My Boyfriend Having Affairs

My Boyfriend Having Affairs
Episode 29



Sarang Pov


Hari ini Myung Soo sudah kembali bekerja di sini. Sudah beberapa bulan sejak kejadian itu, dan aku tak pernah melihatnya lagi. Kemudian sekarang kami berdua harus bertemu setiap hari di ruangan yang sama.


Ia datang sekaligus membawa undangan pernikahan mereka yang akan di adakan hari sabtu pada minggu ini.


Aku adalah orang yang terakhir menerima undangan tersebut. Dia memberikanku dengan wajah penuh rasa bersalah padaku. Dan aku, sangat canggung untuk menerimanya.


" Datang ya." ucapnya sambil memberikan undangan berwarna merah muda tersebut.


Aku hanya menggangguk lalu melanjutkan pekerjaanku.


" Aku benar-benar menyesal." ucapnya lagi.


" Sudahlah. Aku sudah melupakan semuanya." aku bangkit dari tempat dudukku lalu menuju ke pantry.


Lalu tak sengaja Seokjin melintas, Myung Soo bingung bagaimana harus bersikap sedangkan aku hanya mengucapkan salam lalu membugkukkan sedikit badanku.


Seokjin memandang Myung Soo dengan tatapan yang seakan merendahkannya hingga membuatnya tak terima.


" Kau mau apa?!" aku menghentikan langkah Myung Soo yang hendak mengejar Seokjin yang masuk ke dalam ruangannya.


Myung Soo berbalik ke arahku.


" Kau pikir saja jika kau berada di posisinya. Bagaimana perasaanmu?" ucapku lagi.


Ia mengepalkan tangannya dan ia layangkan pukulan itu ke udara.


" Jika saja dulu kau mau berfikir panjang." ucapku saat melewatinya.


🎈🎈


Aku Bora dan Junhee hari ini makan siang bersama di sebuah restoran samgyetang yakni sup ayam ginseng.



Awalnya Junhee menolak ajakanku, tapi akhirnya mau setelah di paksa oleh Bora. Ia kasihan tiap kali melihat Junhee selalu makan sendirian di pantry hanya dengan gimbab segitiga yang dibelinya di minimarket pada pagi hari.


Junhee yang ku kenal arogan saat kecil dulu kenapa sekarang aku menatapnya kasihan??


" Padahal kita bekerja di perusahaan ayam goreng. Tapi sekarang kita sedang makan sup ayam di restoran orang lain." celetuk Bora saat menyesap kuah sup di sendoknya.



" Sekali-kali kita harus sedikit berkhianat." imbuhku.


Aku menatap Junhee hanya fokus dengan makanannya, membuatku teringat pada Kangjun kemarin.


βž–


Setelah ia bangun aku menanyakan suatu hal padanya, karena ucapan Jaebum yang membuatku penasaran.


" Kau tak ada hal yang ingin katakan padaku?" tanyaku pada Kangjun yang membenarkan posisi duduknya.


" Suatu hal?? Apa ya?" dia berbalik bertanya.


" Ya sudah kalau tidak ada." aku duduk menghadap wajahnya, berharap dia mau mengatakannya.


" Jangan menatapku seperti itu."


" Makanya katakan sesuatu hal itu?"


Kangjun berpikir lama. Ia memainkan jam tangannya dan matanya mengitari seluruh isi kontrakan untuk menghindari pertanyaanku.


" Baiklah-baiklah aku akan mengatakannya padamu." Kangjun menyerah setelah beberapa menit gerak geraknya aku awasi.


Wajahnya menjadi serius seperti Jaebum.


" Aku akan ke Swiss bulan depan." ucapnya.


Aku menatapnya dengan tatapan tak percaya. Perasaan apa yang sedang di hatiku saat ini? Mengapa tiba-tiba menjadi sangat menyesakkan dadaku?


" Berapa lama?" suara parau malah keluar dari bibirku.


Aku tak menduga jika suara ini terlihat sangat menyedihkan.


" Entahlah."


Kangjun diam dan hanya menatapku, tangannya meraih wajahku dan mengusap beberapa airmata yang hendak menetes dipipiku.


" Wae ulgoiss-eo? (Mengapa kau menangis?)"


Aku juga tak menyadarinya mengapa aku menangis.


" Aku akan kembali tapi tak tau kapan? Tapi aku pasti akan kembali. Ibuku sedang sakit disana. Aku akan menemaninya hingga ia sembuh."


