
Myung Soo POV
Minggu depan aku akan di pindah untuk sementara, selama tiga bulan di kantor cabang kota Busan. Orangtuaku pasti sangat senang karena aku akan berada di dekat mereka untuk sementara waktu. Namun masalahku dan Sarang belum selesai hingga sekarang membuatku sedikit khawatir.
Harusnya aku tidak mengabaikan Sarang selama ini. Mengingat apa yang telah ia lakukan melebihi apa yang sudah Hye Sun lakukan padaku. Aku memang pria bodoh!!!
Dan kenapa aku harus menghamili Hye Sun??? Bagaimana itu bisa terjadi? Jika saja malam itu aku tidak menelepon Hye Sun mungkin semua ini tak akan pernah terjadi.
Pagi ini aku bertemu dengan seorang pria yang tak lain adalah teman Sarang. Ku akui dia tampan, lalu bagaimana jika Sarang menyukainya?? Karena Nampak jelas jika pria itu menyukai Sarang. Aku tahu betul itu, karena aku juga seorang pria.
“ Sarang kemana selama cuti???” Bora mengetuk meja kerjaku membuatku sadar dari lamunanku.
“ Untuk apa kau tau??”
“ Jika aku perhatikan Sarang mengambil cuti setelah kita bertemu di acara reuni itu. Dan disana ada Hye Sun juga suaminya. Apa mungkin ia sedang memiliki masalah dengan Hye Sun?” Tanya Bora menyelidiki.
“ Berhentilah memperhatikan hal yang tidak perlu kau perhatikan. Sana kembali kerja!”
“ Oh ya, ini surat selama kamu dipindahkan. Baik-baiklah disana, atau kau akan menetap di Busan dan berpisah dengan Sarang.” Bora menyerahkan sebuah surat berisi referensi dari atasanku.
Aku mengambil amplop tersebut. "Minggu depan bukankah terlalu cepat??” gumamku.
Aku akan meninggalkan Sarang dan aku tidak akan tahu apa yang akan terjadi disini selama aku tak ada. Lamaranku hari itu belum juga di jawab olehnya. Apakah cintanya sudah berubah???
“ Hye Sun lagi hamil ya?? Wah pasti nanti akan mirip seperti ayahnya kalau anaknya laki-laki.” percakapan para staff wanita menarik perhatianku.
Ucapan mereka membuatku sedikit tersindir, karena aku tahu jika itu bukanlah anak Seokjin. Melainkan anakku. Untung saja Sarang tidak bekerja hari ini, bagaimana jika ia bekerja dan mendengar hal itu?? Pasti sangat menyakitinya. Ia mengambil cuti selama seminggu setelah kejadian itu. Aku benar-benar merasa sangat bersalah pada Sarang. Karena selama ini aku tak pernah memperhatikannya dan hanya terus menyakiti hatinya.
Dia sudah banyak berkorban untukku. Bahkan saat aku menjalani waktu yang sulit.
“ Lihat Hye Sun sekarang berbeda ya? Ia Nampak seperti orang kaya sungguhan.” Celetuk seorang staff kembali.
“ Dia memang sudah menjadi orang kaya. Bukan seperti lagi, dasar bodoh.” Sahut Bora.
“ Iya kan Myung Soo ssi?” Tanya Bora dan semua staff memandangku dengan tatapan penasaran mengapa Bora tiba-tiba menyebut namaku.
Mungkin mereka penasaran bagaimana perasaanku pada Hye Sun sekarang.
Karena muak dengan obrolan mereka aku memutuskan untuk ke pantry membuat kopi. Aku duduk di sebuah kursi yang ditempatkan di tengah ruangan. Terlihat seorang office boy sedang mengepel di pantry.
Ia nampak asing apakah dia pegawai baru???
“ Selamat siang, saya pegawai baru disini. Nama saya adalah Oh Jun Hee.” Dia membungkuk sopan dan kubalas dengan senyuman.
Aku mengeluarkan ponselku dan penasaran dengan obrolan yang tengah dibicarakan saat ini. Jariku mengetik nama akun Hye Sun di instagram. Dulu aku sempat memblokirnya, namun aku membuka kembali blokirannya karena hanya sekedar ingin melihat kabarnya. Lagi-lagi aku menyadari jika aku adalah pria brengsek untuk Sarang.
Hye Sun ke Kanada setelah reuni malam itu. Banyak yang bilang jika suaminya membuka sebuah perusahaan cabang disana. Aku dapat melihat rona bahagia dari senyum Hye Sun, tidak mengalami kesusahan dalam hal finansial. Mungkin semua akan berbeda jika ia memilih untuk tetap bersamaku.
