
Hye Sun Pov
" Maaf, tapi kau bukan tipeku." kata-kata itu tiba-tiba terngiang di telingaku.
Bagaimana tidak?! Untuk pertama kalinya aku ditolak oleh seorang pria. Waktu itu aku menyukai Kangjun karena dia memang tampan dan juga populer. Berharap jika bisa menjadi kekasihnya aku akan menjadi ikut populer juga. Namun kenyataannya aku malah dipermalukan olehnya. Karena kejadian itu langsung diketahui oleh satu sekolah.
Banyak gadis yang ditolak olehnya karena alasan yang sama. Bukan tipenya, ku pikir tipenya itu adalah gadis yang wah atau setidaknya bukan seperti Sarang. Aku tak pernah membayangkan sebelumnya jika Sarang adalah tipe idealnya. Sangat menyebalkan.
Aku masih kesal dengan kejadian saat Sarang mendapatkan buket bunga itu dan Kangjun terlihat sangat bahagia. Bahkan Bora pun ikut mendukung hubungan mereka berdua.
Padahal Bora yang ku kenal adalah pribadi yang tidak peduli dengan orang lain. Dia hanya peduli dengan gosip dan menyebarkan berita itu pada orang lain. Bora sudah terkenal dengan predikat seperti itu.
" Aku akan berangkat kerja dulu." pamit Myung Soo, aku mematikan hairdryer dan berhenti mengeringkan rambutku yang masih basah.
" Tak sarapan??" tanyaku, ia sudah bersiap memakai sepatu.
" Aku tak lapar." pamitnya, lalu ia menghilang dibalik pintu.
Pernikahan yang seperti dipaksakan. Mengapa ia tak memperlakukanku layaknya seorang istri? Ini sama saja seperti Seokjin memperlakukanku dulu. Padahal aku berharap jika bersama dengan Myung Soo hidupku akan menjadi lebih baik. Semuanya pasti gara-gara Sarang.
Ini seperti pembalasan dendam. Karena dulu awalnya aku berpacaran dengan Myung Soo karena mengetahui jika Sarang sangat menyukai Myung Soo. Dari cara dia mendekati dan bicara padanya terlihat sangat jelas di mataku.
Dan entah mengapa aku tidak menyukainya. Aku tidak menyukai Sarang sejak pertama kali aku melihatnya di kantor. Dia berlagak seperti peri yang baik disana. Semua orang memujinya dan mengelu-elukannya.
Lalu suatu hari aku tak menyangka kalau Myung Soo mengatakan jika menyukaiku, dan kesempatan itu tak bisa ku sia-siakan begitu saja. Walaupun pada akhirnya aku terjebak dalam perasaan Myung Soo. Aku lama-lama menyukainya. Karena ia sangat tulus padaku.
Myung Soo membayarkan hutang ibuku. Bahkan ia membantuku dalam hal keuangan. Dulu dia sangat memperhatikanku dan memperlakukanku seperti hal yang paling berharga dihidupnya. Tapi sekarang???
💜💜
Sarang Pov
" Kau sudah bangun?" suara berat itu mengejutkanku.
Aku sedang menyiapkan sarapan untuknya pagi ini. Ini adalah pertama kalinya aku memasak untuk Kangjun.
" Eoh?! Aku sedang membuat sarapan. Bangunlah lalu cuci wajahmu. Dan makan sarapan yang sudah aku buat ini. Aku harus kembali ke rumah dan berganti baju. Karena aku harus berangkat kerja hari ini."
" Bukankah hari ini adalah hari minggu?!" ucapnya cuek lalu ia berjalan ke kamar mandi.
" Ah benar?! Hari ini adalah hari minggu, kenapa aku mejadi pelupa seperti ini?" aku memukul pelan kepalaku dengan sendok.
Kangjun duduk dan memakan sandwich buatanku. Ia terlihat sangat menikmatinya, hingga membuatku bangga.
" Aku pergi dulu ya." aku mengecup kening Kangjun sebelum akhirnya pergi dari apartemennya.
" Tunggu dulu. Kau akan ku antar." Kangjun setengah berlari untuk mengejarku. Ia menjejalkan potongan terakhir sandwich ke dalam mulutnya.
Pada akhirnya aku diantar pulang oleh Kangjun karena tak ada pilihan lain. Seoul pagi ini macet, jadi lebih baik aku menerima tawaran dari Kangjun. Lagipula hari ini libur. Aku ingin menghabiskan waktu lebih banyak dengannya.
Aku melihat-melihat majalah yang tergeletak di kursi belakang yang tak pernah aku lihat sebelumnya. Itu adalah majalah dimana Kangjun adalah modelnya.
Kangjun memperingatkanku agar tidak membukanya karena takut aku akan cemburu. Namun itu malah membuatku semakin bertambah penasaran.
" Memangnya kau berpose seperti apa, hingga membuatku cemburu?"
Lalu dengan yakin aku membukanya satu persatu lembaran majalah tersebut, ku lihat wajah Kangjun gugup dan keringat dingin mengucur dari keningnya.
" Apa sih?! " aku tertawa melihat Kangjun.
Dan saat melihat halaman majalah yang berisi foto Kangjun dan model wanita membuatku terdiam seketika.
" Sudah ku peringatkan ya?!" ucapnya.
" Kau tak boleh marah padaku karena itu adalah profesiku."
" Haruskah pose nya seperti ini?" aku merengut pada Kangjun dan memperlihatkan pose yang mesra padanya.
" Itu,, kan arahan dari photographernya.." Kangjun menjelaskan dengan hati-hati agar tidak membuatku semakin cemburu.
" Apakah kau cemburu?" ledek Kangjun.
" Tentu saja. Tentu saja aku cemburu."
" Tapi kau adalah wanita pertama yang ku cium."
Ucapannya membuatku harus terpaksa menahan senyum. Aku menyukai peenyataan itu.
" Bahkan aku belum pernah berfoto denganmu seperti ini." gumamku.
" Eoh?!! Apa kau ingin melakukannya denganku?" tanya Kangjun.
" Bisakah??" tanyaku penuh semangat.
" Tentu saja. Mari kita ke studio foto dan mengambil foto sebanyak-banyaknya. Nanti jika kita saling merindukan, kita bisa melihat foto-foto itu."
" Wah.. Daebak?! Aku tak pernah berpikiran seperti itu."
Lalu akhirnya aku dan Kangjun memutuskan untuk bepergian dengannya dan menghabiskan waktu bersamanya hari ini.
Ku pikir waktu dengannya hanya tersisa beberapa minggu lagi. Sebelum ia menyelesaikan semua pekerjaannya lalu pergi keluar negeri.
Tak bisakah ia memberikanku sebuah kepastian kapan ia kembali? Agar aku bisa menghitung hari demi hari kapan hari itu tiba. Karena saat ini, aku masih sangat ingin bersamanya.
Jangan lupa klik like dan favorit ya, semakin banyak like semakin cepat up episode selanjutnya. Gomawo~🤗