
“ Jadi darimana kau mengenal Kangjun?” Ji Eun bertanya padaku ketika Kangjun masuk kedalam ruang make up.
“ Dia teman saat kami masih SD.”
“ Wah benarkah?! Pantas saja dia sangat berbeda saat bersamamu. Apa dia menyukaimu?”
“ Kau ngomong apa sih? Aku sama dia hanya berteman. Ini mungkin karena Kangjun sudah lama tidak bertemu denganku.”
“ Oh ya, kau tak pernah cerita jika menjadi seorang manajer seorang model.”
“ Dulu aku masih magang jadi tak bisa menyombongkan hal itu padamu. Lagipula baru seminggu ini aku menjadi manajer Kangjun, karena manajer sebelumnya sedang di rawat di rumah sakit.”
Berteman lama dengan Ji Eun tidak membuatku tahu tentangnya sepenuhnya. Sepertinya aku adalah teman yang tidak baik. Aku merasa jika aku selalu bercerita apapun pada Ji Eun hingga ia tak sempat menceritakan apapun tentang dia. Mungkin jika aku tak kesini dengan Kangjun aku tak akan pernah tahu apa pekerjaan Ji Eun.
“ Pantas saja kau selalu wangi. Haha!!” aku meledek Ji Eun yang dari tadi terus melihat jam tangannya.
“ Aku tidak cantik tapi setidaknya aku harus wangi kan?” Ji Eun tersenyum lalu menarikku ke dalam ruang make up tempat Kangjun sedang di make up.
“ Setelah pemotretan kita langsung ke pantai ya Kangjun-ssi?! Kau ada jadwal syuting iklan disana.”
Kangjun mengangguk terlihat dari cermin yang ada di depannya.
“ Kau ikut kan?” mata Kangjun menunjuk padaku. Aku gugup menjawabnya karena aku tak tahu apakah aku tidak akan menganggu pekerjaan mereka.
“ Ikut saja, sekalian main nanti.” Bisik Ji Eun.
“ Oh jadi kau teman Ji Eun yang itu ya??? Yang semangat ya!!” Kangjun menepuk pundak Ji Eun seakan ingin menyemangatinya.
Tawaku meledak karena Kangjun pasti mengira jika Ji Eun adalah teman yang aku ceritakan saat di mobil.
“ Hei, ada apa ini?” Tanya Ji Eun, kami berdua mengekor di belakang Kangjun masuk ke dalam sebuah studio yang sudah di setting sebagus mungkin.
“ Mian…” aku masih tertawa dan Ji Eun semakin bingung.
Lalu saat Kangjun melakukan pemotretan aku menceitakan apa yang sebenarnya terjadi padanya. Wajahnya memerah karena malu.
“ Jadi,, Kangjun menyangka jika teman kau itu adalah aku?”
Aku mengangguk merasa bersalah padanya.
“ Nanti akan ku jelaskan lagi padanya. Tenang saja.”
“ Kau tak apa-apa? Tapi jika itu membuatmu merasa lebih baik, sudahlah tak perlu di jelaskan lagi padanya. Aku tidak merasa dirugikan kok.”
“ Ji Eun-ahh?!!! Kenapa kau sangat baik?!!” aku memeluk Ji Eun dan aku sempat melihat Kangjun melirik kami berdua.
“ Traktir aku makan nanti malam ya.” Ucap Ji Eun lalu berjalan menuju photographer.
Aku tak tahu jika Ji Eun terihat sangat cantik saat bekerja. Rambut pendek sepundak, dengan pipi yang sedikit chubby namun membuatnya terlihat manis. Saat tersenyum lesung pipi nya muncul dan membuat senyumnya semakin indah. Meski hanya memakai kaos berwarna putih longgar dan celana jeans dia tampak sangat cantik.
“ Kenapa melamun?” Kangjun tiba-tiba ada di sampingku.
“ Aku sedang melihat Ji Eun.”
“ Dia sangat bekerja keras lho?! Saat masih magang aku sering memperhatikannya. Dia selalu dianggap remeh oleh senior yang lain. Setiap pagi dia disuruh membawa kopi duabelas gelas. Tangan kanan dan kirinya penuh dengan kopi. Lalu jika ada telepon masuk dia akan kerepotan mencari ponselnya yang ada di saku celananya.”
