
Sebulan kemudian…
“ Hye Sun bercerai dengan Lee Seokjin.” Ucap Bora pagi ini.
Ia lebih mirip seperti seorang wartawan di banding sebagai seorang staff yang bekerja di sebuah kantor pusat restoran ayam.
“ Tau darimana?” akupun penasaran.
“ Aku mengeceknya semalam. Ia menulis tentang kata perpisahan di caption instagramnya. Ia bahkan sudah meninggalkan Kanada.”
Aku terpaku sesaat, teringat dengan Myung Soo. Apakah ia tau dengan keadaan Hye Sun sekarang. Bagaimana jika ia membuka lebar tangannya untuk menyambut Hye Sun dalam pelukannya kembali?
“ Penyebabnya apa? Pasti kau tau?!"
Bora menggelengkan kepalanya dan berlalu menuju meja kerjanya setelah sempat menghebohkan kantor pagi itu.
Baru saja sebulan ia ke Kanada dan terlihat baik-baik saja, namun hari ini aku mendengar kabar mengejutkan. Aku mulai berpikir apakah suaminya tau jika anak yang dikandung Hye Sun bukan anaknya, ataukah ada masalah lain?
Sejauh ini hubunganku dengan Myung Soo baik-baik saja. Ia menepati ucapannya untuk datang menemuiku seminggu sekali tiap akhir pekan. Aku yakin itu pasti sangat melelahkan untuknya, namun itu kehendaknya sendiri. Aku tak pernah memaksanya untuk menemuiku seminggu sekali. Dua minggu sekali menurutku itu sudah lebih dari cukup.
Aku mengirimkan pesan pada Myung Soo.
“ Kerja??”
Lalu ia mengirimkan foto ruangan barunya padaku. Kantornya nampak lebih rapi daripada disini. Letaknya yang tak jauh dari laut membuat otak yang lelah setelah bekerja seharian akan menjadi penghiburan tersendiri setelah melihat laut biru.
“ Kemarin aku ke rumahmu, karena ibumu mengundangku untuk makan malam.”
Ibuku nampaknya sangat menyukainya karena mengundang Myung Soo tanpa memberitahuku sebelumnya.
“ Bagus deh.” Balasku.
Sepertinya ia belum mengetahui kabar tentang Hye Sun. Haruskah aku memberitahunya? Ataukah ku biarkan ia mengetahuinya sendiri.
Lalu ia tak membalas pesan dariku. Yah, karena itu memang bukan pesan dengan nada pertanyaan yang harus dibalas. Tapi setidaknya mengapa ia tidak mengucapkan selamat bekerja atau apapun itu. Aku sedikit kecewa.
“ Sarang!! Kau di panggil direktur Kim, sekarang juga disuruh ke ruangannya.” Bora berteriak dari mejanya setelah ku dengar suara telpon dimejanya berdering.
Aku bangkit lalu berjalan menuju ke ruangan Direktur Kim yang super ribet dan perfeksionis itu.
“ Anyeonghaseo, sajangnim?!” sapaku setelah mengetuk dan membuka pintu dengan pelan.
“ Choi Sarang?!” panggilnya, membuat bulu kudukku berdiri.
Tak seperti biasanya aku langsung berurusan dengannya, karena biasanya ia menyuruh pujangnim (wakil direktur) jika ada apa-apa.
“ Ne, sajangnim.” Aku tak berani menatap wajahnya.
“ Kau mengenal model yang sudah menjadi aktor itu kan?” Tanyanya.
Aku berpikir sejenak dan yakin jika yang ia maksud adalah Kangjun.
“ Yang anda maksud adalah Lee Kangjun??”
Ia mengangguk.
“ Dia terkenal pemilih dalam mengambil proyek pekerjaan. Dan akhir-akhir ini dia populer di kalangan wanita setelah bermain drama di tv.”
“ Jadi, aku ingin menjadikannya model iklan sekaligus model untuk restoran kita, bagaimana?”
