My Boyfriend Having Affairs

My Boyfriend Having Affairs
2. Teman Lama



"Melamarku?? Tiba-tiba??" ucapku pada Myung Soo, dia mengangguk yakin.


Aku tak tahu harus menerima atau menolaknya karena dalam hati kecilku aku juga masih mencintai Myung Soo.


"Bagaimana dengan Hye Sun?" tanpa berpikir aku menanyakan Hye Sun, dan benar mimik wajahnya berubah.


"Aku ingin memulai semuanya denganmu. Tak bisakah kau percaya padaku untuk kali ini saja?" Myung Soo mengenggam erat tanganku.


"Berikan aku sedikit waktu. Aku akan menghubungmu nanti." aku melepaskan genggaman tangan Myung Soo.


***


Banyak hal yang aku pikirkan. Aku tak bisa begitu saja menerima Myung Soo setelah apa yang dia lakukan padaku. Membuatku benar-benar kecewa dan sakit hati. Namun aku juga sepertinya tak bisa melepaskannya.


Aku melihat ponselku yang dari semalam ku matikan. Tanpa sadar aku melihat galeri yang penuh dengan fotoku dan Myung Soo.


"Apakah dulu dia bahagia bersamaku?? Apakah dia hanya berpura-pura bahagia denganku. Karena dia diam-diam melakukan hal itu dibelakangku."


Aku ingin menghapus semua foto itu. Namun jari ini tak mau bergerak sedikitpun.


"Menghapus fotonya saja aku tak mampu." lirihku.


Flashback


"Aku tak bisa pulang bersamamu malam ini. Kau bisa pulang sendiri kan??" tanya Myung Soo padaku saat berada di Lobi kantor.


"Iya, aku akan pulang sendiri. Kau akan kemana malam ini?" aku bertanya karena tak seperti biasanya dia ingin pulang sendiri.


"Aku akan minum bersama dengan teman."


"Teman?!" aku mengerutkan dahiku.


"Dengan teman pria kok. Jadi kau tenang saja." usai mengacak rambutku dia berjalan pergi dan berkata akan menghubungiku jika sudah selesai.


Aku menghela nafas dan mencoba percaya padanya. Karena belum lama ini dia masih berusaha untuk melupakan Hye Sun.


"Apakah aku terlalu cepat untuk memulai hubunganku dengannya?"


***


Hingga jam sebelas malam aku belum menerima pesan ataupun telepon dari Myung Soo. Karena khawatir, mungkin lebih tepatnya penasaran aku menelepon ponselnya, namun tidak aktif.


"Kau lagi ngapain sih??" gumamku.


Aku menunggu hingga tertidur dengan ponsel masih ditanganku. Jam menunjukkan pukul dua pagi. Aku mengecek ponselku namun tak ada satu pesanpun dari Myung Soo. Lalu aku mencoba mengirim pesan padanya dan terkirim. Ini berarti Ponselnya sudah ia hidupkan namun tak mencoba untuk menghubungiku.


Aku ragu akan menghubungi Myung Soo atau tidak. Karena sekarang adalah jam-jam orang lelap dalam tidur. Lalu dengan perasaan yang tidak enak ku urungkan untuk menghubungi Myung Soo.


***


Di kantor.


Myung Soo terlambat masuk kerja. Ia telat setengah jam. Aku tidak ingin bertanya lebih lanjut padanya, karena hanya akan membuatnya semakin memperburuk suasana hatinya.


"Dia mulai telat lagi. Jangan-jangan.." Bora berbisik padaku, dan kalimatnya terpotong karena Myung Soo sudah ada di belakangnya.


"Jangan-jangan apa? Jangan membuat gosip yang tidak-tidak tentangku."


Bora beringsut pergi setelah Myung Soo duduk di sampingku.


"Semalam aku terlalu mabuk hingga tak bisa menghubungimu. Maaf ya.."


"Lalu kau pulang dengan siapa?"


"Ehmm itu temanku yang mengantarnya."


"Oh.."


"Jika kau tak percaya akan ku hubungi temanku itu."


"Tak usah." jawabku singkat.


Flashback end


Mungkin waktu itu dia sedang bersama dengan Hye Sun hingga tak bisa menghubungiku. Perasaan sakit ini muncul kembali. Setelah aku mulai menyadarinya, jadi malam itu dia sengaja bertemu dengan Hye Sun?


"Arrghh!!!"


***


"Sarang, coba buka instagram." Ji Eun masuk tiba-tiba dan menunjukkan sebuah postingan di instagram.


"Dia Hye Sun kan?" tanya Ji eun memastikan.


Aku mengangguk dan mengamati foto itu.


"Kenapa??"


"Dia akan ke Kanada malam ini. Untuk apa dia mempostingnya??? Agar Myung Soo tahu???"


