
Satu minggu berlalu, hari-hari Kanaya tidak setenang seperti sebelumnya. Setiap pagi dan sore ada saja yang di lakukan Arfin. Pria itu rutin sekali datang ke kontrakannya, dan bahkan tanpa Kanaya duga pria yang menjadi ayah biologis anaknya itu ikut tinggal di kontrakan. Lebih tempatnya Arfin ikut mengontrak di samping tempat tinggal Kanaya yang kebetulan kosong, makin lengkap saja kekesalan Kanaya.
"Aku hanya ingin dekat-dekat anak ku, memangnya ada masalah. Kecuali jika kamu menerima lamaranku dan menikah."
Itulah alasan Arfin jika Kanaya mengusir pria itu di rumahnya.
Tidak tahu kenapa pria kaya seperti Arfin malah ikut tinggal di kontrakan yang kecil dan sempit. Dan Kanaya sempat berpikir jika Arfin melakukan itu hanya demi bayi yang dia kandung. Jika begitu bagaimana dengan dirinya yang menolak di nikahi oleh pria itu, dan Kanaya juga berpikir jika anaknya nanti lahir apa pria itu akan mengambilnya.
"Naya!" Kanaya tersentak saat melihat pria yang sejak tadi memenuhi pikirannya berada didepanya.
"Ganti pakaian kamu, ikut denganku." Ucap Arfin dengan nada memerintah.
Kanaya mengerutkan keningnya. "Siapa kamu nyutuh- nyuruh aku." Omelnya sambil menggerutu tidak jelas.
Arfin mecebikkan bibirnya. "Kalau tidak mau, nanti aku pakai cara paksa, mau?" Arfin melirik Kanaya dari kaki sampai ke kepala.
Kanaya yang di lihat seperti itu memiringkan tubuhnya. "Apa? jangan berpikir macam-macam." Ucapnya galak.
Arfin berkacak pinggang, kenapa sekarang Alifa yang dia kenal galak. "Macam-macam apa, kalau buktinya aku berhasil membuat mu bunting." Katanya dengan santai. "Itu berarti aku sudah melihat semua, bahkan menikmatinya." Arfin tersenyum menyeringai membuat Kanaya mendelik semakin kesal.
"Nay, kenapa kamu jadi galak begini."
"Bodo amat!" Kanaya yang kesal langsung masuk kedalam kamarnya, ini sudah malam dan mau kemana pria itu mengajaknya.
Setelah 5 menit Kanaya kembali keluar, Arfin duduk di teras sambil fokus dengan ponselnya.
Saat Kanaya keluar, kebetulan Susi juga keluar, dan melihat ada bos nya di depan rumah Kanaya membuat Susi membelalakkan kedua matanya.
"Pak Bos!! ngapain!!" Susi langung mendekati Arfin yang berdiri.
"Susi." Ucap Kanaya sambil mengunci pintu.
"Mbak Naya, kenapa pak bos ada di mari. Wah...wah... pasti ada udang di balik bakwan, iyakan pak bos." Ucap Susi nyerocos. "Pak bos, mbak Naya memang cantik tapi dia kan-"
Kanaya melirik Arfin yang hanya diam bersikap santai, sedangkan Kanaya merasa omongan Susi akan melantur kemana-mana.
"Ish, mbak Naya diem dulu." Protes Susi pada Kanaya.
"Kamu bicara apa?" Arfin mengecek telinganya mendengar suara Susi yang seperti petasan.
"Mbak Naya emang cantik. Tapi, mbak Naya itu wanita baik-baik yang tidak seenaknya mau bapak bawa-bawa." Omel Susi tidak jelas.
Kanaya menghela napas. Jika dirinya wanita baik-baik, tidak mungkin kan dirinya hamil diluar nikah karena menjual diri.
"Ck, kebanyakan ngomong kamu." Ucap Arfin sebal. "Dia calon istri gue, jadi lu harus sopan sama dia." Arfin merangkul bahu Kanaya tiba-tiba, membuat Kanaya melirik Arfin sinis.
Susi menutup mulutnya tidak percaya. "P-pak bos tahu kalau mbak Naya hamil?" Tanya Susi dengan tatapan masih syok.
"Tahu, karena saya yang membuatnya hamil."
Gubrak
Bojomu sesok tak silihe....
Yen penak ora tak balekne...
Susi memutar tubuhnya dan berjalan menjauh sambil bernyanyi.
Tak rasakne seminggu wae..
Yen rasane enak ra tak balekne...
Itulah suara Susi menyanyi, Kanaya hanya menggeleng kepala melihat kelakuan Susi seperti itu, tidak di pungkiri gadis itu memilki sifat baik dan juga ceria.
"Ada-ada saja." Arfin menggaruk kepalanya yang tidak gatal, lagu itu yang sedang tren terdengar dimana-mana. Membuatnya sedikit tahu apa artinya.