“ Hah?!” aku terkejut mulutku yang spontan terbuka lalu ku tutup dengan kedua tanganku.
“ Kenapa??! Apa ada yang salah dengan ucapanku.”
“ Animnida sajangnim.”
“ Jadi aku ingin kau membujuknya untuk mau menjadi model iklan dan restoran kita selama setengah tahun. Jika kau berhasil membujuknya aku akan memberikan bonus pada gajimu bulan ini.”
“ Baik.”
Awalnya aku biasa saja mendengar perintah dari direktur, namun mendengar ada kata bonus di akhir ucapannya membuatku sedikit tertarik untuk membujuk Kangjun.
“ Saya akan berusaha keras membujuknya sajangnim?!” ucapku tegas ia tersenyum puas lalu menyuruhku kembali ke ruanganku.
Aku menarik nafas lega setelah bertemu dengan direktur. Apakah hal ini sangat penting untuk perusahaan hingga ia sendiri yang memberikan perintah? Aku hanya bertanya dalam hati.
“ Ada apa?” Bora langsung menghampiriku dengan segudang pertanyaan.
Aku diam. Membuatnya semakin penasaran.
“ Baiklah kalau begitu aku juga akan diam jika kau bertanya tentang gosip terbaru yang aku dapatkan.” Sebelum ia melesat ke bangkunya aku menarik lengannya dan membisikkan apa yang disuruh Sajangnim padaku.
“ DAEBAK!!!” Bora bertepuk tangan membuat staff di sekitar kami menatap aneh padanya.
“ Sssttt. Jangan bilang siapa-siapa dulu. Nanti kalau sudah berhasil baru boleh kau bocorkan pada orang-orang.” Bisikku pada Bora, ia mengangguk mengerti.
“ Tak ku sangka kau dekat dengan Kangjun, si model ganteng itu.” Bora menepuk pundakku dengan rasa iri dan juga bangga.
Aku tak tau apakah tindakan ini benar atau salah jika aku menawarkan Kangjun sebuah proyek dengan embel-embel karena dia adalah temanku.
🐾🐾🐾
“ Kangjun-ah?!!” aku menelpon Kangjun pada malam harinya.
“ Kenapa? Apa ada masalah??”
“ Apa kita bisa bertemu sebentar di minimarket biasanya itu.”
“ Bisa, aku baru saja menyelesaikan scene ku. Aku akan mengabarimu jika sudah sampai sana.”
“ Ah! Jangan disana, aku akan ke kosanmu saja.” Ucap Kangjun.
“ Oh gitu, baiklah kalau begitu. Hati-hati dijalan ya.”
“ Iya.”
Sejak kejadian stalker itu, Kangjun langsung pindah ke apartemen yang jaraknya lebih jauh dari tempat tinggalku.
Flashback
“ Kau mau langsung pulang?” tanyaku setelah keluar dari kamar Ji Eun.
“ He-emm.” katanya ia memanggil manajernya untuk menjemputnya.
Selagi menunggu manajernya datang ke tempatku aku mengobrol dengan Kangjun. Raut wajahnya menjadi agak berbeda setelah bertemu dengan Ji Eun. Aku tak tau apa yang sebenarnya terjadi padanya dan Ji Eun. Ingin sekali aku menanyakannya namun aku terlalu ragu.
“ Kau ingin mengatakan sesuatu padaku?” Tanya Kangjun.
“ Eh- Itu?! Ehm.”
Ia menaikkan alisnya dan merapatkan tubuhnya di sampingku.
“ Wae?”
“ Itu- Ji Eun.. apa kau ada masalah dengan Ji Eun?”
Matanya mengawang jauh ke langit yang sudah gelap. Sepertinya ia sangat sulit untuk mengatakakan apa yang sebenarnya sedang terjadi padanya dan Ji Eun.
“ Tak ada apa-apa. Jadi jangan khawatir.” Ucap Kangjun pelan.
“ Kapan kau akan menikah dengan kekasihmu?” tanyanya kemudian.
