MBA (Married By Accident)

MBA (Married By Accident)
Kemudahan jalan usaha



Waktu terus berlalu, anak buah Arfin dan juga Alex belum menemukan jejak Kanaya. Dan Arfin sendiri mengalami morning sickness yang begitu berat. Dirinya tidak bisa melakukan aktifitas sama sekali.


"Sebenarnya wanita mana yang kamu bikin melendung." Olive masuk kedalam kamar putranya dengan membawa nampan yang berisikan makanan.


Arfin yang masih tergeletak di kasur hanya bisa bagun dan bersandar di bahu ranjang.


"Ngak tau wanita mana, yang jelas dia sedang hamil cucu Mama." jawabnya dengan wajah yang sedikit pucat.


Olive mencebik. "Ini karma buat kamu yang sudah bikin dia melendung dan tidak bertanggung jawab dengan calon bayi mu." Tutur Olive yang malah menyalahkan Arfin.


"Mau makan Mah, denger ocehan Mama ngak bikin aku kenyang." Kata Arfin sambil mengalihkan pembicaraan Mamanya.


Tidak tahukah jika dirinya merasa bersalah dengan apa yang dia lakukan, dan sampai sekarang tidak tahu Kanaya tinggal di mana.


Olive menyuapi putranya dengan telaten, setiap pagi hanya bisa bubur yang masuk kedalam perut Arfin, selain itu Arfin akan mual dan muntah hebat jika mencium bau masakan lain.


"Papa mu juga sedang mencari tahu keberadaan wanita itu lewat foto yang kamu kasih." Kata Olive dengan tangan yang masih menyuapi Arfin.


Arfin memicingkan matanya, "Lewat foto bagaiman, jagan bilang papa pergi ke dukun."


Plak...!!


"Yang bener kamu kalo ngomong." Kesal Olive mendengar ucapan putranya. "Mana ada potongan setengah bule sendal jepit gitu main dukun." Sungut Olive pada Arfin.


"Kirain." Arfin mengunyah pelan bubur yang masuk.


"Lusa Mama akan ke resort, acara rutin setiap bulan untuk mengadakan syukuran." Kata Olive sambil menaruh mangkuk bubur yang sudah habis.


"Terserah Mama, aku mungkin tidak bisa ikut." Katanya yang sudah kembali berbaring setelah minum.


"Fin, kamu melebihi Mama saat hamil kamu dan Arfan." Kata Olive sebelum beranjak. "Sepertinya kamu benar-benar dapat karma."


Arfin mendelik menatap Mamanya yang begitu mudah mengatakan 'karma'.


"Mama pikir aku papa, yang mendapat kutukan dari Mama." Sinis Arfin yang malah membuat Olive tertawa.


"Siapa tahu kalian nurun, karena kelakuan kalian sama. Sama-sama tukang celup, hanya saja kamu lebih parah." Olive langsung melenggang pergi melihat wajah Arfin yang kesal.


Sedangkan Arfin mengambil ponselnya dan menatap foto Kanaya yang dikirim Sasi.


"Kamu dimana?" katanya dengan pelan. "Mekipun hanya bertemu beberapa kali, tapi entah kenapa aku merindukanmu." ibu jarinya mengusap wajah Kanaya yang ada di ponselnya.


.


.


"Mbak Naya, terima kasih semua menyukai kue buatan Mbak. Dan ini ada rezeki untuk anak mbak." Ibu-ibu yang memakai gamis dan jilbab besar itu memberikan Kanaya sesuatu.


"Ibu ini apa?" Kanaya membuka bungkusan plastik yang di berikan.


"Sedikit, buat tambahan mbak Naya bikin kue." Ibu yang diketahui namanya Khadijah itu tersenyum lembut.


Kanaya tersenyum haru. "Dagangan saya ibu pesan saya sudah bersyukur, tidak usah repot-repot Bu." Kanaya menatap ibu Khadijah dengan haru.


"Anggap saja rezeki dedek di sini." Ibu Khadijah mengelus perut Kanaya. "Jika butuh sesuatu, bilang saja sama ibu ya, jangan sungkan." Katanya dengan senyum teduh.


"Sekali lagi terima kasih Bu." Kanaya tidak bisa lagi berkata selain ucapan terima kasih.


Rasanya begitu bersyukur di kelilingi orang-orang baik, dengan jalan rezeki yang dipermudah.


