My Boyfriend Having Affairs

My Boyfriend Having Affairs
4. Pilihan



“ Sarang, kau pergi ke mobil duluan. Sebentar lagi syuting selesai kok.” Ji Eun melemparkan kunci mobil padaku. Sepertinya Ji Eun tau jika manajer Soo Ah sedang mengincarku.


Aku berpura-pura tidak melihatnya lalu pergi meninggalkan Ji Eun dan manajer Soo Ah.


“ Seharusnya aku tidak ikut ke sini.” Gumamku.


Aku melihat Kangjun dari jauh lewat jendela mobil. Dia masih sibuk syuting untuk scene terakhir. Aku merebahkan tubuhku pada kursi depan mobil lalu mengecek kabar Hye Sun. Entah mengapa aku sangat penasaran dengan keadaannya sekarang. Bagaimana bisa ia hidup dengan kebohongan seperti itu. Aku melihatnya sangat bahagia di setiap postingannya bersama Seokjin. Jika dilihat-lihat sepertinya Seokjin sangat mencintai Hye Sun. Dalam benakku terbesit sebuah pertanyaan, hal apa yang menarik dalam diri Hye Sun yang bisa membuat pria seperti Myung Soo dan Seokjin terpikat padanya.


Myung Soo tidak sekaya Seokjin. Karena Seokjin memang dari kecil sudah terlahir sebagai anak orang kaya. Sedang Myung Soo bisa berkecukupan karena kerja kerasnya selama ini. Ia memiliki apartemen atas namanya sendiri. Dulu ia sangat berharap jika suatu saat nanti dia bisa tinggal di apartemen tersebut dengan Hye Sun. Namun semua harapannya hancur ketika Seokjin datang dalam kehidupan mereka berdua.


Seokjin jatuh cinta pada pandangan pertama dengan Hye Sun. Saat itu Hye Sun sedang bertugas untuk audit ke restoran cabang. Disana ia kebetulan bertemu dengan Seokjin yang sedang makan bersama dengan teman-temannya. Lalu dengan berani Seokjin meminta nomor orangtua Hye Sun dan anehnya Seokjin langsung mengatakan jika ia ingin melamar Hye Sun.


Hye Sun yang awalnya menolak keras akhirnya menyetujui karena ibu Hye Sun mengancam akan bunuh diri. Keluarga Hye Sun yang biasa saja jauh dibawah cukup seperti mendapatkan sebuah lotre. Dan sejak Hye Sun menikah dengan Seokjin, keluarganya kini jauh dari kata susah. Bahkan mereka di berikan sebuah apartemen. Myung Soo yang hanya bisa menjanjikan sebuah kebahagiaan untuk Hye Sun tentu saja ditolak mentah-mentah oleh mereka.


Setelah menjadi istri Seokjin, Hye Sun keluar dari pekerjaanya. Ia tak sempat berpamitan dengan Myung Soo, karena Myung Soo sengaja menghindarinya. Namun sangat jelas jika Myung Soo merasakan sakit hati. Hanya beberapa diantara teman Hye Sun yang datang ke resepsi pernikahannya. Dan aku termasuk yang tidak datang, karena saat itu aku sedang bersama Myung Soo.


Dia jatuh sakit karena stress. Berat badannya juga turun sangat drastis saat itu, dan aku tidak bisa mengabaikannya begitu saja.


Flashback


“ Makanlah sedikit.” Aku menyodorkan semangkuk bubur kerang untuk Myung Soo namun ia menolaknya.


“ Aku ingin sendiri, kau pulanglah.” Myung Soo menutupi dirinya dengan selimut.


“ Mau sampai kapan kau seperti ini?! Kau ingin mati?!”


Dia masih diam.


“ Kau sakit hati dengan seseorang yang sedang bahagia saat ini. Kau mempertaruhkan hidupmu demi wanita yang pergi dengan orang lain?!”


“ Sudahlah..”


“ Jika dia benar-benar menyukaimu. Dia akan memilihmu entah bagaimana caranya. Bukan menyerah begitu saja!”


“ Tau apa kau tentang dia? Tau apa kau tentang perasaan ini!!!” Myung Soo akhirnya bangkit dan berdiri tepat di depanku.


“ Perasaan?? Kau bertanya tentang perasaan?? Kau ingin tau? Aku menyukaimu jauh sebelum kau mengenal Hye Sun. Aku menyukaimu, terus menyukaimu meski kau selalu bercerita tentang Hye Sun. Bagaimana besar cintamu padanya. Dan..sepertinya kau tau jika aku menyukaimu. Namun kau lebih memilh berpura-pura tidak tau.” Airmataku menetes, tangan Myung Soo yang ingin menyeka airmataku ku tepis.


