MBA (Married By Accident)

MBA (Married By Accident)
Keanehan Arfin



Pukul 10 pagi Arfin baru saja menuruni tangga, pria itu turun dan langsung ke meja makan.


"Den, mau makan?" Tanya mbok Ijah.


"Em." Arfin mengunyah buah apel yang baru saja dia gigit. "Boleh mbok, tapi aku ingin makan soto." Katanya sambil mengigit buah apel lagi.


"Soto?" Tanya mbok Ijah memastikan.


"Iya mbok, soto." Jawab Arfin.


"Em, baik den." Mbok Ijah langsung melakukan apa yang Arfin minta.


"Mbok ini tolong singkirkan." Arfin menjepit hidungnya ketika mencium aroma sambal yang menyengat.


"Eh, ini kan sambal kesukaan Aden, ibu yang suruh buat." Jawab mbok Ijah, tapi juga langsung menyingkirkan seperti apa yang Arfin mau.


"Em, tapi aku tidak suka bau nya." Arfin mengembuskan napas panjang. "Rasanya mual." Kata pria itu lagi.


"Heh, Aden sakit?" mbok Ijah menatap wajah anak majikanya itu.


"Tidak, tapi kalau terus mencium aromanya tadi lama-lama aku akan pingsan." Kata Arfin sambil terkekeh. "Ayo mbok, aku sudah ingin makan soto." Katanya memerintah.


"Eh, iya den. Tunggu ya." Mbok Ijah langsung melakukan apa yang Arfin minta.


Sedangkan Arfin menatap kesekiling seperti mecari sesuatu.


"Mbok bawang goreng biasanya mana?" tanyanya sambil menghampiri mbok Ijah di depan kompor.


"Untuk apa den, ada di lemari." Mbok ijah menagmbil toples kecil. "Ini den bawangnya."


Arfin tersenyum. "Thanks mbok." Pria itu berlalu dengan membawa toples bawang goreng.


"Ah, baunya sedap." Arfin membuka tutup toples itu, dan mencium aroma bawang yang sepetinya sangat dia sukai.


Didepan TV pria itu duduk di sofa sambil ngemil bawang goreng, hingga tanpa sadar mulutnya terus menguap membuatnya malah memejamkan mata.


"Kay, kamu tidak apa-apa?" Sasi bertanya saat melihat Kanaya keluar dari rumahnya.


"Em, memangnya kenapa Sas?" Kanaya balik bertanya.


"Biasanya wanita hamil akan mengalami mual dan muntah, tapi sepertinya kamu biasa saja." Kata Sasi.


Keduanya berjalan keluar kompleks untuk berangkat bekerja.


Tadi malam Sasi menemani Kanaya, membuat Sasi menginap.


"Bagus dong kalau begitu, aku bisa bekerja seperti biasa tanpa halangan apapun." Kanaya tersenyum.


"Iya juga sih." Keduanya tertawa.


Kanaya bekerja di sebuah kafe, mekipun hanya sebagai pelayan tapi Kanaya bersyukur karena mendapat pekerjaan, apalagi setelah ini bebannya kembali bertambah untuk buah hatinya, biaya kelahiran dan sebagainnya. Mulai dari sekarang Kanaya harus bisa menabung.


"Loh mbok, masak apa?" Tanyanya saat melihat mbok Ijah berkutat didepan panci yang mengepulkan asap.


"Ini Bu, den Arfin minta di buatkan soto." Jawab mbok Ijah.


"Heh, sejak kapan Arfin suka soto?" Kata Olive bingung.


"Ngak tau Bu, den Arfin juga rada aneh. Masak bawang goreng di cemilin." Adu mbok Ijah.


"Ya ampun, ini sih aneh banget mbok. Dia tidak pernah mau makan begituan." Olive tampak berpikir.


Ada apa dengan putranya?


Melihat Arfin tidur dengan pakaian berantakan saja sudah membuat Olive bingung, dan sekarang ucapan mbok Ijah semakin membuatnya tambah bingung.


Apakah Arfin memilki kelainan? tidak, Olive menggelengkan kepalanya.


Sedangkan yang mereka bicarakan, baru saja membuka mata setelah mendengar deringan ponselnya.


Arfin melihat nama yang memanggil. "Pak Gandi."


"Halo pak."


"..."


"Em, apakah saya harus kesana sekarang?"


"..."


"Ya sudah mungkin sore saya akan tiba." Arfin menutup sambungan telepon.


"Sejak kapan kamu suka soto?"


Tiba-tiba Olive datang bersama mbok Ijah dengan membawa nampan yang berisikan soto lengkap dengan pendamping.


"Em, memangnya harus memakai alasan Mah." Kata Arfin sambil melihat penampilan soto buatan mbok Ijah yang begitu menggiurkan.


Olive menatap lekat wajah putranya yang begitu senang melihat makanan berkuah itu.


"Ya tidak, tapi kamu tidak pernah mau makan jika mbok Ijah buat." Olive ikut duduk.


"Entahlah mah, yang jelas aku ingin makan ini." Arfin langsung mencicipi kuah panas yang sudah dia tambahkan pelengkap.


"Dan apa ini Fin, kamu makan bawang goreng begitu saja. Kamu seperti orang yang lagi ngidam."Olive mengoceh melihat keanehan putranya.


"Aku tidak hamil mah, bagaimana bisa ngidam."


"Siapa tau, kamu sudah menitipkan kecebong kamu pada gadis."


Uhuk...uhuk...