"Ya Tuhan, terima kasih." Kanaya mengucap syukur.


Dengan berjalan kaki dari rumah ibu Khadijah yang tidak terlalu jauh, Kanaya memutuskan pulang untuk kembali membuat pesanan kue untuk nanti malam.


Kanaya menoleh kebelakang saat terdengar bunyi klakson motor.


"Mbak Naya, ayo saya antar. Kata Umi mbak Naya jalan kaki." Kata seorang pria yang tutur bicara nya begitu lembut.


"Eh, tidak usah Mas. Saya biasa jalan." Kanaya menolak dengan sopan.


"Saya di suruh Umi mbak, nanti Umi bisa ngomel kalau tidak dituruti." Katanya lagi sambil curhat.


"Kalau tidak percaya, saya telpon Umi Dijah dulu m" Pria itu ingin mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Uminya, membuat Kanaya bingung.


"Halo umi, ini mbak Naya tidak mau di antar? apa Furqon pulang saja." katanya sambil menatap Kanaya yang langsung menunduk.


"Antarkan saja Mas, kasihan mbak Naya lagi hamil dan kontraknya cukup jauh." Suara diseberang sana terdengar jika umi Khadijah benar-benar menyuruh anaknya.


"Nah sudah dengar sendiri kan mbak." Kata pria bernama Furqon itu. "Ayo saya antar." katanya lagi.


Kanaya yang merasa tidak enak, menurut saja. Padahal jaraknya sekitar 15 menit di tempuh jika jalan kaki.


Tak lama mereka sampai di kontrakan Kanaya, pria itu langsung pamit pergi karena ada yang harus dia lekukan. Tidak menunggu lama, Kanaya sudah bergelut dengan adonan kue di temani Sari, tetangga yang Kanaya pekerjakan karena beliau kebetulan tidak ada kerjaan.


"Besok bibik aja ya neng, yang anter pesanan. Kasihan neng yang lagi hamil." Kata Bik Sari sambil membungkus kue.


" Tidak apa-apa bik, justru katanya sehat kalau ibu hamil banyak gerak." Kanaya tersenyum.


Kegiatannya yang semakin padat tidak membuat Kanaya kesusahan untuk bergerak, entah kenapa kehamilannya tidak membuatnya kesulitan, justru Kanaya begitu bersemangat dan tidak mengalami kendala.


"Tapi kan capek atuh, kalau Rani libur biar dia bantu antar-antar pesanan pakai motor."


Bik Sari seorang janda yang memiliki anak gadis masih sekolah, suaminya meninggal satu tahun yang lalu karena sakit.


"Iya bik."


Tok...Tok...


"Mbak Naya...!!"


Terdengar suara memanggil di depan rumah.


"Pasti si Susi bik yang suka teriak-teriak." Kanaya hanya geleng kepala jika mendengar Susi anak sebelah yang suka teriak-teriak memanggil.


"Susi? ada apa?" Kata Kanaya yang sudah berdiri di ambang pintu.


"Nih.." Lagi-lagi Susi memberikan selembar kertas. "Rezeki dedek, lusa ada pesanan kue 200box sanggup tidak?" Tanya Susi lebih dulu.


Kanaya menatap deretan tulisan kue apa saja yang harus di buat.


"Di tempat ku kerja ada acara mbak, dan itu di buat snack box." Kata Susi lagi.


Kanaya menatap Susi dan kembali ke kertas yang dia pegang, "Ini beneran Sus?" Tanya Kanaya memastikan.


"Iya Mbak, kalau Mbak sanggup ini aku sudah dibawain uang DP nya." Susi mengambil uang di dalam tasnya.


"Tapi Sus ini banyak sekali."


"Tahu, nanti aku sama ibu yang bantu. Terus dari sana nanti ada yang ambil. Jadi mbak Naya siapkan saja, ok." Susi menyentuh pipi Kanaya senang.


"Semoga selesai tepat waktu ya Sus." Ucapanya yang di aminkan oleh Susi.


Kanaya tak henti-hentinya bersyukur dengan apa yang dia dapatkan, sebuah kemudahan untuk menjalani usaha yang dia rintis. Hampir satu bulan dirinya tidak pernah mengalami kendala, semua puas dengan apa yang dia lakukan.


"Terima kasih Tuhan."