“ Bukan itu maksudku. Aku sudah menganggapmu seperti sahabatku sendiri. Aku hanya tidak mau kehilangan teman sepertimu. Kau tau kan kita sudah bersama lebih dari sepuluh tahun.”


“ Teman? Tak ada yang namanya pertemanan antara wanita dan pria.”


“ Aku sempat menyukaimu waktu itu, namun aku takut jika hubungan kita tidak berjalan dengan lancar, kita menjadi musuh.”


Aku tercekat mendengar pengakuan Myung Soo waktu itu.


“ Jangan beralasan. Aku akan pergi, terserah kau mau makan bubur ini atau tidak. Mau bangkit atau terpuruk. Itu semua ada ditanganmu.”


Aku pergi meninggalkan Myung Soo yang masih membeku di tempatnya. Lalu beberapa minggu kemudian entah ada kejadian apa aku dan Myung Soo memutuskan untuk berkencan. Dan karena rasa sukaku yang sangat besar padanya. Aku berjanji akan mengobati luka di hatinya.


Flashback end


“ Sepertinya kau hobi melamun ya?” suara Kangjun terdengar dari belakang mengejutkanku.


“ Sejak kapan kau tiba disini? Lalu Ji Eun??”


“ Lima menit yang lalu aku sudah disini. Aku memanggilmu namun kau tak menjawab.”


“ Ji Eun ada urusan dengan sutradara, sebentar lagi dia akan kembali.”


“ Oh…”


“ Aku ingin minta maaf padamu.”


“ Heh?! Untuk apa?”


“ Aku tak sengaja mendengar percakapanmu dengan Ji Eun saat berangkat tadi. Awalnya aku terbangun karena posisi tidurku kurang nyaman. Namun kalian sedang asik berbicara, jadi aku memutuskan untuk berpura-pura tidur.”


Aku diam.


“ Pacarmu yang tadi pagi yang menghamili mantan pacarnya??” Tanyanya hati-hati.


Aku mengangguk.


“ Dasar pria be**ngsek.” Kangjun mengalihkan padangannya ke pantai dan aku hanya tersenyum.


“ Terimakasih.” Ucapku pada Kangjun namun dia terlihat bingung.


“ Lalu kau akan menikah dengannya?”


“ Aku belum menerimanya.”


“ Oh..”


“ Kenapa?”


“ Tak apa-apa sih. Cuma penasaran aja.”


Karena ada kesempatan aku memberanikan diri untuk menanyakan tentang Soo Ah pada Kangjun.


“ Kangjun-ah?! Menurutmu bagaimana dengan Soo Ah?”


“ Soo Ah?? Kenapa tiba-tiba menanyakan Soo Ah.”


“ Ehmm hanya ingin tau saja. Dia sepertinya menyukaimu.”


Kangjun tertawa.


“ Bagaimana ya? Menurutku dia biasa saja sih. Tak ada yang spesial dari dirinya yang menarik perhatianku.”


“ Tapi dia cantik kan?”


“ Harus aku akui dia cantik, namun dia tak menarik.”


Aku diam.


“ Lagipula ada seseorang yang aku sukai sejak lama.”


Aku refleks menoleh ke belakang dan sangat bersemangat untuk mengetahui siapa wanita yang disukai oleh Kangjun. Aku berharap jika ia adalah Ji Eun. Menurutku mereka berdua sangat cocok.


“ Siapa?? Aku mengenalnya tidak?”


“ Apa sih? Kok jadi kau yang bersemangat.” Kangjun tersenyum malu-malu.


Sebelum Kangjun menjawab, Ji Eun masuk dengan wajah yang masam.


“ Aku sangat benci dengan Soo Ah!” ucap Ji Eun.


“ Ada apa?” bisikku pada Ji Eun.


“ Kau tau kan? Scene yang di dalam rumah. Katanya ia ingin mengambil ulang gambarnya karena dia terlihat sangat jelek.”


“ Lalu bagaimana?” Kangjun berubah menjadi sangat serius.


“ Sepertinya hanya kau yang bisa membujuk Soo Ah.” Ucap Ji Eun.


“ Jika dia ingin mengambil ulang gambarnya, kita bisa pulang pagi karena ulah satu orang. Dan kru lainnya juga terlihat sangat capek.”


Kangjun terlihat berpikir sejenak lalu turun dalam mobil.


“ Kalian tunggu sebentar, aku akan membujuknya agar kita tak usah syuting lagi.” Kangjun mengatakan lewat kaca jendela disampingku.


Rambutnya yang terkena angin membuat aroma shampoo tercium olehku.


“ Tolong ya Kangjun-ssi!”


