
Myung Soo Pov
Mendekati hari pernikahanku, perasaanku semakin tak tenang dan cenderung mudah gelisah. Orang-orang pada umumnya akan merasa bahagia menjelang hari pernikahan mereka, tapi tidak untukku. Karena di hari sakralku nanti, semua orang akan tau bagaimana kelakuan burukku di masa lalu. Hingga mengakibatkan pernikahan itu terjadi.
Aku sudah mulai muak dengan pandangan orang yang terkesan meremehkanku saat berada di kantor. Mereka mulai berbisik-bisik di belakangku dan mulai membicarakan keburukkanku. Aku tau itu, aku tau mereka semua sedang membicarakanku. Bahkan juga ada yang blak-blakan menyindir di depanku.
Belum lagi aku yang harus setiap hari bertemu dengan Sarang dan mantan suami Hye Sun, Seokjin. Sarang benar-benar mengabaikanku, ia bertingkah seolah kami tak pernah mengenal. Dan Seokjin?? Aku tau ia kaya. Namun pandangann matanya padaku, seakan aku adalah manusia yang paling rendah yang pernah ia temui.
Lalu aku memutuskan untuk mengatakan pada pujangnim agar aku bisa dipindahkan lagi ke Busan. Namun dia menolak permintaan mutasiku itu. Ia mengatakan jika di Busan sudah cukup banyak orang hingga tak ada posisi lagi disana. Ia malah menawariku menjadi pengawas di sebuah restoran cabang. Itu sama saja seperti dia ingin menurunkan jabatanku disini. Apakah itu juga ulah Seokjin?
" Di Busan sudah banyak karyawan. Jika kau memang mau pindah karena merasa tidak nyaman, kau dapat bekerja menjadi pengawas di restoran cabang." darimana ia tau jika aku mulai tak nyaman.
Aku hanya mengeluarkan senyuman kecutku lalu keluar dengan putus asa.
" Haruskah aku menjual apartemen ini? Lalu membuka sebuah usaha? Tapi pasti Hye Sun tak akan menyetujuinya. Karena jika apartemen ini dijual mungkin kami akan tinggal di sebuah rumah kecil yang membuat dia tak nyaman." batinku.
Tiba-tiba aku kembali teringat kenangan buruk itu dan menyalahkan kelakuan bejatku sendiri. Aku hanya bisa berandai-andai jika semua tak pernah ku lakukan dengan Hye Sun. Mungkin sekarang aku akan hidup bahagia dengan Sarang.
Dan kudengar Sarangpun kini menjalin hubungan dengan seorang model yang tidak lain adalah teman sd nya dulu. Aku sudah menduganya jika mereka akan berkencan. Karena dari pertama aku melihat gelagat pria itu, dia terlihat begitu menyukai Sarang. Kini dimataku Sarang sudah berubah. Ia bukan Sarang yang dulu lagi, saat ia benar-benar mencintaiku dengan tulus namun dengan bodohnya aku sering menyia-nyiakannya.
" Lihat..." Hye Sun menyerahkan sebuah foto USG padaku.
Aku kemarin meninggalkannya saat di dokter kandungan.
" Apa kata dokter?" tanyaku dan melihat foto itu. Aku tersenyum, namun seperti ada perasaan yang mengganjal di benakku.
" Kata dokter, aku tidak boleh stress. Dan bayi dalam kandunganku terlalu kecil untuk seumuran enam bulan. Lalu dokter juga mengatakan jika jenis kelamin bayi ini adalah lelaki." dia mengatakan hal itu dengan bangga, aku dapat jelas melihatnya.
Bisakah aku mencintai Hye Sun seperti dulu lagi???
" Laki-laki??" tanyaku lagi.
" Kenapa?? Kau kecewa?? "
" Tidak. Aku tidak kecewa."
" Itu hanya perasaanmu saja. Aku hanya sedikit kelelahan."
" Tapi pekerjaan yang kemarin sudah selesai kan?"
Kemarin aku tiba-tiba meninggalkannya karena ada laporan yang salah. Jadi aku harus mengulang dan mengerjakannya seharian.
Aku mengangguk.
Hye Sun mengecup keningku dan memelukku manja. Ia mencoba menggodaku dengan sentuhan lembut itu. Namun aku tidak bisa menikmatinya.
Ia mulai bosan saat aku tak menanggapinya. Lalu ia berbaring di tempat tidur menghadap ke arahku.
" Kemarin aku menemui Sarang." ucapnya.
Aku spontan menatapnya heran.
" Untuk apa?!"
" Cih! Saat menyebut nama Sarang kau langsung bersemangat."
Aku diam.
"Bukan apa-apa. Aku hanya memberitahu padanya agar dia datang ke pernikahan kita nanti."
" Dia bersama dengan seorang lelaki. Aku yakin pasti kekasihnya yang baru."
Hye Sun memancingku agar aku cemburu. Dan dia berhasil. Lelaki itu, pasti Lee Kangjun.
Jangan lupa klik like untuk mendukung author 🤗