
" Bagaimana jika Ji Eun salah paham dengan kita?" aku kembali masuk ke kamar dan melihat Kangjun sudah duduk di sofa.
" Memangnya kenapa jika dia salah paham??"
" Kau tau kan jika Ji Eun menyukaimu?" tanyaku pada Kangjun.
" Iya aku tau."
" Tapi kenapa kau seperti tadi??"
" Aku bahkan tidak tau jika ia akan masuk begitu saja."
Aku diam. Kangjun tak salah sepenuhnya namun sikap Kangjun padaku itu tidak benar.
" Lagi pula, aku dan dia tak akan bisa bersama. Aku artisnya dan dia adalah mantan manajerku. Bagaimana jika menimbulkan skandal diantara kami. Lalu reporter mengorek informasi saat dulu dia masih resmi menjadi manajerku. Aku dan dia akan sama-sama hancur."
" Dan agensiku pun akan kena imbas. Terutama para manajer wanita. Mungkin mereka akan dipecat dan diganti oleh manajer pria."
Aku diam karena tak bisa menjawab, semua yang dikatakan Kangjun tak pernah terlintas di benakku.
" Lalu.. Aku tidak menyukai Ji Eun. Kau juga tau kan?" Kangjun berdiri dan meninggalkanku dengan perasaan yang mengambang.
Aku merasa bersalah dengan Kangjun dan juga Ji Eun.
" Ji Eun, bisa kita bicara sebentar?" aku mengetuk pintunya.
Lalu tak lama kemudian terbuka, ia mempersilahkan aku masuk.
" Maafkan aku." ucapku mengenggam tangannya yang begitu dingin.
" Harusnya aku yang minta maaf padamu."
" Ada apa?? Kau bisa ceritakan semuanya padaku."
" Dan sepertinya akhir-akhir ini kau sengaja menghindariku ya??"
Ji Eun mengangguk.
" Karena Kangjun." tanyaku lagi.
" Aku malu untuk menghadapimu dan Kangjun. Ada beberapa hal yang sebenarnya tak boleh aku katakan padamu, karena malu."
" Tapi sepertinya aku akan mengatakannya sekarang."
" Iya katakan saja."
" Malam saat Kangjun mabuk kau tau kan jika aku langsung kesana? Dan saat aku masuk ke kamarnya ia sudah mabuk berat hingga menyangka jika aku adalah dirimu."
Ji Eun menelan salivanya, ia gugup begitupun aku. Berharap tak ada hal aneh yang akan terjadi.
" Lalu entah mengapa, aku kehilangan akal sehatku seperti Myung Soo dan Hye Sun. Aku awalnya mencium bibirnya, dan ternyata aku menginginkan hal lebih darinya."
" Namun.. Ia menolakku malam itu."
" Jadi maksudmu. Kau mencoba untuk tidur dengan Kangjun?"
Ji Eun mengangguk, pengakuannya membuatku terkejut. Ia yang ku kenal sangat lugu tapi ternyata bisa berpikir untuk melakukannya juga.
" Aku hanya berpikir bagaimana caranya agar Kangjun bisa bersamaku. Mungkin jika aku hamil ia akan bertanggung jawab."
" Ji Eun ah!!" Aku tak percaya dengan apa yang ia ucapkan barusan.
" Kangjun sangat menyukaimu." Ji Eun memandangku dengan tatapan iri.
" Dan aku tak bisa berbuat apa-apa lagi selain menjauh darinya."
Aku tau jika Kangjun menyukaiku namun aku tak pernah berpikir untuk bersama dengan Kangjun. Aku selalu berpura-pura tak mengetahui perasaan Kangjun karena bagiku ia adalah tetap sama seperti dulu. Teman saat masih sd. Dan perasaan itu tetap sama hingga sekarang.
Aku sempat berharap Kangjun dengan Ji Eun bisa bersama. Karena aku tau Ji Eun orang baik begitupula Kangjun. Namun semuanya tak sesuai dengan harapanku.
" Aku sangat malu kepadamu dan Kangjun. Terakhir kali ia bertemu denganku Kangjun memintaku untuk melupakan kejadian itu dan tak menceritakan kepadamu."
"Memang kenapa?"
" Mungkin, ia tak ingin mengecewakanmu."
Aku memeluk Ji Eun yang menderita sendirian. Ia melewati hari yang berat dengan Kangjun tapi aku tak mengetahuinya.
" Lalu apa yang bisa aku bantu. Agar kau merasa lebih baik." ucapku pada Ji Eun.
" Kangjun sangat menyukaimu. Jadi, Tolong jangan sakiti perasaannya. Itu saja. Karena aku sudah memutuskan untuk menjauh dan melupakannya. Jaga ia untukku."
Aku masih tak mengerti dengan perasaan Ji Eun. Rasa cintanya yang begitu besar malah membuatnya semakin sakit seperti saat ini.
" Bulan depan aku akan pindah ke rumah temanku. Dan aku juga sudah menemukan pekerjaan baru. Jadi, aku akan meninggalkan kalian sampai disini."
" Kenapa kau harus pindah??? Dan keluar dari pekerjaan mu. Kau tak perlu melakukan hal sejauh itu."
Dulu Ji Eun benar-benar sangat menginginkan pekerjaan ini. Namun sekarang dengan mudah ia ingin keluar dan pindah pekerjaan.
" Karena terus melihat kalian bersama, hatiku terasa sangat sakit. Dan aku tak ingin bertemu dengannya lagi."
Ji Eun melepas genggaman tanganku lalu berbaring di tempat tidurnya.
" Aku ingin tidur."
