui dibalik alasan mengapa Junhee begitu membencinya ia akan mau memaafkannya. Disisi lain aku juga mengerti bagaimana perasaan Junhee. Ia diabaikan oleh ayah kandungnya sendiri agar dapat hidup bahagia bersama orang lain. Terlebih lagi jika anak dari istri baru ayahnya adalah teman sekelasnya. Junhee yang dulu masih kecil namun sudah diliputi dendam di hatinya.


Lalu tak lama Kangjun muncul membawa dua cup kopi di kedua tangannya.


Haruskah aku mengatakannya pada Kangjun??


" Kangjun ah?!" aku mengawali percakapan setelah melihat suasana hati Kangjun yang begitu bagus hari ini.


" Wae?!"


Namun tiap kali aku ingin menyinggungnya, aku takut jika itu malah bisa menyakitinya.


" Kenapa? Ada yang ingin kau katakan padaku?"


Aku tak bisa langsung mengatakan inti cerita ini padanya. Bagaimana jika ia belum bisa menerimanya dan terkejut? Belum lagi ia akan menemui ayahnya di luar negeri. Karena aku juga tak mau kalau akan ada pertengkaran antara ayah dan anak.


" Bagaimana jika misalnya kau memiliki seorang kakak laki-laki?" aku akan memancingnya dia dahulu.


Dia nampak berpikir " Kenapa kau tiba-tiba menanyakannya?"


" Yah, karena aku tau kau disini sendiri. Ini hanya misal. Misalnya saja, kau bisa membayangkannya terlebih dahulu.


" Aku sudah memilikimu dan Jaebum." ucapnya cuek.


" Hmmm.. " jawabannya tidak sesuai dengan yang aku harapkan.


" Lagipula aku sudah dewasa, kalau tiba-tiba memiliki saudara laki-laki sepertinya agak aneh juga kan?!"


Aku hanya mengangguk dan melihat raut wajahnya yang sepertinya tidak menyukai topik pembicaraan ini.


" Ada telepon dari ayahku, aku akan keluar sebentar." Kangjun lalu beranjak dari duduknya.


Beberapa menit kemudian ia masuk dengan pandangan kosong. Ia duduk lalu menyesap kopi yang sudah mulai berangsur dingin.


" Ada apa?" tanyaku hati-hati. Namun aku tak bisa menyembunyikan rasa gugup di wajahku.


Dia masih diam dan menatapku bingung.


" Apa ada masalah?"


" Sepertinya aku akan pergi bulan ini. Ayahku bilang jika ibuku semakin parah penyakitnya."


Aku mencoba tersenyum walaupun nampak begitu sangat terpaksa.


" Tak apa-apa kan?" tangannya mengenggam erat tanganku yang sudah mulai basah.


Aku mengangguk pelan " Tak apa-apa. Aku tak mungkin melarangmu untuk menemui ibumu kan?! " aku mengusap punggung tangannya agar perasaanya bisa menjadi lebih baik.


" Dan sepertinya kita akan sangat sulit bertemu, karena aku harus menyelesaikan beberapa kontrak agar tidak terkena pinalti." lirihnya.


Yah, Kangjun harus menyelesaikan pekerjaannya pada bulan ini. Karena dia masih terlibat beberapa kontrak dengan majalah yang seharusnya masih bisa dikerjakan bulan depan. Rencananya yang begitu mendadak membuatnya terpaksa harus menguras waktunya agar semua dapat terselesaikan sebelum ia pergi. Agar ia terhindar dari pinalti.


" Maaf sudah merusak kencan kita hari ini." ucapnya, ia menunduk menyesal.


" Tidak, aku sangat bersenang-senang hari ini berkat kau." aku mengusap-usap rambutnya yang rapi menjadi berantakan. Ia tersenyum, walau hanya sekilas.


💜


Aku turun dari mobil Kangjun saat tiba di depan kost-an. Ia tak mampir kali ini, karena diburu oleh pekerjaan yang sudah menantinya. Kangjun menurunkan sedikit kaca mobilnya, lalu kepalanya sedikit menunduk agar bisa berpamitan sebelum pergi.


" Aku akan menghubungimu nanti malam."


Aku menunduk sedikit lalu tersenyum kemudian tak lama setelah itu, mobil Kangjun bergegas pergi meninggalkanku.


**


"Cerita ini sepi tanpa komentar dari kalian" ucap Kangjun lalu melempar ponselnya ke tempat tidurnya.