My Boyfriend Having Affairs

My Boyfriend Having Affairs
16. Lembaran Baru



Aku pulang ke Seoul keesokan paginya. Saat sarapan ibuku tak menanyakan apapun padaku, namun aku bisa mengetahui saat dia terus memandangiku waktu di meja makan.


Terlihat wajahnya penuh tanya.


“ Kau sungguh tak ada masalah?” tanya ibuku untuk memastikanku sekali lagi.


Aku bingung harus menjawab apa karena jika aku berkata jujur pasti ibuku akan merasa sakit hati karena kejadian kemarin.


“ Jika aku mengakhiri hubunganku dengan Myung Soo, kalian tak apa-apa kan?” tanyaku, ayah dan ibuku saling berpandangan. Mereka bingung.


“ Kenapa?” ayahku meletakkan sumpitnya dan fokus ingin mendengarkan jawabanku.


“ Sepertinya tak ada alasan buatku lagi untuk tetap bersama Myung Soo.” Aku menunduk dan bulir bening sudah terjatuh di atas tanganku.


“ Kami akan mengerti keputusanmu, tapi setidaknya jelaskan dulu mengapa kau tiba-tiba mengakhiri pertunangan ini kan?” ibuku mencoba mengerti suasana saat ini.


Dia yang biasanya langsung heboh jika mendengar sesuatu, kali ini menanggapinya dengan kepala dingin. Tapi apakah ia mau menerima kenyataan yang sebenarnya jika Myung Soo sekarang bersama gadis lain?


Ibu dan ayahku menunggu jawaban dariku.


“ Myung Soo… dia kembali dengan mantannya yang dulu. Dan mantannya sekarang sedang hamil.” Ucapku pelan.


Suara kursi ditarik kemudian langkah gontai itu meninggalkan meja makan. Ibuku beranjak tanpa meninggalkan kalimat apapun.


“ Aku akan bicara pada ibumu. Pasti dia akan baik-baik saja.”


Lalu aku kembali ke kamarku setelah membereskan semua makanan yang ada di meja makan. Pagi itu makanan sama sekali tak di sentuh oleh kami, karena setelah mendengar jawaban dariku. Tak ada satupun dari kami memiliki nafsu makan.


Semalam Kangjun tidak langsung pulang ke Seoul. Ia pergi menginap di hotel dengan Jaebum. Aku terkejut mendengar semua yang ia katakan tadi malam. Tentang Soo Ah yang menurutku sudah sangat keterlaluan karena mengancam Kangjun dan memaksanya untuk berkencan dengan Soo Ah.


“ Lalu darimana ia mendapatkan semua foto itu?” tanyaku tak kalah khawatir.


“ Sepertinya dia menyewa seorang mata-mata untuk mengawasi gerak-gerikku.”


Jawabannya membuatku spontan mengedarkan pandanganku di sekitar.


Aku takut jika sampai Soo Ah tau Kangjun bersamaku saat ini.


“ Kau tak perlu takut. Kalau Soo Ah berani macam-macam padamu aku tak akan tinggal diam.” Aku menatap wajahnya, mengapa ia masih bisa mengkhawatirkan aku padahal dia sendiri sedang dalam kesulitan?


“ Bukan begitu, bagaimana kalau ia marah padamu dan membuat suatu hal yang lebih besar terjadi lagi?”


“ Daepyonim bilang akan mengurus semuanya, aku hanya perlu bersabar dan menunggu.”


“ Jadi, kau tak sungguh-sungguh berkencan dengan Soo Ah kan?”


Kangjun tersenyum.


“ Kenapa?? Kau cemburu??” ia mulai menjahiliku.


“ Bukan seperti itu, aku hanya tak suka cara Soo Ah mengancammu.”


Dan sepertinya sekarang adalah waktu yang tepat untukku mengatakan apa yang terjadi yang sebenarnya pada Kim Hana. Model yang seharusnya ikut syuting waktu itu namun digantikan oleh Soo Ah secara mendadak.


