My Boyfriend Having Affairs

My Boyfriend Having Affairs
8. Cinta Sepihak



Myung Soo mengantarkanku sampai terminal. Ia memelukku sebagai ucapan perpisahan. Karena mulai dari sekarang ia akan bekerja di Busan sedangkan aku akan kembali ke Seoul.



“ Jaga dirimu baik-baik ya.” Ucap Myung Soo ia membawa barang bawaanku menuju kedalam bus.


“ Kau juga.” Jawabku singkat.


“ Kau masih marah karena masalah kemarin?” tanya Myung Soo yang sadar dengan perubahan sikapku.


“ Jangan membuatku terus berpikiran negatif. Kau tau kan? alasanku mengapa belum bisa menikah denganmu?”


Myung Soo mengangguk lalu mencium keningku sebelum turun dari bus. Ia melambaikan tangannya padaku hingga bus meninggalkan terminal. Aku menoleh kebelakang dan ia masih menatap bus hingga menghilang di persimpangan.


“ Sebenarnya bagaimana perasaanmu yang sebenarnya terhadapku?” tanyaku dalam hati.


Myung Soo berkata akan mengunjungiku dua minggu sekali, bahkan seminggu sekali jika ia mendapatkan libur lebih. Namun aku tak bisa berharap lebih karena hanya akan merasa dibohongi jika kenyataannya ia tak bisa menepati perkataannya tersebut.


Hujan mengguyur sepanjang perjalananku menuju Seoul, hingga membuatku mengantuk. Lalu aku memutuskan untuk tidur.


🐾🐾🐾


Setelah perjalanan cukup melelahkan akhirnya aku tiba di Seoul. Karena disini juga hujan aku kesulitan untuk mencari taksi. Hampir semua taksi sudah terisi dengan penumpang. Kemudian aku memutuskan untuk menunggu bus di halte.


Tak berapa lama kemudian aku melihat sebuah mobil yang tak asing berhenti di depanku.


“ Kangjun??” ucapku dalam hati.


“ Masuklah akan ku antar kau sampai rumah.” Tawarnya.


“ Tak usah. Aku tak mau merepotkanmu.”


“ Ayolah?! Apa kau mau aku menarikmu kesini agar kau mau?”


Setelah desakan Kangjun seperti itu, akhirnya aku naik ke dalam mobil Kangjun.


“ Tak ada jadwal?”


“ Aku sudah selesai, hanya pemotretan majalah saja hari ini.”


Perutku tiba-tiba berbunyi di saat tak tepat.


“ Aku lapar. Bagaimana kalau kita makan dulu di restoran ayam panas.” Ucap Kangjun berpura-pura tak mendengar suara perutku yang terus berbunyi meminta diisi makanan.


“ Kita langsung pulang saja. Aku akan memasak ramyun di rumah.”


“ Sekarang kau sombong sekali ya, hari ini sudah menolakku hingga dua kali.”


“ Baiklah, tapi aku yang akan traktir.” Ucapku pada Kangjun karena merasa tidak enak setelah kejadian kemarin.


Kangjun tersenyum.


Lagi-lagi senyum itu, membuatku tak bisa mengalihkan pandanganku padanya. Mata coklatnya membuatnya lebih menarik, dia seringkali menggunakan mata itu untuk menatapku dalam, hingga aku tak berkutik di depannya. Matanya seperti ada magnet yang terus menarikku ke dalam dan semakin dalam hingga aku terkadang melupakan Myung Soo.



“ Kau mendapatkan peran itu?? Bukannya kau tak ikut casting?” tanyaku.


“ Tanpa casting pun aku pasti lulus, karena sutradara sudah mengincarku untuk main dalam dramanya.”


Aku hanya mengangguk.


“ Lalu siapa lawan mainmu??”


“ Soo Ah.” Ucapnya datar, ia sepertinya sudah mengetahui jika lawan mainnya untuk debut dramanya kali ini adalah Soo Ah.


“ Sudah ku duga.” Gumamku.


“ Apa ada hal yang tidak aku ketahui??” tanya Kangjun tiba-tiba.


