
Malam harinya Arfin mendatangi club sahabatnya Alex, pria itu melihat Alex yang sedang duduk dan ditemani dua wanita cantik..
Arfin berdiri didepan Alex dan membuat Alex cukup terkejut, tapi pria itu langsung tersenyum menyambut kedatangan Arfin.
"Hay man." Alex berdiri dan melakukan tos ala pria sejati pada Arfin.
"Long time no see ." Ucap Alex.
"Yes, I'm busy with a lot of work."
Keduanya duduk di sofa yang sama setelah Alex mengusir dua wanita tadi.
"Ya, Sekarang kau sudah menjadi pemilik resort orang tuamu." Ucap Alex sambil tertawa.
"Ya, hanya itu yang mereka inginkan." Arfin ikut terkekeh.
Keduanya menenggak minuman yang sudah Alex siapkan.
"Sepertinya kau butuh sesuatu datang kemari?" Ucap Alex yang menebak.
"Yes, I need information ." Arfin tersenyum.
"Kanaya? kau masih ingat wanita itu?" Tanya Arfin tho the poin.
"Why? dengan Kanaya?" Tanya Alex sambil mengingat-ingat.
"Wanita yang sudah tidur denganku, apa dia bernama Kanaya?" Tanya Arfin lagi.
Alex tampak berpikir dan mengingat wanita pertama yang tidur dengan Arfin, dan ketika mengingat sesuatu Alex malah tertawa.
"Kau meledek ku." Kesal Arfin yang melihat Alex tertawa.
Alex memelankan tawanya. "Aku ingat dimana kau melepaskan keperjakaanmu." Alex kembali tertawa.
"Sialan kau..!!" Arfin meninju lengan Alex. "Sekarang katakan aku butuh informasi gadis itu." Ucap Arfin lagi yang sambil menahan kesal karena ledekan Alex.
"Informasi apa, yang aku tahu dia butuh uang untuk operasi adiknya dan temannya itu membawanya kesini. Tapi memang benar namanya Kanaya, dia yang sudah membuatmu terkapar dan memberikan tips lebih, hahaha." Alex tertawa lagi.
Arfin hanya melirik Alex malas, dirinya kesal karena menjadi bahan ejekan.
"Kau tidak tahu dia tinggal dimana?" Tanya Arfin lagi yang masih penasaran.
"No, tapi nanti aku bisa tanyakan dengan temanya yang membawa dia kesini."
Arfin mengangguk saja, entah kenapa dirinya berpikir jika Alifa adalah Kanaya yang sudah menghabiskan waktu bersamanya, dan dalam hatinya berharap jika itu benar.
.
.
Dorrr ..dorrr...dorr..
Seseorang menggedor-gedor pintu rumah Kanaya sehingga menimbulkan kebisingan.
Beberapa orang berkumpul didepan rumah Kanaya malam itu.
Dari jalan Kanaya baru saja turun dari atas motor, diantar oleh teman kerjanya Andre.
"Nay itu Kenapa ramai-ramai?" Tanya Andre.
"Em, tidak tahu. Terima kasih ya sudah memberi tumpangan." Ucap Kanaya tulus.
"Tidak masalah Nay." Andre tersenyum. "Kamu tidak apa-apa?" Tanyanya lagi yang merasa ada sesuatu masalah yang Kanaya hadapi.
"Tidak apa-apa, kamu pulang saja nanti kemalaman di jalan." Secara tidak langsung Kanaya mengusir Andre dengan halus.
"Yakin Nay, kamu tidak apa-apa." Tanya Andre sekali lagi.
"Hm, aku yakin." Kanaya tersenyum.
Andres pun pamit pergi meskipun rasanya tidak rela melihat keanehan didepan rumah Kanaya, tapi Andre tidak ingin terlalu ikut campur lebih jauh jika Kanaya sendiri mengatakan baik-baik saja.
"Nah itu orangnya." Salah satu ibu-ibu menujuk Kanaya yang berjalan memasuki halaman rumah.
"Ini ada apa ya bapak ibu ramai-ramai didepan rumah saya." Kanaya masih bicara sopan dan menatap satu persatu orang-orang yang ada di sana.
"Kamu pergi dari sini, kami tidak mau ada pela*cur yang hamil tanpa suami di sini!!" Ucap salah satu ibu-ibu yang Kanaya tahu tetangganya.
"Sabar ibu, jangan pakai emosi malu di dengar orang." Lerai seorang pria paruh baya yang diketahui kepala kampung di situ.
"Tapi pak dia sudah membuat lingkungan kita tercemar dengan kelakuannya yang seperti ja*la*ng itu!!" Wanita itu menunjuk wajah Kanaya.
Kanaya tidak berani bersuara, apa yang dikatakan wanita itu benar, dirinya rela menjual diri hanya kerena sebuah uang. Dan sekarang dirinya sedang hamil di luar nikah.
"Nak Kanaya, bapak hanya ingin memastikan apakah yang dikatakan ibu ini benar?" Tanya bapak kepala kampung itu.
Kanaya mengusap air matanya yang sudah mengalir, dan Kanaya hanya bisa mengangguk. "Benar pak, ibu itu tidak berbohong." Katanya dengan suara tercekat.
"Dasar wanita murahan, bapak sama anak sama saja. Sama-sama bikin malu."
Beberapa orang mengatai Kanaya, mereka melihat Kanaya jijik.
Kepala kampung itu hanya bisa menghela napas, melihat Kanaya saja membuatnya iba, tapi mau bagaimana lagi jika warganya sudah tidak bisa mentolerir.
"Nak, Kanaya bapak mewakili warga meminta maaf-"
Kanaya mengerti apa yang mereka lakukan, hanya saja Kanaya tidak berfikir bisa sampai seperti ini, diusir dan di caci maki lantaran karena dirinya hamil di luar nikah.
Hari ini adalah hari terpuruk Kanaya, dirinya menanggalkan rumah kedua orang tuanya tanpa tahu harus kemana.
Sedangkan Herman sudah satu minggu tidak pulang dan Kanaya tidak memperdulikan hal itu.