
Kangjun Pov
Malam pertama di Swiss. Aku tak bisa tidur, bahkan untuk memejamkan mataku pun begitu sulit. Masih jelas terdengar bagaimana ayahku menceritakan tentang masalah hutangnya padaku yang berakhir dengan perjodohan ini.
Ayahku mengatakan jika anak temannya tersebut masih delapan belas tahun. Ia masih bersekolah. Nama Swissnya adalah Daniela Kim sedang nama Korea nya adalah Kim Yoo Jung.
Menikah dengan seorang gadis yang sepantasnya bisa menjadi adikku sendiri. Tapi bukan itu masalahnya sekarang. Aku harus mengatakan apa pada Sarang tentang kondisiku saat ini? Aku tak mungkin bilang yang sebenarnya bukan?? Bagaimana jika dia harus terluka lagi karena aku?
Ponselku bergetar nama Sarang muncul, dia meneleponku tengah malam. Ah bukan, disana pasti sudah pagi.
" Yeobseyeo?!" suara itu terdengar sangat pelan.
" Hemmm.. Sedang apa kau sekarang?" tanyaku. Suara diujung telepon tak segera menjawabku.
"Gwenchana??" tanyaku lagi.
"Eoh?!! Hemm.. Iya aku baik-baik saja. Bagimana keadaan disana? Apakah ibumu baik-baik saja sekarang?" pertanyaan Sarang membuatku merasa bersalah.
" Ibuku... Baik-baik saja dia.. Kau mau berangkat kerja?"
" Iya.. Jam berapa disana sekarang."
Aku melirik jam pada ponselku. Disini sudah menunjukkan pukul dua belas malam.
Haruskah aku mengatakannya pada Sarang tentang apa yang sebenarnya sedang terjadi disini? Atau aku akan menjelaskannya saat sudah kembali ke Korea nanti?
" Kalau begitu kau tidurlah. Kau pasti sangat lelah. Aku menelponmu karena merindukanmu."
Kata-kata rindu itu malah membuatku sakit hati. Bagaimana tidak?! Saat rindu harusnya aku bisa langsung menemuinya, bukan seperti ini. Kami berdua berkencan belum genap tiga bulan namun ada saja halangan yang harus ku lalui dengannya. Sanggupkah kali ini aku melewatinya.
" Aku juga merindukanmu." ucapku padanya.
**
Sarang Pov
Perbedaan waktu antara Swiss dan Korea membuatku sangat frustasi. Aku tak bisa kapan saja menghubungi Kangjun karena waktu yang sepertinya terbalik. Saat aku memulai aktifitasku, ia disana mungkin saja sudah tidur. Begitupun sebaliknya saat aku sudah berada di alam mimpiku, mungkin Kangjun sedang melakukan aktifitasnya disana.
Aku sangat merindukannya, meskipun kata-kata itu tidak bisa membuat keadaan berubah tapi aku ingin sekali selalu mengucapkan kata rindu itu padanya.
" Belum ada satu minggu Kangjun disana. Tapi kau terlihat sangat muram." goda Bora ia menarik kursinya ke meja kerjaku.
Bibirku mencibir ke arahnya, ia tak sepenuhnya salah.
" Kau rindu padanya?" tanya Bora.
Aku menunggu kalimat sakti dari Bora yang biasanya benar-benar terjadi. Atau ia bisa memberikanku sebuah solusi.
Aku mengangguk dan tatapanku berubah memelas ke arahnya.
" Pergilah ke Swiss." dia tertawa lalu pergi setelah Myung Soo memanggilnya.
Aku melihat ekspresi Myung Soo sangat serius. Begitupun Bora, ia seperti marah pada Myung Soo hingga menunjukkan kertas putih di tangannya.
" Ini acara wajib, bukankah dari bulan kemarin aku sudah mengumumkannya. Kau tau sendiri jika dari departemen kita paling sedikit karyawannya? Kalau kau tidak ikut, kau katakan saja pada daepyonim."
Acara wajib? Apakah yang dimaksud adalah Outing. Bukankah pengumuman itu sudah di bicarakan pada bulan lalu, dan semua karyawan wajib ikut. Apalagi untuk departemen marketing yang karyawannya tidak lebih dari limabelas orang.
Myung Soo nampak kecewa dengan keputusan Bora yang tidak bisa diganggu gugat. Yah, memang dari awal semua harus wajib ikut kalaupun tidak bisa seharusnya ia mengatakan sejak pengumuman hari itu. Jika ia mendadak seperti itu, apakah ada hal yang sedang terjadi padanya?
Bora terlihat masih menggerutu bahkan saat Myung Soo sudah kembali ke mejanya. Lalu kemudian ia bergegas pergi setelah suara telepon berdering memanggilnya.
**
Kangjun Pov
Aku membuka mataku yang terasa masih mengantuk. Angin sepoi-sepoi masuk lewat celah jendela yang sudah sedikit terbuka. Aroma kopi tercium di kamarku pagi ini, dan ku lirik sudah ada ibuku yang menyiapkan sebuah sarapan disana.
" Kau masih mengantuk?" tanya ibuku, ia meletakkan beberapa sarapan di meja depan tempat tidurku.