“ Tak ada apa-apa.” Aku ingin sekali menceritakan bagaimana watak asli Soo Ah. Namun aku tak memiliki bukti untuk ku perlihatkan pada Kangjun.


Tetapi jika aku tak memberitahu Kangjun apa yang sebenarnya terjadi. Aku takut kalau ia akan dicelakai oleh Soo Ah.


Aku melirik mobil dibelakang Kangjun yang sepertinya dari tadi mengikuti mobilnya. Ini sangat aneh karena mobil itu sudah ada saat Kangjun berhenti untuk menawarkan tumpangan di halte.


“ Mobil di belakangmu, bukannya aneh ya? Dia ada sejak kau menawarkanku tumpangan tadi. Kenapa ia terus mengikuti kita?”


Kangjun langsung melihat dari kaca spion.


“ Aku tak menyadarinya.”


“ Kau tak memiliki sasaeng fans kan?” tanyaku pada Kangjun, karena jika benar ia memiliki sasaeng fans, maka akan membuat hidup Kangjun menjadi rumit.


Ia tak akan mendapatkan privasi dalam kehidupannya. Terlebih lagi jika sasaeng fans itu sangat gila. Membayangkannya saja membuatku takut.


“ Aku tak punya.”


“ Kau tidak tahu, bukannya tak punya.”


“ Sekarang kita coba makan dulu. Setelah ini apakah ia akan mengikutimu juga?!” ucapku dan langsung di dengar oleh Kangjun.


Ia langsung membanting setir dan kembali ke arah sebelumnya. Ia sengaja mencari jalan kecil untuk mengetes apakah mobil itu akan tetap mengikutinya atau tidak.


Lalu setelah beberapa menit kemudian, mobil yang mengikuti Kangjun tak terlihat lagi. Aku turun dari mobil lalu mengedarkan pandanganku, untuk berjaga-jaga apakah mobil yang mengikuti Kangjun masih menyusulnya atau tidak.


“ Kau takut ya?” Tanya Kangjun. Dia tersenyum melihat aku ketakutan.


“ Bukan saatnya untuk tersenyum. Bagaimana jika orang itu mencoba untuk mencelakaimu.” Kali ini aku benar-benar khawatir pada Kangjun.


“ Jika kau mengkhawatirkanku, bagaimana kalau kita makan dulu?” Kangjun mengajakku masuk ke dalam restoran.


Mataku masih tak bisa diam, aku mengamati seluruh isi ruangan dan tempat parkir mobil yang terlihat dari dalam. Maka dari itu aku sengaja memilih tempat yang dekat dengan jendela.


“ Makan dulu.” Suara Kangjun mengejutkanku.


“ Tiba-tiba aku tak nafsu makan biarpun merasa lapar.”


“ Makan dulu setelah itu khawatir.”


Akhirnya aku menyantap makanan yang ada di depanku dengan perasaan gelisah. Dan tak sampai sepuluh menit aku sudah menghabiskan makananku, Kangjun terlihat heran dengan apa yang ia lihat saat ini.


“ Aku ke toilet sebentar. Kalau ada orang asing mengajakmu pergi jangan mau.” Ucapanku mirip seperti seorang ibu kepada anaknya yang masih kecil saat ditinggal pergi sebentar.


“ Aigoo~~ jika kau cemas kau bisa membawaku bersamamu ke toilet.” Kangjun tersenyum usil.


Aku melihat mobil merah yang mengikuti Kangjun tidak ada di parkiran. Lalu aku masuk ke toilet untuk menyelesaikan urusanku.


Tak lama kemudian, mataku melihat mobil yang mengikuti Kangjun sudah terparkir tepat di depan restoran. Kangjun masih sibuk dengan makanannya. Ia tak menyadari jika ada seseorang yang mengikutinya.


Dia seorang wanita dengan topi hitam dan masker di wajahnya. Ia terlihat sedang mencari-cari seseorang. Penampilan anehnya itu terlalu mencolok hingga sekali melihatpun aku langsung mengetahui siapa dia.


