My Boyfriend Having Affairs

My Boyfriend Having Affairs
15. Kesempatan



Sarang POV


Nomor yang tak dikenal menelponku. Sudah ku abaikan beberapa kali namun nomor itu terus menghubungiku, hingga mengirimkan pesan dan mengatakan jika ia adalah Kangjun. Ia menggunakan nomor Jaebum untuk menelponku.


“ Kau ada dimana sekarang?” tanya Kangjun, terdengar nada gelisah darinya.


“ Aku sedang di Busan.”


“ Maafkan aku, aku tak bisa menghubungimu kemarin karena ponselku disita.”


Disita? Oleh siapa? Aku tak berani menanyakannya secara langsung, karena sejak ia dikabarkan berkencan dengan Soo Ah aku seperti ada jarak diantara kami berdua.


“ Kau, baik-baik saja kan?” tanyaku pelan.


“ Tidak. Aku tidak baik-baik saja Sarang-ah.” Kangjun menghela nafasnya dan tak berbicara apa-apa lagi.


“ Apakah ada masalah? Dan soal Soo Ah…?”


“ Aku akan ke Busan malam ini. Bisakah kau menemuiku sebentar saja? Aku membutuhkanmu saat ini.”


Setelah berpikir lama aku setuju untuk bertemu dengannya dan mengakhiri telpon dari Kangjun.


Sebenarnya aku juga sedang memiliki masalah. Sejak dari rumah Myung Soo, perasaanku menjadi bercampur aduk. Apa yang sebaiknya aku katakan pada kedua orangtuaku saat ini?


Aku masih tak percaya Myung Soo bisa melakukan hal itu padaku, bahkan di Busan, tempat dimana kedua orangtua kami tinggal.


Setelah ibu Myung Soo tau jika Hye Sun sudah bercerai dengan suaminya, ia bergegas mengajakku untuk mencari Myung Soo saat itu juga. Aku dan ibu Myung Soo mengelilingi pasar dan sekitarnya demi menemukan mereka berdua.


PLAKK!!!


Ibu Myung Soo menampar keras pipi anak semata wayangnya tersebut, ketika ia melihatnya sedang bergandengan tangan dengan mesra.


Mereka berdua sedang berjalan-jalan membeli jajanan pasar. Dan ibu Myung Soo tak sengaja melihat mereka dari kejauhan dan menghampiri mereka.


Hye Sun terkejut melihatku begitupun Myung Soo.


“ Eom-eomma??!!!” Myung Soo masih memegangi pipinya yang merah karena tamparan tersebut.


Hye Sun yang takut beringsut mundur berlindung dibelakang punggung Myung Soo.


“ Pemandangan apa ini?!” tanyaku sinis.


“ Aku bisa jelaskan pada kalian. Jadi tolong tenanglah.”


Ucapan dari Myung Soo tak membuat perasaan ibunya membaik melainkan membuatnya semakin emosi dan mencoba untuk menarik rambut Hye Sun yang terurai panjang.


“ Eomma tunggu dulu!!!”


“ Tunggu apa?! Kau ingin membela wanita ini?”


“ Eommoni, aku hamil.” Ucapnya pelan, ibu Myung Soo terpaku dan melirik tajam pada perut Hye Sun.


“ Hamil?! Hamil dengan siapa?!!” teriaknya dan ia meraih rambut Hye Sun hingga membuat tubuhnya tertarik dan terjatuh di lantai.


“ Aku tak peduli jika kau hamil! Dan aku tak akan pernah sudi menerimamu menjadi menantuku.”


Ibu Myung Soo pergi meninggalkan mereka berdua. Sedangkan aku masih berdiri, mencoba tegar dengan keadaan yang aku hadapi sekarang.


“ Jadi ini rencanamu? Setelah membuatku menjadi tunanganmu, kau diam-diam kembali dengan wanita itu." aku menatap jijik pada Hye Sun.


Baiklah, aku terima.”


“ Dan aku, takkan pernah melupakan rasa sakit yang kau berikan hari ini.” Aku melemparkan cincin emas putih ke wajah Myung Soo.


Ia menarik lenganku sebelum pada akhirnya tasku melayang diwajahnya.


Aku benar-benar tak memahami Myung Soo mengapa ia dengan mudah mengingkari janji yang ia buat. Apakah ia lupa dengan hal yang ia lakukan hingga membuat hatiku luluh? Lalu setelah semua berjalan dengan lancar, ia kembali dengan wanita itu.


“ Kau tak makan?” tanya ibuku.


“ Aku akan pergi menemui teman sebentar lagi, jadi tak usah membuat makan malam.”


Aku tak bisa menunjukkan wajahku yang sedang menangis pada ibuku. Karena aku belum siap untuk menceritakan yang sebenarnya padanya.


“ Kau tak apa-apa?”


“ Hemmm??!” aku menyembunyikan tubuhku di bawah selimut.


Lalu ibuku keluar tanpa bertanya apa-apa lagi padaku.


“ Aku harus bagaimana?!” lirihku.


🐾🐾


Kangjun POV


“ Kau serius akan ke Busan?” Jaebum terus bertanya dengan keputusanku kali ini.


Aku mengangguk.


“ Tolong temani aku. Dan katakan alasan apa saja pada Soo Ah.”