Kangjun memelukku dengan erat. Lebih erat daripada pelukannya tadi pagi.


" Mianhae?! (maafkan aku)" ucapnya hingga berkali-kali malah membuatku merasa bersalah.


Padahal ia pergi untuk menemui ibunya yang sedang sakit tapi aku bertingkah seolah melarangnya untuk pergi.


" Soljighi, naneun dangsin-eul joh-a?!!! (Sejujurnya, aku menyukaimu?!!) " kalimat itu begitu lancar ku katakan dihadapan Kangjun.


" Nado. (Aku juga)" ucapnya, matanya menatap mataku dalam.


Lalu bibirnya mulai mengecup bibirku dengan lembut.


" Jadi, tunggu aku kembali."


Aku mengembalikan ciumannya dan mencium bibir Kangjun.


" Aku akan menunggumu sampai kau kembali. Tapi aku mohon jangan khianati aku seperti yang sudah dia lakukan padaku."


βž–


" Sarang ssi?!!!" panggil Bora. Ia mengetukkan sendok sup pada mangkuk supku.


" Kau menangis??!" tanya Bora lagi.


Junhee menatapku aneh, aku lalu mengelap airmataku yang terjatuh tanpa aku sadari.


" Tidak. Aku tidak menangis. Sup ini rasanya sangat pedas. Hingga airmataku keluar." kilahku namun Bora tetap tak mempercayainya.


" Boleh saya bergabung disini?" kami bertiga menoleh serempak, dan Seokjin sudah berdiri di pinggir meja menunggu persetujuan dari kami.



Bora menatapku dan Junhee bergantian untuk meminta pendapat lalu kami balas sebuah anggukan. Mana mungkin kami menolak dia?


" Pasti kalian merasa tidak nyaman ya?!" ucapnya lagi.


Seokjin, setiap ucapan yang ia katakan entah mengapa terlihat sangat berkelas dan elegan. Hingga membuat kami nampak seperti langit dan bumi. Apalagi dari segi penampilan.


"Ah, tidak. Kami tidak apa-apa. Iya kan?" Bora menjawabnya dengan canggung. Karena tidak menyangka juga jika Seokjin meminta untuk makan bersama.


Meja kami lalu hening. Hanya terdengar beberapa suara sendok yang beradu dengan mangkuk. Bahkan suara air minum yang masuk ke tenggorokan pun sampai terdengar karena heningnya suasana disini.


" Kalian lanjutkan saja obrolan kalian?? Kalian tiba-tiba diam, bukan karena sedang membicarakan saya kan?" dia menghentikan makannya sejenak lalu tersenyum.


" Saya hanya bercanda tenang saja." tambahnya lagi.


Akhirnya kami bertiga tertawa terpaksa karena lelucon yang ia ucapkan. Ia nampak berbeda dengan orang-orang bicarakan.


Kata orang ia dingin dan tak mau bersosialisasi. Tapi ternyata dia bisa bercanda juga.


" Bagaimana jika bulan depan kita mengadakan outing? Meskipun saya jarang ke kantor kalian. Tapi saya ingin mengenal kalian satu persatu." ucapnya lagi.


" Kira-kira dimana tempat yang anda inginkan?" tanya Bora.


" Jeju Island. Saya ingin kesana." matanya mengawang seperti ada kenangan yang indah disana.


" Jeju Island?"


Seokjin mengangguk.


" Kau bisa mengurusnya kan? Aku akan mengatakan pada Kim Sajang. Jadi tenang saja. Berikan saja aku rinciannya, aku akan mendanai setengahnya nanti. Masalah hotel, aku ada cabang disana jadi itu tak usah di masukkan dalam pengeluaran."


Ucapannya seperti sama sekali tidak memikirkan uang sama sekali. Pastilah tidak sedikit untuk pergi ke Jeju apalagi jumlah karyawan di kantor kami tidaklah sedikit. Level orang yang hidupnya penuh dengan uang itu memang berbeda.


Bora berdecak kagum pada Seokjin. Begitupun dengan Junhee ia sangat senang dengan gagasan Seokjin. Sedang aku? Aku senang bisa kesana. Namun aku tak akan bisa melihat Kangjun untuk dua hari karena Outing tersebut.


Jangan lupa klik like untuk mendukung authorπŸ€—πŸŽˆ