My Boyfriend Having Affairs

My Boyfriend Having Affairs
BAB 1. Hamil



“ Aku mengandung anak Myung Soo.” Bisik Hye Sun padaku setelah acara reuni ini berakhir.


***


Akhirnya aku bisa pergi dengan Myung Soo walaupun hanya sekedar berkumpul dengan teman lama kami. Awalnya dia menolak karena alasan sibuk namun setelah aku mengatakan jika ada Shin Hye Sun mantan kekasihnya dan dia langsung mengiyakan ajakanku. Sebenarnya aku terus menaruh pikiran negatif padanya, namun ini hanya membuatku tidak bahagia. Toh Hye Sun sudah memiliki suami sekarang.


Shin Hye Sun menikah kurang lebih satu tahun yang lalu dengan pengusaha kaya yang dijodohkan oleh orangtuanya. Kabar tersebut benar-benar membuat hancur hati Myung Soo. Tak hanya hatinya namun ia juga menghancurkan hidupnya. Ia terus-terusan mangkir dari pekerjaan hingga nyaris membuatnya dipecat. Lalu sedikit demi sedikit aku memberanikan diri menyatakan perasaanku padanya dan mengobati luka hatinya.


Suami Hye Sun sangat tampan, namanya Lee Seokjin. Selain tampan dia juga pewaris utama kekayaan milik keluarganya. Dan wajar saja jika orangtua Hye Sun sangat ingin menikahkan anaknya pada Seokjin dan membuang Myung Soo yang sudah bertahun-tahun mengencaninya dan berjanji akan menikahi putrinya itu. Lagi-lagi semua tentang harta dan tahta.


Aku melihat Myung Soo dari samping, kulihat matanya bersinar saat melihat Shin Hye Sun masuk ke dalam restoran. Ia nampak cantik dengan pakaian kasual. Hye Sun menggandeng tangan Seokjin dan melangkah masuk menuju restoran.


Shin Hye Sun dulunya adalah karyawan di perusahaan dimana aku dan Myung Soo bekerja. Namun setelah menikah ia memutuskan untuk berhenti dan menjalani hidup sebagai nyonya CEO. Dalam hatiku, aku menaruh kebencian yang besar padanya karena tega membuang Myung Soo begitu saja dan membuatnya menjadi pria tak berdaya. Namun di sisi lain aku bersyukur karena bisa bersama dengan Myung Soo, cinta pertamaku sejak masih di SMA.


“ Hye Sun di sini!!” panggil Bora, terlihat sekali jika ia ingin menjilat Hye Sun agar bisa memanfaatkannya.


Aku masih ingat betul jika dulu Bora sangat membenci Hye Sun, dan dia adalah satu-satunya senior yang melakukan hal semena-mena pada Hye Sun.


“ Ini bukan reuni. Lebih tampak seperti acara milik Hye Sun. Setiap hari kita bisa bertemu, lalu mengapa namanya reuni?” aku menggerutu sejak Hye Sun masuk dan mengalihkan pandangan Myung Soo padanya. Aku muak!


“ Tak bisakah kau ubah cara memandangmu pada Hye Sun? dia sudah menjadi istri pria kaya itu.” Bisikku pada Myung Soo kemudian dia menegakkan badannya lalu melihat wajahku.


“ Belum bisa melupakan dia?” tanyaku padanya.


“ Kamu bicara apa sih?! Aku sadar kok kalau dia istri pria itu.”


Aku hanya bisa menghela nafas panjang dan


ku lanjutkan meminum air putih yang ada di depanku.


Sepanjang acara Myung Soo hanya diam dan mencuri pandang pada Hye Sun jika ada kesempatan. Membuat hatiku benar-benar ingin meledak. Rasa cemburu ini lama-lama membuatku marah dan ingin membalik meja di tempat ini.


“ Aku pulang duluan.” Ucapku datar lalu bangkit dari bangku. Aku melihat semua orang sudah mabuk kecuali kami berempat yaitu aku, Myung Soo, Hye Sun dan Seokjin.


“ Kenapa?” Tanya Myung Soo, tangannya mencoba meraih lenganku namun aku tepis.


“ Tanya pada dirimu sendiri. Dari tadi kau hanya sibuk dengan mantan pacarmu.” Aku melihat tangan Myung Soo menyerah untuk meraih lenganku. Yah, dan hanya seperti ini perjuangan dia agar aku bertahan di sisinya.


“Eonni!!!” suara seorang wanita memanggil namun aku abaikan karena perasaan hatiku yang semakin memburuk.