Aku melihat Kangjun berjalan menuju Soo Ah. Kangjun memang sudah berubah, dia sekarang menjadi seorang pria gentle yang bertanggungjawab. Aku yakin pasti dia membujuk Soo Ah karena tak ingin melihat Ji Eun menderita. Kangjun pasti menyukai Ji Eun, aku yakin.


Kangjun Nampak berbicara berdua dengan Soo Ah. Soo Ah menyodorkan ponselnya pada Kangjun, mungkin ia meminta nomor Kangjun. Lalu ia menatap kearah mobil kami sekilas lalu mengetik sesuatu di ponsel milik Soo Ah. Nampak jika ekspresi Kangjun yang seperti malas memberikan nomornya.


“ Kalau misal Kangjun menyukaimu bagaimana?” Ji Eun yang sedang minum tiba-tiba menyemprotkan air ke wajahku.


“ Pertanyaan macam itu?”


“ Kan misal ?!”


“ Tak mungkin dia menyukaiku. Kalau iya pasti aku sudah berkencan dengannya sejak lama.”


Ji Eun Nampak malu dengan pertanyaanku saat ini.


“ Coba kau ingat-ingat berapa kali Kangjun Nampak perhatian padamu. Sering atau kadang-kadang.”


“ Tapi kan!?”


“ Barusan aku menanyakan padanya tentang Soo Ah. Lalu dia menjawab jika ia sudah menyukai seseorang sejak lama. Bisa saja itu kau kan? kau memang pernah melihat dia berhubungan dengan wanita?”


Ji Eun menggelengkan kepalanya.


“ Mari pulang semuanya??!!” Kangjun langsung masuk ke dalam mobil dengan lega.


“ Kangjun-ah. Bisakah kita tukar posisi.”


“ Wae?”


“ Sepertinya aku pusing duduk di depan.”


“ Ya sudah disini duduk bersamaku.”


“ Mana bisa begitu?”


“ Tapi Sarang, mana ada seleb duduk di depan.”


“ Ya sudah kau duduk disini.” ucap Kangjun langsung keluar dari mobil.


Aku keluar dari mobil dan mengedipkan mataku padaa Ji Eun berharap bahwa hubungan mereka akan semakin dekat.


“ Kau pusing kenapa sih?” Kangjun mengacak lembut rambutku, Ji Eun melihatku dari kursi kemudi.


“ Aku biasa naik bus soalnya.” Jawabku asal.


“ Sepertinya dia sudah merencanakan hal ini.” Ucap Kangjun saat menutup pintu mobil dengan kasar. Aku merasa tersinggung karena aku memang berniat untuk mendekatkan mereka berdua.


“ Kenapa memang?” Tanya Ji Eun.


“ Soo Ah meminta nomorku dan besok dia mengajakku untuk makan malam. Bukankah hal itu seperti sudah di rencanakan sebelumnya.”


Ternyata aku salah sangka.


“ Lalu kau menyetujuinya?” tanya Ji Eun.


“ Jika tidak kita semua akan berada disini semalaman. Entah mengapa kita harus menuruti permintaanya.”


Kangjun menghela nafas, aku sudah mulai berpura-pura tidur. Agar mereka berdua bisa mengobrol lebih dalam lagi.


“ Kau mengenal kekasih Sarang?” Tanya Kangjun tiba-tiba.


“ Loh kok menanyakan tentang Myung Soo?” Batinku.


“ Kenal, Sarang sering menceritakannya. Tapi aku jarang bertemu dengan Myung Soo karena ia jarang ke kosan kami berdua.”


“ Aku sudah tau jika ternyata kekasih Sarang yang bejat.”


“ Lalu…”


“ Tak apa-apa.”


Tak berapa lama suasana menjadi hening. Kangjun sepertinya tertidur, begitu pula denganku. Lama-lama mata ini menjadi berat. Pura-pura tidur itu ternyata sulit.


"Maafkan aku Ji Eun tak bisa menemanimu mengemudi." ucapku dalam hati.


Kangjun memutuskan untuk mengantar kami berdua terlebih dahulu karena jika ke gedung agensi akan memakan waktu yang lama. Aku melihat Myung Soo sudah menungguku di minimarket seperti yang aku minta.


Karena tak ingin membuat semuanya bertambah rumit akhirnya aku turun sebelum Myung Soo menyadari jika aku pulang dengan Kangjun.


“ Kau benar-benar menungguku?” tanyaku pada Myung Soo.


Ia tersenyum dan meneguk sebotol air mineral. Namun ia terlihat pucat, wajahnya tidak secerah saat pagi hari ini aku melihatnya.


“ Kau sakit?” aku menempelkan punggung tanganku pada kening Myung Soo, dan benar suhu tubuhnya sangat panas.