Aku bergegas menelpon Kangjun agar ia menyusulku ke toilet.


“ Kangjun-ah. Cepatlah kemari.”


“ Wae??”


“ Kakiku patah karena terpeleset.” Aku sengaja berbohong.


“ Kau dimana sekarng?!! Aku akan segera ke sana.”


“ Aku berada di koridor dekat toilet. Cepatlah!!!”


Kangjun menutup telponnya. Aku melihatnya berlari ke arahku.


“ Kau tak apa-apa?” Kangjun melihat kakiku setelah sampai di koridor.


“ Aku tak apa-apa.” Jawabku namun mataku melihat wanita itu sedang mencari seseorang.


“ Ayo pergi sekarang!!”


“ Ada apa memangnya?”


“ Nanti akan ku jelaskan.”


Setelah membayar di kasir. Aku menarik lengan Kangjun untuk keluar melalui pintu belakang.


BUKKK!!!!


Aku melihat seorang wanita seperti sengaja menabrakku. Dia sangat cantik dengan rambut panjangnya. Ia mengambil ponselku yang terjatuh lalu meminta maaf padaku.


Setelah acara minta maaf selesai aku langsung berlari agar bisa keluar dari restoran itu dengan cepat.


“ Kau habis makan, jangan berlarian nanti perutmu bisa sakit.”


Aku tak mempedulikan ucapan Kangjun dan langsung menghentikan taksi yang lewat.


“ Lalu mobilku??” Kangjun masih terlihat bingung dengan situasi yang terjadi sekarang.


“ Nanti kita bisa mengambilnya lagi.”


“ Kita?? Berarti kau mau menemaniku mengambilnya?”


Aku mengangguk cepat. Dan aku merasa sangat lega saat sudah masuk di dalam mobil. Tanpa sadar aku masih mengenggam tangan Kangjun. Lalu sejurus kemudian aku langsung melepasnya karena merasa tak enak padanya.


“ Ke kosan Aiden ya pak?!”


“ Baik.”


“ Tenanglah. Tak apa-apa, semua akan baik-baik saja.”


“ Tapi…”


“ Sudahlah duduklah yang tenang, kau pasti lelah setelah perjalanan jauhmu. Kau tidur saja, aku akan membangunkanmu saat sampai.”


Aku diam, namun aku menuruti ucapan Kangjun. Aku memang masih lelah, karena belum istirahat sejak dari Busan. Ku sandarkan kepalaku di jendela taksi tersebut, hingga mataku terasa berat dan gelap.


🐾🐾🐾


“ Sarang-ah. Kita sudah sampai.” Suara lembut itu membangunkanku.


Mataku sangat berat untuk ku buka, aku masih merasa mengantuk. Saat aku benar-benar terbangun, aku menyadari jika kepalaku sudah bersandar di pundak Kangjun.


“ Ah!! Maafkan aku Kangjun-ah!!!” aku merasa menyesal dan bersalah pada Kangjun.


Bukan karena kepalaku yang mungkin saja berat, tapi bagaimana jika ternyata aku membuat peta di pundaknya. Itu pasti sangat memalukan. Aku lalu mengusap-usap pundak Kangjun untuk memastikan jika tak ada air liurku tertinggal disana.


“ Nggak ada apa-apa. Tenang saja.” Kangjun menenangkanku dan mengetahui apa maksud dari sikapku ini.


“ Benar tak ada apa-apa kan?” tanyaku malu-malu.


Aku lalu turun dari mobil tanpa membawa barang bawaanku karena masih berada di mobil Kangjun. Aku melirik Kangjun sesaat, entah mengapa perasaanku kali sangat tidak enak.


“ Sarang-ah?!” panggilnya, aku langsung memutar tubuhku demi melihat sumber suara.


“ Apakah aku boleh mampir sebentar?” Tanyanya hati-hati.


Aku menatapnya sebentar lalu tersenyum.


“ Baiklah.”


Karena ku pikir tak ada salahnya jika Kangjun mampir sekaligus menjenguk Ji Eun yang sudah dua hari sakit.


“ Sekalian jenguk Ji Eun ya.” Saranku pada Kangjun.


