
Aku sedang berada di Busan sekarang. Malam ini orangtuaku dan orangtua Myung Soo akan bertemu di sebuah restoran.
Ibuku bertanya padaku, kenapa tidak langsung menikah saja jika Myung Soo memang sudah mantap dengan pernikahan. Namun aku tak bisa menjawab dengan sebuah jawaban karena masih ragu.
Jika ibu dan ayahku mengetahui tentang Myung Soo dan Hye Sun mungkin dia tak akan pernah merestui pertunangan ini. Dan mungkin saja mereka akan menyuruhku untuk memutuskan hubunganku dengan Myung Soo.
Orangtua mana, yang ingin anaknya menjadi calon istri dari seseorang yang pernah melakukan hal seperti itu pada istri orang lain. Dan ini akan menjadi rahasia antara aku dan Myung Soo.
❤️❤️❤️
Kemarin Ji Eun meneleponku setelah ia datang ke rumah Kangjun waktu itu. Ia bilang jika Kangjun sangat kacau. Aku tak tahu harus berkata apa pada Ji Eun, karena mungkin Kangjun seperti itu karena kecewa padaku.
" Kangjun tak bisa ikut casting web drama." ucap Ji Eun saat itu.
" Memangnya kenapa?"
" Dia benar-benar mabuk saat aku sampai rumahnya. Dan paginya dia ingin membatalkan semua jadwal."
" Lalu bagaimana keadaannya sekarang?"
" Dia tidur di kamar dan enggan keluar. Katanya ia akan menghubungiku jika sudah benar-benar ingin melakukannya."
Dan hari itu, Ji Eun dibuat repot oleh Kangjun karena semua jadwal pada hari itu tiba-tiba di batalkan olehnya.
Soo Ah yang mengikuti casting itu, kata Ji Eun juga protes padanya. Ia bilang jika Ji Eun adalah manajer yang tidak profesional karena tidak bisa menjaga artisnya.
Dan aku tersadar, saat Ji Eun membutuhkan seseorang untuk berbagi masalahnya aku malah tidak ada di sampingnya.
❤️❤️❤️
" Kita mau ke restoran mana sih?" tanya ibuku yang duduk di kursi belakang dengan ayahku.
Kami ke restoran sengaja naik taksi. Karena aku tak memiliki sim, dan ayahku baru-baru ini mengalami kecelakaan walaupun hanya ringan.
" Bentar lagi sampai kok."
" Ternyata jauh ya, make up ini rasanya sudah mau luntur. Aku tak mau kelihatan jelek di depan orangtua Myung Soo." ibuku berkali-kali mengaca di sebuah kaca bedak yang ia bawa.
" Yang mau dilamar kan bukan kau, kenapa kau yang repot sama make up." ayahku yang sepertinya sudah risih dengan ibuku akhirnya bicara juga.
" Yeobo??!!!" (*panggilan sayang) ibuku melirik tajam pada ayahku dan aku hanya bisa terkekeh karena tingkah mereka berdua.
Myung Soo langsung memberikan salam, saat melihat orangtuaku tiba. Begitupula aku, aku juga membungkuk dan memberikan salam pada orangtua Myung Soo. Tak heran jika Myung Soo memiliki wajah yang tampan. Semuanya diwariskan dari orangtuanya.
Walaupun dulu sempat bersekolah yang sama dengannya namun aku tak pernah memiliki kesempatan untuk bertemu dengan orangtua Myung Soo. Karena selain aku tidak dekat padanya, lagipula aku tak ada alasan untuk tiba-tiba datang ke rumahnya. Karena dulu aku hanya cinta sepihak.
" Silahkan duduk." ucap ayah Myung Soo menunjuk meja yang sudah di pesan anaknya.
Myung Soo menarik kursi untukku, aku melihat ibuku sekilas, ia terlihat begitu sangat menyukai Myung Soo sejak pandangan pertama.
Tak ada orang yang tak menyukainya. Selain tampan, dia itu juga sangat baik. Jujur, dulu aku menyukainya karena hal itu.
Ia adalah tipe pria yang mau melakukan apa saja demi wanita yang ia cintai. Aku melihatnya saat ia masih berpacaran dengan Hye Sun. Dia yang sangat mengalah pada Hye Sun, selalu meminta maaf walaupun itu bukan salahnya. Myung Soo melakukannya bukan karena tak memiliki harga diri, bukan karena itu. Ia melakukannya karena ingin mempertahankan Hye Sun agar tetap disisinya. Iya, dia sangat mencintai Hye Sun.
