My Boyfriend Having Affairs

My Boyfriend Having Affairs
Episode 39



" Kau sedang apa?" tanya Sarang begitu aku mengangkat telepon darinya.


" Eoh, aku.. Sedang jalan-jalan. Disini sangat bagus pemandangannya." jawabku namun aku merasa seperti membohongi Sarang.


" Pasti sangat menyenangkan bisa berkumpul bersama dengan keluarga." ucapnya semakin membuatku merasa bersalah.


Ia sedang dalam perjalanan pulang kerja. Karena tak ada aku disana, mungkin sekarang ia sedang menunggu bus di halte.


" Mau ku antar?!! " suara seorang pria terdengar di ujung telepon.


" Siapa??! " tanyaku pada Sarang. Sepertinya ada seorang pria yang ingin mengantarkannya pulang.


" Seokjin Daepyo." ucapnya pelan.


" Tidak terimakasih." mungkin ia sedang berusaha menolak tawaran dari Seokjin.


Lalu tak lama kemudian masing-masing dari kami tak mengeluarkan sepatah katapun.


" Busnya sudah datang. Aku akan pulang sekarang. Hubungi aku jika kau tak sibuk." ucap Sarang lalu mengakhiri telepon tersebut.


" Oppa mwohae?! Makanan sudah siap." Yoo Jung menarik lenganku dan membawaku masuk ke dalam.


Langit yang tadinya cerah tiba-tiba gerimis. Cuaca yang hangat berubah menjadi dingin. Yoo Jung ku perhatikan mulai berubah, ia terus menerus bersin hingga tak bisa menyantap makanannya dengan tenang.


" Kau tak apa-apa?!" tanyaku, wajahnya mulai memerah.


" Tak.. Apa-apa." namun ia masih bersin.


Lalu sang sopir kemudian masuk membawakan jaket tebal untuk Yoo Jung.


" Nona, waktunya pulang."


" Wae????? Aku baru saja bertemu dengannya. Tapi kau sudah menyuruhku untuk pulang." Yoo Jung merengek layaknya anak kecil di depanku, aku hanya bingung melihat pemandangan ini.


" Sudah waktunya istirahat. Dokter sudah menunggu dirumah." ucap Sopir itu pelan namun aku mampu mendengarnya.


" Istirahat?? Dokter??? " batinku, aku mencoba menebak apa yang sebenarnya sedang terjadi.


" Oppa~~ Ikutlah denganku. Aku tak akan pulang jika kau tak ikut denganku."


Sopir itu lalu membawaku ke sudut ruangan dan memberitahuku jika Yoo Jung sedang sakit, dan ia harus segera pulang agar bisa di periksa oleh dokter pribadinya. Sopir yang bermarga Jang itu memohon padaku agar aku mau ikut bersamanya dan ia berjanji padaku akan mengantarkanku pulang nanti.


Aku menoleh Yoo Jung dan bersinnya semakin parah. Lalu aku mengangguk menyetujuinya.


Sopir Jang menggendongnya lalu menyandarkannya di kursi belakang. Sopir Jang sangat hafal dengan situasi seperti ini, sepertinya hal ini terjadi tak hanya sekali.


" Tadi siapa yang meneleponmu?" tanya Yoo Jung, dia masih sempat menanyakan tentang hal itu ditengah rasa sesak nafasnya sekarang.


Aku hanya diam tak bisa menjawabnya.


" Yeochin?! (Pacar)?!"


" Eoh, tadi yang menelpon adalah pacarku." aku tak mau berbohong pada Yoo Jung.


Sopir Jang melirikku, seakan ingin mengatakan jika jawaban yang ku ucapkan adalah sebuah kesalahan.


Lalu badan Yoo Jung melemas hingga tubuhnya tersandar pada tubuhku. Dan mau tak mau aku harus memeganginya agar tidak terjatuh.


Sarang mengirimiku sebuah pesan.


*Sarang: Apakah aku menganggu waktumu?


Aku: Tidak, kenapa bilang seperti itu?


Sarang: Aku hanya merasa kau sangat sibuk, apa hanya perasaanku saja?


Aku: Iya itu hanya perasaanmu saja, jangan pikirkan hal yang aneh-aneh.


Aku: Maafkan aku, aku belum bisa memastikannya.


Sarang: Oh...


Aku: Kau marah?


Sarang: Tidak. Beberapa hari lagi aku akan ada kegiatan Outing.


Aku: Myung Soo juga ikut?


Sarang: Iya, wae?


Aku: Tak apa-apa. Aku hanya bertanya.


Sarang: Kau sedang apa*?


Saat aku akan membalas pesan dari Sarang. Mobil sudah sampai di rumah yang mewah ala Swiss.



Aku mengikuti sopir Jang saat ia berjalan masuk ke dalam rumah. Lalu muncul seorang pria paruh baya muncul, mungkin dia adalah teman ayahku.


" Kau... Lee Kangjun???" tanyanya.


Aku mengangguk dan memberikan salam padanya.


" Duduklah. Kebetulan kau ada disini jadi aku akan berbicara padamu sekarang saja."



Ia mempersilahkan aku duduk dan aku menurutinya.


" Aku yakin ayahmu pasti sudah mengatakannya padamu kan?"


Aku mengangguk.


"Jadi bagaimana menurutmu? Apakah kau mau menerima lamaran anakku?!" tatapan matanya mengintimidasiku, hingga aku tak bisa berkata apa-apa.


" Yoo Jung adalah anak semata wayangku. Ia sudah sakit sejak kecil, bisa melihatnya tumbuh hingga sekarang sudah membuatku dan istriku sangat bersyukur."


" Dia diagnosa pneumonia akut. Dia juga mengetahui betul jika penyakitnya itu bisa kambuh kapan saja dan membuatnya tiba-tiba meninggalkan kami."


" Lalu saat ia berkunjung ke rumah yang di huni oleh ayah ibumu, ia langsung jatuh cinta padamu, meskipun dia belum pernah bertemu denganmu. Dan meminta padaku untuk menikahkannya denganmu."


" Sebagai seorang ayah aku bisa apa? Ketika anakku yang sedang sakit memohon permintaan yang mungkin terdengar gila olehmu."


Aku tak tau harus mengatakan apa pada ayah Yoo Jung. Haruskah aku mengatakan jika aku sudah memiliki seorang kekasih?


" Tapi sebelumnya saya ingin minta maaf. Saya sebenarnya sudah memiliki kekasih di Korea. Jadi... "


" Menikahlah hanya untuk setahun. Setelah itu kau boleh kembali ke Korea. Temani ia menghabiskan waktunya yang tak lama lagi. Setidaknya aku ingin mengabulkan permintaan terakhirnya."


Ayah Yoo Jung yang awalnya terlihat sangat tegar dan kuat. Akhirnya ia menyerah dan menangis di depanku. Bahkan ia memohon kepadaku agar aku mau menikah dengan putrinya.


" Aku akan membebaskan hutang orangtuamu. Dan setelah itu terserah kalian mau kembali ke Korea atau menetap disini. Aku mohon padamu."


Tanganku gemetar, aku tak tahu harus bagaimana untuk memutuskannya. Haruskah aku menolong orangtuaku ataukah menyakiti Sarang wanita yang sangat aku cintai.



**


Sarang Pov


Dan setelah itu Kangjun tak membalas pesanku lagi. Apakah dia benar-benar sibuk disana?