“ OK. Ia tinggal di dekatmu kan?”


Aku mengangguk.


“ Setelah ia meminta untuk pindah menjadi manajer model yang lain, Ji Eun langsung jatuh sakit. Ia tak memberitahuku apa-apa. Hanya bilang jika demam biasa.”


Ji Eun sakit beberapa hari yang lalu. Ia mengatakan jika ia terlalu lelah dengan jadwal padat baru Kangjun, maka dari itu ia meminta untuk pindah menjadi manajer model yang lain. Dan sekarang manajer Kangjun adalah Jaebum lagi. Jaebum sudah keluar dari rumah sakit beberapa waktu yang lalu dan bisa bekerja kembali seperti biasa.


Meskipun berpindah menjadi manajer model lain, ia harus menangani dua model sekaligus karena jadwal yang tak sepadat milik Kangjun. Dan Ji Eun menerimanya dengan senang hati.


Namun ada sedikit hal yang mengganjal. Mengapa Ji Eun tiba-tiba memutuskan hal seperti ini? Yang kutahu ia menyukai Kangjun, tapi mengapa ia malah seakan ingin menjauhi Kangjun??


“ Kangjun-ah!! Kita ke tempat Ji Eun langsung ya.”


Kangjun mengangguk.


Saat aku mengetuk pintu kamar Ji Eun, tak lama kemudian ia muncul dengan wajah sembab seperti habis menangis.


“ Kau kenapa?” tanyaku saat melihat wajah Ji Eun.


“ Aku tak apa-apa.” Ucap Ji Eun lemas ia terkejut aku datang dengan Kangjun.


“ Kangjun-ssi!! Kenapa kau ada disini?” Tanya Ji Eun ia seperti melihat hantu.


“ Katanya kau sakit, makanya aku memutuskan untuk menjengukmu. Bagaimana keadaanmu sudah membaik belum?” Tanya Kangjun, Ji Eun hanya menunduk tak berani menatap Kangjun.


“ Aku tinggal mandi sebentar ya.” Pamitku lalu meninggalkan mereka berdua di dalam kamar Ji Eun.


Ji Eun POV


Aku sudah berbuat yang tidak semestinya pada Kangjun! Bagaimana bisa aku berpikir untuk tidur dengan artis yang sedang aku handle?? Aku terlihat sangat menyedihkan begitu Kangjun menolakku malam itu. Lalu aku takut jika nanti Kangjun akan tau kalau itu semua bukanlah mimpi melainkan kenyataan, namun bukan Sarang yang menciumnya melainkan aku. Aku sangat takut dan malu.


Setelah pulang dari rumah Kangjun aku langsung menuju ke agensi dan meminta Jaebum menggantikanku. Awalnya ia sangat penasaran namun aku jelaskan jika aku sudah tidak sanggup dengan jadwal Kangjun. Ia menyetujuinya setelah berpikir lama, namun aku sekarang harus menangani dua orang model sekaligus karena jadwal mereka yang tak sepadat Kangjun.


“ Kau ada masalah dengan Kangjun?” Tanya Jaebum penasaran.


“ Tidak ada masalah, hanya saja saya sepertinya masih terlalu amatir untuk menanganinya.”


“ Aku bicarakan dulu pada atasan, nanti jika OK kau harus menghandle dua model ya.”


Aku mengangguk.


“ Baik.”


Ia beranjak pergi lalu sedetik kemudian kembali didepanku.


“ Bukan karena Soo Ah mengataimu yang tidak-tidak kan?!” Jaebum masih penasaran, ia sepertinya tak puas dengan jawabanku.


“ Bu-bukan seperti itu.” Aku gelagapan saat mendadak ia muncul kembali dan mengetahui apa yang Soo Ah katakan padaku.


“ Ok kalau bukan, menjadi manajer itu tidak mudah. Ini belum jika artismu kena skandal kau akan lebih repot dari ini.”


Ucapan terakhirnya membuatku sadar jika kesalahan yang aku lakukan bisa saja menimbulkan skandal untuk Kangjun.