Nomor tak dikenal masuk. Dan aku mengangkatnya ragu, suara lembut yang dulu sering ku dengar memanggil namaku.
“ Hye Sun?” gumamku.
Sudah lama dia tak menghubungiku lewat telepon.
“ Myung Soo ssi?!” panggilnya.
“ Wae?”
“ Aku ingin mengatakan sesuatu padamu.”
“ Jika tentang anak yang ada di dalam kandunganmu, aku sudah mengetahuinya.”
Hye Sun diam sangat lama hingga menciptakan sebuah keheningan. Bibirku tak bisa bicara apa-apa lagi. Aku menunggunya untuk membuka suara terlebih dahulu.
“ Maafkan aku.”
“ Aku juga bersalah. Apa kau menginginkan sesuatu hal dariku?” tanyaku padanya.
“ Tidak. Aku tak menginginkan apa-apa.”
“ Lalu apa maksudmu dengan memberitahu Sarang mengenai hal itu?”
“Aku... hanya…”
“ Sudah cukup hubunganmu denganku hancur. Tapi jangan hancurkan hubunganku dengan dia. Karena aku juga bisa menghancurkan hidupmu dengan memberitahu suamimu jika anak itu bukanlah anak biologisnya.”
“ Jangan… jangan lakukan itu.”
“ Maka dari itu. Aku mohon jangan kembali lagi meski sekedar menghubungiku lewat telepon. Karena aku akan menikah dengan Sarang.”
“ Oh.. begitu.. baiklah semoga kau bahagia dengannya.” Hye Sun kemudian menutup teleponya, aku merasa jika ia sedikit kecewa dengan ucapanku barusan.
“ Myung Soo ssi!!” aku menoleh dan Bora sudah ada di belakangku.
“ Apa itu benar??”
“ Apanya??!!” tanyaku balik.
“ Anak Hye Sun adalah anakmu??” aku langsung menutup mulut Bora dengan tanganku.
Aku menariknya untuk duduk dan berbicara padanya.
“ Kau mendengar semuanya?” tanyaku.
Bora mengangguk. Ia terkejut mendengar semua percakapanku di telepon.
“ Bisakah kau merahasiakannya? Aku mohon kali ini saja padamu.”
Bora diam dan melihat wajahku dengan kesal.
“ Jadi ini yang sebenarnya terjadi. Tak kusangka kalian bisa melakukannya. Aku sangat kasihan dengan Sarang karena harus mengalami ini semua. Dan apa katamu?! Kau akan menikahinya? Cih!! Kau yakin bisa menikahinya? Setelah membuat hatinya terluka ?” Bora bangkit dan bersiap pergi.
“ Aku tau ini keterlaluan, tapi aku mohon rahasiakan pada staff lain. Aku hanya tak mau dia menjadi bahan omongan saat aku tak ada disini.”
“ Baiklah. Aku akan merahasiakannya untuk Sarang, bukan demi kau.”
“ Apapun itu, aku mengucapkan terimakasih.”
Aku menarik nafas lega. Entah mengapa Bora selalu mengetaui apa yang sedang terjadi diantara kami bertiga.
🎈🎈🎈
Aku menelepon Sarang berkali-kali namun tak ia angkat. Ia mengatakan jika sedang pergi dengan Ji Eun ke pantai. Aku ingin sekali menjemputnya namun pasti ia akan menolaknya mentah-mentah. Dan benar saja ia masih marah padaku dan enggan untuk ku jemput.
Badanku terasa panas dingin sejak dari pantry tadi pagi. Keringat dingin mengucur dari tubuhku dan kepalaku terasa sangat berat. Sepertinya aku sakit karena melewatkan makan beberapa hari ini. Aku ingin membatalkan pertemuanku dengan Sarang namun aku tak bisa karena ini sangat penting untukku. Lagipula ini bukan saatnya aku mengingkari janji pada Sarang lagi. Dulu sudah terlalu sering aku mengingkarinya karena aku diam-diam ingin melihat Hye Sun.
Sudah tiga jam aku menunggu Sarang di minimarket dekat tempat ia tinggal, namun belum juga menemukan tanda-tanda kehadirannya.
Aku masuk untuk membeli beberapa obat sakit kepala agar bisa mengurangi rasa sakit dikepalaku. Setidaknya bisa bertahan sampai aku selesai berbicara dengannya.
