My Boyfriend Having Affairs

My Boyfriend Having Affairs
Episode 43



Flashback...


Myung Soo Pov


Hye Sun membuatku curiga. Karena akhir-akhir ini ia sering bertanya tentang Kangjun, kekasih Sarang. Darimana ia mengetahui namanya sedangkan mereka hanya beberapa kali bertemu?


" Kau tau kekasih Sarang itu?" tanya Hye Sun tepat di malam setelah hari pernikahan.


Pertanyaannya membuatku sedikit terkejut.


"Kenapa?"


" Hanya bertanya saja. Namanya Lee Kangjun kan?!" tanyanya lagi.


"Darimana kau tau namanya?"


Dia hanya tersenyum sinis. " Seleranya rendahan." gumamnya, ia mengurai rambutnya yang masih basah.


" Apa maksudmu??"


" Jika dia benar Lee Kangjun, seniorku waktu Sma. Berarti seleranya benar-benar buruk. Dulu ia sangat populer di sekolah. Semua gadis menyukainya.."


" Termasuk kau. " aku memotong ucapannya, dan ia melirik ke arahku.


" Tapi sekarang kekasihnya??? " dia tertawa terbahak-bahak membuatku takut.


" Kau ini ada apa?! Bukan urusanmu juga kan jika dia bersama dengan Kangjun?? Kenapa kau masih menyukainya?? Lebih baik jangan menganggu hubungan mereka. Aku berkata ini bukan karena aku suamimu, namun aku tak ingin melihat Sarang menderita lagi."


Hye Sun keluar dari kamar dan membanting pintu. Entah mengapa ia sekarang sangat berubah sangat drastis. Jika memang karena efek kehamilannya aku berharap dia akan segera berhenti melakukan hal-hal buruk lagi.


Belum ada sebulan aku menikahinya namun mengapa aku merasa seperti ini???


❤️❤️


Kangjun Pov


Aku menelpon Sarang namun tak ia angkat. Pesanku juga tak ia baca. Apakah ia sekarang sudah benar-benar marah padaku??


Lalu aku menghubungi Ji Eun. Dan ia mengatakan jika ponselnya ia tinggal. Sarang sedang ada kegiatan Outing dan dua hari baru kembali.


Ji Eun sempat menanyakan padaku mengapa aku terkesan menghindari Sarang dan sudah berubah semenjak berada di Swiss. Namun aku tak bisa menjawabnya. Ji Eun juga mengatakan jika Sarang menangis karena merindukanku.


Ucapan dari Ji Eun membuatku merasa semakin bersalah.


" Kau ada masalah disana?" tanya Ji Eun setelah beberapa waktu aku dan dia hanya saling menunggu siapa yang akan berbicara duluan.


" Eoh.." jawabku pelan.


" Wae? Kau bisa bercerita kepadaku. Aku kan juga pernah menjadi manajermu." ucap Ji Eun lagi.


Sepertinya aku harus mengatakannya pada Ji Eun. Karena aku tak sempat bercerita pada Jaebum. Aku ingin meminta pendapatnya tentang perjodohan yang belum di ketahui oleh Sarang.


" Kau tak apa-apa kan? "tanya Ji Eun lagi. Setelah ada waktu jeda yang cukup lama.


" Aku bingung. Aku harus bagaimana? "


" Bingung kenapa? "


" Aku diminta menikah dengan anak dari teman ayahku. Ayahku memiliki hutang yang tak bisa ia bayar. Dan anaknya menyukaiku, ia ingin aku menikahinya. Maka dengan itu hutang dianggap lunas. Selain itu, dia sedang sakit. Mungkin waktunya tak akan lama." semakin lama suaraku terdengar parau.


" Lalu... Apakah hanya itu salah satu jalan untuk orangtuamu? "


" Iya.. "


Ji Eun menghela nafas kasarnya hingga terdengar olehku.


" Aku yakin Sarang akan sakit. Benar-benar sakit jika mengetahui hal ini. Karena dia sudah sangat mencintaimu. Bahkan semalam ia mengigau namamu."


Aku hanya diam.


" Jika kau menikah dengannya apakah kau akan menetap disana?"


" Aku belum tau. Aku belum bisa memutuskan. Namun orangtuanya sudah mendesakku."


" Bagaimana kalau kau kabur saja? "


" Kalau aku kabur. Maka orangtuaku tak akan pernah bisa kembali ke Korea."


Ji Eun diam.


" Tolong rahasiakan hal ini pada Sarang. Jangan beritau ia dulu."


" Lebih baik kau putuskan Sarang. Daripada ia kau buat Sarang menunggumu. Sedangkan kau disana telah menikah dengan gadis lain." imbuh Ji Eun.


Aku memikirkan kalimat terakhir Ji Eun.


