
Setelah menikah kehidupan Kanaya berubah dratis, dirinya menjadi wanita yang bisa dibilang beruntung.
Jika sebelum nya hidupnya serba pas-pasan kini Kanaya bisa merasakan hidup yang berkecukupan. Siapa yang tahu jika takdir membuatnya mengandung anak seorang pria yang tampan dan juga mapan, apalagi pria asing yang kini menjadi suaminya cukup perhatian.
"Sayang tolong pasangkan ini." Arfin muncul dari kamar dan menghampiri Istrinya di dapur.
Pria itu sudah memakai kemeja, hanya saja belum di kancing.
Kanaya melirik badan Arfin yang terlihat sebelum kancing itu terpasang, ada sesuatu yang aneh berdesir di dalam dirinya.
"Nay." Arfin kembali memanggil Kanaya yang terlihat melamun.
"Em, ya." Kanaya maju dan jemarinya bergerak untuk mengancingkan kemeja sang suami.
Dalam jarak yang begitu dekat Arfin menatap wajah Kanaya yang cantik alami tanpa polesan make up, hanya terdapat pemerah bibir yang terlihat begitu segar.
Kanaya tidak berani melirik ke atas, dirinya tahu jika Arfin sedang memperhatikannya.
"S-sudah." Kanaya mundur satu langkah untuk menjaga jarak. Meskipun sudah tidur berbagi ranjang, tapi jika berdekatan intens seperti ini membuat jantungnya berdebar kencang.
Arfin menyentuh dagu Kanaya dan mengangkat nya, keduanya saling tatap dan mata Arfin mengarah pada bibir segar Kanaya.
Tanpa menunggu persetujuan Arfin mendaratkan bibirnya lembut dibibir Kanaya, dan perbuatannya disambut Kanaya dengan memejamkan mata.
Desiran dalam dirinya semakin kuat dan menggebu-gebu saat Arfin semakin dalam menyesap dan menyusupkan lidahnya untuk mengabsen setiap inci mulutnya.
"Emph.." Kanaya meleguh dengan kedua tangan mencekram kemeja Arfin, kakinya berasa lemas seperti jelli untuk menopang tubuhnya, beruntung tangan kanan Arfin memeluk dirinya membuat Kanaya semakin dalam membalas ciuman Arfin.
Niat hanya ingin mencicipi, kini justru sesuatu di balik celananya tiba-tiba menyempit, apalagi Kanaya juga enggan untuk melepaskan tautan bibirnya membuat Arfin semakin semangat untuk membuat istrinya larut dalam menikamati.
"Emmh Mas.." Desahh Kanaya saat bibir Arfin turun menyentuh lehernya dengan bringas.
Napas keduanya memburu dengan gairah yang sama-sama naik, tanpa banyak bicara Arfin mengendong tubuh Kanaya untuk dia bawa ke kamar.
Kanaya tidak bisa menolak, dirinya menikmati sentuhan Arfin yang terasa panas dan membuat tubuhnya menginginkan sesuatu, hingga keduanya sama-sama polos seperti bayi yang baru lahir.
Hari ketiga setelah menikah, Arfin akan merasakan kembali nikmatnya surga dunia, apalagi dengan istri sendiri yang sudah pasti rasanya akan berbeda.
"Ughh.." Kanaya memejamkan matanya dengan bibir terbuka, ketika sesuatu yang keras menerobosnya miliknya yang begitu sensitif, rasanya masih sedikit sakit tapi tidak sesakit saat melakukanya pertama kali.
"Ahhh, Nay. So delicious ." Arfin memejamkan matanya sambil menikmati miliknya yang menemukan rumah yang di rindukan selama ini. Rasanya sama, sama-sama masih nikmat seperti pertama kali.
Tidak ingin menunggu lama, Arfin bergerak pelan dengan ritme yang pas, membuat Kanaya mendesahh dibawahnya dengan mata merem melek.
Tangan Arfin mengusap perut buncit Kanaya yang sudah hampir tujuh bulan usianya, sebentar lagi putrinya akan lahir ke dunia memberikan kehidupan baru untuknya dan keluarganya.
"Ahh mas, aku mau pipis." Ucap Kanaya dengan lirih, sesuatu dalam dirinya mendesak ingin keluar saat gerakan Arfin semakin cepat dan dalam membuatnya tidak sanggup untuk menahan.
"Keluarkan saja sayang, ahh."
Kanaya semakin merasakan desakan yang kuat saat Arfin menyerang tubuhnya bertubi-tubi, tangan Arfin memijat dan meremat melon kembar dengan bibir dan lidah bermain cepat, sedangkan di bawah sana miliknya berkedut hebat saat merasakan tombak Arfin yang semakin besar dan kencang.
"Ahhh, bersama sayang!" Arfin mendongak dengan urat leher yang menonjol, tangan Kanaya mencekram lengan Arfin kuat saat sesuatu dalam dirinya melesak keluar.
"Arrghh.."
Tubuh Kanaya mengejang dengan mata terpejam, disusul Arfin yang menekan kuat miliknya saat meyeburkan larva hangat yang memenuhi rahim Kanaya.
"Hah.." Napas Arfin memburu, pria itu ambruk disamping tubuh Kanaya dan memeluk istrinya yang basah oleh keringat.
"Terima kasih, sudah memberikan malam kedua kita." Bisik Arfin disamping telinga Kanaya, bahkan Arfin dengan sengaja mengigit daun telinga Kanaya membuat wanita itu mengerang lirih.
Tersenyum puas, Arfin menutup matanya untuk menormalkan detak jantung dan juga napasnya, perasaannya puas dan bahagia, rasanya dirinya kembali berenergi setelah menuntaskan sesuatu yang beberapa bulan tidak dia lakukan.
Kanaya memejamkan matanya, rasanya sungguh lega saat sesuatu dalam dirinya meledak begitu saja, mungkin karena hormon kehamilan, membuatnya menjadi menginginkan sentuhan seperti ini. Mengingat itu Kanaya malu sendiri, wajahnya memerah dengan dengan senyum di bibirnya.