Tak lama kemudian, aku melihat Sarang keluar dari mobil. Saat ia berjalan ke arahku, aku tak bisa mendengar apa yang ia katakan, lalu bayangannya mulai kabur. Dan kepalaku semakin berat…
🎈🎈🎈
Sarang POV
“ Aku tak mau pulang.” Ucap Myung Soo.
“ Kenapa?” tanyaku mendekat dan memeriksa suhu tubuh Myung Soo yang berangsur kembali normal.
“ Tak bisakah kau disini menemaniku?”
“ Aku sudah menemanimu sejak tadi malam kan?”
“ Kau, sudah tak ingin bersamaku ya?” Myung Soo membuang pandanganya keluar jendela rumah sakit.
“ Entahlah.”
“ Aku akan ke Busan minggu depan. Manajer memintaku untuk bekerja di kantor cabang sementara waktu karena disana ada masalah.”
Aku diam, bingung harus mengatakan apa.
“ Untuk apa? Aku juga memiliki pekerjaan disini.”
“ Menikahlah denganku, lalu kita akan tinggal di Busan. Aku akan meminta manajer untuk memindahkanku secara permanen disana.”
“ Tiba-tiba? Kenapa?”
“ Sejak melihat temanmu itu, perasaanku mulai tak enak. Dan lagi aku ingin berubah dan memulai sebuah lembaran yang baru denganmu. Kau tak mau?”
Aku diam beberapa saat dan berpikir jika saat ini adalah waktu yang tepat untuk bertanya hal ini pada Myung Soo.
“ Aku akan menanyakan hal, yang beberapa hari ini sangat mengangguku. Aku berharap kamu akan menjawabnya jujur.”
Myung Soo mengangguk, dia duduk di sampingku dan mencoba mendengar apa yang akan aku tanyakan.
“ Aku hanya ingin bertanya, selama kita berpacaran. Apakah kau sering menghubungi Hye Sun? apakah kau sering bertemu dengannya?” aku sangat gugup mengatakan pertanyaan ini.
Aku sangat takut menerima jawaban jika Myung Soo memang menghubunginya. Sering menemuinya di belakangku selama ini. Seringkali wanita menanyakan hal yang jelas-jelas akan menyakitinya. Namun dengan inilah sedikit rasa penasaran akan terjawab.
Myung Soo diam lama. Ia memainkan jari-jarinya yang menandakan bahwa ia juga gugup dengan pertanyaanku. Apakah semuanya benar???
Lalu ia menghela nafas beratnya dan menatapku dalam. Tatapan mata yang sebelumnya tak pernah aku lihat sebelumnya. Seperti sebuah kesungguhan dari hatinya.
“ Sebelumnya aku ingin meminta maaf padamu, karena dulu aku tak pernah memperhatikanmu. Jujur aku tak pernah menghubungi Hye Sun, karena nomornya aku blokir. Lalu, aku tak pernah pergi bertemu dengannya. Hanya saja aku sering pergi ketempat dimana aku sering menghabiskan waktu dengannya dulu. Dan... Sesekali aku pergi untuk melihatnya dari kejauhan."
DEG! Jantungku seperti ada yang meninjunya. Sangat sakit. Aku tak mampu menatapnya lagi.
“ Lalu mungkin karena aku sudah tak bisa membendung rasa rinduku padanya. Aku membuka blokiran nomornya lalu menghubunginya saat aku mabuk malam itu. Aku memintanya untuk menemuiku. Aku sungguh tak sadar jika aku melakukan hal itu dengannya.”
Luka yang sempat sembuh seperti di tabur garam oleh Myung Soo. Namun inilah yang aku inginkan sebuah jawaban yang jujur dari dirinya.
Air bening tanpa sadar sudah membasahi pipiku. Tangannya yang halus menyeka dengan lembut, dan aku hanya pasrah ketika dia menyandarkan kepalaku di pundaknya.
“ Sekali lagi maafkan aku.”
Aku hanya diam. Menikmati keheningan yang tercipta saat aku dan Myung Soo mulai terhanyut dalam lamunan kami berdua.
“ Dan sekarang, aku akan sungguh-sungguh mencintaimu. Dan berubah menjadi seseorang lelaki yang baik untukmu. Percayalah padaku.” Myung Soo mendekatkan wajahnya padaku.
Hingga tersisa satu cm jarak diantara kami berdua. Lalu dia mulai mengecup bibirku dengan lembut. Ku rasakan bibirnya yang hangat untuk pertama kalinya, karena ini memang adalah ciuman pertamaku dengan Myung Soo.