Jika CEO Kangjun mau membantunya pasti hal ini juga bisa sedikit menyelesaikan masalahnya.


“ Kangjun-ah?!” aku membuka suara kembali setelah beberapa menit kami berdua sibuk dengan pikiran masing-masing.


Ia menghentikan ayunannya dan menatap ke arahku.


“ Soal Soo Ah…”


“ Kenapa dengan dia?"


“ Dulu saat aku ikut denganmu syuting iklan minuman waktu itu. Aku tak sengaja mendengar rahasia dari Soo Ah. Mungkin ini bisa membantumu untuk melawannya.”


Kangjun menatapku serius.


“ Kau tau kan jika sebenarnya model yang menjada lawan mainmu adalah Kim Hana?”


“ Iya, lalu…”


“ Kim Hana kecelakaan seminggu sebelum syuting dan itu adalah perbuatan Soo Ah. Ia menyuruh manajernya untuk mencari orang agar bisa mencelakai Kim Hana.”


Mata Kangjun membulat, ia tak percaya dengan apa yang baru saja aku ucapkan.


“ Benarkah?! Kau serius mendengar hal itu kan?” tanya Kangjun memastikan, ia seperti mendapatkan sebuah harapan dengan aku hal yang aku katakan itu.


“ Tapi aku tak sempat merekam perbincangan mereka.”


“ Tak apa-apa, aku akan meminta detektif untuk menyelidiki kasus Kim Hana. Karena memang dari awal mereka tak percaya jika itu adalah kecelakaan biasa.”


Aku tersenyum melihat Kangjun bersemangat lagi.


“ Oh ya, tadi mengapa kau menangis?”


Pertanyaannya membuatku kembali pada kejadian tadi siang di pasar saat Myung Soo sedang bersama dengan Hye Sun.


“ Kau tak mau menjawabnya?”


“ Ini sangat memalukan untuk ku ceritakan padamu.” Tawaku terdengar seperti terpaksa.


“ Wae??”


“ Hubunganku dengan Myung Soo sudah berakhir.”


“ Dia lebih memilih bersama dengan mantan kekasihnya yang sedang hamil. J-Jadi.. untuk.. apa..” aku kembali menangis jika mengingatnya.


Kangjun berada tepat di depanku. Dan membungkukkan badannya agar bisa memelukku. Ia menepuk pelan punggungku dan berusaha untuk menenangkanku.


“ Gwenchana gwenchana…” ucapnya pelan.


“ Tak usah kau lanjutkan jawabanmu jika hanya membuatmu terluka.”



Terdengar suara ayahku memanggil-manggil ibuku dengan cemas. Aku keluar untuk melihat apa yang sebenarnya sedang terjadi.


“ Appa?! Waeyeo?!!” aku berteriak dan berlari mengikuti ayahku yang sedang mengejar ibuku.


“ Ibumu akan ke rumah Myung Soo, katanya ia akan membunuhnya?!”


“ Apa?!” aku segera menyusul ibuku yang bersiap ingin memanggil taksi.


“ EOMMA?!!!!” panggilku, ibuku menghentikan langkahnya dan menoleh ke arahku.


Ia menangis!


“ Eomma?! Sudah.. biarkan saja. Lagipula aku juga sudah merelakannya.”


“ Tak bisa, aku tak bisa membiarkan lelaki brengsek itu hidup bahagia dengan wanita itu!” ibuku meronta hingga aku kewalahan.


“ Eomma, yakinlah padaku. Mereka tak akan bahagia… mereka sudah membuatku begini, mana mungkin Tuhan memberikan kebahagiaan pada mereka. Tunggu dan lihat saja. Jadi aku mohon tenanglah. Membunuhnya tak akan menyelesaikan masalah. Itu hanya akan menambah masalah baru untuk keluarga kita.”


Ibuku melemah. Ia menatapku sedih, aku tak tau apa yang dipikirkannya namun jelas wajahnya seperti tak rela jika aku diperlakukan seperti ini pada pria yang sudah ia anggap seperti menantunya sendiri.


