
Aku mengambil nafas panjang tiap kali mengingat kejadian saat di Busan. Aku tak bisa mengatakan kalau aku seratus persen baik-baik saja. Hanya saja aku tak ingin membuat orang sekitarku mengkhawatirkanku termasuk Kangjun.
Karena Kangjun sedang ada dalam masalah aku tak ingin membuatnya memikirkan masalahku. Aku ingin dia fokus menyelesaikan masalah yang dia alami terlebih dahulu.
Sebuah tangan menyodorkan secangkir kopi di depanku, aku mendongakkan kepalaku dan Jun Hee sudah berada di sampingku.
“ Tenang saja aku tak ada niatan untuk meracunimu.” Dia seakan tau pikiran apa yang ada di dalam kepalaku.
“ Terimakasih.” Dia mengangguk dan melanjutkan pekerjaannya mengepel lantai di pantry.
Sebenarnya aku masih penasaran dengannya mengapa ia sangat jahat dengan Kangjun saat masih kecil. Padahal setauku bukan hanya Kangjun yang memiliki badan gemuk saat itu.
“ Oh Jun Hee!!” panggilku, dia menghentikan kegiatan mengepelnya dan menatapku.
“ Kenapa? Kopinya tak enak?!”
“ Bukan, ada hal yang ingin ku tanyakan padamu.”
“ Tanya saja.”
“ Kenapa kau sangat kejam dengan Kangjun saat itu?”
Dia diam dan kembali mengepel lagi.
“ Kenapa?” tanyaku lagi.
“ Kau menyukai Kangjun ya?!” dia balik bertanya dan anehnya aku tak bisa menjawab.
“ Cih! Benar kau menyukainya.”
“ Jawab pertanyaanku dulu.”
“ Kenapa harus memiliki alasan untuk berbuat kejam pada orang? Tak ada alasan, aku hanya membencinya. Sangat membencinya.”
“ Dan apa alasan kau begitu membencinya? Pasti ada kan?? jika tidak ada berarti kau psikopat.”
Dia melirik tajam ke arahku, dan menghela nafas saat Bora masuk ke pantry untuk mengambil air minum.
“ Air galonnya habis. Oh Jun Hee tolong tuangkan galonnya.” Bora memerintah Jun Hee dan langsung di sanggupinya.
Aku tak menyangka dia yang dulunya pembangkang kini menjadi seorang pekerja keras dan mau melakukan perintah dari orang lain.
Tapi aku masih penasaran dengannya, mengapa ia begitu membenci Kangjun? Tak mungkin kan, seseorang membenci tanpa alasan. Pasti ada, aku akan mencaritaunya pelan-pelan.
“ Kau tau nggak, kalau mantan suami Hye Sun membeli sebagian saham untuk perusahaan ini?” ucap Bora yang seperti biasanya memberikan sebuah kabar terbaru.
“ Aku baru tau darimu. Benarkah itu?” tanyaku padanya, ia belum tau jika aku dan Myung Soo sudah mengakhiri hubungan kami kemarin.
“ Saat kau ke Busan kemarin, kantor ini tiba-tiba heboh karena mantan suami Hye Sun datang dan bertemu pujangnim. Dan aku mencium bau-bau peperangan.”
“ Apa sih maksud kamu?” aku tersenyum sesaat dan terpikir tentang Myung Soo dan Hye Sun.
Apakah Seokjin sudah tau jika Myung Soo adalah orang yang telah menghamili istrinya? Jika ia benar-benar tau, tamatlah riwayat Myung Soo. Ia lupa berhadapan dengan Seokjin. Orang kaya yang bisa memanfaatkan semua uangnya demi mencapai tujuannya.
“ Bagaimana kemarin? Sudah bertemu dengan Myung Soo?” tanya Bora.
Aku mengangguk.
“ Yah,begitulah.”
“ Sepertinya ada hal yang tak menyenangkan sedang terjadi.” Gumam Bora namun aku bisa mendengarnya dengan jelas.
“ Aku bisa mendengarmu.”
“ Lagipula aku sudah tau tentang Myung Soo dan Hye Sun karena waktu itu aku tak sengaja mendengar pembicaraan Myung Soo di telepon.”
Aku hanya diam dan memainkan cangkir kopi yang sudah berangsur dingin.
“ Kau jangan mengatakan apapun pada orang lain.” Ucapku datar.
“ Aku hanya butuh samgyeopsal untuk menutup mulutku.”
Aku melirik Bora lalu tersenyum. “ Baiklah, nanti malam aku akan mentraktirmu sampai puas.”
💋
Myung Soo POV
( Beberapa hari yang lalu)
Aku memberanikan diri untuk datang ke rumah Sarang pagi ini, aku harus meminta maaf pada Sarang dan orangtuanya. Ibuku sangat marah padaku hingga ia tak mengijinkanku pulang ke rumah untuk sementara waktu. Dan akhirnya aku harus tinggal bersama dengan Hye Sun disebuah rumah kecil yang aku sewa beberapa hari yang lalu.
Aku tak menyangka jika akan ketauan secepat ini. Bagaimana bisa Sarang datang ke Busan ke tempatku tanpa memberitauku?