Malam itu, mengapa aku sangat ingin memiliki Kangjun?? Tak seperti biasanya aku menjadi seperti ini, menjadi orang yang sembrono.


Apa mungkin karena aku tau jika Kangjun menyukai Sarang?? Maka dari itu aku tak sanggup melihatnya dan berbuat semauku. Karena selama ini aku tak pernah melihat Kangjun menyukai wanita. Ia hanya fokus pada karirnya, namun semua berubah ketika ia tiba-tiba bertemu dengan Sarang.


🐾


Seseorang mengetuk pintu kamarku. Suara Sarang terdengar dari balik pintu. Ternyata ia sudah kembali dari Busan hari ini.


Aku terkejut ketika melihat Sarang datang dengan Kangjun, seeorang yang sedang ingin aku hindari saat ini. Ia menanyakan kabarku dan ingin menjengukku, walaupun aku tau jika itu hanya basa-basinya saja.


Sarang pamit untuk mandi, membuatku harus bersama dengan Kangjun di kamar ini berdua. Ini bukanlah hal yang aku inginkan. Karena aku tak bisa bicara apa-apa pada Kangjun selain masalah pekerjaan.


“ Apakah aku melakukan kesalahan padamu?” Tanya Kangjun, suaranya mengisi hening dalam kamarku.


“ Tidak, kau tak salah apa-apa.”


“ Lalu?? Apa karena sikap kasarku padamu beberapa hari yang lalu??”


“ Jika memang karena itu, aku ingin minta maaf padamu. Karena perasaanku sangat buruk saat itu.”


Kangjun terus berbicara dan mengatakan jika ia menyesali perbuatannya itu. Ia tak menyangka jika hal itu membuatku ingin pindah ke model lain.


“ Bukan seperti itu.” Ucapku.


“ Apa ada hal lain?? Katakan saja.”


“Tidak ada apa-apa. Aku hanya merasa aku belum cukup baik untuk menjadi manajermu saat ini.”


“ Apa karena kejadian malam itu??” ucapan Kangjun membuatku tersentak, apakah ia tau semuanya.



Aku memandangnya dengan perasaan bersalah.


“ Aku tau jika itu bukan mimpi, dan malam itu yang menciumku bukan Sarang melainkan kau manajer-nim.”


Aku menunduk dan menangis, aku benar-benar malu menghadapi Kangjun saat ini.


“ Maafkan aku, sepertinya aku sudah kehilangan akal sehatku waktu itu.”


“ Apa kau menyukaiku?” Tanya Kangjun seakan sudah mengetahui semua isi hatiku.


Bibirku bergetar mengucapkan kata demi kata. Aku benar-benar merasa malu pada Kangjun.


“ Maaf jika aku menyukaimu, aku tak tau jika aku akan menjadi seperti ini. Aku juga tidak tau mengapa aku tiba-tiba sangat menyukaimu hingga melakukan hal hina seperti itu.”


“ Tak perlu meminta maaf, karena tak ada yang salah dengan perasaan seseorang. Tapi kau tau kan jika aku sudah menyukai orang lain?”


Katanya dengan suara yang terdengar lembut namun bisa menembus ulu hatiku.


Aku mengangguk.


“ Aku tak akan melaporkan kejadian itu pada direktur. Maka dari itu, bekerjalah dengan baik. Dan lupakan kejadian malam itu jika membuatmu terusik.”


“ Dan tolong jangan ceritakan hal itu pada Sarang.” Pinta Kangjun.


Sarang lalu masuk dengan rambut basahnya, ia melihat pemandangan yang tak seperti biasanya.


“ Ada apa dengan kalian??” Tanya Sarang.


“ Sarang maafkan aku, tapi sepertinya aku ingin sendiri untuk saat ini.”


“ Oh, ehm baiklah.” Sarang sepertinya belum tahu apa yang terjadi.


Lalu Kangjun keluar bersama dengan Sarang.


Aku melihat mereka berdua begitu serasi namun membuat hatiku sangat sakit.


“ Tak bisakah kau melihatku sekali saja.” Ucapku lirih.