My Boyfriend Having Affairs

My Boyfriend Having Affairs
21. Menikah



Myung Soo POV


Kantor pusat tiba-tiba menelponku dan mengatakan jika ada masalah tadi pagi di kantor. Ibu Hye Sun mencariku, karena dia mengira aku menculik Hye Sun.


Aku mengacak-acak rambutku karena masalah yang tak pernah ada habisnya. Setiap hari selalu muncul masalah baru di hidupku. Mereka mengatakan jika ibu Hye Sun akan ke Busan untuk mencariku. Entah apa yang akan mereka lakukan padaku, tapi aku tak pernah merasa setakut ini.


Ibu Hye Sun sudah menganggapku menghancurkan hidup anaknya. Ia pasti lebih dari ingin memukulku atau bahkan ingin membunuhku.


Aku ijin untuk pulang cepat hari ini karena mendadak merasa pusing. Kepalaku terlalu banyak memikirkan hal- hal aneh akhir- akhir ini.


πŸ’œπŸ’œ


Pintu rumah di biarkan terbuka oleh Hye Sun, namun aku tak menemukan keberadaanya di rumah. Aku duduk di depan rumah dan menunggunya pulang.


β€œ Habis darimana?” tanyaku ketika kepalanya menyembul dari tangga membawa sebuah plastik belanjaan.


β€œ Aku habis dari pasar. Kau pulang cepat hari ini?”


β€œ Iya, kepalaku sangat pusing. Lalu pintu itu kenapa kau biarkan terbuka?”


β€œ Terbuka? Aku sudah menutupnya kok tadi.” Hye Sun menengok pintu yang terbuka.


β€œ Aneh sekali, apa aku lupa ya?” gumamnya.


β€œ Ibumu akan ke Busan. Tadi pagi dia membuat seluruh kantor heboh dan mengatakan jika aku menculikmu.” Aku mendengus kasar hingga ia menoleh.


β€œ Dia akan ke Busan?”


Aku mengangguk. Dia pasti akan ke kantor cabang setelah itu bertanya pada karyawan disana dimanakah rumahku berada, dan mungkin mereka akan memberikan alamat orangtuaku. Jantungku berdetak cepat membayangkan kekacauan apa yang akan terjadi nanti jika ibuku dan ibu Hye Sun bertemu.


Aku menelpon seorang staff dan menyuruh mereka agar tidak memberitau alamat rumahku. Namun mereka menolaknya karena takut akan menimbulkan kekacauan disana. Apalagi jika sampai memanggil polisi.


β€œ Bagaimana jika ibuku menyuruh kita menikah?” tanya Hye Sun.


β€œ Apakah itu mungkin?”


β€œ Mungkin saja, ia tak mungkin membiarkan aku hamil tanpa memiliki suami.”


Aku pasrah dengan apa yang terjadi nanti. Namun untuk menikahi Hye Sun? aku masih ragu.


β€œ Aku sedang pusing tolong jangan menambah pusing lagi.” Aku beranjak menuju kamar tidur dan tidur sejenak untuk mendinginkan otakku.


❀️


Sebuah tangan menggoyang-goyangkan tubuhku dengan kencang. Saat aku membuka mata Hye Sun membangunkanku dengan wajah cemasnya.


β€œ Bangun. Di luar sudah ada orangtua kita.”


Aku langsung tersadar dan duduk, menatap ruang tamu yang ribut oleh suara ibuku dan ibu Hye Sun. Aku keluar tak beberapa lama kemudian. Dan memberi salam pada ibu Hye Sun.


Wajahnya masih sama seperti dahulu, ekspresi saat menolakku untuk melamar anaknya. Dan kini aku melihat wajah itu kembali.


β€œ Langsung saja ke intinya. Kapan kau menikahi Hye Sun!” ucapnya ketus.


Ibuku menatapku geram karena pada dasarnya ia tak menyukai Hye Sun sebagai menantunya. Bagimanapun juga ia sudah menyukai Sarang.


β€œ Secepatnya.” Kata Hye Sun menyela, dan ibuku meliriknya tajam.


β€œ Baiklah. Saya Cuma ingin mendengar jawaban dari kalian, setelah kalian menikah saya tak akan peduli pada kehidupan kalian lagi.”


Aku tak mengerti mengapa ia tiba- tiba mengatakan hal tersebut. Dan datang jauh- jauh dari Seoul hanya untuk mendapatkan jawaban seperti ini.


β€œ Kau sudah hidup di istana, tapi malah memilih tinggal di gubuk.” Ucap Ibu Hye Sun hingga terdengar oleh ibuku.


Ibuku terlihat kesal.


β€œ Kau sudah memiliki permata, kenapa memungut beling.” Ibuku seakan tak terima dengan ucapan Ibu Hye Sun dan membalasnya.


β€œ Ibu sudahlah…”


β€œ Dan kau setuju akan menikahinya?!” ucap ibuku sinis. Jika ia tidak membawa- bawa nama polisi, aku tak akan menunjukkan rumah mu ini.”


β€œ Jika kalian akan menikah, aku tak akan datang.” Ibuku langsung pergi meninggalkanku, Hye Sun yang mendengarnya Nampak sedih.


Ibu Hye Sun memintaku untuk menikah di Seoul, ia tak ingin acara yang mewah karena menikahkan Hye Sun kedua kalinya, apalagi dalam keadaan hamil hanya membuat keluarga besarnya malu.


Lalu bagaimana aku akan mengatakan ini pada teman-teman kerjaku disana?