“ Kau lah, yang harusnya mengatakannya sendiri. Kenapa harus aku.”


“ Jika muak kenapa berkencan dengannya?”


Jaebum belum mengetahui kondisi yang aku alami sebenarnya kali ini. Aku hanya mengatakan pada daepyo-nim jika aku sedang diancam oleh Soo Ah.



“ Kau berkencan dengan Soo Ah?!” tanya daepyonim setelah aku memutuskan untuk menuruti permintaannya.


Aku memberikan amplop yang berisi foto yang diberikan oleh Soo Ah, dan daepyo nim terpaku tak percaya dengan apa yang ia lihat.


“ Apa-apaan ini!!” ia melemparkan foto-foto itu di depan wajahku.


Dan akhirnya aku mengatakan jika aku diancam oleh Soo Ah, kalau aku tak ingin foto itu tersebar aku harus berkencan dengannya.


“ Wanita licik!"


“ Tolong bantu aku kali ini saja daepyonim, aku tak tau harus bagaimana lagi?!”


Daepyonim lama memandangi wajahku dan Nampak sedang berpikir. Aku hanya perlu menunggu keputusan darinya. Karena hanya dengan itu, aku yakin dia menemukan jalan keluar.


“ Untuk sementara kau turuti dia dulu. Kita umumkan kau berkencan dengannya besok pagi. Aku akan melakukan pembalasan terhadapnya. Karena mata dibalas dengan mata, hidung dibalas dengan hidung.” Ucapnya yakin.


“ Tapi kau harus berhati-hati dengannya, sepertinya dia mengawasimu selama ini.”


Aku mengangguk dan lalu pergi meninggalkan ruangannya. Tarikan nafasnya terdengar kasar, aku yakin dengan berita kencan seperti ini akan membuat sahamnya sedikit turun.


"Jika aku menceritakan yang sebenarnya kau akan mau menolongku kan?” aku mengawasi Jaebum lewat kaca spion.


“ Tentu saja.”


Lalu aku menceritakan semuanya pada Jaebum dari awal mula masalah hingga mengapa aku ingin sekali ke Busan.


“ Jadi kau ke Busan hanya karena ingin menemuinya?”


Aku mengangguk.


“ Karena hanya dia yang bisa membuatku tenang. Dia seperti obat yang membuatku kecanduan. Dan aku harus melihatnya setiap hari, karena jika tidak aku merasa seperti mau mati.”


“ Bukankah itu berlebihan? Kau sudah hampir tigapuluh tahun?? Tapi bicaramu seperti anak remaja yang sedang kasmaran.”


Aku melempar sebuah bantal leher tepat ke wajah Jaebum.


“ Yya!! Kau tak boleh seperti ini. Bagaimana jika kita mengalami kecelakaan?”


“ Baiklah-baiklah, makanya bicara yang benar. Jangan membuatku tambah stress.”


“ Apa karena itu dulu Ji Eun pernah meminta untuk berhenti menjadi manajermu?” tanya Jaebum saat aku bersiap akan tidur.


“ Iya. Sepertinya begitu.”


“ Tapi kenapa ia sangat berani melakukan hal itu padamu?”


“ Entahlah.”


“ Kau tak tau kabarnya lagi?” aku bertanya pada Jaebum yang mungkin saja dia mengetahui keadaan Ji Eun sekarang.


“ Sebelum pergi dia berpamitan padaku sih, di lihat dari wajahnya sepertinya ia tak ingin meninggalkan agensi kita.”


Aku menghela nafas, dan masih menyesali dengan perbuatan Ji Eun. Jika saja dulu ia tak menciumku dan melakukan hal itu mungkin semua tak akan menjadi seperti ini.


🐾🐾


Sarang POV.


Aku menemui Kangjun di sd tempatku bersekolah dahulu. Aku melihat sesosok bayangan yang beberapa hari ini tak ku lihat sedang duduk di kursi ayunan. Ia menatap kedua sepatunya dan sesekali mengetukkannya pada tanah yang basah karena hujan.


“ Kangjun-ah?!” sapaku, yang punya nama menengok sekilas dan berjalan menghampiriku.


Ia memelukku.


Aroma parfum itu semerbak memenuhi hidungku. Wajahku bersandar pada dadanya yang berdetak sangat kencang. Aku hanya diam saat ia memelukku semakin erat, karena aku juga membutuhkan pelukan itu.


Ku kaitkan kedua tanganku di punggungnya, hingga aku juga tak sadar sudah memeluknya dan menangis.


“ Kau menangis??!” tanya Kangjun ia mengusap airmataku.


“ Ada apa?” tanyanya lagi, dan pertanyaan itu membuatku semakin ingin menangis.


“ Tak bisakah aku memelukmu sebentar.” Ucapku tanpa melihat wajah Kangjun.


Ia tak menjawab namun Kangjun langsung memelukku dengan erat. Aku merasa sangat nyaman dengan pelukan itu. Pelukan dari seorang pria yang baru saja memiliki kekasih.


Sejenak aku tersadar jika ia tak sendiri lagi.


“ Ah, maafkan aku.” Aku mundur selangkah dan tak ingin menjadi Hye Sun dengan berbuat hal seperti itu pada kekasih orang.


“ Kenapa?! Sarang-ah?!!”


Jangan lupa klik tombol suka ^ㅅ^