❤️❤️


Sarang Pov


Setelah satu jam lebih perjalanan akhirnya kami telah sampai di Jeju. Kami semua di jemput dengan mini bus yang sudah menunggu.


Aku masuk ke dalam bus terlebih dahulu. Lalu memilih tempat duduk di samping jendela. Bora mengikutiku dan duduk di sebelahku. Myung Soo duduk di depanku dengan berpura-pura tidak melihatku.


" Kau sangat pucat." ucap Bora ia mengamati wajahku.


"Sepertinya aku terlalu banyak minum." aku mengambil kaca dalam tas.


Benar ucapan Bora. Aku nampak pucat. Make up yang ku pakai tak bisa menutupi betapa pucatnya aku hari ini. Mataku sedikit bengkak karena semalam sepertinya aku sempat menangis dan tadi aku menangis lagi di depan Ji Eun.


" Bersenang-senanglah untuk saat ini. Nanti kalau sudah kembali kau bisa memikirkannya kembali." Bora memberiku sebotol air mineral dan obat pengar.


"Memikirkan apa?!" aku tersenyum terpaksa.


"Tak usah berpura-pura. Aku sudah mengetahui semalam saat kau mabuk?!" bisik Bora agar tak terdengar oleh Myung Soo.


" Kau harus ke Swiss tanpa sepengetahuan Kangjun. Cari tau dimana ia berada."


Aku melirik Bora seakan tak pervaya dengan apa yang di katakannya. Hal tersebut jangan mudah diucapkan namun bagaimana aku bisa sampai sana dan mencarinya di negara yang sangat asing bagiku.


" Kau tau biaya ke Swiss berapa? Lalu aku juga belum pernah kesana." aku membuang padanganku diluar jendela.


" Ckckck.. Kau harusnya mengatakan kegelisahanmu selama ini padaku. Karena aku tau betul solusinya." ucap Bora yakin.


"Perusahaan kita sudah di akuisisi oleh perusahaan Seokjin. Itu berarti kita juga karyawan Seokjin. Dan apa keuntungannya?? Kau bisa meminta langsung padanya untuk bekerja sementara ke luar negeri yaitu ke Swiss. Yang ku dengar ia memiliki hotel yang baru setahun lalu dibangun di Swiss. Dan, di hotelnya akan tambah fasilitas restoran ayam khas Korea. Yaitu ayam panas milik perusahaan kita. Kau mengerti kan apa maksudku?!"


Aku mendengar dengan seksama ucapan Bora namun mengapa terdengar tak masuk akal? Aku harus mengatakan hal ini pada Seokjin. Sedang aku dan dia sama sekali tidak dekat. Permintaan hal itu pasti ditolaj olehnya mentah-mentah.


" Percaya padaku. Jika kau mengatakannya pada Seokjin. Dia pasti mau membantumu."


" Kenapa kau terdengar sangat yakin?"


" Kau tau kan ucapanku tak pernah meleset?"


Aku menatap wajah Bora dengan penuh harap.


" Jila ia tak mau. Aku akan mengantar dan menjemputmu bekerja selama setahun. "


" Yya?!! Kenapa kau sangat yakin??!!"


Bora tersenyum lalu tak lama kemudian bus sudah berhenti di sebuah hotel yang di desain sederhana namun terlihat sangat nyaman.


Bora membagikan selebaran jadwal kegiatan Outing untuk dua hari ke depan. Jadwal pertama adalah istirahat hingga jam tiga. Lalu makan dilanjut dengan game di pantai.


Aku membacanya dengan seksama dam teelihat jika jadwal Outing ini disusun dengan baik.


DUG!!!!


Seseorang menabrakku dari belakang. Aku melihatnya dan ternyata ia adalah Woori. Rekan kerjaku yang membenciku sejak ia tau aku berkencan dengan Kangjun.


" Mian?!!" ucapnya seperti tak ikhlas, aku hanya tersenyum dan membiarkannya pergi.


" Dia membencimu sejak berkencan dengan Kangjun. Jika pikir-pikir lagi, dia adalah fans fanatik Kangjun. Kau tak tau kan?!"


Aku kagum dengan kemampuan serba tau yang dimiliki Bora.


" Darimana kau tau?"


" Saat aku menyerahkan laporan bulanan di mejanya. Ada foto Kangjun disana. Kau harus lihat sendiri aku serius tidak berbohong. "


" Foto sendiri atau berdua?? "


" Sepertinya foto itu diambil beberapa bulan yang lalu saat Kangjun ada fan meeting. Mungkin kau belum bertemu dengannya. "


Aku mengangguk mengerti. Wajar jika ia tiba-tiba berubah seperti itu. Mungkin baginya Kangjun sudah seperti boy crush untuknya.


" Ini." Myung Soo memberikan plastik putih berisi obat, ia memberikanku obat lalu berlalu begitu saja.


Bab 45 End..