“Eonni tunggu!” Hye Sun menutup pintu taksi yang sudah aku buka sebelumnya.


“ Kenapa?”


“ Bisakah kita bicara sebentar saja?”


“ Untuk apa?”


“ Tolonglah sebentar saja.” Raut wajahnya terlihat memelas berbeda dengan raut wajahnya saat berada di dalam restoran tadi.


“ Ada apa? Sebaiknya kau cepat katakan karena perasaanku benar-benar tidak enak hari ini.”


“ It-ituu..”


Aku memandang wajahnya dengan penasaran.


“ Kenapa??!”


“ Aku hamil.”


“ Lalu kau ingin aku mengucapkan selamat? Baiklah, chukkae!!! Jika sudah selesai aku akan pergi.” Aku mencari taksi lagi setelah yang tadi aku biarkan pergi.


“ Tapi ini bukan anak dari suamiku..” suaranya bergetar lirih, lalu ia menunduk dengan rasa bersalah.


“ La-lu.. anak siapa?” aku bertanya hati-hati padanya dan berharap jika apa yang aku bayangkan tidak pernah terjadi.


Hye Sun masih diam.


“ Siapa??? Anak siapa? Cepat katakan padaku!!” aku mencengkeram kedua tangannya dengan erat berharap dia segera menjawabnya.


“ Ini bukan seperti yang aku pikirkan bukan?”


“ Maafkan aku Eonni… Aku benar-benar minta maaf padamu.” Tanganku melemas dan aku terduduk didepan Hye Sun yang tak berani menatap wajahku.


“ Lalu apa maumu sekarang?” ucapku tak kalah lirih.


Hatiku terasa sangat sakit, seperti tertusuk ribuan jarum dan air mataku tak terasa membasahi pipiku.


“ Katakan apa mau kau sekarang? Kau akan meminta Myung Soo bertanggung jawab? Ataukah …”


“ Tidak, aku tidak akan membawa nama Myung Soo dalam masalah ini. Aku hanya ingin memberitahu padamu tentang hal ini.”


“ Untuk apa?!!!!” aku berteriak tepat di depan wajahnya setelah mencoba bangkit dengan susah payah.


Dia tak menjawab dan hanya diam.


“ Kau yakin ini adalah anak dari Myung Soo???” aku mencoba memastikan sekali lagi, berharap jika itu semua adalah sebuah lelucon yang sama sekali tidak lucu.


Hye Sun mengangguk lemah. Dia mengelus perutnya yang memang nampak sudah semakin membesar.


“ Suamiku bekerja di luar negeri untuk beberapa bulan sejak kami menikah. Dan kami tidak melakukan hubungan semacam itu karena…”


“ Karena kau masih mencintai Myung Soo? Makanya kau bisa berbuat seperti itu di belakangku.”


Pantas saja dia tidak minum bir malam ini, padahal dulu dia sangat suka minum.


“ Awalnya Myung Soo menghubungiku saat dia mabuk berat malam itu. Dia mengatakan hal-hal aneh dan menyuruhku untuk menemuinya. Aku ingin mengabaikannya, namun dia mengancamku jika ia akan melompat di sungai Han jika aku tak datang.”


*Flash back Hye Sun


“ Tolonglah datang padaku malam ini. Ini adalah permintaan terakhirku. Tak bisakah kau menuruti permintaanku sekali ini saja? Setelah kau membuatku menderita seperti ini.” Suara Myung Soo terdengar sangat putus asa, ia terdengar seperti mau menangis.


“ Baiklah aku akan datang. Tapi berjanjilah ini adalah terakhir kita bertemu dan hapuslah nomor hapeku.”


“ Iya.”


Hye Sun melihat Myung Soo sudah tidak sadarkan diri di meja sebuah bar tenda.


“ Aku akan menghubungi Sarang Eonni.” Ponsel Hye Sun diambil oleh Myung Soo dia menolak jika Hye Sun menghubungiku.


“ Sekali ini saja aku ingin bersamamu.”


Entah apa yang ada dalam pikiran Hye Sun malam itu, ia mengantarkan pulang Myung Soo ke apartemennya. Tak butuh waktu lama mereka tiba lalu Hye Sun merebahkan tubuh Myung Soo di tempat tidur.


“ Kau sudah tidak mencintaiku lagi?!” Myung Soo memeluk Hye Sun dari belakang membuat Hye Sun yang sebenarnya masih memiliki peraaan pada Myung Soo hanya pasrah.


