
Sarang Pov
" Ehemm..." Kangjun berdehem sengaja untuk menarik perhatianku.
" Wae?"
" Kau sangat menyukai bunga itu ya?" Kangjun melirik buket bunga yang dari tadi aku mainkan.
Aku baru pertama kalinya mempunyai pengalaman seperti ini, mendapatkan buket bunga dari pengantin.
" Apakah mitos itu benar?? Ehmmm.. Maksudku.. Jika wanita yang bisa menangkapnya akan segera menikah." tanyaku.
" Apa kau ingin aku mewujudkannya?" dia tersenyum sedang tangan kanannya berusaha meraih tanganku untuk ia genggam.
Aku hanya tersenyum dan mengangguk, berharap itu akan menjadi kenyataan. Perasaanku pada Kangjun begitu yakin. Dan aku tak pernah meragukannya ketika ia selalu membicarakan tentang pernikahan. Karena aku yakin dia bisa menjadi suami yang baik untukku kelak.
Bora dan Ji Eun lebih memilih untuk pulang tak bersama kami. Karena kata mereka, tak ingin menganggu waktu kami berdua.
Mereka tak sepenuhnya salah, karena saat ini aku hanya ingin menghabiskan waktu berdua dengan Kangjun lebih lama. Mengingat jika ia tak lama lagi akan pergi ke Swiss untuk menemui ibunya.
"Bagaimana kalau kita makan tteokbokki??" usulku dia menautkan kedua alisnya.
Aku menunggu jawaban darinya dan melakukan aegyo didepannya. Walaupun itu sedikit memalukan.
" Baiklah. Tapi aku tak bisa memakan makanan yang pedas." dia mencubit pipiku lalu tersenyum.
Ah.. Senyum itu.. Lagi-lagi selalu membuatku terjatuh ke dalam hatinya.
❤️❤️
Ji Eun Pov
Sepatu hak tinggi ini benar-benar membuatku gila. Aku tak pernah memakainya sekalipun sampai sekarang, dan kini aku harus merasakan sakit pada tumitku. Seharusnya aku membawa cadangan sepasang sneakers jika tau akan begini jadinya.

Aku duduk di halte, mengistirahatkan kakiku yang sepertinya meminta tolong untuk melepaskan sepatu yang sama sekali tak cocok untukku. Jika bukan acara pernikahan mungkin aku akan lebih memilih menggunakan sepatu Converse kesukaanku.
Seorang pria tiba-tiba duduk disampingku. Rupanya ia juga tamu undangan Myung Soo. Sekilas aku mengenali wajahnya pada sesi foto tadi.
Raut wajahnya menyeramkan. Ataukah hanya perasaanku saja? Dia menoleh ke arahku karena aku terlalu lama memandanginya. Lalu dengan segera aku mengalihkan pandanganku di jalan raya. Kini aku merasa ia yang berganti memandangiku. Ini bukan semacam kepedean, tapi memang benar jika dia memandangku.
Taksi tak akan lewat ke daerah ini kecuali jika ada seseorang yang menggunakannya hingga jalan yang berada diujung puncak ini. Seharusnya tadi aku ikut saja dengan Sarang setidaknya sampai jalan depan yang mudah menemukan taksi.
Lelaki sampingku masih diam. Ia mengambil eraphone ditasnya lalu ia sumpal ke telinganya. Wajahnya masih saja begitu, tak ada perubahan, aku tak tau dia sedang mendengarkan berita atau musik. Tapi yang pasti dia adalah pria aneh.
Kemudian tak sampai setengah jam sebuah bus berhenti di depanku. Busnya hanya berisi beberapa orang saja. Hingga aku tak usah mengkhawatirkan tempat duduk.
Aku berjalan dengan kaki pincang karena tumit pada kaki kiriku sepertinya sudah lecet parah. Saat ingin menaiki bus, kakiku terpeleset hingga hak sepatu yang aku gunakan patah. Dan aku hampir saja aku terjatuh ke belakang.
" Maafkan saya.." ucapku, pria yang tadi disampingku sudah menangkapku.
Dengan berat hati aku melepaskan sepatu sialan itu karena tak mungkin lagi aku memakainya.
Aku duduk di kursi bagian depan. Karena terlalu malas untuk berjalan ke belakang tanpa alas kaki. Beberapa kali aku melihat kakiku, ternyata sudah berdarah. Stoking warna kulit yang baru saja ku beli juga robek. Kenapa hari ini aku sangat sial??