Aku lalu meninggalkan Ji Eun sendirian dikamarnya, terdengar olehku suara tangisannya saat aku menutup pintu kamarnya.
Apa yang harus aku lakukan???
" Bagaimana dengan Kangjun. Dia mau tidak menjadi model kita?"
" Semalam ia mau. Tapi dia belum memberi kabar padaku lagi."
Pikiranku sangat kusut. Ji Eun akan pergi, ia terlalu malu padaku dan Kangjun. Kangjun belum menghubungiku sejak semalam. Biasanya ia memberiku kabar jika pasti. Lalu Myung Soo tak satupun pesan dariku yang ia balas. Ia sudah mulai melupakan janjinya.
Kantor tiba-tiba ramai. Suara staff wanita berbisik-bisik seperti sedang kedatangan artis terkenal. Dan saat aku menoleh, Kangjun datang bersama dengan Jaebum.
Aku tak bisa berkonsentrasi karena melihat Kangjun melangkah melewatiku begitu saja seolah kami tak pernah mengenal.
" Kau serius mengenalnya??"
" Aku mengenalnya, tapi ia tak mengenalku." ucapku pada Bora.
Sepertinya Kangjun akan menandatangani kontrak dengan perusahaanku.
Aku melihat Jun Hee sedang membersihkan ruanganku. Ia melirikku dan tak berani mengatakan apa-apa sejak acara reuni tersebut.
Ia sengaja berbohong pada teman-teman sd kami agar terlihat lebih hebat dari Kangjun. Orang yang dulu sangat ia rendahkan saat masih kecil.
Namun kini semua keadaan berbalik.
Waktu itu aku masuk berdua di restoran bersama Kangjun. Semua orang sudah berkumpul kecuali Jun Hee. Maklum dia selalu berpikir jika dirinya adalah orang penting jadi bisa datang kapan saja dan seenaknya.
Dan benar, saat acara sudah dimulai dia datang dengan hebohnya bak selebriti padahal aku tau pekerjaan ia yang sebenarnya.
Yang membuatku kesal adalah ia tak mau mengakui pekerjaan aslinya. Namun mengarang jika ia sekarang memiliki sebuah toko baju di pusat kota.
"Maaf aku telat. Karyawanku ada yang sakit." ucapnya saat itu membuat bibirku refleks mencibir.
" Ada apa dengan ekspresi mu itu?"tanya Kangjun melihat perubahan ekspresiku saat ia datang.
" Ah. Bukan apa-apa jawabku." Jun Hee sebelumnya memohon padaku agar tidak membocorkan rahasianya tersebut.
" Kau datang dengan siapa??" Tanya Bitna ia melirik Kangjun dengan sekilas.
Ia nampak sangat tertarik dengan Kangjun.
"Kau tak mengenalinya?? Dia adalah Lee Kangjun! Yang kalian panggil babi. Sekarang dia sudah menjadi model lho?!" aku menyombongkan Kangjun pada seisi ruangan tersebut.
Jun Hee menatap Kangjun sinis dan merasa terkalahkan karena Bitna wanita ia yang ia taksir dari dulu terlihat lebih tertarik pada Kangjun.
" Wahh ku kira dia pacarmu." ucap Bitna lagi. Matanya berbinar tiap kali menatap Kangjun.
" Kau operasi plastik dimana?? Sepertinya bagus tuh. Aku mau juga."
" OH JUN HEE!!" Aku menatap Jun Hee dengan tajam dan dia mendelik berpura-pura tak melihatku.
Kangjun menggenggam tanganku berusaha menahanku agar tidak emosi.
"Sekali lagi kau bicara asal. Akan ku bongkar kebohonganmu."
Jun Hee melototiku sedang yang lain menatap ku dan Jun Hee bergantian karena penasaran rahasia apa yang aku tau.
Kangjun juga belum mengetahuinya.
" Kau menanyakan aku operasi dimana? Tapi aku ragu apa kau bahkan bisa membeli baju yang sama dengan yang ku pakai saat ini."
Ucapan Kangjun yang sederhana namun dalam membuat harga dirinya jatuh begitu saja.
Aku bisa tau jika baju Kangjun buatan desainer terkenal dan pasti sangat mahal.
Jun Hee dibuat kesal dengan ucapan Kangjun. Ia hendak mengepalkan tangannya pada Kangjun namun ditahan oleh Bitna.
" Sudah cukup!! Sejak kau datang acara malah berantakan." ucap Bitna protes pada Jun Hee.
" Ayo kita pergi saja Sarang." Kangjun bangkit mengajakku pergi.
" Semua makanan ini biar aku yang bayar."
Kangjun tersenyum puas dan meninggalkan Jun Hee yang masih kesal padanya.
Seseorang mengetuk mejaku. Aku mendongak keatas dan Kangjun sudah ada di sampingku.
" Kopi?!" Kangjun meletakkan sekaleng kopi di mejaku dan tersenyum.
" Kau... Kau tak marah padaku??" tanyaku padanya.
" Marah?? Marah kenapa??"
Kangjun menatapku heran.
" Ohhhh. Ponselku mati dan belum aku charge. Aku baru dari tempat syuting dan langsung kesini jadi tak sempat mengabarimu. Apa kau menunggu pesanku?" ledeknya.
Entah mengapa ucapannya membuatku lega.
" Aku sudah setuju dengan kontrak tersebut." ucapnya lagi.
Lalu matanya mulai fokus pada satu orang. Dia adalah Jun Hee.
" Bukankah dia Oh Jun Hee??!!" Kangjun menunjuk Jun Hee yang sedang mengelap meja staff lain.
Dan Jun Hee tak sengaja bertemu dengan mata Kangjun.