
Kangjun POV
Aku menyandarkan tubuhku pada kursi mobil. Syuting sudah selesai setengah jam yang lalu. Dan aku benar-benar seperti dikerjai oleh Soo Ah. Dia selalu salah take dan mengulangi kesalahan yang sama. Dan yang lebih mengesalkan adalah dia selalu salah saat adegan ciuman. Soo Ah benar-benar ahli dalam membuat orang marah.
“ Sudah tak ada jadwal lagi kan?” tanyaku pada Jaebum yang baru saja masuk ke dalam mobil.
“ Tak ada. Kita langsung pulang saja kan?”
“ Iya.”
“ Oh iya, tadi aku menemui Ji Eun.” Mobil sudah melaju meninggalkan lokasi syuting.
“ Kau menemuinya? Untuk apa?” tanyaku penasaran.
“ Dia kan hoobae ku, apakah ada larangan untuk menemuinya.”
“ Ya, terserah kau juga sih.”
“ Hyung, jangan membuatku kesal. Aku benar-benar sedang memiliki suasana hati yang buruk.
“ Kenapa? Karena Soo Ah tadi?”
Aku mengangguk, Jaebum melirik dari kaca spion. Lalu tersenyum jahil.
“ Banyak yang membicarakan dia tadi. Mereka bilang jika Soo Ah itu sengaja, dan sutrdara marah-marah di belakang dia.”
“ Lagipula siapa sih yang milih dia jadi lawan mainku di drama ini?”
“ Cih!! Kau seperti baru mengenalnya saja.”
Tak lama kemudian ponselku berbunyi. Soo Ah menelponku, dan aku sudah muak dengannya bahkan mendengar suaranya saja. Aku langsung mematikan ponselku dan tidur sejenak.
“ Hyung, kita pulang ke rumah kau ya. Aku tak ingin pulang.”
“ Wae?”
“ Soo Ah menelponku, sepertinya ia akan ke apartemenku malam ini. Tolong aku, aku sudah bosan dengannya.”
Jaebum hanya tertawa.
Tiba-tiba aku teringat dengan ucapan daepyonim beberapa waktu yang lalu. Saat ia diam-diam memanggilku ke ruangannya untuk membahas mengenai Soo Ah.
“ Apa ada kabar baik untukku daepyonim?”
“ Mengenai yang ia lakukan pada Kim Hana aku sudah melaporkannya diam-diam. Mungkin detektif akan menyelidikinya lagi. Tapi aku memilki sebuah kabar yang lebih mengejutkan.”
“ Apa itu?” tanyaku, daepyonim memasang wajah serius.
“ Dia adalah simpanan CEO nya.”
Aku mematung mendengar perkataan daepyonim. Sebenarnya kabar miring tentang Soo Ah sudah aku ketahui sebelumnya, namun aku tak pernah peduli karena aku memang tak ingin mencampuri hidup orang lain.
Tapi menjadi simpanan CEO??? Bukankah CEO itu sudah memiliki anak dan istri. Bahkan anaknya yang paling besar sudah berumur delapan belas tahun. Aku pernah bertemu dengannya waktu itu saat acara jumpa fans. Dan dengan lugunya dia memintaku untuk pindah ke agensi ayahnya.
“ Jadi bagaimana menurutmu? Kau ingin membongkarnya satu persatu atau kita menunggu bukti dari detektif dulu.”
Aku berpikir sejenak bagaimana caranya agar ia benar-benar melepaskanku dari hidupnya.
“ Kita tunggu saja daepyonim.”
“ Kau serius? Kau masih betah dengannya?”
Aku tertawa. “ Jika saya betah, saya tak akan meminta tolong hal ini padamu daepyonim.”
Lalu tak lama kemudian mobil masuk ke dalam halaman sebuah rumah bercat putih. Ini adalah rumah Jaebum. Tak terlalu besar, namun sangat nyaman untuk di tinggali. Rumah ini adalah peninggalan dari ayahnya sebelum meninggal. Ia mewariskan rumah ini agar kelak saat Jaebum menikah tak usah memikirkan tentang rumah untuk istrinya.
Ahh tiba-tiba aku teringat dengan ayahku yang berada di Swiss saat ini. Walaupun memiliki orangtua namun aku selalu hidup sendiri sejak SMA. Mereka hanya peduli dengan uang. Mereka pikir dengan mengirimiku banyak uang, akan cukup membuatku bahagia. Padahal nyatanya, aku kesepian.