Terlebih saat Myung Soo mulai mencumbu leher Hye Sun membuatnya tahkluk malam itu juga. Hye Sun mencium bibir Myung Soo tanpa ada rasa bersalah pada suaminya dan padaku. Lalu mereka melakukan hubungan terlarang itu.


*Flashback end


“ Dan kau sama sekali tak bisa menolaknya?!” airmataku semakin deras mengalir setelah mendengar pengakuan dari Hye Sun.


Lalu dari kejauhan aku melihat bayangan Myung Soo dan Seokjin keluar bersama yang nampaknya sedang mencari kami berdua.


Hye Sun mengusap airmatanya lalu pergi menemui Seokjin. Lalu aku berbalik dan enggan untuk menemui Myung Soo setelah mendengar cerita dari Hye Sun.


“ Sarang!!!” Myung Soo memanggilku namun aku langsung masuk ke dalam taksi yang kebetulan lewat di depanku.


Ku lihat Myung Soo mengejar taksi yang sedang aku naiki, dan aku hanya bisa melihatnya dari balik kaca spion. Airmataku semakin deras saat melihat Myung Soo dan hatiku terasa sesak setiap kali teringat dengan cerita Hye Sun.


“ Nona, tujuannya kemana?”


“ Antar saya ke Insadong pak, ke kosan Aiden.” Lalu mobil melaju dengan hening, ku buka sedikit kaca jendela mobil. Udara dingin sedikit demi sedikit masuk dan meniup rambutku perlahan.


“ Aku harus bagaimana??” gumamku lalu mataku semakin terasa berat dan badanku terasa lemas.


***


“ Sarang!!! Hei!! Bangun!!” Ji Eun teman sekamarku membangunkanku. Aku melihat sekelilingku dan tak terasa aku sudah sampai di depan bangunan kosan aku tinggal


“ Darimana kau tau aku akan datang?” tanyaku penasaran.


“ Myung Soo menelponku. Jika kau pulang naik taksi dan mengabaikan telpon darinya. Jadi dia memintaku untuk menunggumu di depan.”


“ Oh terima kasih.” Aku lalu masuk ke dalam setelah membayar tarif taksi.


“ Kau tak mabuk kan?” Tanya Ji Eun cemas.


Aku menggelengkan kepalaku, dan aku tersadar jika ucapan Hye Sun bukan mimpi.


“ Sudah aku bilang kan jika jangan ikut reuni itu, tapi kau nekat dan malah membawa Myung Soo ke sana dan jadinya seperti ini.”


“ Ahn Ji Eun.” Panggilku.


“ Ehmmm…”


Aku langsung memeluknya tanpa tahu apa-apa. Haruskah aku menyimpan cerita ini sendiri? Atau ku beritahu Ji Eun jika aku sedang berada dalam masalah.


“ Lagi ada masalah ya?” dia tahu sebelum aku mengatakannya.


“ Aku harus bagaimana???” airmataku lagi-lagi membanjiri pipiku.


“ Hey cerita dulu!!! Aku tak tahu apa yang sedang terjadi,tapi…”


“ Hye Sun hamil, aku harus bagaimana?”


“ Hamil?! Bagus kan?? Lalu kenapa kau menangis???”


“ Ji Eun-ah!!!” tangisku semakin pecah dan Ji Eun semakin bingung denganku sekarang.


Ji Eun menatap wajahku dengan seksama mencoba untuk memahami situasi yang sebenarnya. Lalu matanya membulat ketika aku mengucapkan nama Myung Soo.


“ Kau yakin?? Jika itu adalah anaknya Myung Soo?!”


Aku hanya mengangguk dan menangis sejadinya lagi. Ji Eun semakin bingung harus mengatakan apa karena baru kali ini ia mendengar masalah seperti ini.


“ Kau tenang dulu Sarang, aku akan mengambilkan minum untukmu.”


Ji Eun beranjak dari tempat tidurku lalu langkahnya terhenti..


“ Myung Soo??!! Sejak kapan kau berada di sini?!”


Aku melihat Myung Soo sudah berada di ambang pintu dengan raut wajah terkejut dan menghampiriku.


“ Ji Eun maaf, tapi bisakah kau tinggalkan aku sebentar?”


Ji Eun pergi tanpa suara lalu Myung Soo duduk di sebelahku.


“ Benarkah itu? Sarang?!”


“ Bagaimana menurutmu?? Kau senang kan??? Di belakangku bermain api dengan Hye Sun. Apakah kau belum bisa melupakannya?”