Matanya menatap dalam mataku, lalu terakhir ia mengecup keningku dan memelukku. Pelukkan itu berbeda dari yang kurasakan sebelumnya, sangat hangat. Bahkan aku tak ingin melepaskan pelukkan itu.
Semua rasa benciku padanya tiba-tiba luluh seiring dengan perlakuannya padaku.
“ Aku tak bisa langsung menikah denganmu. Mari kita bertunangan lebih dahulu.” Ucapku pelan tepat di belakang telinganya.
Mata Myung Soo membulat dan menatapku seakan tak percaya.
“ Sungguh??? Kau tak bohong kan?”
Aku mengangguk mengiyakan.
🎈🎈🎈
Hari sabtu aku akan ke Busan, untuk bertemu dengan kedua orangtuaku dan Myung Soo. Akhirnya aku memutuskan untuk bertunangan dengan Myung Soo. Terkesan bodoh tapi aku masih mencintai Myung Soo. Saat melihatnya sakit, aku tak sanggup melihatnya menderita lagi karena masalah ini.
Aku berbicara pada Ji Eun tentang pertunangan ini. Dan dia mendukung keputusanku asalkan itu adalah yang terbaik untukku.
“ Lalu bagaimana dengan Kangjun?” Tanya Ji Eun mendadak.
“ Kangjun?? Ada apa dengan dia?”
“ Sepertinya dia menyukaimu.”
“ Hah?! Mana mungkin? Kau mau aku membantumu?”
Ji Eun menggelengkan kepalanya. Ia masih ragu dengan perasaan Kangjun padanya.
“ Tapi kau menyukainya kan?”
Ji Eun mengangguk malu-malu.
Sebuah pesan masuk, aku meliriknya sebentar. Ternyata Kangjun yang mengirimiku pesan, aku merasa tak enak pada Ji Eun saat ini. Jadi aku abaikan pesan dari Kangjun untuk sementara waktu.
“ Dari Kangjun ya?? Balas saja, jangan membuat seorang pria menunggu.” Ji Eun tersenyum lalu pergi keluar.
Aku berusaha memanggil Ji Eun namun ia tak mau berhenti. Aku takut jika hal ini membuatnya cemburu atau sakit hati. Karena Ji Eun adalah orang yang berharga juga bagiku.
“ *Lagi apa?”
“ Ngobrol dengan Ji Eun.”
“ Aku telpon ya.”
“ Jangan.”
“ Kenapa?”
“ Tak enak dengan Ji Eun*.”
“ *Kok Ji Eun??!”
“ Ah enggak.”
“ Sabtu besok kau ada acara tidak*?”
“ Sabtu besok* aku akan ke Busan.”
“ Ada acara apa?”
“ Aku akan bertunangan dengan kekasihku yang kemarin itu*. ”
Setelah pesan itu Kangjun tak membalas pesanku lagi. Padahal ia sudah membacanya. Mungkin ini sedikit mengecewakannya, karena ia tahu Myung Soo telah berbuat hal yang buruk padaku. Namun jam tiga pagi ia tiba-tiba meneleponku.
“ Selamat ya.”
“ Terimakasih, Kangjun-ah.” Terdengar suaranya seperti sedang mabuk.
“ Kau kenapa belum tidur?”
“ Tak apa-apa, kau sendiri kenapa belum tidur?” aku belum tidur karena sibuk menyiapkan keperluan untuk ke Busan.
“ Aku sedang minum.”
“ Dengan siapa?”
“ Sendiri.”
“ Kau tak apa-apa?”
“ Kalau aku sakit apa kau juga akan melakukan hal yang sama seperti kau melakukannya pada kekasihmu itu.”
Aku diam sejenak. Aku tahu Kangjun sudah terlalu mabuk.
“ Aku sangat kecewa.” Suara Kangjun semakin tidak jelas.
Lalu aku berlari ke kamar Ji Eun, untuk memberitahu jika Kangjun sedang dalam keadaan tidak baik.
“ Kenapa??” Ji Eun masih setengah sadar.
“ Kangjun mabuk berat, dia menelponku barusan. Aku takut jika terjadi apa-apa padanya.”
“ Gawat!!! Besok ada casting web drama, bagaimana jika sampai besok dia masih mabuk??” Ji Eun langsung tersadar dan mengambil sweater kemudian berlari keluar.
" Ji Eun tunggu dulu!!!" teriakku namun ia mengabaikanku dan menelepon taksi untuk menjemputnya.