
Beberapa minggu kemudian...
Kangjun Pov
Tiba juga hari ini, hari dimana aku akan pergi ke Swiss untuk menemui ibuku dan terpaksa harus meninggalkan Sarang.
Perjalanan ini ku tempuh kurang lebih selama lima belas jam. Aku teringat dengan wajah Sarang saat mengantarkanku di bandara tadi pagi. Wajah sedihnya tak bisa ia sembunyikan. Tatapan matanya padaku seolah mengatakan jika ia tak ingin aku pergi. Sebenarnya aku juga merasa sangat berat untuk meninggalkannya, mengingat apa yang telah kami lalui tidaklah mudah.
" Aku akan kembali." berkali-kali ia meneteskan airmata saat menatap wajahku.
" Aku akan sering menelponmu, jangan khawatir. Kau jaga dirimu baik-baik. Jika ada apa-apa bilang padaku atau Jaebum. Aku sudah menitipkanmu padanya." aku mencium keningnya dan ia masih begitu berat untuk melepaskan pelukannya padaku.
**
Seorang sopir menjemputku, pria paruh baya dengan kumis lebat diatas bibirnya. Ia memegang sebuah kertas bertuliskan Mr. Lee Kangjun. Saat aku mendekatinya ia mencocokkan wajahku dengan sebuah foto kecil yang ada di ponselnya. Bahkan ke bandara untuk menjemput anaknya pun, ayahku tak sempat.
Aku menyandarkan punggungku pada kursi di belakang mobil, ku alihkan pandanganku pada sebuah pemandangan yang cukup menarik perhatianku.
Lalu aku memeriksa ponselku dan sudah ada beberapa pesan dari Sarang dan Jaebum. Saat aku ingin menelponnya aku teringat akan perbedaan waktu antara Swiss dan Korea. Jika di Korea Selatan tujuh jam lebih cepat dari Swiss. Ini berarti disana mungkin sudah larut malam. Aku mengurungkan niatku untuk menelponya namun aku membalas pesannya agar dia tidak terlalu mengkhawatirkanku.
Tak sampai satu jam aku sudah sampai di sebuah rumah yang dominan dibangun dengan kayu. Sangat cantik dan menarik. Aku jejakkan langkahku walau ragu.
Sopir itu mengeluarkan koper dan tasku dari bagasi dan membawanya masuk ke dalam. Aku mengedarkan pandanganku dan tak hentinya berdecak kagum dengan rumah yang aku datangi saat ini, yang tak lain adalah rumah orangtuaku.
Pintu terbuka dari dalam. Sesosok pria yang sudah tak ku temui selama beberapa tahun muncul. Ia tersenyum, namun aku merasa canggung karena selama ini hanya mendengar suaranya saja tanpa bisa melihatnya langsung. Ada beberapa uban yang tumbuh menutupi rambutnya yang hitam. Ia melebarkan lengannya dan berharap aku datang memelukknya.
" Kau sudah dewasa dan tampan."ucapnya sambil menepuk punggungku.
Bau seorang ayah yang tak pernah ku cium selama ini.
" Dimana ibu? "tanyaku langsung tanpa basa basi
" Dia sedang tidur di kamarnya." ucapnya dan membawaku masuk ke dalam rumah yang menurutku tak begitu besar.
" Tapi kata ayah, ibu sedang sakit? "
Dia hanya diam dan membawaku ke sebuah kamar yang berada di lantai dua. Saat pintu terbuka aku melihat ibuku sedang tidur dengan nyenyak. Tak ada tanda jika ia sedang sakit seperti yang ayahku katakan saat di telepon.
Seorang pembantu lalu masuk ke dalam kamar membawakan dua cangkir teh.
" Tinggalah dan menetaplah disini." ucap ayahku dengan tenang.
" Maksud ayah?!"
Dia memelukku dan menangis.
" Ibu sangat merindukanmu."
Aku membalas pelukannya, ibuku juga sudah berbeda. Aku melihat beberapa kerut diwajahnya. Namun dia masih nampak cantik seperti dahulu.
Ibuku menatap ayahku sangat lama dengan pandangan kesedihan. Lalu keduanya mengangguk pasrah dan menatapku bergantian.
" Menikahlah dengan seorang wanita pilihan kami."
Aku masih diam dan belum mengerti apa maksud kedua orangtuaku.
" Tunggu dulu, menikah??? Bukankah kalian menyuruhku kesini untuk menjenguk ibu?!" ucapku masih mencoba mencerna ucapan ayahku tadi.
" Maafkan ayah, karena ayah harus terpaksa berbohong kepadamu. Agar kau mau datang kesini. Jika ayah tak mengatakan jika ibumu sakit. Mungkin kau tak akan pernah mau ke Swiss menemui kami." ayahku menunduk seakan menghindari kontak mata denganku.
" Ayah dan ibumu mempunyai hutang yang tak bisa kami bayar. Karena perusahaan ayah tiba-tiba bangkrut. Dan uang ayah sudah habis untuk membayar gaji karyawan dan menutupi hutang pada bank. Lalu seorang teman bisnis ayah membantu untuk menyelesaikannya namun kali ini ayah tak bisa membayarnya karena ayah sudah tak memiliki banyak uang. Dan perlu kau tau, rumah ini dan sopir yang menjemputmu tadi bukanlah milik ayah melainkan dari teman ayah."
Ayahku menghela nafas panjang, bibirnya bergetar tiap kali menceritakan masalah yang belum pernah aku ketahui tersebut.
" Jika tak ada dia mungkin kami sudah hidup menggelandang."
" Lalu apa hubungannya dengan menikah? "
" Anak teman ayah tersebut, tak sengaja melihat fotomu di ruang tamu. Dan ia mengatakan jika ia menyukaimu. Kemudian teman ayah itu akan menganggap hutang kami lunas jika kau mau menikahinya."
" Apa?! "aku tak percaya dengan apa yang baru saja ayahku katakan.
Menikah? Dengan seseorang yang tak ku kenal?? Demi melunasi hutang. Ini terdengar gila! Tapi....
" Berapa hutang ayah? " aku bertanya karena mungkin saja aku bisa membantu untuk melunasinya.
Ayahku diam.
" Berapa??? Aku akan membantu melunasinya jika masih bisa dijangkau olehku."
" Kurang lebih satu triliun."
Tubuhku lemas seketika saat ayahku mengatakan nominal hutangnya padaku. Ia bilang jika ia tak bisa melunasinya, ia akan menjadi tawanan selama sisa hidupnya dan tak akan pernah bisa kembali ke Korea. Ia akan bekerja pada teman ayahku seumur hidup.
Rumah yang mereka tinggali ini hanya bentuk awal sebuah kesepakatan. Karena jika aku langsung menolaknya mungkin mereka akan segera diusir dari rumah ini dan tinggal di rumah kecil sebuah desa.
Lalu bagaimana dengan Sarang???