"Entahlah. Aku kadang berpikir jika Hye Sun juga masih mencintai Myung Soo. Kau tahu kan jika dia menikah dengan Seokjin karena orangtuanya."


"Dan pagi ini Myung Soo ingin melamarku..."


"Lalu kau menerimanya?"


Aku menggelengkan kepalaku.


"Tidak mau atau tidak bisa menolaknya??"


"Kalau kau jadi aku, kau akan bagaimana?? Aku masih mencintai Myung Soo namun aku juga masih sakit hati padanya. Haruskah aku menerimanya dan memulai sebuah hubungan yang baru?"


"Jika aku jadi kau. Aku akan menolaknya."


"Yahhh akan sangat mudah bagimu karena kau tidak mencintai dia."


"Tapi terserah kau. Kan kau yang mencintai Myung Soo. Jika kau percaya padanya kau bisa memulai hubungan yang baru lagi. Namun jika masih ragu. Kau harus melupakannya. Walaupun awalnya sakit. Tapi aku yakin kalau ini yang terbaik untukmu."


Ponselku bergetar. Myung Soo mengirimiku pesan. Dan menanyakan bagaimana jawabanku. Aku tak segera membalasnya karena aku ingin Myung Soo menunggu seperti aku menunggunya seperti diriku dulu.


***


Setelah mandi aku pergi keluar untuk membeli beberapa minuman di minimarket dekat kosan. Sudah beberapa hari ini aku tidak keluar dari kosan. Bahkan aku tidak mandi karena terlalu malas.


"Kau... Sarang kan???!" seseorang tiba-tiba muncul didepanku dan menyebut namaku.


"Siapa ya?!" tanyaku ragu.


Aku terkejut ada seorang pria tampan menyapaku bahkan mengenalku.


"Aku Kangjun??? Lee Kangjun!!! Coba ingat-ingat temen Sd kau yang gemuk, sering dibully dikelas dan kau sering menolongnya."


"Hah?!! Si gendut Kangjun itu??!!! Tak mungkin!" aku menepuk pundaknya dia hanya membalasnya dengan senyuman.


"Aku akan memaafkanmu karena kau pernah jadi dewi penolongku." namun senyum itu tak pernah berubah.


"Aku tak mengenalimu karena kau sangat berubah. Kau diet??!!!"


Dia mengangguk yakin.


"Aku tak ingin di bully oleh mereka terus menerus."


"Bagus sekali!! Kau menjadi sangat tampan. Aku sungguh tak bisa percaya jika ini adalah kau."


"Kau bekerja dimana sekarang?? Kau seperti idol lho?!"


"Aku hanya model di sebuah majalah."


"Hanya?!!! Wahh pasti kau mempunyai banyak fans ya sekarang."


"Mungkin." dia menyunggingkan senyumnya membuat seseorang di sekitarku berbisik-bisik.


"Kau bekerja dimana?" tanya Kangjun lalu mengajakku mengobrol di depan minimarket yang sudah disediakan meja dan kursi khusus untuk pembeli.


"Aku bekerja di sebuah perusahaan makanan. Kau tahu kan nama restoran ayam panas? Aku bekerja di kantor pusatnya."


"Wah kebetulan sekali, aku sangat menyukai ayam di restoran itu."


Aku tertawa bersama Kangjun seakan semua masalahku menghilang dari pikiranku.


Kangjun ternyata tinggal di kota sebelah. Dan alasan dia ke minimarket ini karena ingin jalan-jalan. Namun takdir mempertemukan kami berdua di tempat sederhana ini.


" Kau tinggal dimana?"


Aku menunjuk sebuah bangunan tingkat, yaitu kosan tempatku tinggal.


"Kapan-kapan aku boleh main ke sana kan?"


Tiba-tiba aku ragu menjawab iya. Terlintas ada bayangan Myung Soo. Namun aku yakin kan sekali lagi dalam diriku jika Kangjun adalah teman lamaku. Hanya teman.


"Tentu saja. Kabari aku jika kau akan berkunjung."


Kangjun menyodorkan ponselnya.


"Beri aku nomor ponselmu. Darimana aku bisa menghubungimu jika tak tau nomormu."


Aku tersenyum dan mulai mengetik nomor ponselku.


"Hei.. Jangan membuatku canggung. Aku masih sama seperti dulu kok."


"Iya, aku tahu."


Obrolan kami semakin menarik hingga jam sudah menunjukan pukul sebelas malam. Tak terasa kami berdua mengobrol selama tiga jam.


"Rasanya sangat nyaman bisa berbicara denganmu seperti ini." ucapnya dia memandangiku dari samping membuatku sedikit malu.


"Benarkah?"


Kangjun mengantarku pulang hingga depan gedung. Dia tersenyum dan menyuruhku masuk ke dalam.


