
Sarang Pov
Aku merebahkan badanku di sofa. Lalu ku ambil ponselku yang tergeletak di meja rias. Ada duapuluh tiga panggilan tak terjawab dari Kangjun dan banyak pesan masuk darinya
Aku membacanya satu persatu, salah satu isi pesannya adalah ia hanya ingin minta maaf padaku. Karena tak bisa melanjutkan hubungan ini lagi.
Hatiku terasa sangat perih membacanya. Mataku mulai basah, dan tetesan bening mulai mengalir dipipiku kembali.
Ada apa dengannya? Salah apa aku kali ini?? Aku langsung menelepon Kangjun setelah membaca pesan itu.
Panggilanku diabaikan. Hingga ada seorang wanita paruh baya mengangkatnya. Ia adalah ibu Kangjun. Suaranya sangat ramah, lalu aku menyapanya dan mencoba menetralkan suaraku.
Ketika aku menanyakan tentang Kangjun ia bilang jika ia sedang keluar dengan calon istrinya.
Calon istri?? Siapa dia?? Kenapa ia tak pernah memberitahuku tentang hal ini sebelumnya.
" Sarang ah?!!" suara Kangjun terdengar samar.
" Yeobseyeo!!??"
"Kangjun ah benarkah itu?!!" tanyaku, suaraku parau. Aku tak tau kenapa tiba-tiba menjadi goyah seperti ini.
Dia diam. Hingga ada beberapa jeda waktu diantara kami berdua. Hanya suara isak tangisku dan tangisnya saat itu. Ia juga menangis.
" Benarkah itu?" tanyaku lagi, aku terisak kembali tiap kali mengingat ucapan dari ibunya.
" Maafkan aku Sarang ah?!!" ucap Kangjun pelan.
" Hanya sampai disini cintamu padaku???" aku menangis sejadinya.
Hatiku benar-benar sangat sakit. Lebih sakit daripada saat mengetahui Hye Sun hamil oleh Myung Soo.
" Aku tak ada pilihan lain Sarang ah?! Maafkan aku... Lebih baik kau lupakan aku. Karena aku tak bisa bersamamu lagi." ucap Kangjun.
Aku mendengar tangisannya kali ini. Mengapa ia harus memutuskan hubungan kami jika ia juga harus merasakan sakit yang sama???
***
Beberapa minggu kemudian aku ke Swiss bersama Seokjin. Sebenarnya tak ada alasan lagi untukku kesana. Namun aku tak enak menolak tawaran Seokjin untuk menjadi sekretaris pribadinya.
Aku dan dia tinggal disebuah hotel cabang miliknya. Hotel nya tidak terlalu besar seperti yang ada di Korea. Namun tetap saja terlihat mewah dan elegan. Hanya turis yang tinggal disini karena kebetulan hotel nya dibangun dekat tempat pariwisata.
" Setelah meeting, bagaimana kalau kita jalan jalan sebentar?!" ajaknya, aku hanya mengangguk.
Dia belum mengetahui jika aku sudah putus dengan Kangjun.
" Makan malam dulu, kita mampir ke restoran sebentar." ucap Seokjin pada sopir lalu dibalas anggukan.
Teringat dengan ucapan Kangjun waktu itu. Jika Swiss memang benar-benar sangat indah. Aku membuang pandanganku di luar. Nampak sangat hijau dan menyejukkan. Senyumku terasa pahit, tiap kali mengingat Kangjun selalu membual tentang tempat ini. Namun aku disini bersama orang lain.
Tiga puluh menit berlalu. Mobil yang membawaku dan Seokjin berhenti di sebuah restoran khas Swiss.
Aku keluar dengan ragu. Seokjin sudah menungguku di luar mobil. Ia tersenyum dan matanya seakan mengatakan untuk menyuruhku lekas keluar.
" Ini akan menjadi pengalaman pertamamu bukan?!" ucap Seokjin.
Aku mengangguk. Ia berjalan menuju lantai dua restoran. Namun ia dihalangi seorang waitress, ia mengatakan jika lantai dua sudah dipesan untuk acara perayaan pernikahan.
Lalu Seokjin turun dengan wajah kecewa.
" Padahal lantai dua pemandangannya sangat indah."
" Di lantai bawah juga tidak begitu buruk. Kita bisa makan di lantai satu." ucapku.
" Baiklah."
" Kenapa mereka mengadakan pesta pernikahan disini? Bukannya di hotel atau gereja." Seokjin bergumam seakan dia masih tak rela jika tak bisa makan di lantai dua.
"Mungkin lantai dua menyimpan kenangan buat mereka." ucapku untuk menenangkan perasaan Seokjin. Walaupun sebenarnya hatiku masih terasa tak tenang.
Lantai dua sangat riuh dan yang lebih membuatku penasaran lagi adalah orang-orang di lantai atas menggunakan bahasa Korea.