Aku hanya diam dan kami berdua sama-sama memandang langit yang tak seperti biasanya sangat gelap karena hujan yang terus turun.
“ Tak apa jika tak mau memberitahuku.”
“ Aku pulang dulu ya, besok barangmu akan aku antar kesini.” Pamit Kangjun, ia melambaikan tangannya sebelum masuk ke dalam mobil.
Aku menatapnya dengan perasaan cemas. Tak seperti biasanya aku merasa ada sesuatu yang tidak beres akan terjadi.
🐾🐾
Lalu sekitar jam satu malam ponselku berdering. Kangjun menelponku malam itu, dengan setengah sadar aku mengangkat telpon darinya.
“ Sarang ssi!!” aku mendengar bukan suara Kangjun melainkan orang lain hingga membuatku langsung sadar sepenuhnya.
“ Aku sedang berbicara dengan Sarang-ssi kan?” ia bertanya untuk memastikannya kembali.
“ Iya benar saya Sarang, tapi dengan siapa saya berbicara.”
“ Saya Jaebum yang menjemput Kangjun tadi malam. Sekarang saya berada di rumah sakit, Kangjun mengalami kecelakaan!!” ucapan manajer Kangjun membuatku seluruh tubuhku mendadak lemas.
“ Kangjun di rumah sakit mana sekarang?” tanyaku kemudian sambil mengenakan jaket dan bersiap-siap ke rumah sakit tempat Kangjun dirawat.
“ Hanguk Hospital, tak jauh dari apartemennya.” Manajer tersebut tak kalah panik.
Aku ke rumah sakit sendirian tanpa Ji Eun karena aku tau ia sedang mengalami masalah juga. Memberitahunya hanya akan memperburuk masalahnya.
💕💕
Sesampainya di rumah sakit Jaebum menyambutku dengan panik. Ia mondar mandir di depan ruang dimana Kangjun sedang dirawat.
Aku bertanya apa yang sedang terjadi, dan Jaebum dengan ketakutan menjawab jika Kangjun sedang diincar oleh Sasaeng fans. Sasaeng fans itu masuk ke dalam apartemen Kangjun diam-diam. Dan ia tak tau sejak kapan sasaeng tersebut masuk.
Sebelumnya Kangjun mendapatkan sebuah paket berisi celana dalam bekas sasaeng fans tersebut. Lalu ia juga mendapat surat ancaman, jika Kangjun tak mau menikahinya maka sasaeng itu akan membunuhnya.
“ Polisi mengatakan jika itu hanyalah perbuatan orang iseng. Dan buktinya belum cukup untuk dibuat laporan.”
“ Orang iseng?! Dan sekarang akibatnya Kangjun terluka!!” nadaku meninggi mengingat polisi tidak mau mengambil tindakan atas laporan tersebut.
Jaebum menunduk lesu.
Ia mengatakan jika sasaeng tersebut keluar dari lemari Kangjun, setelah melihatnya selesai mandi.
“ Saat ia berganti baju, sasaeng itu menyerangnya dari belakang. Ia memeluk Kangjun dengan sebilah pisau ditangannya. Karena Kangjun melawan ia menusuk perut Kangjun.”
Dan untung saja Jaebum masih ada disana. Karena kalau tidak, aku tak tau apa yang akan terjadi pada Kangjun sekarang.
Aku menceritakan hal yang aku alami dengan Kangjun sore tadi. Jika ada seseorang yang mengikutiku dan Kangjun dengan mobil. Namun Kangjun berkata jika ia tidak memiliki sasaeng fans.
“ Anak itu?! Dia hanya tak ingin membuatmu khawatir. Padahal terror itu sudah lama terjadi dan akhir-akhir ini sasaeng itu berulah lagi.”
" Lalu bagaimana dengan nasib sasaeng itu??"
" Dia sedang di interogasi oleh polisi sekarang."
Aku ikut cemas atas ucapan Jaebum, bagaimana bisa seorang fans melukai seseorang yang ia sukai??