“ Aku tak apa-apa.” Ucapku berusaha menenangkan ibuku.


“ Sungguh?!”


Aku mengangguk dan mengajaknya masuk ke dalam. Ayahku terpaku dari kejauhan dan menghela nafas lega ketika ibuku mulai kembali tenang.


Di balik wajah tenang ibuku saat sarapan tadi, tersimpan amarah dan kekecewaan dalam dirinya yang tak bisa ia tunjukkan padaku.


“ Aku akan kembali ke Seoul hari ini.” Pamitku pada ibuku yang sedang berbaring ditempat tidurnya.


Ia kemudian berusaha bangun dan duduk di tepi ranjang.


“ Jangan terlalu di pikirkan ya?!” pintaku padanya. Wajahnya masih terlihat sangat kusut. “ Aku bisa mengatasi semuanya.”


Ibuku memelukku, dan membelai pelan rambutku. Sorot mata itu masih menunjukkan kesedihan yang dalam.


“ Lelaki bukan Myung Soo saja. Aku yakin masih ada pria baik untukku.”akhirnya Ibuku bisa tersenyum kembali.


“ Ada yang menunggumu di depan.” Ucap ayahku membuat aku dan ibuku melirik ke arahnya secara bersamaan.


“ Siapa?” tanya ibuku, mungkin ia berpikir jika Myung Soo akan datang.


“ Bukan, sepertinya teman Sarang dari Seoul.”


Aku langsung menebak jika itu adalah Kangjun. Aku langsung berjalan menuju depan rumah dan memastikannya.


Kangjun tersenyum dan melambaikan tangannya. Ia membungkukkan badannya saat ibuku keluar rumah mengikutiku.


“ Anyeonghaseo..” sapa nya dengan sopan.


Ibuku nampak penasaran siapa pria yang ada di depannku saat ini.


“ Dia adalah Kangjun. Teman sd ku waktu dulu. Ibu masih ingat kan? dia kan dulu pernah main ke rumah kita saat masih kecil. Ibu lupa?” tanyaku.


Kemudian senyum ibuku merekah saat mengetahui jika ia adalah Lee Kangjun.


“ Oh,, kau yang waktu masih kecil sangat gemuk kan?? yang makannya banyak??” tanya ibuku membuat Kangjun terkekeh.


“ Iya, benar itu adalah saya.” Jawab Kangjun mantap.


“ Kau sekarang sangat tampan ya.” Ucap ibuku membuatku sedikit malu pada Kangjun.


“ Tolong jaga Sarang untukku ya. Dia memang terlihat tegar tapi sebenarnya dia …”


“ Eomma…”aku menjawil tangan ibuku dan menatap Kangjun yang masih tersenyum.


“ Jadi,, saya akan kembali ke Seoul dengan Sarang pagi ini.” Ucap Kangjun seolah meminta ijin pada ibu dan ayahku.


Ibuku mengangguk setuju tanpa meminta pendapatku terlebih dahulu.


“ Tapi aku kan..”


“ Sudahlah ayah lebih percaya jika kau kembali ke Seoul dengannya.” Ayahku tiba-tiba muncul dari belakang dan membawakan tasku.


“ Orangtuamu sudah mengijinkan jadi kau tak ada alasan untuk menolakku.”


Kangjun mengambil tas dari ayahku dan memasukkanya dalam mobilnya.


Akhirnya aku masuk ke dalam mobil setelah desakkan orangtuaku. Aku duduk di kursi belakang dengan Kangjun, dan di depan sudah ada Jaebum yang akan mengendarai mobil Kangjun. Ia mengatakan jika nanti mereka akan bergantian membawa mobil. Karena ini bukanlah bagian dari pekerjaannya melainkan urusan pribadi. Dan Jaebum hanya berniat membantu Kangjun karena sudah dianggap seperti adik sendiri.


Aku melihat bayangan yang mulai mendekati rumahku saat mobil Kangjun sudah berangkat pergi. Dia adalah Myung Soo.


Apa yang akan ia lakukan di rumahku????