" Benarkah?? " Seokjin menatap arah suara di lantai dua.
" Katanya acaranya tak lama. Mungkin sebentar lagi juga selesai. Apalagi ini sudah malam." ucap Seokjin lagi.
Suara riuh itu mulai mendekat. Mereka sepertinya turun ke lantai bawah. Aku sangat penasaran dengan orang korea yang menikah di restoran ini.
Bayangan seorang perempuan dengan gaun putih cantik berjalan dengan anggun. Di sampingnya tanganya menggandeng seorang pria yang sepertinya aku sangat mengenalnya.
" Kangjuniii....." lirihku.
" Ada apa??!! Apa kau mengenal mereka??" Seokjin menoleh ke sumber suara dan menatapku cemas.
Mataku tiba-tiba menjadi basah. Tanganku bergetar hebat, gelas yang aku pegang tak sengaja terjatuh. Membuat kedua mempelai memperhatikan kami berdua.
Kangjun terkejut melihatku bersama dengan Seokjin. Ia melepas gandengan tangan mempelai wanita dan bergegas menghampiriku.
Namun Seokjin membawaku pergi dari restoran setelah meninggalkan beberapa lembar uang untuk membayar tagihan makan kami.
Pikiranku kosong. Aku tak tau harus bagaimana bereaksi tentang kejadian yang baru saja aku liat. Mengapa rasa sakit itu datang kembali sekarang??
Mobil Seokjin meninggalkan restoran tersebut. Aku melihat Kangjun berusaha mengejarku namun berhenti setelah mobil ini sudah meninggalkannya jauh.
Aku menangis meraung raung di depan Seokjin. Ia menepuk pundakku dan mencoba menenangkanku. Pikiranku sangat kacau hingga aku tak peduli dengan siapa aku saat ini.
Seokjin memelukku. Ia menenggelamkan wajahku dalam pelukannya.
" Menangislah sampai kau puas." ia masih menepuk pundakku, dan tangisanku semakin menjadi.
👀👀👀
Setahun Kemudian...
Sehari setelah kejadian itu Jaebum menjelaskan semuanya padaku. Kangjun akan vakum untuk kegiatannya sementara waktu hingga tak tau sampai kapan.
Dan mengenai hutang yang ayahnya miliki membuatku benar-benar terkejut. Diantara kami bertiga yaitu aku Jaebum dan Ji Eun hanya aku sendiri yang tidak tau mengenai hal itu.
Jaebum mengatakan jika Kangjun sengaja tak mengatakan hal itu agar aku bisa melupakannya. Ia ingin meninggalkan kesan yang buruk seperti Myung Soo dahulu.
Namun setelah semuanya terjadi. Aku menyesalinya. Dan sakit itupun datang kembali.
.
..
..
.
Akhirnya Kangjun kembali ke Korea tak sendiri. Ia dikabarkan kembali dengan kedua orangtuanya dan anaknya dari istrinya yang dulu ia nikahi.
Setelah beberapa hari anaknya lahir, istrinya meninggal karena penyakit yang ia derita.
Aku melihat Kangjun dari kejauhan saat ia menggendong anak semata wayangnya. Sangat lucu dan menggemaskan. Bibirku hendak ingin berteriak memanggil namanya namun terasa kelu. Ia memandang wajah anaknya dengan penuh kasih sayang.
Beberapa bulan setelah kejadian di Swiss, Seokjin menyatakan perasaannya kepadaku. Namun aku belum siap menerimanya karena aku tak ingin merasakan sakit lagi karena seorang pria.
" Dia terlihat sangat baik untuk anaknya." ucap Seokjin, ia tiba-tiba sudah berdiri di sampingku.
" Benar sekali." aku tersenyum.
Karena aku yakin, Kangjun tetaplah Kangjun yang baik seperti yang aku kenal seperti dahulu.
**Gimana endingnya?? Ini nggak ngegantung ya?? 😂 😂 Sebenernya fan fic ini harusnya masih ada duapuluh bab lagi. Ending intinya tetep sama sih. Kangjun bahagia dengan anaknya. Sarang pdkt sama Seokjin. Tapi mungkin kalau views sama komentar ini banyak, aku bakal buat sekuelnya. Dan 20 bab itu awalnya pengen aku ceritain tentang kenapa Kangjun mau menikah ama Yoo jung. Jun Hee bilang kalau ternyata Kangjun adalah adiknya. Bora sama Jaebum. Dan Jun Hee sama Ji Eun. Hye Sun ama Myung Soo juga nggak sempet buat diceritain lagi. Tapi semoga puas dengan fan fic ku yang banyak kekurangan, ide ceritanya nggak unik dan lain lain ya 😂 😂 masih amatir soalnya.
Saran kritik diterima dengan senang hati.
Jangan lupa Baca fan fic baruku Young Papa dan My Love from the Sky ya😁**