“ Kau serius akan tidur disini?”
“ Iya. Tak boleh??”
“ Sudah sampai rumah mana bisa aku menolaknya. Sudahlah masuk dan langsung istirahat, besok aku akan membangunkanmu.”
“ Besok ada jadwal??”
Jaebum menggeleng. “ Besok bangun membantuku membereskan rumah ini.”
💜💜
Aku melihat Ji Eun sedang berdiri di depan kosan malam ini. Wajahnya terlihat sangat gelisah.
“ Ji Eun?” panggilku.
“ Sarang..” Ji Eun hanya memainkan jemari tangannya, biasanya ia melakukannya karena gugup.
“ Ada apa?” tanyaku dan mendekatinya.
“ Bisakah kita masuk dulu.”
“ Tentu.” Aku mengajaknya masuk ke dalam.
Walaupun pernah tinggal disini, pasti ia sudah merasa asing dengan tempat ini.
“ Bagaimana kabarmu?” aku menekan kode pintu kamarku.
“ Baik, kau sendiri bagaimana?”
“ Aku?? Tidak terlalu baik, tapi tak begitu buruk juga.” aku mengambilkan segelas air putih dari kulkas.
“ Masalah Kangjun? Apakah itu benar?”
Aku kaget mendengar Ji Eun tiba-tiba menanyakan masalah Kangjun.
“ Masalah apa maksudmu?” aku berpura-pura bertanya karena siapa tau yang ia maksud adalah masalah lain.
“ Itu… dia dengan Soo Ah. Apakah benar begitu?”
“ Kau mendengarnya darimana?”
“ Dari Jaebum. Tadi siang aku menemuinya, dan ia mengatakan tentang Kangjun. Jaebum juga bilang kalau kau dengan Myung Soo sudah mengakhiri hubungan kalian.”
“ Cih!! Jaebum benar-benar tak bisa menjaga rahasia.” Desisku.
“ Kenapa kau tak mengatakan padaku? Kenapa kau tak bilang kalau Kangjun mengalami hal seperti ini. Aku merasa sangat bersalah padanya.”
“ Bagaimana aku bisa menghubungimu sedangkan telponku tak pernah kau angkat. Aku mengerti jika sekali dua kali kau tak mau mengangkatnya, tapi ini sudah sering. Jadi aku pikir kau ingin memutuskan pertemanan kita.”
“ Bukan itu maksudku Sarang. Aku hanya malu padamu.” Ia berkata dengan lirih.
“ Aku kan sudah mengatakannya jika aku juga akan melupakan semua itu. Kangjun juga, tapi kau sepertinya… ah! Sudahlah jangan dibahas lagi. Kangjun akan membereskannya.”
Aku sedikit emosi dengan Ji Eun, entah mengapa. Aku baru pertama kali ini merasa sangat kesal dengan teman dekatku sendiri.
Ji Eun bersiap pulang dan aku memcegahnya karena hari sudah sangat larut.
“ Tidurlah disini. Sudah malam, besok pagi baru kau bisa pulang.”
“ Tapi… aku tak mau merepotkanmu.”
“ Kau sudah tidak menganggapku sebagai teman?”
Lalu ia menurutiku untuk tidur di kosan ku malam ini.
Ponselku bordering, Bora menelponku malam-malam. Tak seperti biasanya dia menelponku.
“ Kenapa?” tanyaku langsung padanya.
“ Ibu Hye Sun tau nomerku darimana ya?”
“ Memangnya kenapa?”
“ Dia menelponku dan menanyakan apakah Myung Soo masih bekerja disini. Dan aku kebingungan menjawab apa.”
“ Katakan saja sejujurnya.”
“ Maksudmu, memberitahu orangtua Hye Sun jika Myung Soo bekerja di Busan saat ini?”
“ Itu terserah kau.”
Aku sudah bisa membayangkan apa jadinya nanti jika Myung Soo bertemu dengan ibu Hye Sun. belum lagi jika dia kembali ke Seoul. Pasti dia akan bertemu dengan Seokjin meskipun hanya satu kali.
Tapi itu sudah bukan menjadi urusanku.
“ Kau kan selalu tau, jadi sekarang saatnya kau gunakan keahlianmu tersebut. Aku tutup ya,aku sudah lelah.” Aku mengakhiri telepon dari Bora.
Ji Eun menatapku penasaran. Tapi aku tak bisa bercerita padanya lagi.