"Aku akan menghubungimu nanti."


Aku mengangguk dan teringat dengan Myung Soo. Kalimat yang sama namun di ucapkan oleh orang yang berbeda.


Bayanganku melayang jauh saat aku masih duduk di sekolah dasar. Saat Kangjun masih sangat gemuk, hingga di panggil babi oleh teman-teman sekelas. Kangjun selalu bersikap tegar meskipun di belakang sekolah dia selalu menangis karena panggilan itu.


"Kenapa disana sendirian." tanyaku pada Kangjun yang sedang terisak menangis dibelakang sekolah.


"Ayo masuk. Kelas sudah dimulai." ajakku. Kangjun masih diam di tempat.


"Apa kau juga akan memanggilku babi?"


"Kau itu manusia kenapa aku harus memanggilmu babi." aku mencoba mendekati Kangjun hati-hati.


"Tapi mereka.."


"Jangan dengarkan mereka."


Aku memberi sapu tangan yang diberikan ibuku pada Kangjun. Dia mengusap airmatanya dengan sapu tangannya lalu mengucapkan terimakasih.


Saat dikelas, papan tulis sudah penuh dengan tulisan babi. Kangjun terkejut dan berjalan menuju bangkunya dan menemukan buku-bukunya telah dirobek.


Aku menghapus tulisan itu dengan penghapus. Kangjun melihatku dari kejauhan dan tersenyum.


"Kalau kalian mengganggu Kangjun, aku akan mengadukan pada ibu guru lho?!" ancamku pada seisi kelas.


"Tak takut tuh." celetuk Jun Hee, salah satu murid yang membully Kangjun.


Lalu saat guru masuk aku menceritakan semua yang terjadi pada Kangjun selama ini. Kemudian guruku saat itu menghukum anak-anak yang membully Kangjun. Meskipun setelah itu mereka berganti membully ku hingga lulus sekolah.


"Aku sudah sampai rumah." sebuah pesan masuk. Saat aku menekan foto profil pemilik pesan itu, ia adalah Kangjun.


"Tidur. Sudah malam." aku membalas pesan Kangjun hingga tanpa sadar aku tersenyum hanya dengan melihat layar ponsel tersebut.


Lama tak membalas kupikir Kangjun tidur. Namun ia menelponku malam itu. Aku mengangkatnya dan mengobrol dengannya lagi hingga tak terasa pagi menjelang.


Kangjun ingin mengajakku berkeliling di kantor majalah tempat ia bekerja. Setelah ia tahu jika aku memiliki waktu cuti hingga seminggu. Aku ragu untuk mengiyakan, namun aku ingin menyegarkan pikiranku.


Selama dengan Kangjun aku merasakan sesuatu yang kusebut nyaman. Yang tak bisa ku dapatkan dari Myung Soo. Apa karena dulu aku yang terlebih dahulu mencintainya???


***



Myung Soo sudah berdiri menungguku di depan gedung kosan. Dengan pakaian rapi dia tersenyum dan menanyakan jawaban yang ia tunggu dari kemarin.


"Tak kerja?" tanyaku padanya.


"Setelah ini aku akan langsung berangkat ke kantor."


Ini pertama kalinya dia mampir ke kosan ku setelah sekian lama aku berpacaran dengannya. Apakah dia sudah berubah?


"Hye Sun berangkat ke Kanada kemarin."


Myung Soo memalingkan wajahnya menuju jalanan yang sudah mulai ramai. Ia mengetuk-ngetukan ujung sepatunya seakan memberikan sebuah kode agar tak membahas Hye Sun lagi.


"Sebenarnya ada banyak hal yang ingin aku tanyakan padamu." tanyaku pada Myung Soo.


"Tentang apa?"


"Tentang hubunganmu dengan Hye Sun saat kita sudah mulai berpacaran."


"Kenapa harus membahasnya lagi??"


"Karena aku, hanya tak yakin saja jika harus menikah denganmu."


"Aku tahu kau belum bisa memaafkan aku, karena cerita Hye Sun. Maka dari itu aku ingin menebusnya."


Sebuah mobil berhenti tepat di depan Myung Soo. Kangjun keluar dan berjalan menuju ke arahku.


Kangjun awalnya terlihat bingung dan mulai menyadari situasi ini, lalu memilih untuk duduk di sebuah kursi di depan gedung. Aku melihat Kangjun dia sedang melihat aku dan Myung Soo dengan canggung.


"Kau mengenalnya?" tanya Myung Soo wajahnya menunjuk ke arah Kangjun duduk.


"Iya."


"Dia siapa?"


"Teman lamaku."


"Tampan juga. Kau tak mungkin...."


"Jangan berpikiran yang tidak-tidak. Aku tidak sama sepertimu."