“ Maafkan aku, Aku benar-benar tidak tahu.”


“ Jika Hye Sun tidak hamil mungkin kau akan terus bermain dengannya dan aku seperti orang bodoh yang selalu mencintaimu tanpa balasan.”


“ Bukan seperti itu… malam itu aku benar-benar mabuk dan aku tidak ingat apa-apa.” Myung Soo meremas rambutnya yang berantakan.


“ Bahkan dalam mabukmu kau masih mengingat Hye Sun.” ucapku sinis.


“ Maafkan aku.”


“ Lalu apa yang akan kau lakukan sekarang??? Semuanya terserah padamu. Sepertinya aku juga sudah menyerah padamu, Kim Myung Soo.”


“ Jadi silahkan pergi.” Aku menyuruh Myung Soo berdiri dan meninggalkan kamarku.


“ Sarang.. maafkan aku kali ini saja.”


Aku menutup pintu dengan pelan lalu berbaring dan memandang langit-langit kamar hingga tertidur.


***


“ Kau masih disini??? Semalaman kau tak pulang??” Suara Ji Eun membangunkanku, jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi.


Akhirnya aku bisa menggunakan hak cutiku untuk seminggu ke depan. Aku ingin mendinginkan hati dan kepalaku yang memanas karena kejadian semalam. Namun dalam hati kecilku, tiap kali aku membuka mataku. Aku selalu berharap jika ini semua mimpi dan aku masih memiliki Myung Soo tanpa ada Hye Sun diantara kami. Namun aku harus kecewa ketika melihat Myung Soo duduk di depan kamarku dari semalam. Ia tidak pulang ke rumahnya malam itu.


“ Makan dulu.” Ji Eun sudah membawakanku semangkuk bubur untukku.


“ Tapi aku tak nafsu makan.”


“ Kau harus makan agar memiliki tenaga untuk menghadapi kerasnya hidup ini Choi Sarang.” Ji Eun menepuk pundakku lalu tersenyum padaku sebelum akhirnya pergi dan meninggalkan harum parfumnya yang khas.


“ Kau pulanglah. Aku tak ingin bicara padamu.” Aku bersiap akan menutup pintu namun tangannya menghalangi.


“ Sarang… aku benar-benar minta maaf padamu. Aku sungguh menyesali perbuatanku.”


“ Benarkah? Dan kau baru menyadarinya sekarang. Bukankah sudah terlambat? Kemana saja kau selama ini saat aku benar-benar mengorbankan segalanya untukmu waktu itu. Saat kau masih mencintai Hye Sun namun aku tetap bertahan karena cinta bodohku ini.”


“ Andai saja kau tahu, jika aku mulai menyukaimu sejak kita berada di sekolah menengah atas. Karena ku pikir kau adalah pria yang baik. Aku mengikutimu hingga kita bisa di universitas yang sama lalu mendapatkan pekerjaan di perusahaan yang sama pula. Lalu kau hempaskan perasaanku saat kau mengatakan jika kau mulai berpacaran dengan Hye Sun teman kerja kita.”


*Flashback


Waktu itu aku menunggu waktu yang tepat untuk mengungkapkan perasaanku yang sebenarnya pada Myung Soo. Bertahun-tahun aku hanya bisa memendamnya sendiri. Lalu ku mantapkan niatku malam itu untuk memberitahu perasaanku.


" Myung Soo, malam ini aku ada tiket untuk nonton. Kau mau tidak pergi denganku?" aku menawarkan dengan penuh harap.


" Maaf Sarang, malam ini aku akan kencan dengan Hye Sun." dia tersenyum hingga menunjukkan mata berbentuk bulan sabit.


" Hye Sun.. Anak baru itu." tanyaku.


" Iya, hari ini adalah hari pertama kami jadian. Jadi aku ingin berkencan dengannya malam ini."


" Sejak kapan kau menyukainya?" gumamku.


" Saat pertama kali aku melihatnya."


Aku memaksakan senyumku lalu membalas lambaian tangannya yang sedang merangkul mesra Hye Sun.


*Flashback end


"Ayo kita ke Busan hari ini." Myung Soo tiba-tiba mengajakku ke Busan, tempat kelahirannya.


"Akan ku perkenalkan kau dengan orangtuaku lalu perkenalkan aku pada orangtuamu. Aku akan melamarmu."


Kalimat yang tak aku sangka keluar dari mulut Myung Soo. Pria itu??? Ada apa dengannya???