
Dor...dor...dor...
"Arfin buka pintunya!!" Pekik Olive yang mengetuk pintu kamar Kanaya sudah seperti rentenir. Tapi bagi dua orang yang merasa terganggu lebih tepatnya Arfin yang merasa terganggu.
"Ck, Mama apa-apaan sih. Gak tau apa orang lagi minta jatah juga." Kesal Arfin yang harus rela melepaskan bibir Kanaya.
Ceklek
"Apa sih ma?" Keluh Arfin dengan wajah masam.
Sedangkan Olive memicingkan matanya melihat wajah Arfin yang ditekuk.
"Apa kau sudah tidak sabar, sehingga harus mengurung Kanaya di dalam kamar. Dasar titisan kadal." Ucap Olive ketus.
Wanita itu menerobos masuk untuk menemui Kanaya, sedangkan Arfin menatap Mamanya kesal.
"Dan gara-gara kadal, Mama jadi punya titisan kadal." Sungutnya yang langsung melenggang pergi, kepalang kesal dengan Mamanya.
"Naya." Ucap Olive yang tersenyum senang melihat menantunya.
"Ibu." Kanaya langsung menyalami tangan Olive.
Olive pun langsung merangkul tubuh Kanaya untuk di peluk.
"Selamat ya nak, semoga kalian selalu bahagia." Olive meneteskan air matanya, dirinya tidak menyangka jika wanita hamil yang berjuang keras untuk memenuhi kehidupan nya adalah wanita yang anaknya hamili.
Siapa sangka jika dirinya bertemu Kanaya lebih dulu, tapi tidak tahu jika wanita itu yang sedang Arfin cari.
"Terima kasih Bu." Balas Kanaya dengan wajah haru.
"Panggil Mama, seperti suami kamu." Ucap Olive sambil menyentuh wajah Kanaya.
"Apa kamu bahagia?" Tanya Olive sambil menatap lekat wajah menantunya.
"Jika kamu masih kesal dengan Arfin, maka Mama akan membantumu untuk balas dendam." Ucap Olive sambil tersenyum penuh arti.
Kanaya sendiri bingung dengan apa yang dikatakan ibu mertuanya itu.
Sedangkan di luar, Arfin sedang mengobrol dengan mantan bosnya. Adam baru saja datang setelah tadi pulang dari rumah sakit mengantarkan Mahira yang demam. Oleh karena itu Disya tidak ikut datang ke acara nikahan Arfin.
"Hanya demam, tidak ada yang bahaya." Jawab Adam ketika Ando menanyakan keadaan putrinya itu.
"Selamat Fin, akhirnya lu nikah juga plus dapat Jack pot." Ucap Adam diiring nada meledek.
Arfin malah tersenyum lebar. "Gue gak nyangka bibit premium gue langsung jadi setelah dua kali bercocok tanam." Ucap Arfin dengan wajah sumringah.
Ando yang mendengar ucapan Arfin memukul belakang kepala putranya.
Plak
"Titisan gue, lu yang paling bejat " Ucap Ando yang malah membuat Adam tertawa.
"Lu juga Dam, bokap low butuh waktu dan perjuangan buat bobol gawang Mak Lo, lah Elo malah honeymoon lebih dulu di London. Bay one get Two." ucap Ando tanpa rasa malu.
Adam semakin tertawa, "Gue emang beda, tapi gue paling jago dari pada anak Om." Ucap Adam melirik Arfin.
"Hiss, tar gue bikin lagi. Biar kalian puas." Ucap Arfin dengan nada jengkel.
Ando dan Adam hanya tertawa, meksipun obrolan mereka absyur, tapi inilah mereka jika berkumpul saling menjatuhkan satu sama lain.
Arfin tidak menyangka jika dirinya akan mengikuti jejak mantan bos sekaligus sahabatnya itu, mekipun mereka terbilang pria baik, tapi siapa sangka jika keduanya sama-sama memiliki jiwa petualang untuk menyambangi gunung dan sawah.
Beruntung wanita-wanita itu adalah jodoh mereka, di mana wanita yang pantas untuk di lindungi dan dipertahankan. Meskipun cara mereka mendapatkan dengan cara salah. Tapi dari kesalahan itu mereka akan mendapatkan cinta yang tulus.