Flashback Kangjun
“ Buat dimana kopi ini?” Tanya Kangjun pada Ji Eun, ia mengambil kopi-kopi tersebut Ji Eun yang kebingungan hanya menjawab lalu mengikuti Kangjun dari belakang.
“ Aku baru tahu jika tugas manajer menjadi pengantar kopi setiap pagi. Apa kalian tidak memiliki kaki untuk membelinya sendiri?!!” ucap Kangjun begitu tegas dan meletakkan kopi-kopi tersebut di meja Ji Eun.
Ji Eun lalu meminta maaf kepada seisi ruangan karena merasa bersalah dan membungkuk sembilan puluh derajat.
“ Kau tak salah kenapa harus meminta maaf? Akhirnya kau juga terkena masalah kan? Karena tidak segera mengirim laporan mingguan pada atasanmu. Untuk hal seperti ini kau harus sedikit egois agar tidak bisa disingkirkan.” Kangjun mengambil satu gelas kopi dan menyesapnya kemudian pergi.
Jaebum, manajernya saat itu menasehatinya agar tidak ikut campur karena itu adalah masalah internal mereka.
“ Kau juga menyuruhnya kan?” Tanya Kangjun.
“ Bu-bukan seperti itu. Dia membeli kopi jadi aku nitip.”
“ Lain kali belilah sendiri. Kau tak lihat wajah anak magang itu?”
Flashback end
“ Kau berani sekali sih?” aku bergumam sendiri namun Kangjun membungkukkan sedikit punggungnya hingga aku melihat wajahnya dan wajahku saling bertatapn.
“ Mereka tak akan protes padaku. Karena aku adalah penghasil terbesar di agensiku.”
“ Sombong sekali kau.” Aku mundur sedikit demi sedikit karena tatapan Kangjun membuatku sedikit tidak nyaman.
Aku merasa jika wajahku langsung memerah ketika Kangjun menatapku seperti itu.
“ Yuk pergi!!” Ji Eun berjalan di depan kami.
“ Langsung ke pantai ya Kangjun-ssi! Nanti mungkin akan selesai sampai tengah malam.”
Aku melihat Ji Eun dari belakang, aku tak tahu jika dia dulu sangat menderita dengan pekerjaanya. Dia tak pernah menceritakannya padaku. Dia bersikap seolah baik-baik saja selama ini.
“ Ji Eun tunggu sebentar.” Panggilku, lalu aku berjalan mensejajari Ji Eun.
Kami bertiga pergi dengan menggunakan mobil dari perusahaan. Aku dan Ji Eun berada di depan. Sedang Kangjun langsung tidur di kursi belakang, mungkin dia lelah karena jadwal hari ini lumayan padat.
“ Ji Eun-ahh?!” suaraku memecahkan keheningan.
“ Hemmm?? Wae?!” Ji Eun fokus dengan mobil yang sedang ia kemudikan.
“ Maaf jika selama ini aku tidak bisa menjadi teman yang baik untukmu. Aku baru tau dari Kangjun jika kau mengalami hal yang berat selama ini. Tapi kenapa kau tak pernah bercerita padaku?”
“ Karena aku tau kau juga mengalami hal yang berat, lagipula semua sudah berakhir kok. Dan aku memiliki hutang budi pada Kangjun. Karena selama ini, dia yang selalu membelaku, jadi tak usah dipikirkan.”
“ Bagaimana dengan Myung Soo? Kau sudah memikirkannya? Apakah kau akan menerima lamarannya.”
Mendengar nama Myung Soo hatiku terasa seperti ditekan.
“ Tadi pagi dia ke kosan kita, hanya untuk memastikan apakah aku sudah memutuskannya atau belum.”
Aku mengalihkan pandanganku pada laut yang semakin terlihat. Warna laut yang biru membuatku bahagia. Kaca jendela terbuka sendiri, aku meliriknya dan itu adalah perbuatan Ji Eun.
“ Kita nikmati dulu saat ini.” Ucapnya dan menambah kecepatan mobilnya, saat aku menengok kebelakang Kangjun masih terlelap dalam tidurnya.
Ji Eun memberitahu, jika Kangjun akan mengiklankan sebuah produk minuman isotonic. Dia akan berlari dengan model wanita tersebut di pinggir pantai saat matahari akan tenggelam, setelah itu mereka akan masuk ke dalam rumah di pinggir pantai yang sudah di setting juga.
