
Sarang Pov
Aku sedang mengemasi perlengkapanku besok untuk acara Outing. Sudah dua hari ini pesanku tak dibalas oleh Kangjun. Telepon dariku pun tak ia angkat. Apakah terjadi sesuatu padanya???
Jujur aku sedikit kecewa padanya karena sudah mengingkari janjinya untuk sering memberiku kabar. Mungkin hal itu terdengar sangat sepele, tapi bagiku. Kabar darinya membuat sedikit lega dan mengobati rasa rinduku padanya.
Sudah seminggu ia berada disana. Awalnya komunikasi kami berjalan dengan baik namun semakin kesini aku merasa jika ia terlalu sibuk disana hingga melupakanku.
Bora mengirimiku pesan, ia mengatakan jika sedang berada di bar tenda di dekat kost-anku.
*Bora: Sedang apa?
Aku: Mengemasi barang, kenapa?
Bora: Kesinilah, kami sedang berkumpul di bar tenda dekat kost-anmu.
Aku: Mendadak? Ada acara apa?
Bora: Hanya ingin berkumpul saja. Disini ada Junhee dan Ji Eun*.
Ternyata Bora dan Ji Eun sudah terlihat akrab. Dan setelah kejadian sepatu itu, Jun Hee dan Ji Eun juga nampak lebih dekat. Waktu itu tiba-tiba Ji Eun memintaku untuk mengembalikan sepatu milik Junhee dan ternyata ada kejadian lucu dibaliknya.
Aku: Aku akan kesana sekarang.
Sepertinya tidak buruk juga jika aku ikut berkumpul bersama mereka. Di rumah sendirian hanya membuatku teringat dengan Kangjun.
Aku sengaja meninggalkan ponselku, agar aku bisa fokus bersenang-senang dengan teman-temanku.
**
Kangjun Pov
Pesan dari Sarang belum juga ku balas. Sudah dua hari ini aku malah terkesan menghindar darinya. Aku hanya tak mau terus membohonginya jika ia terus melontarkan pertanyaan padaku.
Disinipun aku dikejar-kejar oleh orangtua Yoo Jung. Mereka terus meminta jawaban dariku apakah aku bisa menikah dengan Yoo Jung atau tidak.
Orangtua Yoo Jung memberitahuku hal lain yang membuatku lebih terkejut. Jika Yoo Jung tak hanya menderita pneumonia namun ada penyakit lain yang di deritanya. Aku tak begitu yakin, tapi ayahnya mengatakan jika itu adalah penyakit keturunan. Yoo Jung yang saat ini sangat ceria mungkin lambat laun akan lumpuh dan tak bisa berjalan.
Aku harus bagaimana sekarang??? Haruskah aku menerima lamaran itu???
**
Bora, Junhee dan Ji Eun nampak bersenang-senang saat itu. Mereka menertawakan suatu hal yang menurut mereka sangat lucu.
Aku tak boleh merusak suasana saat ini. Aku harus melupakan Kangjun untuk sejenak agar aku juga bisa tertawa seperti mereka.
" Aku mengundang Jaebum, tak apa-apa kan?" ucap Ji Eun, kami meliriknya bersamaan.
"Kau dekat dengan dia?" tanya Junhee sepertinya dia cemburu pada Jaebum.
" Dia seonbaeku. Kalau dibilang dekat ya dekat tapi hanya sekedar rekan kerja."
" Oh.." jawab Junhee singkat aku dan Bora saling berpandangan dan mencibir Junhee.
Lalu tak lama kemudian Jaebum datang dengan gaya yang berbeda. Konsep ia malam ini adalah Boyfriend Materials. Bora yang belum mengenal Jaebum menyapanya dengan malu-malu.
"Kau kenapa?? Ini bukan seperti kau?" tanyaku pada Bora, ia memukul pundakku.
" Kita bertemu lagi?!" Jaebum melirik Junhee, mereka sudah pernah bertemu sebelumnya.
"Jangan terlalu banyak minum, karena aku tak akan membawamu pulang lagi."
Junhee mengangguk, Ji Eun melirik penasaran.
" Bagaimana kabar Kangjun?" tanya Jaebum tiba-tiba.
Ah sial, hatiku mendadak seperti tergores saat ia mengucap nama pria yang sedang sibuk di negara orang itu.
Aku menggelengkan kepalaku dan itu mungkin sudah cukup untuk menjawab pertanyaannya.
Aku melotot pada Jaebum hingga ia bingung apa yang sedang terjadi pada kami berdua.
...
.
.
Kepalaku semakin pusing saat aku menghabiskan sepuluh gelas *maekju (bir) tersebut.
" Kau tau...???!!!! Dia tak menghubungiku selama dua hari ini?!! Tapi apa?!! Kau menelponnya dan ia menjawabnya? Apa kau pacarnya?! Lalu aku siapanya?!" aku menunjuk muka Jaebum hingga ia memundurkan badannya.
" Junhee-ya?!! Kenapa dengan adikmu itu??!!! Mengapa dia menjadi berubah secepat itu?!! Apakah aku melakukan kesalahan?! Eoh??!!!"
Junhee menatapku cemas. Ada suatu hal yang ia cemaskan tapi aku tidak tau apakah itu.
.
..
.
Bayangan Junhee, Bora, Jaebum dan Ji Eun menjadi sangat banyak. Badanku seperti melayang dan....
**
Kangjun Pov
Jaebum tiba-tiba menghubungiku lagi. Padahal semalam dia sudah menelponku untuk menanyakan hal yang sama seperti Sarang. Yaitu kapan aku akan kembali. Aku juga belum bisa memberitahukan kondisiku saat ini padanya.
" Kau kenapa??" tanyanya langsung begitu aku mengangkat telepon darinya.
"Kenapa? Apa ada masalah?"
" Sarang sekarang mabuk berat. Ia sedang bersama dengan ketiga temannya. Aku harus mengantarnya pulang ke kost-annya karena dia tidak sadarkan diri setelah minum beberapa gelas."
" Kenapa Sarang mabuk?"
" Harusnya kau tanyakan pada dirimu sendiri."
Aku diam.
" Aku tak tau jika kau tak membalas pesan darinya dan meneleponnya. Jadi aku tak sengaja mengatakan jika aku menelponmu semalam. Lalu dia marah-marah tak jelas kepadaku. Sepertinya dia sangat kecewa padamu."
" Iya, aku memang tak membalas pesannya."
" Kenapa? Kau punya wanita lain disana? "
Aku diam.
" Benarkah tebakanku?! "
Aku masih diam.
" Kangjun-ah?!!! "
Suara Jaebum menyadarkanku dari lamunan sesaatku.
" Hyung, aku harus bagaimana? "
" Ada apa??? Kau tak mau menceritakan padaku?"
" Itu.. Bukan seperti yang kau bayangkan.."
" Cih! Ternyata benar dugaanku." Bahkan Jaebum terdengar sangat kesal kepadaku. " Aku akan mengantarkan Sarang sekarang. Nanti akan ku hubungi kau lagi."
Sebelum menutup telponya terdengar suara helaan nafas yang panjang dari Jaebum hingga benar-benar membuatku sangat frustasi.