
Di lorong rumah sakit Kanaya terus berlari dengan jantung berdebar kencang, air matanya tak henti mengalir sejak dirinya mendapat kabar jika adiknya dalam keadaan kritis.
Kanaya baru sehari diterima kerja di sebuah restoran, dirinya terus berjuang untuk mendapatkan uang hanya untuk menghidupi dirinya. Bahkan Kanaya harus pulang pergi ke rumah sakit untuk menemani sang adik. Dan hari ini sepertinya hidupnya akan lebih berat.
"Dokter bagaimana keadaan adik saya." Kanaya langsung menghadang dokter yang baru saja keluar memeriksa Fikri.
"Pasien semakin kritis, dan kami tidak bisa melakukan tindakan lagi. Sebaiknya kita berdoa semoga Fikri mendapatkan anugrah dari maha pencipta." Dokter pun pasrah dan berkata demikian, hanya menunggu waktu dan keajaiban itu terjadi.
Lagi-lagi hati Kanaya kembali tersayang, tidak tahu harus melakukan apa untuk menyelamatkan adiknya.
"Apa tidak ada cara lain dok, tolong selamatkan adik saya."
Dokter itu hanya menggeleng. "Kita berdoa saja, semoga Tuhan memberikan anugerah nya."
Tubuh Kanaya merosot ke lantai, wanita itu menangis sejadi-jadinya mengingat Fikri.
"Tuhan kenapa kau tidak adil padaku." lirihnya dengan pilu.
Kanaya sudah mengorbankan harga dirinya untuk mendapatkan uang biaya rumah sakit Fikri, dan sekarang semua yang dia lakukan seolah sia-sia.
Harapannya Fikri sembuh setelah semua terlewati, tapi nyatanya semua tidak seperti yang dia inginkan.
.
.
Hari ini Arfin resmi mengundurkan diri dari perusahaan sahabatnya sebagai sekertaris, semua karena tangung jawabnya tidak bisa lagi dirinya kesampingkan.
Resort yang semakin maju pesat, dan sang papa yang selalu mendesaknya untuk segera mengelola, mengingat adiknya masih kecil dan belum bisa diberi tanggung jawab.
Arfin menatap jendela kaca yang langung mengarah keluar, dan dirinya bisa melihat jika seseorang yang dia kenal sedang berjalan masuk kedalam kafe. Arfin tidak perduli, tapi sebentar kemudian pria itu malah duduk di depannya.
"Tuan muda." Sapa Herman dengan wajah panik.
Arfin tidak merespon, tangannya mengambil gelas yang berisikan anggur merah.
"Kenapa kau tidak sopan." katanya dengan wajah kesal.
Herman yang memiliki wajah datar tanpa ragu dan takut menatap Arfin. "Tolong bantu saya tuan, saya butuh uang lagi." Katanya dengan ekspresi wajah biasa saja.
Arfin memicingkan mata. "Apa kau memilki gangguan sakit jiwa, aku bukan bapak mu yang bisa kau mintai uang." Kesal Arfin.
"Tapi tuan saya sedang butuh, saya mempunyai anak gadis. Anggap saja sebagai jaminan." Kata Herman dengan santai.
Arfin menyipitkan matanya kembali. "Jadi kamu menukar anakmu demi uang, heh." Arfin terkekeh. "Kamu pikir aku pria hidung belang." Katanya dengan geram.
"Saya mohon tuan. Anak saya sedang kritis dan harus kembali menjalani operasi, uang yang pernah saya pinjam sudah habis." Herman tidak kehabisan akal untuk mendapatkan uang. Menggunakan Fikri yang sekarat sebagai alasan, karena memang itu kenyataanya, tapi untuk biaya operasi itu tidaklah benar.
"Memangnya apa istimewanya putrimu itu? kenapa aku harus membayar mahal?" Ucap Arfin.
Jika dipikir dirinya sudah mengeluarkan uang cukup banyak untuk membeli keperawanan seorang gadis, dan sayangnya Arfin tidak tahu gadis yang mana. Tapi pergulatan panas malam itu masih bisa dirinya ingat, mekipun tidak begitu jelas.
"Saya jamin, Anak saya masih perawan."
Mendengar itu Arfin tampak berfikir, 100 juta sedikit untuk sekarang, karena saat itu dirinya harus mengeluarkan cukup banyak uang untuk menikmati membuka segel. Dan Arfin yang masih penasaran dengan membuka segel saat dirinya sadar tanpa mabuk mengabulkan permintaan Herman.
Apakah Kanaya akan kembali bertemu dengan pria yang pernah membayarnya?