
Sarang Pov
Saat aku membuka mataku, aku melihat Ji Eun dan lainnya tidur dikamarku. Termasuk Jun Hee juga Jaebum.
Aku memijat kepalaku yang sedikit pusing karena terlalu banyak minum semalam. Saat aku melirik jam di ponselku, waktu sudah menunjukkan pukul enam pagi. Dan aku teringat jika Outing adalah hari ini.
Aku membangunkan Bora dan Jun Hee terlebih dahulu karena mereka juga akan berangkat untuk mengikuti Outing.
Mereka sangat susah dibangunkan. Aku berniat untuk membangunkan Jun Hee dan Bora namun Jaebum yang mengusap matanya dan menatapku dengan wajah yang aneh. Tatapan seperti kasian lebih tepatnya.
" Kenapa kau menatapku seperti itu?" tanyaku saat Jaebum bangun dari sofa yang pernah ditiduri oleh Kangjun.
" Tak apa-apa." ucapnya pelan.
" Sepertinya Kangjun ada sedikit masalah, jadi bersabarlah. Semalam aku sudah menelponya dan dia bilang jika ada suatu hal yg harus dipikirkannya." sambung Jaebum namun ia membuang pandangannya dariku.
" Kau serius kan?!" tanyaku untuk memastikan, ada suatu alasan mengapa aku tak begitu percaya padanya.
Ah.. Mata ini tiba-tiba basah. Aku sangat merindukannya saat ini. Dua hari mungkin waktu yang sangat singkat untukku mengatakan jika aku sangat merasa rindu. Namun entah mengapa hatiku menjadi selemah ini?
" Aku akan bicara padanya lagi." ucap Jaebum, ia menepuk pundakku pelan lalu melangkah keluar.
Ada perasaan yang mengganjal di hatiku. Namun aku tidak tau pasti apakah itu. Aku mencoba untuk berpikir positif namun tak pernah bisa. Kangjun orang yang selama ini ada untukku dan berusaha melindungi ku kini tiba-tiba seperti menghindariku.
" Kau kenapa?!" tanya Bora mengejutkanku. Dengan segera aku menghapus airmataku.
" Tidak apa-apa. Kau tak pulang?? Kau seharusnya berkemas karena hari ini kita akan pergi ke Jeju. Jam sembilan kita sudah harus berkumpul di bandara." ucapku mencoba menutupi kesedihanku.
Jun hee juga ikut terbangun, ia menyapa kami sebentar dan melirik ke arah Ji Eun lalu pamit pergi. Karena ia juga akan ikut acara ini.
Bora menatapku curiga, alis matanya naik turun seakan mencurigaiku tentang suatu hal.
" Semalam... Apa maksud ucapanmu?" tanya Bora.
" Semalam? Aku mengatakan apa??" aku mencoba mengingat kejadian semalem namun aku hanya mengingat jika aku sangat marah pada Jaebum.
"Kau mengatakan jika Kangjun adalah adik Jun Hee."
Aku tak sadar jika mengatakan itu, ingatanku tentang hal itu seakan terhapus begitu saja. Benarkah aku mengatakan hal tersebut?
" Sudahlah kau pulang saja dulu. Nanti akan ku beri tau." aku mendorong punggung Bora agar dia segera pergi.
Ji Eun masih terlelap tertidur. Aku tak akan membangunkannya karena hari ini adalah hari liburnya. Mungkin ia masih ingin tidur hingga siang.
Aku melangkah masuk menuju kamar mandi. Namun tak sengaja sebuah benda berkilau terjatuh, yakni kalung pemberian Kangjun. Aku memungutnya dan mencoba memasangnya kembali.
.
..
...
....
" Kau sudah selesai mandi?" tanya Ji Eun ia sudah menyiapkan sup pengar di meja.
" Kapan kau membeli sup itu?" tanyaku.
"Saat kau mandi. Aku baru kali melihatmu mandi hingga satu jam. Apakah kau baik-baik saja?" tanya Ji Eun.
Aku mengangguk. " Tentu saja."
" Kau bisa menceritakannya padaku seperti dulu jika memiliki masalah. Bukankah kita masih berteman?" tanya Ji Eun kemudian.