“ Kau tak apa-apa kan?” aku bertanya untuk memastikan keadaan Myung Soo. Namun ia tak menjawabnya dan pingsan didepanku.


“ SIAPAPUN TOLONG AKU!!!” aku berteriak berharap agar seseorang membantuku. Lalu muncul Kangjun dan Ji Eun dari kejauhan yang baru saja turun dari mobil.


Kangjun membantuku untuk membawa Myung Soo ke rumah sakit. Lalu aku, Ji Eun dan Kangjun langsung ke rumah sakit untuk memeriksa keadaan Myung Soo.


Aku langsung ke bagian administrasi tepat setelah sampai. Namun Kangjun mengatakan jika ia akan mengurusnya, jadi aku bisa menemani Myung Soo.


Setelah agak lama menunggu, dokter mengatakan jika Myung Soo hanya demam biasa.


Tiba-tiba hatiku melemah. Rasa benciku pada Myung Soo memudar ketika melihatnya di infus dan terbaring lemah diatas ranjang. Sama seperti dulu ia kehilangan Hye Sun.


“ Kalian pulanglah, besok masih ada pekerjaan kan?”


“ Kau tak apa-apa jika sendirian disini?” Tanya Kangjun cemas.


Aku mengangguk.


“ Tolong antar Ji Eun sampai rumah ya.” Ucapku pada Kangjun.


“ Jika ada apa-apa hubungi aku. Jangan sampai tidak.” Kangjun kali ini mengelus rambutku membuatku tak enak pada Ji Eun.


“ Iya-iyaa…” aku mendorong Ji Eun dan Kangjun agar lekas pergi karena hari sudah semakin larut.


Aku masuk ke dalam ruangan tempat dimana Myung Soo dirawat. Tangannya sangat dingin, lalu aku mengusapnya dengan tanganku berharap bisa menghangatkannya. Aku menatap wajahnya begitu lekat. Entah apa yang ku rasakan, aku bingung dengan perasaan ini. Rasa kasihan ataukah aku masih menyayanginya?


Lalu aku mengusap rambutnya dengan pelan dan merapikannya dengan jariku.


“ Apa kau sangat menderita?” ucapku lirih.


***


Aku merasa jika sedang tidur dikamarku dengan kasur yang empuk. Mataku enggan terbuka, aku ingin menikmati suasana ini. Terasa sangat nyaman, namun bau obat menyadarkan aku jika aku sedang dirumah sakit bersama Myung Soo dari semalam. Saat aku membuka mataku, Myung Soo sudah berada di sampingku, tidur dengan lengan dibawah kepalaku sebagai bantal tidurku. Karena terkejut aku sulit menyeimbangkan badan lalu…


BRUKK!!!


Aku terjatuh dari ranjang membuat Myung Soo terbangun.


“ Sarang-ah?? Gwenchana?!” Myung Soo tak kalah terkejut melihatku berada di bawah ranjangnya.


“Hemm.. iyaaa, aku tak apa-apa.” Walaupun punggungku cukup sakit karena terjatuh tadi.


“ Kenapa aku bisa ada diatas ranjang?” tanyaku.


“ Aku melihatmu tertidur disampingku. Kupikir itu sangat membuatmu tidak nyaman, jadi aku mengangkatmu ke atas ranjang.”


“ Kau sudah baikan?” aku melihat Myung Soo sudah terlihat membaik daripada semalam.


Dia mengangguk.


“ Kapan aku bisa pulang?” Tanya Myung Soo.


“ Aku akan bertanya pada dokter dulu.”


Myung Soo menarik lenganku, menahanku agar tidak pergi. Aku menatap lama wajahnya agar aku bisa pergi. Lalu dengan berat dia melepaskan genggaman itu.


Dokter mengatakan jika Myung Soo semakin membaik keadaanya ia bisa pulang siang ini. Dan ia akan harus makan teratur dan meminum obat yang diberikan oleh dokter.


Saat di bagian administrasi, kasir mengatakan jika seorang pria sudah membayar semua tagihan semalam.


“ Pria bernama Pak Lee Kangjun sudah membayar semua semalam.” Aku hanya mengangguk canggung karena Kangjun membayar biaya tagihan rumah sakit Myung Soo.


Karena merasa tak enak aku mengirimkan pesan pada Kangjun untuk mengucapkan terimakasih. Lalu tak lama kemudian ia membalasnya, dan entah kenapa aku spontan tersenyum tiap kali membaca pesan darinya.


“ Pesan dari siapa? Sepertinya kau sangat senang?” Myung Soo ternyata dari tadi mengawasiku dari tempat tidurnya.


“ Bukan siapa-siapa. Kau bisa pulang siang ini.” Ucapku pada Myung Soo.


“ Aku tak ingin pulang.”


“ Kenapa?”