Jaebum tak tau harus menghubungi siapa. Karena kedua orangtua Kangjun sedang berada di Swiss sekarang. Karena ia melihat aku dan Kangjun dekat maka dari itu, ia lebih memilih untuk menghubungiku terlebih dulu.
“ Maaf sudah merepotkanmu.”
“ Tak apa-apa. Saya berterimaksih karena anda menghubungi saya. Sebenarnya dari tadi saya sudah memiliki firasat yang buruk.”
Lalu dokter keluar dari kamar Kangjun, diikuti oleh perawat di belakangnya.
“ Lukanya tidak terlalu dalam jadi kalian tidak usah khawatir. Karena ia mendapat banyak jahitan, saya sarankan agar dia rehat untuk sementara waktu.” Ucap dokter tersebut padaku dan Jaebum.
Kami berdua mengangguk mengerti.
Aku masuk ke dalam untuk melihat keadaan Kangjun. Ia terbaring di tempat tidur yang di balut dengan sprei berwarna putih. Senyum yang baru saja aku lihat kini menghilang, dengan rintihan kesakitan.
“ Sebaiknya kau pulang, karena kata Kangjun kau sudah bekerja besok.”
Aku diam.
“ Tapi ini sudah sangat malam.” Ucap Jaebum lagi.
“ Saya akan tidur di sofa itu, dan kembali besok pagi-pagi sekali.” Aku menunjuk sofa berwarna krem yang tak jauh dari tempat tidur Kangjun.
Jaebum melihat sebuah sofa yang cukup untukku tidur lalu mengangguk.
“ Baiklah, aku akan menunggu diluar. Jika membutuhkan Sesuatu bilang saja padaku.”
“ Terimakasih.” Ucapku.
“ Sarang…” suara lirih Kangjun keluar dari mulutnya, matanya terbuka sedikit dan melirikku.
“ Kenapa?” aku menjawab pelan dan mengenggam tangannya.
“ Jangan pergi.”
“ Iya, aku akan disini menemanimu malam ini.”
Bibir itu tersenyum lalu iapun tertidur kembali.
Flashback end
Aku bersiap untuk menemui Kangjun, sudah satu jam tapi ia belum sampai juga. Aku mulai khawatir lagi, namun rasa cemasku menghilang ketika ia datang dengan sekantong plastik makanan dan minuman.
Dia berdandan ala artis yang tak ingin dikenali oleh fansnya. Aku terkekeh melihat penampilannya. Namun ia masih saja terlihat keren.
“ Kenapa tertawa?” ia bersungut lalu memberikanku sekantong makanan tersebut.
“ Temani aku makan ya, aku belum makan apapun hari ini.” Ucapnya lalu membuka bungkus makanan itu satu persatu.
“ Sesibuk apapun dirimu, jangan pernah telat makan Kangjun-ssi!!” ucapku dengan nada bercanda.
“ Baik! Saya mengerti!!” ia menjawab seakan tau maksudku.
Lalu kami berdua tertawa bersama. Ia diantar oleh Jaebum malam itu, selepas mengantarnya Jaebum pergi ke agensi sebentar untuk mengambil jadwal baru untuk Kangjun.
“ Lukamu sudah membaik?” tanyaku serius.
Ia mengangguk.
“ Tentu, buktinya aku sudah bisa syuting lagi.”
Setelah beberapa hari kejadian tersebut Kangjun aktif lagi melakukan aktifitasnya. Meskipun sudah dilarang oleh dokter namun ia tak bisa menunda lagi karena akan merugikan tim produksi.
“ Katanya ada yang ingin kau katakan padaku?” Tanyanya memberikan sepotong ayam padaku.
Ayam goreng itu mengingatkanku dengan sajangnim hari ini.
“ It-ituu… aku tak tau apakah ini boleh atau tidak, tapi aku benar-benar membutuhkan bantuanmu saat ini.”
“ Bantuan? Katakan saja aku akan membantumu sebisa mungkin.”
