My Boyfriend Having Affairs

My Boyfriend Having Affairs
Episode 23



Akhirnya Kangjun mau membawa Junhee ke apartmennya, karena dia melihatku kebingungan. Sesekali aku mendengar ia menggerutu karena terpaksa menolong seseorang yang sudah membuatnya menderita saat ia masih kecil dulu.


“ Jadi dia yang orang yang suka mem-bully mu waktu masih kecil?” tanya Jaebum matanya menunjuk Junhee yang sedang mereka papah menuju mobil.


Kangjun mengangguk kesal.


“ Dan kau kalah?” tanya Jaebum lagi, dibalas lirikan tajam pada Kangjun. Dan aku hanya tersenyum di belakang mereka.


“ Kau.. belum mabuk kan?” tanya Kangjun, saat kami berempat sudah sampai di depan mobilnya.


Aku menggeleng cepat.


“ Aku belum sempat minum namun Junhee sudah teler.” Jawabku.


“ Lagi ada masalah?” Kangjun menatapku khawatir.


Aku hanya memandanginya lama lalu tersenyum. Aku tidak bisa mengatakan apapun padanya karena masalahnya sendiri saja belum selesai. Aku akan menceritakan semua padanya saat ia sudah benar-benar terbebas dari Soo Ah.


“ Aku pulang ya?” pamitku.


“ Lalu.. bagaimana dengan orang ini?” Kangjun memasukkan Junhe ke dalam mobilnya sebelum aku berpamitan.


“ Tolonglah bawa ia ke tempatmu. Aku tak mungkin membawanya ke rumahku kan?” pintaku memelas.


“ Ba-baiklah.. tapi apa yang harus aku katakan padanya jika ia sudah sadar? Apa aku bawa saja dia ke tempat Jaebum?”


“ Aku?!!!” Jaebum yang sudah duduk di kursi pengemudi merasa jika namanya disebut dan sedikit mengeluarkan nada protes. “ Aku kan sudah membantumu sampai sini Kangjun-ssi?!!” tolaknya dengan nada bercanda.


“ Hyung??!! Sekali ini saja.”


Aku menjadi merasa tidak enak pada Jaebum dan Kangjun karena memaksa mereka membawa Junhee, seseorang yang tidak mereka harapkan.


“ Ya sudahlah?! Karena aku baik, aku akan membiarkan saja kali ini.” Akhirnya Jaebum menyerah dan menyetujui setelah kami berdiam lama.


“ Kuantar ya?” ucap Kangjun.


“ Tak usah, masih belum begitu malam, aku bisa pulang sendiri.”


“ Serius?!” tanyanya lagi untuk memastikan.


Aku mengangguk.


“ Hubungi aku jika sudah sampai rumah ya?!” ucapnya lalu ia masuk ke dalam mobil.


Aku melihat mobil Kangjun dan menghilang di persimpangan jalan.


Akhirnya aku harus berjalan menuju halte, namun jam terakhir mendapatkan bus tersisa setengah jam lagi.. jadi jika aku tidak buru-buru ke sana aku tidak bisa pulang melainkan harus naik taksi.


“ Hey?!!” terdengar suara wanita di belakangku, aku tak yakin dia memanggilku.


“ Choi Sarang?!!” ternyata wanita itu benar memanggilku.


Aku menoleh pemilik suara itu adalah Soo Ah. Ia tidak sendiri melainkan dengan dua pria di belakangnya. Sebenarnya apa maksud dia kali ini?


Soo Ah menjentikan jarinya lalu kedua pria itu berlari ke arahku. Karena aku terkejut aku tak sempat untuk melarikan diri dari kejaran mereka. Kedua pria itu berhasil menangkapku hanya dalam hitungan detik. Mulutku di bekap oleh tangan pria itu dan satunya lagi mencoba mengikat tanganku.


Aku di bawa kedalam sebuah mobil hitam, aku tidak dapat menghafal plat mobil tersebut karena mataku segera ditutup oleh mereka. Apakah Soo Ah saat ini sedang berusaha menculikku?!!


Terdengar suara pintu mobil tertutup, dua pria itu mengapitku dan merampas tasku dengan kasar. Soo Ah duduk di depan, sepertinya masih ada satu lagi pria di dalam mobil ini untuk mengemudikan mobilnya.


“ Aku kan sudah memperingatkanmu agar menjauhi Kangjun?! Tapi kenapa kau masih saja berhubungan dengannya?!!” ucap Soo Ah.


Terdengar ia sedang membuka tas milikku dan berusaha mencari sesuatu.


“ Apa yang sebenarnya kau inginkan sekarang?!” tanyaku.


“ Mauku??! Mauku kau mati saja! Agar tidak menganggu Kangjun!”


“ Kau psikopat hah?!” pekikku.


PLAK!!!


Sebuah tamparan mendarat di pipiku, entah siapa yang menamparku namun tamparan ini sangat kuat sekali.


