MBA (Married By Accident)

MBA (Married By Accident)
Gosip



Kanaya mengerjap saat merasakan perutnya keroncongan karena lapar. Kanaya membuka matanya dan dirinya terkejut saat berada ditempat asing.


Sebuah kamar yang luas dengan fasilitas yang terbilang kelas atas, karena memang itu kenyataanya.


"Kenapa bisa di sini." Kanaya menatap kesekeliling. Dirinya benar-benar tidak tahu ada dimana.


Seingatnya dirinya sedang membeli bakso, dan hujan turun dengan lebat lalu dirinya ditarik oleh seseorang untuk masuk kedalam mobilnya.


"Ano.." Gumam Kanaya mengingat pria yang duduk denganya di dalam mobil.


Kanaya segara beranjak dari ranjang dan membuka pintu. Saat itu juga dirinya mencium aroma kuah bakso yang menyeruak di indera penciumannya.


"Kau sudah bangun Alifa." Arfin muncul dengan membawa nampan berisikan dua mangkuk dengan asap panas mengepul.


"Em, ya." Kanaya tampak ragu dan tergagap ketika menjawab.


"Tidurmu terlalu nyeyak, dan aku tidak tahu rumahmu dimana, jadi aku membawamu kesini." Arfin meletakkan nampan yang dia bawa diatas meja depan TV.


Kanaya memperhatikan tempat sekitar, sebuah ruangan yang elegan tidak besar dan kecil tapi semua lengkap tersedia.


"Makalah, nanti keburu dingin lagi." Arfin sudah duduk lebih dulu disofa.


Kanaya masih saja ragu, meskipun dirinya tahu jika Arfin sama sekali tidak mengenalinya.


Kanaya duduk disamping Arfin dengan memberi jarak agar tidak berdekatan.


Melihat cara makan Arfin membuat Kanaya melirik tersenyum, dia pun segera makan karena perutnya terasa lapar.


"Ahh, akhirnya." Arfin merasa puas dengan apa yang dia makan. "Kamu tahu ini kali pertama aku makan bakso setelah aku lulus sekolah." Katanya memberi tahu.


Kanaya masih tenang dengan makanannya, dirinya tidak mau mengobrol lebih jauh dengan Arfin, entah kenapa jantungnya terus berdebar.


"Ck," Arfin berdecak sambil tersenyum. "Tapi itu sudah lama sekali, dan hari ini tiba-tiba aku menginginkan makanan ini. Kata mama ku aku seperti orang ngidam, aneh bukan."


Uhukk...uhukk...


Kanaya langsung tersedak ketika mendengar ucapan Arfin.


"Ya ampun Al, pelan-pelan." Arfin memberikan air minum untuk Kanaya.


Uhuk..uhuk...


Kanaya menenggak minuman itu hingga habis setengah.


"Terima kasih." Ucap Kanaya setelah merasa lebih baik.


Arfin hanya mengaguk. "Maaf, saya mau pulang." Ucap Kanaya tersadar ketika hari sudah malam.


"Biar saya antar, ini sudah malam tidak baik wanita malam-malam diluar sendirian." Kata Arfin yang ikut berdiri.


"Tidak usah tuan, rumah saya tidak jauh dari sini." Kanaya menolak dan langsung pamit pergi.


Pagi hari....


"Eh mbak Kay, di rumah tumben.." Ibu-ibu komplek menyapa Kanaya yang keluar rumah untuk membeli sayuran keliling yang berhenti didepan rumahnya.


Kanaya tersenyum. "Iya Bu."


Beberapa ibu-ibu kembali datang, Kanaya hanya tersenyum untuk menggapai ibu-ibu yang sedang bergosip.


"Bang, ikan dong seperti biasa." Kata Kanaya.


"Ini neng, masih fresh." Penjual itu menyodorkan ikan bungkusan di depan wajah Kanaya.


Emph...


Huek..huek..


Kanaya langsung menyingkir dan memuntahkan isi perutnya secara langsung ketika mencium bau ikan.


"Ya ampun Kay kamu kenapa." Ibu-ibu memakai kerudung mendekati Kanaya dan memijat tengkuk nya.


Huekk...


Kanaya menggeleng dengan masih memuntahkan isi perutnya yang terus bergejolak.


"Kenapa dia itu aneh sekali."


"Jangan-jangan dia hamil."


"Duh, jangan ngomong yang aneh-aneh, takutnya beneran." Dan mereka semua tertawa setelah membicarakan Kanaya yang tiba-tiba muntah seperti orang ngidam.


"Pasti hamil, dia kan suka keluyuran pulang malem." lagi si kompor tidak berhenti.


"Pantas saja, bapaknya juga preman anaknya jual diri."


"Jangan suuzon Bu, mungkin neng Kanaya sedang masuk angin." Penjual sayuran ikut menimpali nyinyiran para ibu-ibu.


"Abang mah tau nya apa, harga cabe sama bawang doang." Ketus salah satu dari mereka.


Tukang sayur hanya geleng kepala.


"Sudah lebih baik."


Kanaya mengagguk, dengan wajah pucat dan tubuh lemas.


"Ibu antar ke dalam ya, kasihan wajah kamu pucat." Kata ibu itu sambil mengusap wajah Kanaya.


Kanaya melirik ibu-ibu yang menatapnya sinis, dirinya mendengar apa yang mereka bicarakan karena memang suara mereka begitu keras. Hati Kanaya mencolos mendapati semua orang menggunjingnya, setelah ini pasti hidupnya tidak akan tenang.