" Tampan ya.." puji ibuku pada Myung Soo, ia hanya tersenyum malu.
" Sarang juga cantik. Myung Soo sering bercerita tentang Sarang. Ia bilang kalau Sarang itu cantik dan baik. Dan ternyata benar." ibu Myung Soo juga membalas memujiku.
Aku dan Myung Soo saling berpandangan setelah mendengar pujian tersebut dan tersipu malu.
--
Dan acara pertunangan itu berakhir sekitar jam sembilan malam. Hanya dua jam, namun sudah cukup untukku mengetahui jika orangtua Myung Soo itu baik dan menyambut ku sebagai calon menantunya dengan baik.
" Nanti aku telepon." ucap Myung Soo saat mengantarkan aku dan orangtuaku ke lobi.
Aku mengangguk.
" Besok datanglah ke rumah kami. Akan kami siapkan makanan kesukaanmu." ucap ibuku tiba-tiba dan Myung Soo tersenyum mengangguk mengiyakan.
Hatiku lega karena acara pertunangan malam ini berjalan dengan lancar. Orangtua Myung Soo mengatakan jika bisa, tahun depan aku dan Myung Soo untuk segera menikah, karena mereka ingin secepatnya menimang cucu. Begitupun orangtuaku.
Raut wajah Myung Soo berubah ketika orangtua mereka tiba-tiba membicarakan cucu. Aku bisa melihatnya, mungkin Myung Soo teringat dengan bayi yang dikandung oleh Hye Sun.
Ponselku berbunyi, sebuah pesan masuk dari Kangjun. Sudah tiga hari ia tidak menghubungiku. Aku mencoba berpikir positif jika ia sedang sibuk dengan pekerjaannya.
" Lancar??"
Mungkin yang ia maksud acara pertunanganku.
" *Iya."
" Selamat ya."
" Terimakasih. Bagaimana kabarmu?"
" Baik. Minggu depan aku sudah mulai syuting drama*."
" Semangat ya."
Lalu setelah itu ia tak membalas pesan itu lagi. Seperti yang sudah-sudah ia biasanya meneleponku jika tak membalas pesan.
" Dari siapa?? Sibuk banget sama ponsel padahal baru juga bertemu." tanya Ayahku yang penasaran karena aku terus menatap layar ponselku.
" Bukan dari Myung Soo kok."
" Lalu?!" ibuku ikut menyahut.
" Itu, Kangjun. Teman SD yang paling gemuk di kelas."
" Oh Lee Kangjun??! Bagaimana kabarnya?? Dia anak yang sering kamu ceritakan itu kan?!"
" Eomma, mengenali pria ini tidak?" aku menyodorkan ponselku dengan foto Kangjun saat menjadi model di majalah dan ibuku menatap dengan heran.
" Kok beda." tanya ibuku.
" Eomma, sekarang dia sudah menjadi model terkenal, dan minggu depan akan mulai syuting drama. Dia sangat keren sekarang." ucapku seakan membanggakan pacarku sendiri di depan orangtua.
" Terus, apa dia menyukaimu?"
Aku diam karena bingung tak bisa menjawab apa-apa.
❤️❤️❤️
Flashback Kangjun
(Beberapa hari sebelumnya saat Kangjun mabuk)
Kangjun POV
Kabar pertunangannya sangat menyakitkanku. Aku tak menyangka jika Sarang akan menerima lamaran lelaki yang sudah pernah menghianatinya. Kenapa harus lelaki itu?! Tak bisakah kau dapatkan yang lebih baik dari dia.
Aku mengabaikan pesan terakhir dari Sarang . Karena aku merasa sangat marah padanya. Namun sejenak aku berpikir jika aku bukanlah siapa-siapa Sarang.
Dan bahkan kecewapun aku tak berhak.
Pertemuan di minimarket itu, aku pikir adalah sebuah takdir agar aku bisa mendapatkan cinta pertamaku dulu. Namun yang ku lihat dia sudah memiliki kekasih. Alih-alih kekasih yang baik tapi dia mendapatkan kekasih yang benar-benar membuat hatinya terluka.