“ Dia cantik ya?” ucapku pada Ji Eun.
“ Dia kan model iklan, kalau tidak cantik tak ada yang mau memakainya.”
“ Bu-bukan begitu maksudku.”
Aku melihat jika Ji Eun tidak menyukai model tersebut. Dan benar dugaanku, Ji Eun tidak menyukainya. Dia mengatakan kalau model wanita tersebut sangat sombong dan merasa dirinya paling cantik. Sebelumnya model wanita di iklan ini bukanlah dia,karena model sebelumnya mengalami kecelakaan jadi dia yang menggantikannya.
Namanya adalah Kang Soo Ah. Berawal dari menjadi selebgram dia langsung di rekrut menjadi model di sebuah agensi. Dan aku mendengar jika Soo Ah adalah Ace di agensi nya. Jika di agensi Ji Eun ada Kangjun maka di sana ada Soo Ah.
“ Wah hebat, dua Ace dari agensi saling bertemu.”
“ Hebat apanya sih?! Kau akan muak jika sudah mengenalnya. Wajahnya cantik namun tidak hatinya. Aku yakin jika dia bermain kotor untuk mendapatkan iklan ini.”
“ Loh?! Eh, memang begitu ya?!” aku terkejut mendengar ungkapan dari Ji Eun. Karena Ji Eun yang ku kenal tak akan berkata seperti ini.
“ Kau tak tahu jika dia mengejar-ngejar Kangjun dari tahun kemarin? Dia sangat terobsesi pada Kangjun. Dan kali ini dia pasti puas karena bisa di projek satu iklan yang sama dengan Kangjun.”
Aku hanya mengangguk-angguk saja, karena tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
“ Jangan terlihat akrab dengan Kangjun didepannya, kalau tidak mau di incar oleh Soo Ah.” Ucapan terakhir Ji Eun membuatku merinding.
Ponselku bergetar dan nama Myung Soo muncul dilayar. Aku enggan menjawabnya namun ini sudah ke sepuluh kalinya dia menelponku.
“ Kenapa?”
“ Kenapa tak angkat telponnya dari tadi? Kau sedang apa?” nada suaranya yang datar menandakan jika ia sedang marah.
“ Aku sedang dipantai dengan Ji Eun.”
“ Dimana?”
“ Apa aku harus memberitahumu? Tak bisakah aku pergi dengan Ji Eun?”
“ Baiklah, kau boleh pergi dengan Ji Eun namun jawab pertanyaanku kau berada di pantai mana sekarang. Aku akan menjemputmu nanti.”
“ Sejak kapan kau menjadi perhatian padaku, dulu kau sangat cuek padaku. Bahkan aku sakitpun kau tak peduli. Tapi sekarang??”
“ Aku kan sudah bilang aku akan berubah.”
“ Tak usah menjemputku. Nanti malam tunggu aku saja di minimarket dekat kosan. Seperti yang aku katakan tadi pagi, jika aku ingin menanyakan banyak hal padamu.”
“ Baiklah.” Myung Soo menutup telponnya.
Berubah? Atau? Aku tak bisa berpikir positif tentang Myung Soo sekarang. Benarkah dia mencintaiku dan sudah berubah? Tapi mengapa hatiku belum bisa menerimanya sepenuhnya. Haruskah ku akhiri saja malam ini dengannya. Lalu pikiranku melayang pada Hye Sun. Bagaimana nasibnya nanti jika suaminya mengetahui jika anak yang dikandungnya adalah bukan anaknya melainkan anak Myung Soo.
Angin pantai membelai lembut rambutku yang panjang. Dari jauh aku melihat Kangjun sedang menerima arahan dari sutradara. Soo Ah yang berada di samping Kangjun sering mencuri pandang pada Kangjun, dan membuatku yakin jika model itu menyukai Kangjun. Namun sifatnya sangat manis tidak seperti Ji Eun katakan. Apa Ji Eun keliru menilainya?
Toilet sangat ramai karena syuting belum juga selesai. Aku pergi ke toilet setelah berbicara pada Ji Eun karena perutku tiba-tiba mulas. Toilet di pantai hanya memiliki enam bilik ruangan dan satu wastafel yang mewajibkan pemakai harus mengantri. Aku melihat sekilas jika Soo Ah dan manajernya ada disana. Karena aku tidak ada hubungannya dengan Soo Ah jadi aku mengabaikannya.