Terdengar suara nada sambung terhubung. Ia menghubungi seseorang dengan ponselku. Siapa yang dia hubungi????


“ Yeobseyeo?!!” Kangjun menjawabnya.


“ Oh jadi kau menggunakan ponsel manajernya agar bisa menghubungi Kangjun? Kau pintar sekali ya, tapi aku sudah menduganya.” Ucap Soo Ah setelah menutup telepon tersebut.


❣️❣️


Kangjun POV


Sarang menghubungi lewat ponsel Jaebum. Tapi ia segera menutupnya setelah aku menjawabnya, bukankah itu sangat aneh?


“ Aku Cuma merasa aneh, kenapa ia menelponku dan saat aku menjawabnya ia langsung menutup telponya. Dan saat aku menghubunginya lagi ponselnya di matikan. Tak akan terjadi apa-apa kan?” tanyaku khawatir pada Sarang.


“ Kau pasti terlalu khawatir karena kejadian beberapa waktu ini karena ulah Soo Ah.”


“ Benar juga, tapi tak seperti biasanya ia seperti ini.”


“ Mungkin saja ponselnya batreinya habis.”


Aku mencoba berpikir seperti yang Jaebum sarankan walapun perasaanku tidak enak seiap kali memikirkan ini.


“ Kita tunggu sampai besok.” Ucap Jaebum lagi.


❣️❣️


Aku menunggu Sarang untuk menghubungiku namun hingga pagi ia masih belum menelponku sama sekali. Aku melirik Junhee, ia sudah bangun dan terlihat bingung dengan keadaan sekitarnya.


“ Sudah bangun?!” tanyaku.


“ Dimana aku sekarang?” tanyanya melihat sekitar ruangan.


“ Ck! Kau tak ingat? Aku dan Sarang yang


membawamu kesini.”


“ Ahh gadis itu.” Gumamnya namun aku bisa jelas mendengarnya.


“ Dia tidak mengatakan apa-apa padamu kan?” tanya Junhe tiba-tiba.


“ Tidak, bertanya soal apa?”


“ Bukan apa-apa. Terimakasih sudah memberikanku tumpangan, aku akan pergi sekarang.” Junhee berdiri dan beranjak mengambil jaket yang ada di atas meja.


“ Tunggu!!!” aku mencegah Junhee pergi.


“ Kenapa?”


“ Apakah kemarin Sarang terlihat sedang ada dalam masalah?” tanyaku untuk memastikan.


Junhee terlihat berpikir walaupun pengarnya masih terasa karena mabuk semalam.


“ Ku pikir tidak ada, ia kemarin hanya di beritau jika Myung soo akan menikah.”


Aku terdiam mendengar jawaban Junhee. Myung Soo akan menikah? Apakah Sarang minum karena mantannya akan menikah?


“ Aku pergi.” Ucap Junhee lagi.


Aku duduk dan terhanyut dalam pikiranku sendiri. Apakah benar Sarang belum bisa meupakan Myung Soo? Ataukah ada hal lain yang tak bisa ia ceritakan padaku sekarang ini. Dan sampai saat ini, Sarang belum menghubungi sama sekali. Dan aku juga tak bisa menghubunginya. Aku menjadi sangat khawatir karena tak seperti biasanya ia begini.


“ Belum menghubungimu lagi?” tanyaku pada Jaebum.


“ Belum, kau sudah menghubunginya?”


“ Sudah, tapi ponselnya tak aktif. Bagaimana ini hyung?!”


“ Kita ke kost-annya kalau begitu. Jika ia tidak berada disana coba kita ke kantornya. Kau tau kan alamat kantornya?”


Aku mengangguk.


Lalu tak lama kemudian aku pergi ke kost-an Sarang untuk memastikan jika berada disana. Namun aku harus kecewa karena pemilik kamar tersebut tidak ada.


“ Kau mencari Sarang?” seorang wanita keluar dari sebelah kamar Sarang, sepertinya penghuni baru kamar bekas Ji Eun.


“ Iya, apakah anda melihatnya. Saya tak bisa menghubunginya dari semalam.” Jawabku panik.


“ Sepertinya dia belum kembali dari semalam. Soalnya tak ada suara apapun di kamar ini sejak tadi malam.”


“ Benarkah?!”


“ Tunggu dulu,” wanita itu membuatku menghentikan langkahku.


“ Kau Lee Kangjun kan?” tanyanya tiba-tiba.


Aku mengngguk dengan canggung.


“ Aku penggemarmu. Tolong berikan tanda tanganmu?” wanita itu langsung memberikanku sebuah kertas kosong padaku. Karena merasa tak enak aku lalu memberikan tanda tanganku padanya.


“ Terimakasih.”ucapnya.


“ Tolong rahasiakan pada orang lain jika aku kesini ya.” Pintaku dan dia mengangguk.


“ Ne Oppa?!”