Setelah pindah sekolah dan juga rumah tak sekalipun aku tertarik pada gadis lain. Aku terus menunggu Sarang dan berubah menjadi seperti ini agar ia bisa menyukaiku. Tapi kenyataannya berkata lain. Setelah sekian lama tak bertemu, aku tak bisa menggapainya lagi. Apa yang harus aku lakukan agar dia bisa mencintaiku???
Ini sudah botol keenamku. Tak terasa aku meminum soju ini sendirian. Kepalaku semakin berat dan pikiranku semakin tak karuan.
Jariku seperti bergerak sendiri untuk menelepon Sarang, dan mulutku mengucapkan selamat padanya. Ia nampak mengkhawatirkanku. Tapi kekhawatirannya hanya sebatas menanyakan keadaanku saja. Tak bisakah dia menemaniku malam ini???
" Kangjun-ssi!!!" suara manajerku terdengar dari luar namun aku mengabaikannya karena badan ini tak kuat untuk berjalan.
Lagi pula ia tahu kode pintu apartemen ini.
" Kangjun ssi!! Sadarlah??!! Kau lupa jika besok ada casting drama pertamamu??" ia merampas sebotol soju yang ada ditanganku.
Bayangan manajer terlihat samar. Berubah menjadi buram lalu perlahan menjadi bayangan Sarang.
" Sarang... Akhirnya kau ada disini. Kau mengkhawatirkan aku bukan??!" Aku memeluknya erat dan dia tak menolak sama sekali.
" Temani aku malam ini ya?" pintaku mengemis padanya.
Ia memelukku erat. Dan kurasakan tetesan bening jatuh ke bahuku.
" Maafkan aku Kangjun ssi!" wajahnya mulai mendekat dan bibirnya mulai mengecup bibirku dengan lembut.
Aku hanya mengikuti permainanya bahkan saat ia mencoba merebahkan aku dalam tempat tidurku.
Tangannya mulai membuka kancing bajuku satu persatu. Namun saat ia ingin membuka bajunya, aku menghentikannya. Aku tak ingin melakukan hal yang lebih jauh padanya.
" Jangan seperti ini, kau akan bertunangan." ucapku lirih wajahnya nampak kecewa.
Ia memandangku cukup lama, lalu beranjak pergi keluar kamar.
---
Aku terbangun dengan kepala yang terasa sangat pusing dan berat. Lalu aku melihat banyak botol soju tergeletak di ruang tamu. Sepertinya ada yang sudah merapihkannya semalam.
Manajerku terlihat sedang memasak. Aku tak menyadarinya sejak kapan dia berada disini.
" Sudah bangun??" tanya Manajerku saat mengetahui aku memandangnya dari belakang.
Aku mengangguk lemas.
Lalu dia menghidangkan sup pereda mabuk di depanku.
" Aku tak berselera untuk makan."
" Kenapa??"
" Entahlah. Oh ya bukannya semalam Sarang kesini?? "
Raut wajah Manajerku berubah memerah ketika aku menyebut kata Sarang.
" Sarang tak kesini. Dari semalam aku yang ada disini menemanimu."
Lalu seperti bayangan slide show yang sulit ku putar. Sepertinya ada ingatan yang aku lupakan.
" Lalu... Siapa yang berada dikamarku semalam??"
" Kau cuma mimpi. Saat aku kesini kau sudah tertidur di tempat tidurmu."
" Benarkah?" lalu aku berjalan masuk ke dalam kamar tanpa menyentuh sup buatan manajerku.
" Hari ini ada casting. Tolong bersiaplah. "
Aku menolehnya sebentar dan menggelengkan kepalaku.
"Batalkan saja. Aku ingin tidur hari ini. Kepalaku pusing. Jika ada aktor yang mau menggantikanku, tak apa-apa."
"Kau ingin direktur memarahiku?!!"
BLAMMMM!!!
Aku menutup pintu dengan keras dan mengingat kembali kejadian semalam. Apakah benar aku hanya bermimpi atau benar-benar ada Sarang disini.
Flashback end
❤️❤️❤️
Kangjun benar-benar menelponku. Tiba-tiba ia bertanya pada hari ia mabuk apakah aku ke apartemennya atau tidak.
Dan aku menjawabnya tidak, karena memang aku tak pernah ke rumahnya saat itu melainkan Ji Eun.
Nada kecewa keluar dari mulutnya ketika aku mengatakan jika Ji Eun yang bergegas kesana setelah mengetahui keadaannya.