Tak lama kemudian toilet menjadi lengang, mungkin mereka sudah selesai.
“ Manajer-nim, cari tau projek Kangjun apalagi setelah ini.”
“ Kenapa? Kau ingin satu projek lagi dengannya?”
“ Tentu saja.”
“ Ku dengar dia sedang casting untuk web-drama. Tapi aku belum tahu siapa untuk pemeran wanitanya.”
“ Lekas cari tahu, dan lakukan hal sama seperti yang kau lakukan pada Kim Hana.”
“ Ssst.. bisakah kau tidak membicarakannya disini? Bagaimana jika ada orang?”
“ Sepi kok, ngapain takut. Pokoknya aku ingin bermain drama dengan Kangjun setelah ini. Jika tidak aku akan meminta presdir untuk memecatmu. Kau tau kan?! jika dia sangat menuruti apa kataku.”
“ Tapi,, bagaimana jika Kim Hana sadar dan tau jika dia kecelakaan karena perbuatan orang lain. Dan lagi, polisi sedang menyelidikinya.”
“ Makanya kerja yang benar dong?! Aku kan sudah menyuruhmu untuk mencari orang yang ahli.”
Tak lama kemudian suara mereka menjadi samar dan menghilang. Aku terkejut setengah mati mendengar ucapan dari Soo Ah. Dia benar-benar melakukan hal kotor demi mendapat projek yang sama dengan Kangjun.
Aku keluar dari bilik dan toilet benar-benar sepi. Hanya aku yang mendengarnya. Tiba-tiba ada suara langkah kaki menuju toilet masuk, dan aku langsung bersembunyi di balik pintu masuk toilet.
“ Benar tak ada orang kan?” aku mengintip manajer Soo Ah celingukan di tiap bilik toilet.
Tangannya membawa sebuah dompet berwarna hitam. Sepertinya dompet milik Soo Ah ketinggalan dan menyuruh manajernya untuk mengambilnya. Aku menghela nafas saat manajer itu keluar dari toilet. Tanganku gemetaran begitu pula kakiku. Aku tak tau harus bagaimana, ini adalah sebuah rahasia besar. Jika Soo Ah tau aku mendengar semua percakapannya mungkin aku tak akan bisa hidup lagi.
“ Sarang-ah?!! Kau didalam tidak.” Suara yang familiar memanggilku.
Dia adalah Ji Eun. Dia sedang mencariku ke dalam toilet. Ji Eun terkejut menemukanku di balik pintu masuk toilet.
“ Kau sedang apa disana?” Tanya Ji Eun cemas.
“ Sarang!! Kau Nampak pucat!!”
“ Ji-ji Eun… Kapan kita akan pulang?” tanyaku pada Ji Eun namun aku tak bisa menutupi ketakutanku.
“ Sebentar lagi kok. Apa kau mau pulang duluan. Tinggal scene terakhir.”
Aku keluar bersama Ji Eun sekarang pandanganku pada Soo Ah sangat berbeda. Yang ku lihat saat di depan umum adalah bukan wajah asli dia. Apakah Kangjun tahu jika dia bukanlah wanita baik?
“ Ji Eun,,” aku menarik ujung kaos Ji Eun.
“ Apa Kangjun tahu jika dia bukan wanita baik?”
“ Siapa?”
Aku menunjuk Soo Ah dengan mataku.
“ Aku tidak tau sih, tapi dia tak pernah menceritakan Soo Ah padaku setelah selesai syuting. Padahal biasanya dia selalu bercerita sifat dan karakter lawan mainnya. Memangnya kenapa?”
“ Aku akan memberitahumu jika sudah dikosan nanti.”
Melihat Soo Ah kenapa aku menjadi sangat jijik. Dia berpura-pura lugu didepan Kangjun sekarang. Dia sok tak mau memeluk Kangjun padahal itu adalah keinginannya bukan??
Aku mengambil ponselku dan melihat berita tentang Kim Hana. Namun sebuah bayangan membuat perasaanku tidak enak. Ketika aku menoleh kebelakang sosok manajer Soo Ah sudah berdiri di belakang dengan tatapan penasaran.