"Apa maksudmu mengatakan hal seperti itu?? Kau masih marah padaku."


Aku hanya diam.


"Aku akan berangkat kerja sekarang. Nanti akan datang ke sini setelah pulang kerja. Aku percaya padamu." Myung Soo pergi dengan mobilnya sebelum itu dia melirik tajam ke arah Kangjun.


"Pacarmu?" suara berat Kangjun mengejutkan ku.


Dia tertawa melihatku terkejut.


"Jika benar wajar sih. Kau cantik pasti banyak yang menyukaimu."


Kangjun tidak tahu aku mengalami hal yang cukup tidak masuk akal beberapa hari ini. Namun mustahil buatku untuk menceritakannya pada Kangjun. Karena bagiku ini lebih seperti aib yang harus aku simpan rapat-rapat.


Kangjun mengibaskan tangannya di depan wajahku karena aku sempat melamun untuk beberapa saat.


"Lagi ada masalah ya dengan pacarmu?" tanya Kangjun hati-hati.


"Apa terlalu mencolok?" aku tersenyum terpaksa.


"Jadi, bagaimana hari ini? Apa kau jadi pergi denganku hari ini?"


"Tentu saja. Sepertinya aku membutuhkan udara segar."


Kangjun membuka pintu mobil untukku, sikap yang selalu aku idam-idamkan dari seorang pria.


Beberapa saat kemudian aku sadar jika sejak bertemu dengan Kangjun aku sering membandingkan Kangjun dan Myung Soo. Padahal mereka berdua jelas dua orang yang berbeda. Dan kenapa aku harus kecewa jika aku yang memulai duluan untuk masuk ke dalam kehidupan Myung Soo??


Saat Myung Soo ingin melamarku aku malah bingung. Padahal sebelumnya aku sangat ingin bisa hidup bahagia berdua dengan Myung Soo. Menjadi istrinya dan menemaninya hingga tua. Namun, semua berubah sejak Hye Sun menceritakan hal itu padaku.


"Kangjun-ah, aku ingin bertanya padamu."


"Iya tanya saja." wajahnya sempat menoleh ke arahku lalu kemudian ia kembali fokus ke depan lagi.


"Aku memiliki seorang teman, dia memiliki kekasih. Dan dia seperti belum bisa move on dari mantan pacarnya. Lalu si mantan datang pada temanku dan bilang jika ia hamil dengan pacar temanku tersebut. Menurutmu bagaimana?? Maksudku, bagaimana seharusnya temanku bersikap dengan pacarnya tersebut."


"Ini bukan kisahmu kan?" wajah Kangjun berubah menjadi serius.


"Bukan, ini cerita temanku. Kemarin ia menangis dan meminta pendapat ku."


"Syukurlah jika itu bukan cerita milikmu."


"Ehmm.. Bagaimana ya? Aku juga sedikit bingung. Karena aku juga seorang pria. Tapi jika dia benar mencintai temanmu bukankah seharusnya dia tak melakukan hal itu?"


"Lalu mantan itu sudah memiliki suami." lanjutku membuat Kangjun mengerem mendadak.


"Siapa pria brengsek itu?? Kenapa dia bisa melakukan hal gila tersebut."


"Kau tak harus tau."


"Bagaimana jika pacar temanku melamar temanku tersebut? Yahh, untuk menebus kesalahannya."


Aku berharap Kangjun mengeluarkan sebuah jawaban yang bisa membuatku berfikir positif tentang Myung Soo.


"Melamar dan menikahi temanmu? Dengan alasan untuk menebus kesalahannya. Sepertinya itu sedikit,, Ehmm.. Aneh. Tapi jika temanmu mau memaafkan pacarnya, tak ada salahnya untuk menerimanya. Tapi bagaimana jika pacarnya belum benar-benar bisa melupakan mantannya. Bagaimana jika itu hanya untuk mengetes hatinya, apakah dia sudah benar-benar melupakan mantannya."


Aku hanya mengangguk mendengarkan ucapan Kangjun, hingga tiba di sebuah kantor besar yang menurutku sangat mewah.


Saat Kangjun turun dari mobil seorang wanita berlari kearah Kangjun. Aku menyipitkan mataku demi melihat bayangan yang tak asing itu. Dia adalah Ji Eun. Ji Eun temanku, kenapa dia ada disini??


"Ji Eun." panggilku. Kangjun terkejut dan memandang aku dan Ji Eun secara bergantian.


"Kalian saling kenal?" tanya Kangjun.


"Dia adalah temanku."


"Jangan-jangan.." Kangjun menebak-nebak apakah JI Eun adalah teman yang aku ceritakan barusan.


"Kok kalian bisa datang berdua sih?" Ji Eun tak kalah penasaran.