Aku mengerjapkan mata dan memastikan jika itu bukanlah mimpi. Ini adalah kali pertamanya aku melihat ibuku menyiapkan sebuah sarapan untukku.
" Ibu ingin minta maaf padamu karena masalah kemarin. Ibu menyeretmu dalam masalah yang sebelumnya tak pernah kau ketahui."
Aku diam dan mendengarkan ucapannya dengan seksama.
" Mungkin ini terkesan jika kami menjualmu pada teman bisnis ayahmu. Sebenarnya kami tak ingin melakukannya tapi mau bagaimana lagi?" ibuku menangis membuatku tak tega melihatnya.
" Sebenarnya aku sudah memiliki kekasih, maka dari itu aku ingin menolak pernikahan ini jika hanya untuk menyelasaikan masalah hutang kalian."
" Aku sangat mencintainya Bu, aku menyukainya sejak kecil. Namun setelah bertahun-tahun aku bisa mendapatkannya dengan tidak mudah. Bagaimana bisa aku melepaskannya begitu saja??!"
" Bersiaplah.. Sopir akan mengantarkanmu ke sebuah restoran. Yoo Jung akan menunggumu disana." ayahku tiba-tiba muncul dari pintu dan menyuruhku untuk bergegas pergi menemui gadis yang harus aku nikahi.
" Tapi?!"
" Jaebal?!!! Turuti perintah ayahmu kali ini saja." nada ayahku terkesan memaksaku. Dan aku tidak menyukainya.
Aku memandang ibuku dan dia hanya mengangguk lesu.
Dengan langkah gontai aku langsung masuk ke kamar mandi.
" Sarapan dulu sebelum pergi." ucap ibuku.
" Aku tak lapar."
**
Berada di negara asing ini membuatku tak bisa bebas bergerak. Aku merasa jika gerak-gerikku sedang di awasi disini. Sopir yang kemarin menjemputku tidak bekerja hari ini. Digantikan oleh sopir yang masih muda, dia orang Korea. Umurnya mungkin lebih tua dibandingkan denganku. Berkali-kali ia menatapku dibalik kaca spion.
" Apa ada sesuatu yang ingin anda katakan padaku?!" tanyaku saat aku sudah mulai risih dengan pandangannya.
" Tidak." jawabnya singkat.
Aku melihat pemandangan dijalan yang terlihat sangat indah. Tak banyak mobil yang melewati jalan ini hingga polusi udara tak separah di Seoul. Rumput hijau dan bunga-bunga kecil berwarna warni menghiasi kota ini. Aku sangat berharap bisa membawa Sarang ke sini suatu hari nanti.
Mobil berhenti disebuah restoran yang nampak sederhana namun sangat indah. Warna dinding merah bata dan bunga yang menjuntai indah menghiasi restoran tersebut.
Sopir itu membukakan pintu untukku lalu mengarahkanku pada restoran yang sejak tadi sudah menarik perhatianku.
Tangannya menunjuk sebuah meja yang sudah ada seorang gadis duduk disana. Aku tak bisa melihat wajahnya dengan jelas. Namun gadis itu berambut panjang dan berbadan kecil.
" Permisi..." sapaku, belum sempat aku mengenalkan diri dia sudah tersenyum dan menyapaku.
"Kangjun Oppa?!!" ia berdiri dan langsung memelukku.
Aku terkejut dengan apa yang ia lakukan karena memelukku dengan tiba-tiba padahal kami baru pertama kali bertemu.
Aku yang merasa risih mencoba melepaskan pelukkannya, walaupun ia nampak kecewa.
" Sudah ku duga. Kau lebih tampan jika dilihat secara langsung."
Aku mengangguk dengan canggung.
"Bagaimana?" pertanyaannya membuatku bingung.
" Maksudku, bagaimana dengan penampilanku hari ini? Cantik bukan?? Ku harap Oppa akan menyukainya. Jadi kapan kita bisa menikah?!"
" Eoh?! Tunggu dulu, menikah??"
" Hemmm?!!" ia mengangguk semangat.
" Kau baru kali ini bertemu denganku kan? Bahkan kau belum mengenalku dengan baik?! "
" Tapi aku sudah menyukaimu sejak aku melihat fotomu. Aku yakin kau adalah orang baik."
Yoo Jung, gadis itu sangat ceria dan polos. Aku tak tau mengapa ia sangat ingin menikah. Apalagi menikah denganku, yang sama sekali belum pernah ia temui sebelumnya.
" Setelah makan, temani aku jalan-jalan aku akan membawamu ke tempat yang indah. Akan ku pastikan kau sangat menyukainya."
Ucapnya sambil memilih menu yang ada di buku.
" Kau tak sekolah?"
" Hari ini libur." ucapnya.
Teleponku berbunyi. Sarang menelepon, dan Yoo Jung melirik dengan tatapan penasaran.
" Kenapa aku seperti sedang berselingkuh???" batinku
" Ada telepon. Aku akan bicara diluar sebentar." aku melihat Yoo Jung tak sekalipun melepaskan pandangannya ke arahku.
Jangan lupa like dan komen ya🤗