Aku menatap keluar jendela berharap akan ada tukang sol sepatu dipinggir jalan. Kalau tidak, semoga saja ada toko sepatu agar aku bisa pulang dengan alas kaki.
" Pakai ini." lelaki yang aneh tadi memberikanku sebuah sepatu yang ia pakai.
Aku melirik kakinya. Rupanya ia sudah membawa sandal dari rumah. Aku masih bingung dengan niat baiknya. Akankah aku tolak atau aku terima.
" Kembalikan pada Sarang. Dia mengenalku, aku Junhee. Oh Junhee." ia menyerahkan sepatu itu tanpa menunggu jawabanku lalu turun di halte.
Aku melihatnya dari dalam bus namun ia berpura-pura tidak melihatku.
" Cih!!" decihku.
Dia aneh tapi baik, tapi ini kan sepatu pria?????
❤️❤️❤️
Sarang Pov

Aku menarik lengan Kangjun karena terlalu senang melihat makanan tersebut, karena ternyata tak hanya tteokbokki yang dijual disana. 
Disana juga ada mandu dan odeng. Benar-benar surganya makanan. Kangjun hanya meringis ketika aku mencoba tteokbokki yang rasanya tak begitu pedas itu.
" Coba dulu.. Ini tidak pedas." aku menyodorkan satu tusuk tteokboki tersebut namun dia menggelengkan kepalanya.
" Aku akan makan odeng saja." ia mengambil satu tusuk odeng lalu ia masukkan ke dalam mulutnya. Karena merasa belum cukup ia mencomot lagi beberapa tusuk.
Aku hanya tertawa karena tadi dia sangat malas untuk aku ajak makan di kedai pinggir jalan.

Aku yang sibuk makan tteokboki baru menyadari jika Kangjun sudah menghabiskan lima belas tusuk odeng itu sendiri. Lalu saat ia mengambil lagi aku menahannya karena Jaebum memberitahuku agar ia tak terlalu banyak makan. Karena jadwal pemotretan majalah sangat padat minggu ini. Dan ia tak boleh kelihatan gemuk dibagian perut dan pipinya.
" Sudah cukup, hentikan." aku mengambil setusuk odeng yang akan ia makan. Ia lalu mencebik seperti anak kecil yang tidak diperbolehkan jajan oleh ibunya.
" Besok lagi. Kau mau jika aku dimarahi oleh Jaebum? karena membiarkanmu makan sebanyak ini." aku memarahinya sambil tertawa tapi dia malah membalasku dengan mencium bibirku hingga aku menjadi diam untuk sesaat.
" Dasar anak muda." celetuk ajussi penjual tteokbokki itu lalu tersenyum.
" Saat saya masih muda, saya juga setampan dia." lanjutnya lalu tertawa.
" Jika anda setampan saya, itu berarti istri anda secantik kekasih saya." goda Kangjun.
Lalu ajussi itu memberikan satu odeng gratis pada Kangjun sebagai bentuk terima kasih karena memuji istrinya.
" Tak masalah jika kau makan lagi." Kangjun menerimanya dengan senang hati.
Setelah membayar semua makanan yang kami makan akhirnya kami berdua kembali menuju mobil. Namun sebelum itu ada segerombolan siswi SMA yang mengerumuni Kangjun tiba-tiba.
" Oppa~ Kangjun Oppa?! "teriak mereka serentak. Kangjun menoleh dan menyapa.
" Bolehkah kami berfoto denganmu. Kami adalah fansmu."
Kangjun dengan senang hati berfoto dengan siswi itu satu persatu dan memberikan tanda tangan pada mereka.
" Oppa, pasti sangat melelahkan kan?? Kali ini kau tak boleh berhubungan dengan wanita ular seperti Soo Ah lagi." ucap mereka dengan khawatir.
Aku melihat dari kejauhan Kangjun menjawab pertanyaan mereka satu persatu dengan sabar. Kangjun menyadari jika dia bisa sampai saat ini karena fans mereka yang setia mendukungnya.
" Oppa, eonni itu.... Kekasihmu kan?"salah satu siswi menunjuk ke arahku.
Kangjun mengangguk.
" Eonni, tolong jaga uri Oppa~~ Jangan pernah coba-coba untuk menyakitinya." ucap mereka lagi-lagi dengan serempak namun terdengar seperti nada mengancam.
Dan aku mengiyakan dengan tersenyum." Eoh, Arraseo?!"
Kemudian setelah acara fanmeeting dadakan tersebut selesai. Aku dan Kangjun masuk ke dalam mobil.
" Oh ya, tadi Hye Sun mengatakan sesuatu padamu kan?? " tanyaku, karena teringat dengan perilaku Hye Sun tadi.
" Dia bertanya apakah benar aku Lee Kangjun? Aku menjawabnya iya. Dan aku tak tau dia mengatakan apalagi, karena aku tak mendengarnya. "
Aku diam.
" Kenapa? Kau mencemaskan hal itu? "
Aku mengangguk.
Kangjun memasangkan sabuk pengaman yang sedari tadi aku gagal memasangnya. Aku terlalu memikirkan ucapan Hye Sun hingga membuatku sedikit kikuk.
" Percaya saja padaku." bibir lembut itu mendarat ke bibirku lagi.
Aku menahan wajah Kangjun, dan menatap matanya yang cokelat. Aku membalas ciumannya, bahkan aku tak membiarkannya untuk mengakhiri ciuman itu secepatnya. Karena aku takut akan sangat merindukannya saat ia berada di Swiss nanti.
" Bagaimana jika nanti kita makan ramyeon dulu dirumahku." bisiknya lembut di telingaku.