" Kapan kembali??" tanya Kangjun setelah kami berdiam cukup lama.
" Besok. Karena masa cutiku juga sudah habis."
" Apakah kita masih bisa bertemu??"
Aku diam cukup lama.
" Tak bisa ya?"
" Nanti akan ku kabari lagi. Aku tak bisa berjanji yang tak pasti."
" Oh begitu, baiklah. Aku tunggu kabar darimu."
Myung Soo menelponku sesaat setelah panggilan dari Kangjun ku akhiri.
" Sedang apa??? Kenapa sulit sekali menghubungimu belakangan ini? Apa kau sedang menelpon seseorang?" Myung Soo memborondongiku dengan banyak pertanyaan.
" Iya." jawabku singkat.
" Siapa??"
" Ji Eun."
" Maaf atas ucapan ibuku yang tadi."
" Yang mana??"
" Saat ibuku mulai membicarakan tentang cucu. Wajahmu terlihat langsung berubah."
" Oh itu, aku merasa biasa saja. Tapi aku tau dalam pikiranmu langsung melayang pada Hye Sun."
Myung Soo diam.
" Benarkah apa yang aku pikirkan sekarang?"
Myung Soo tetap diam. Aku hanya mendengar suara nafasnya yang begitu berat.
Tanpa meminta ijin padanya aku langsung mengakhiri pembicaraanku dengan dia.
Aku berbaring di kasurku lalu tak sengaja tanganku merogoh sebuah ganjalan yang ada di kasur.
Sebuah buku diary saat aku SMA masih tersimpan disana. Ternyata ibuku tak pernah merubah kamar ini sejak aku pergi bekerja keluar kota untuk waktu yang lama.
Aku membuka lembaran demi lembaran buku itu. Tersenyum lalu tiba-tiba menjadi murung, semua isi yang ada di diary tersebut menceritakan bagaimana aku mencintai Myung Soo secara sepihak.
" Apakah Myung Soo bukan jodohku??" gumamku.
Setelah kemarin aku sangat yakin pada Myung Soo. Lalu setelah melihatnya di pertunangan tadi, melihat bagaimana ekspresinya nampak seperti itu. Saat ibunya membahas seorang cucu. Hatiku tiba-tiba merasakan perih kembali.
Apakah dia benar sudah melupakan Hye Sun?? Ataukah ia tiba-tiba teringat jika ia sudah memiliki calon bayi di rahim wanita lain???
Pikiran itu berkecamuk di otakku. Bagaimana jika apa yang aku pikirkan benar-benar terjadi?? Aku menjadi ketakutan seperti ini.
" Bukan seperti itu. Maaf aku tak bisa menjawabnya. Aku juga bingung kenapa aku seperti itu tadi, saat ibuku membahas mengenai cucu."
Pesan dari Myung Soo bukannya membuatku menjadi lebih baik. Melainkan membuatku semakin bingung.
Ada pesan masuk di sosial mediaku. Hwang Bitna, temanku saat sd mengajak untuk reuni.
Awalnya aku malas untuk membalas pesan tersebut. Karena mengingat apa yang sudah mereka lakukan padaku dan Kangjun benar-benar sudah keterlaluan. Namun aku memiliki sebuah ide lain. Kemudian aku menyetujui dan akan ikut bergabung dengan acara reuni tersebut.
Aku menelpon Kangjun dengan semangat. Nada sambung terdengar lama, lalu suara berat menyapa.
" Yeobseoyeo??"
" Hmm Kangjun ah!! Aku ingin bertemu denganmu hari kamis. Tolong luangkan sedikit waktumu."
" Mendadak??? Ada apa??"
" Kita diundang untuk menghadiri reuni teman-teman sd. Kau akan datang kan???"
" Gimana ya??" Kangjun tampak ragu.
Namun aku berusaha meyakinkannya bahwa semua akan baik-baik saja.
" Ada aku. Tenang saja. Lagi pula kau bukan Kangjun yang dulu. Sekarang kau adalah Kangjun yang keren. Model terkenal dan sebentar lagi akan menjadi aktor berbakat."
Terdengar suara tawa Kangjun. Yang sangat menenangkanku.
" Iya. Baiklah, aku akan ikut. Selama ada kau disana."
Aku senang karena Kangjun akan datang di reuni itu. Dan aku akan membuat semua orang yang pernah menghinanya menjadi tak berkutik.