MBA (Married By Accident)

MBA (Married By Accident)
Kebiasaan yang tak biasa



Hari ini Arfin pulang kerumah kedua orang tuanya, setelah mengemudikan kendaraan selama hampir dua jam, akhirnya Arfin sampai pukul 7 malam.


Saat memasuki rumah, Arfin langung menuju meja makan, terdengar kelurganya sedang mengobrol.


"Pah, Mah. Hay Arfan." Arfin mengusap kepala adiknya yang duduk disamping Mamanya.


"Kamu dari mana Fin? kenapa lama tidak pulang?" Bukanya menjawab sapaan putranya, Olive malah memberondong sang anak.


"Apakah kamu sedang berpetualang mencari wanita?" Kata Ando papanya sambil terkekeh.


Arfin menatap papanya jengah. "Dari resort mah, Arfin memutuskan untuk mengelolanya sekarang." Tuturnya setelah duduk dikursi.


Arfin menarik piring yang berisikan potongan buah lengkap, dan itu milik Mamanya.


"Fin, itu punya Mama. Sejak kapan kamu suka buah." Kata Olive mamanya.


Arfin tidak memperdulikan ucapan mamanya, tangannya dengan lahap memasukkan potongan buah kedalam mulutnya.


"Kak Arfin jorok belum mandi." Kata Arfano adik Arfiano.


"Ck, berisik." Ucapnya sambil mendelik.


"Fin, tumben sekali kamu tidak mandi dan malah makan disini?" lagi-lagi Olive protes, wanita yang sedikit gemoy tapi masih cantik itu menatap putranya heran. Apalagi melihat penampilan Arfin yang sudah kusut.


Sebelumnya Arfin tidak pernah absen untuk memperhatikan dirinya, pria itu menyukai kebersihan untuk dirinya, Arfin tidak akan makan sebelum membersihkan diri, dan jika pulang kantor pria itu pasti akan lebih dulu membersihkan diri dan setelahnya baru melakukan hal lain. Tapi hari ini Olive dibuat heran dengan putranya.


"Hm, aku hanya ingin makan ini mama." Katanya sambil menunjuk buah yang akan tandas setelah dia makan.


"Sejak kapan kamu jadi lahap makan buah?" Tanya Ando papanya. "Bahkan kamu paling anti dengan buah pepaya."


Arfin masih sibuk dengan kegiatannya, tidak memperdulikan apa yang papanya bilang.


"Sekarang tidak dan aku suka buah." Arfin tersenyum dan beranjak dari duduknya, pria itu pergi menaiki tangga menuju kamarnya.


"Sayang, kenapa dengan Arfin?" Tanya Olive pada suaminya.


Sampainya dikamar Arfin langung merebahkan dirinya atas ranjang, matanya sudah terasa berat dengan tubuhnya yang lelah.


Tanpa menunggu lama pria itu terlelap dalam keadaan kusut, jas masih terpakai dengan sepatu yang masih terpasang. Tidak biasanya Arfin akan tidur dalam keadaan seperti ini, dan sekarang bisa-bisanya tidur pulas dengan keadaan masih berantakan.


Hari sudah menjelang pagi, kicauan burung sudah terdengar ramai, matahari menunjukan sinarnya untuk menghangatkan dunia, tapi pemuda 28 tahun itu masih betah terlelap dengan memeluk guling.


"Ya ampun Arfin..!!" Olive memekik saat masuk kedalam kamar putranya, wanita itu terkejut melihat keadaan Arfin.


"Arfin bangun..!!" Olive menggoyangkan bahu Arfin, jam sudah menunjukan pukul delapan tapi Arfin belum ada tanda-tanda ingin bangun.


"Arfiano Abisatya bangun..!!"


"Engh, kenapa ada petasan sih berisik." Gumam Arfin dengan suara serak. Pria itu kembali mengeratkan pelukannya pada guling.


Mendengar ucapan Arfin semakin membuat Olive kesal. "Kau menyamakan mamamu seperti petasan, dasar anak kurang ajar." Olive berjalan kearah kamar mandi, tak lama keluar dengan membawa gayung kamar mandi.


Byuurr


Olive menyiram wajah Arfin dengan air yang dia bawa, seketika Arfin langsung membuka matanya dan duduk.


"Mama apa-apaan sih, aku bukan anak SD lagi." Kesal Arfin sambil mengusap wajahnya yang basah.


"Ya, tapi kata-kata sejak SD sampai sekarang masih ada." Kesal Olive menatap Arfin tajam.


Arfin melengos dan kembali merebahkan dirinya.


"Arfin ini sudah siang, dan apa-apaan kau itu tidur pakai jas dan sepatu." Kata Olive dengan nada bicara sedikit tinggi. "Apa kamu amnesia? melupakan jiwa kebersihan mu." Katanya lagi.


"Mah, aku masih ngantuk, ngomelnya di pending dulu."


Olive semakin kesal saja mendengar ucapan Arfin, dan akhirnya dirinya memilih pergi dari pada harus terus berdebat dengan Arfin.