MBA (Married By Accident)

MBA (Married By Accident)
Rasa dingin puding sampai ke hati



Selain membuat kue yang di pesan bos-nya Susi, entah kenapa Kanaya ingin membuat puding juga, pesanan kue sudah beres dengan selera yang di minta. Dan sekarang Kanaya sedang menyiapkan puding buah dengan aroma coklat dan strawberry dengan dua varian. Sejak tadi bibirnya terus mengembang senyum, entah kenapa rasanya begitu senang membuatnya.


Ibunya Susi sudah pulang dari tadi, setelah selesai membuat kue, dan sekarang Kanaya hanya tinggal memasukkan puding itu kedalaman lemari pendingin.


"Mandi dulu, biasanya Susi pulang jam 5." Kanaya melihat jam yang ada di dinding, masih setengah lima sore.


Kehidupannya lebih baik dari sebelumnya, Kanaya tidak menyangka akan bisa begini, waktu semakin cepat berputar, hingga dirinya tidak menyadari sudah tinggal di kontrakan sebulan lebih, dan selama itu dirinya tidak mengalami kesulitan apapun, justru dirinya merasa mendapatkan rezeki yang bertubi-tubi.


"Mbak Naya...!"


Tok...Tok...Tok...


Susi mengetuk pintu kontrakan Kanaya, wanita itu mengetuk beberapa kali hingga terdengar sahutan dari dalam.


Ceklek


"Udah pulang?" Tanya Kanaya melihat Susi yang berdiri didepannya.


"Sudah, bagaimana?" Tanya Susi balik.


"Beres." Kanaya mengacungkan jempolnya.


"Duh, ponakan aunty bikin Mama semangat." Susi mengelus perut Kanaya yang menonjol.


"Eh, iya." Susi yang mengingat sesuatu menggeser tubuhnya, membuat Kanaya menatap wanita yang berdiri tidak jauh darinya.


"Mbak Naya, ini bos Susi namanya ibu Olive. Dan ibu bos ini mbak Naya yang suka bikin kue." Ucap Susi sambil memperkenalkan satu sama lain.


Olive tersenyum dan mengulurkan tangannya pada Kanaya.


"Senang bertemu dengan kamu, ternyata kamu masih muda dan cantik." Ucap Olive yang memuji Kanaya.


Kanaya membalas uluran tangan Olive, dan ikut tersenyum. "Terima kasih Bu, mari silakan masuk." Ucap Kanaya dengan bahasa tubuh menyuruh tamunya masuk rumah.


Olive tersenyum senang, wanita yang tak lagi muda itu begitu antusias untuk masuk kerumah Kanaya.


"Susi ambilkan minum dulu ya " Susi yang memiliki kepribadian humbel begitu akrab dengan rumah Kanaya, baginya rumah tetangganya itu adalah rumah kedua jika dirinya sedang butuh teman curhat.


"Maaf ya ibu jadi menganggu kamu, padahal Susi udah bilang kalau kamu sedang libur." Ucap Olive yang mengajak bicara lebih dulu.


"Tidak apa-apa Bu, anggap saja rezeki saya." Kanaya membalas dengan senyum ramah.


Tak lama Susi keluar dengan membawa satu gelas minuman dingin.


"Mbak, Susi lihat di kulkas ada sesuatu yang menggoda iman." Ucap Susi sambil mengedipkan matanya.


"Eh, iya. Kamu potong gih, buat ibu Olive. Tadi mbak buat karena pengen." Kata Kanaya yang mengerti dengan perkataan Susi.


"Ah, akhirnya aku ikut nyicip juga." Susi yang tampak kegirangan langsung melipir kembali ke belakang dengan cepat.


"Kenapa? kok Susi senang betul?" tanya Olive yang ikut penasaran.


"Itu, Susi melihat puding Bu." Jawab Kanaya.


Olive hanya ber oh ria sambil mengangguk. "Nak Naya tinggal sendiri?" tangan Olive sambil memperhatikan sekitar ruangan tamu kecil itu.


"Iya Bu, saya mengontrak di sini?" Jawabnya jujur.


"Dengan suami?" Tanya Olive yang melihat perut Kanaya menonjol, dan Olive tahu jika wanita di depannya sedang hamil.


"Emm, itu-"


"Nah, ini dia. Ibu bos harus cobain."


