
Seorang sekuriti masuk ke dalam kantor, ia berlari mengejar seseorang yang sepertinya mau menerobos masuk ke dalam.
“ Lepaskan saya!! Saya mau bertemu dengan karyawan disini yang bertanya Kim Myung Soo!!” seorang wanita paruh baya berteriak sambil melemparkan pandangannya pada seisi kantor pagi ini.
“ Ibu Hye Sun?” gumamku.
“ Dimana Myung Soo? Beraninya dia menculik anak saya dan membawanya kabur?”
Aku mengernyitkan dahiku, menculik? Membawa kabur? Tak mungkin!
“ Dia sekarang berada di Busan eommoni.” Ucap Bora mencoba menenangkan.
“ Dia kabur ke Busan?!!”
“ Bu-bukan kabur tapi bekerja disana selama dua bulan. Bulan depan ia sudah kembali ke kantor ini.”
Ibu Hye Sun mencoba melepaskan cengkeraman tangan dari dua sekuriti tersebut dengan sekuat tenaga.
“ Ada apa ini?” pujangnim dan Seokjin keluar dari ruangannya secara bersamaan karena mendengar keributan ini.
Seokjin yang mengenali mantan mertuanya langsung mengajaknya pergi keluar. Entah apa yang akan mereka bicarakan aku tidak tau. Namun yang pasti, ini mengenai Myung Soo dan Hye Sun.
Dan mendadak semua staff memandangiku dengan tatapan penasaran. Mereka mulai berbisik-bisik dan membuat cerita tentangku dan Myung Soo. Mereka belum tau jika aku dan Myung Soo putus. Yang mereka tau adalah aku masih bertunangan dengan Myung Soo.
“ Bubar- bubar.” Bora membubarkan segerombolan staff yang sedang sibuk menggosipkanku.
“ Jika dari kalian ketahuan olehku menyebarkan gossip. Aku juga tak akan tinggal diam untuk menyebarkan gossip tentang kalian lho?!” Bora mengancam mereka dengan kalimat yang halus, namun cukup untuk membuat mereka bubar dan diam.
“ Terimakasih.” Ucapku pada Bora.
💜💜
Aku duduk di atas atap kantorku. Disana ada sebuah tempat duduk yang biasanya untuk tempat mereka merokok ataupun yang sedang tak ingin makan. Aku memandangi langit yang sangat cerah, matahari condong padaku hingga membuatku samar melihat seseorang yang berjalan ke arahku.
“ Kau tak makan?” tanyaku pada Jun Hee.
“ Kau sendiri?”
Aku diam.
“ Ah, diet.” Ia menjawab pertanyaannya sendiri.
“ Kau tidak sedang mencoba untuk menanyaiku tentang kejadian tadi pagi kan?”
Ia menaikkan kedua pundaknya.
“ Kau menyindirku?”
“ Tidak, jika kau merasa tersindir ya itu masalah kau.”
Aku kembali teringat dengan pertanyaanku pada Jun Hee kemarin tentang mengapa ia sangat membenci Kangjun. Bahkan aku memaksanya agar dia mau menjawab pertanyaanku. Membuatku tersadar jika aku terlalu ingin tau tentang masalah orang lain.
Tak lama kemudian, Jun Hee mengeluarkan selembar poto yang sudah usang padaku.
“ Kau pasti tau siapa dia?” dia memberikan foto itu padaku.
Aku berpikir dan mencoba mengingat pria yang ada dalam poto tersebut. Nampak tak asing namun aku kesusahan mengingatnya.
“ Tunggu dulu.” Poto itu aku ambil saat Jun Hee mencoba untuk mengambilnya kembali.
“ Sepertinya aku kenal.” Mataku membulat saat teringat siapakah pria yang ada dalam foto tersebut.
“ Ayah Kangjun?!!!” pekikku.
Jun Hee mengambil foto tersebut dan menceritakan kejadian yang ia alami beberapa puluh tahun yang lalu.
Awalnya ayah Kangjun adalah suami sah ibu Jun Hee. Namun karena mereka hidup susah ayah Jun Hee menceraikannya demi bersama ibu Kangjun saat ini. Jun Hee lebih tua setahun dari Kangjun, karena masalah ekonomi Jun Hee terlambat untuk memulai sekolahnya. Hingga bisa satu kelas dengan Kangjun.
“ Lalu nama margamu berbeda?”
“ Ibuku menikah lagi dengan pria lain. Dan ia mengubah namaku karena ia pikir ayah kandungku tidak memberikan apa- apa padaku.”
“ Dan yang lebih menyakitkan adalah, ketika aku menyapanya lalu ia berpura-pura tidak mengenaliku. Kemudian aku tak menyangka jika anaknya bersekolah yang sama denganku. Setiap kali aku melihat Kangjun, rasa benci dalam hati ini meluap-luap.”
“ Dalam hatiku selalu bertanya, mengapa ia sangat beruntung? Mengapa ia memiliki ayah dan ibu kandung. Mengapa ia kaya, hingga sekarangpun dia sukses dan aku berada di bawahnya sepuluh kali lipat.”
Aku hanya diam mendengar penjelasan dari Jun Hee. Aku tak menyangka jika ia memiliki masa lalu yang kelam seperti itu.
“ Tapi Kangjun tak tau apa – apa kan tentang kau? Dia juga tidak tau jika ayahnya sudah pernah menikah.”
“ Entahlah, aku tak bisa berpikir jernih seperti itu. Maka dari itu aku ingin menyiksanya tiap kali melihatnya. Dia sudah hidup terlalu enak. Tak bisakah dia sedikit menderita?”
“ Kau tak akan pernah tau penderitaan seseorang, jika kau tak mengenalnya. Kangjun yang kau pikir selalu bahagia, padahal tak seperti itu kelihatannya. Aku bisa mengatakan ini, karena aku tau tentang Kangjun.”
“ Sudahlah, kau tak akan pernah berada di pihakku. Karena kau menyukainya sejak dulu.”
Ucapan Jun Hee membuatku berpikir dalam. Menyukainya sejak dulu? Bagaimana ia bisa tau daripada aku sendiri yang memiliki hati ini?
“ Jangan mengatakan apapun pada Kangjun.” Ucapnya kemudian menghilang di balik pintu.