Saat aku mencoba melangkahkan kakiku. Aku melihat sebuah mobil berhenti di depan rumahnya. Pria itu tak asing, aku pernah melihatnya dulu saat aku pergi ke kosan Sarang pagi-pagi. Dia menyapa orangtua Sarang dengan sopan. Aku merasa jika posisi itu adalah milikku. Namun tergantikan oleh orang lain.
Mobil itu pergi membawa Sarang. Kemudian aku memberanikan diri untuk menyapa orangtua Sarang dengan hati-hati.
“ Anyeonghaseo..” sapaku mereka menghentikan langkah dan menatapku benci.
Reaksi ibu Sarang tak pernah aku duga sebelumnya, ia berlari ke arahku dan menampar keras pipiku. Sama seperti yang dilakukan ibuku padaku kemarin. Tak hanya menampariku ia juga memukul punggungku dengan keras. Namun aku tak bisa menghindar karena ini memang hukuman yang harus aku terima.
“ Mau apa kau kesini?! Pergi! Aku sudah tak ingin meilhatmu lagi!” ibu Sarang lepas kendali dan melempari ku dengan batu.
“ Kau cepatlah pergi!! Kami sudah menganggapmu tak ada.” Ucap ayah Sarang, ia memeluk istrinya yang masih kalap ingin memukulku.
Belum sempat aku meminta maaf, namun mereka sudah mengusirku.
“ Saya benar-benar minta maaf.” Aku membungkuk sebelum pergi dari hadapan kedua orangtu Sarang.
“ Aku tak akan pernah memaafkanmu sampai kapanpun!!” teriak ibu Sarang.
Aku terus berjalan tanpa berbalik ke belakang. Aku merasa sangat bersalah pada keluarga Sarang yang sudah menganggapku seperti anak mereka sendiri. Masih teringat jelas beberapa waktu yang lalu mereka sangat baik dan lembut padaku. Tiga hari sekali bahkan aku selalu diundang makan malam di rumah mereka meskipun tanpa Sarang.
Mereka memasakkanku makanan kesukaanku, ayahnya mengajakku bermain baduk usai makan malam. Kami beritga saling bercerita dan bercanda. Dan kini aku harus merelakan semuanya karena perbuatanku sendiri.
Aku dihadapkan sebuah pilihan yang sulit, aku mencintai Sarang namun aku juga tak bisa mengabaikan Hye Sun yang sedang mengandung anakku. Dia juga dalam posisi yang sulit karenaku. Ia dusir dan diceraikan suaminya karena aku.
Haruskah aku mati saja???
💋💋
Kangjun POV
“ Kau kemana saja kemarin?” tanya Soo Ah ia sudah duduk di depanku.
Pagi-pagi sekali ia datang menemuiku saat aku masih tidur.
“Kenapa masih bertanya jika kau memiliki orang untuk mengawasiku?”
Dia memutar matanya dan mencoba duduk di sebelahku.
“ Bukankah kau harus jujur dengan kekasihmu?” bisiknya di telingaku.
“ Kekasih??!” aku beranjak dan berjalan menuju dapur.
“ Yya!! Tak bisakah kau bersikap baik padaku?!”
“ Kau sendiri yang memulainya bukan? Awalnya saja sudah tidak baik, mengapa aku harus bersikap baik padamu?” aku mengambil segelas air dingin dari kulkas.
“ Jika sampai ku lihat kau bersama dengan temanmu itu….”
“ Berhentilah mengancamku, jaebal..??!!!!”
Suara pintu terbuka, Jaebum masuk membawa sebuah tumpukan kertas di tangannya.
“ Ini naskah yang baru, syuting jam dua belas siang.” Jaebum belum menyadari jika ada Soo Ah di apartemenku.
“ Dasar penganggu!” gerutu Soo Ah lalu ia keluar membanting pintu.
“ Kenapa dengan kekasihmu itu?” Jaebum menekankan kata kekasih untuk meledekku.
“ Sudahlah.. aku tak pernah menganggapnya sebagai kekasihku. Tapi terimakasih hyung?!”
“ Terimakasih untuk apa?”
“ Mengusirnya dari sini.” Aku tertawa melihat bagaimana ekspresi Soo Ah tadi yang terlihat kecewa melihat Jaebum datang tiba-tiba.
“ Oh ya, nanti ada adegan ciuman dengan Soo Ah!” ucap Jaebum.
Aku terkejut, mengapa tiba-tiba ada adegan itu.
“ Bukankah terlalu cepat untuk melakukan adegan ciuman?” tanyaku sambil memeriksa naskah yang diberikan oleh Jaebum.
Ia mengangkat pundaknya. “ Tanya saja pada writernim.”
“ Pasti ini ulah Soo Ah.” Aku mendengus kesal dan melempar naskah itu ke wastafel.
“ Hei! Kau tak boleh melakukan itu?!”
“ Oh ya kata daepyonim usai syuting kau disuruh ke kantor, ada hal yang harus ia sampaikan.”
“ Benarkah? Haruskah ku telpon sekarang.”
“ Tak bisa. Katanya ini rahasia, ia takut ponselmu sedang di sadap oleh Soo Ah."
Aku megangguk setuju dan berpikir apakah daepyonim sudah menemukan jalan keluarnya?? Karena setelah aku menceritakan hal yang dialami oleh Sarang ia sangat yakin bisa melawan Soo Ah.