“ Jadi begini, perusahaanku membutuhkan seorang model yang sedang naik daun untuk menjadi model iklan. Apakah kau mau, menjadi modelnya??” ucapku hati-hati karena takut jika ia menolaknya.
Karena yang ku tau Kangjun selalu memilih proyeknya dengan hati-hati. Dan semua iklan yang terima kebanyakan barang elektronik yang canggih dan modern.
“ Baiklah. Aku mau. Lagian aku juga menyukai ayam goreng yang perusahaanmu buat.”
“ Heh??!!” aku tak menyangka jika ia menjawab dengan semudah itu.
“ Kau serius mau??? Kan kau..??”
“ Katanya kau minta bantuanku?? Jika ini bisa membantumu baiklah aku mau.”
Aku tersenyum lega, karena ternyata tak sesulit yang aku bayangkan untuk memintanya menjadi model iklan di perusaahaanku.
“ Aku akan mengatakannya pada manajer nanti. Karena aku sudah menolongmu, maka kau harus menolongku juga.”
“ Apa yang bisa aku lakukan??”
“ Aku mengantuk, aku akan tidur disini sebentar. Aku tak akan sempat untuk pulang karena jam tiga aku harus pergi untuk syuting drama lagi.”
Aku belum mengiyakan namun ia sudah berbaring di sofa kamarku. Ia melepas sepatunya lalu langsung tertidur hanya dalam hitungan detik.
Aku tak bisa menolaknya karena kasihan, mungkin ia sudah lelah dengan jadwalnya bulan ini. Jaebum belum kembali dari agensi, dan aku juga sudah mengantuk. Lalu aku putuskan untuk ke kamar Ji Eun.
Sampai sekarang aku belum tahu apa yang sebenarnya terjadi antara Kangjun dan Ji Eun, karena sejak saat itu aku jarang bertemu dengan Ji Eun. Apa Ji Eun juga menghindariku???
“ Ji Eun. Apa kau sudah tidur?” Aku mengetuk pelan takut membangunkan Ji Eun.
Namun tak ada jawaban. Mungkin Ji Eun sudah tidur jadi aku kembali ke kamarku.
“ Ada apa?” Tanya Ji Eun saat aku sudah berjalan beberapa langkah.
“ Malam ini bisakah aku tidur di kamarmu?”
“ Kenapa dengan kamarmu?” Tanya Ji Eun penasaran.
Haruskah bilang jika ada Kangjun di kamar. Ataukah aku berbohong padanya.
“ Ah tak jadi. Aku akan tidur di kamarku.” Aku tersenyum lalu meninggalkan Ji Eun yang masih bingung.
“ Maaf menganggu tidurmu.”
“ Hmmmm, gwenchana..”
Kangjun sudah tidur dengan pulas, tangannya ia lipat di depan dada. Aku pikir ia sedang kedinginan lalu aku menyelimutinya dengan selimutku.
Saat aku menyelimutinya, mata Kangjun tiba-tiba terbuka dan membuatku terkejut.
“ Kangjun-ah, maaf jika aku membangunkanmu.” Aku menjaga jarak diantara kami.
Namun Kangjun menarik lenganku hingga aku terduduk di bibir sofa. Jantungku berdebar melihat wajah Kangjun yang sangat berbeda malam itu.
“ Kangjun, sadarlah.”
“ Bagaimana jika aku tak ingin sadar?” ucapnya dengan suara seraknya, yang terdengar begitu seksi.
Kami saling memandangi wajah kami satu sama lain. Menelusuri satu sama lain dari alis, mata hidung dan bibir.
“ Sarang, jika kau….” Suara Ji Eun mengejutkanku dan juga Kangjun.
Aku melepas genggaman tangan Kangjun dan menjauh.
“ Maaf aku tidak tau jika ada Kangjun ssi.”
“ Ji Eun tunggu dulu. Ini bukan seperti yang kau pikirkan?”
Aku berlari mengejarnya namun ia sudah menghilang masuk ke dalam kamar. Aku mengambil nafas dalam dan berpikir keras bagaimana menjelaskan keadaan ini pada Ji Eun.