Susi tiba-tiba datang membuat Kanaya mengehela napas, dirinya tidak perlu menjawab pertanyaan ibu-ibu di depannya ini, karena Kanaya tidak ingin menjelaskan apapun.


"Jelas Bu, buatan tangan mbak Naya, no gatal-gatal." Susi begitu antusias bicara.


Dan Kanaya hanya tersenyum, dan mempersilahkan tamunya untuk mencicipi.


Ketiganya duduk sambil mengobrol, dengan menikamati puding buatan Kanaya yang kerap kali mendapat pujian dari Olive.


"Anak saya sedang ngidam, dan dia minta kue kamu lagi, padahal setiap pagi anak saya itu tidak bisa makan apapun, tapi anehnya dia makan kue kamu sama sekali tidak mual dan muntah." Tutur Olive, setelah menghabiskan puding yang begitu pas di lidahnya.


"Mungkin kue saya cocok di lidah anak ibu." Jawab Kanaya.


Olive mengagguk menyetujui. "Besok-besok kamu bikin kan saja setiap hari beberapa macam, dan biar Susi yang membawanya, karena rencananya malam nanti saya dan suami akan pulang ke Jakarta." Tutur Olive.


Kanaya hanya mengaguk saja. "Sebentar Bu, saya ambilkan pesanan ibu." Kanaya berdiri dan berjalan kebelakang, megambil pesanan bos Susi itu, dana Kanaya juga mengeluarkan satu kotak puding buatannya yang sudah dikemas.


"Ini Bu, dan ini untuk ibu." Kanaya memberikan bungkusan puding buatannya.


Olive tentu saja senang bukan kepalang, wanita itu mengucapkan terima kasih beberapa kali pada Kanaya, bahkan saat pamit Olive memeluk Kanaya dan mencium keningnya.


Kanaya melambaikan tangan saat mobil yang Olive tumpangi meleset perlahan.


"Mbak Naya, Bu bos itu baik, apalagi dia punya anak ganteng." ucap Susi tiba-tiba.


Keduanya masih berdiri di teras rumah. Kanaya melirik Susi yang senyam-senyum.


"Terus kenapa?" tanya Kanaya.


"Ya sapa tahu jodoh mbak Naya kan." Susi cekikikan setelah mengatakan itu.


"Ngawur kamu." Kanaya meninggalkan Susi dan masuk kedalam rumah, karena hari sudah beranjak petang.


.


.


Di resort..


Di meja makan ketiga orang sedang menikmati makan malam, sejak tadi Arfin banyak diam.


"Anak buah papa, sempat melihat wanita yang kamu cari datang kerumah sakit tadi siang, tapi mereka kehilangan jejak, saat ingin mengejar." Ucap Ando setelah mengabiskan makan malamnya.


Olive berdiri dan menuju dapur, dirinya mengambil puding untuk hidangan penutup.


"Arfin tahu Pah, Alex juga bertemu. Tapi Alifa menghindar dan bersembunyi." Katanya dengan wajah sendu.


Olive menaruh puding didepan Arfin. "Sabar, nanti kalian juga pasti bertemu." Olive mengusap bahu putranya.


"Mama menyuruh Susi untuk membawakan kue setiap pagi dari tetangganya itu, Mama rasa kamu setiap pagi hanya bisa makan kue itu saja." Kata Olive sambil menyuapkan puding kedalam mulutnya. "Dan ini juga puding buatan Naya, enak dan Mama sangat suka." Katanya lagi sambil tersenyum menikmati puding dari Kanaya.


Arfin menatap puding di depannya. " Memangnya siapa Mah yang buat?" tanya Arfin sambil menyuapkan puding ke mulutnya sendiri.


"Tadi Mama ikut Susi datang ke kontrakannya, ternyata dia wanita masih muda dan cantik, dan dia juga sedang hamil. Duh.. Mama salut, hamil tapi masih bisa membuat makanan enak-enak seperti ini." Katanya sambil tersenyum senang memuji Kanaya yang pekerja keras.


Arfin diam sejenak, ketika lidahnya merasakan puding yang dia makan, lagi-lagi jantungnya berdebar dengan perasaan aneh, ini hanya puding tapi kenapa rasa dinginnya sampai kedalam hatinya.


"Kanaya."


.


.


JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK KALIAN 😘😘😘😘