Aku diam, duduk di depan Ji Eun. Sup yang ia siapkan hanya aku aduk tak tau kapan akan aku telan.
" Gwenchana?! " Ji Eun memelukku dari samping. Airmataku menetes kembali.
Aku tak bisa mengucapkan apa-apa namun airmataku sudah cukup menjelaskan jika aku tidak sedang baik-baik saja.
" Masalah Kangjuni?!!" tanya ia lagi, aku hanya mengangguk.
" Ia pasti kembali. Aku tau ia sangat mencintaimu. Bahkan sebelum pergi ia mengatakan padaku untuk menjagamu selama ia pergi. Ia juga mengatakan jika ada apa-apa denganmu aku diminta untjk segera menghubunginya."
" Kapan ia memberitaumu?" tanyaku.
Ji Eun lalu mengambil mangkuk berisi tersebut lalu menyuapiku.
" Terimakasih Ji Eun ah." ucapku tapi entah mengapa hatiku semakin perih.
❤️❤️
Aku sengaja meninggalkan ponselku di rumah, membawa ponsel hanya membuatku teringat dengan Kangjun. Dan menunggunya mengirim pesan padaku.
" Choi Sarang!!!" panggil Bora. Ia melambai ke arahku.
Aku berjalan menuju ke arahnya dan tepat di belakangku juga ada Myung Soo yang akhirnya ikut.
Hanya butuh waktu sekitar satu jam antara Seoul ke Jeju. Jadi perjalanan ini tak akan memakan waktu yang lama.
" Kau diantar siapa?" tanya Bora.
" Sendiri. Tadi dengan Ji Eun tapi berpisah di tengah jalan karena arahnya berbeda. Ia turun dan naik bus."
Bora mengangguk namun ia menatap ke arah lain.
" Lihat siapa yang datang." bisik Bora saat melihat Seokjin mengenakan baju casual.
Ia nampak menawan meskipun tak memakai jas seperti biasanya. Seokjin menyapa tiap karyawan pagi itu. Lalu menuju ke arahku dan Bora.
" Mari kita bersenang-senang." ucapnya dan berlalu menuju karyawan lain.
Bora mengetahui jika beberapa hari yang lalu ia sempat menawarkan tumpanganya padaku. Membuat radar gosipnya menyala dengan cepat.
" Hanya kau yang ditawari!!?" bisik Bora.
" Lalu kenapa?! "
" Mungkin dia menyukaimu." Ucapnya namun aku sangat takut dengan ucapannya karena beberapa hal.
" Jangan mengatakan yang tidak-tidak."
" Jika kau bersamanya, maka akan dua pria yang patah hatinya. "
" Nugu?! "
" Yang sedang berada di Swiss dan pria itu." Bora menunjuk Myung soo dengan matanya.
Myung Soo duduk sendiri bermain ponselnya lalu sesekali ia mengedarkan pandangannya ke sekitar.
Aku merasa kasihan padanya karena ia tak bisa bergaul seperti dulu lagi.
" Aku tadi menelponmu." ucap Bora lagi.
" Aku tak membawa ponsel."
"Wae?!!!!!"
" Yah begitulah. Aku hanya sedang tak ingin."
Pembicaraan kami berakhir ketika jam penerbangan kami sudah tiba waktunya.
Tanpa sengaja Myung Soo duduk di sampingku kiriku, dan Bora disamping kananku, membuatku benar-benar canggung.
" Kau mau ganti tempat duduk? "bisik Bora.
Aku menggeleng, berusaha agar Myung soo tak mendengar ucapan Bora.
💜💜
Kangjun Pov
Aku menelpon Sarang namun tak ia angkat. Pesanku juga tak ia baca. Apakah ia sekarang sudah benar-benar muak padaku??
Lalu aku menghubungi Ji Eun. Dan ia mengatakan jika ponselnya ia tinggal. Sarang sedang ada kegiatan Outing dan dua hari baru kembali.
Ji Eun sempat menanyakan padaku mengapa aku terkesan menghindari Sarang dan sudah berubah semenjak beeada di Swiss. Namun aku tak bisa menjawabnya. Ji Eun juga mengatakan jika Sarang menangis karena terlalu merindukanku.
Kini aku mulai berpikiran jika ternyata aku tak jauh berbeda dengan Myung Soo.