
Arfin terus menyusuri tubuh wanita di bawahnya dengan lembut, entah kenapa aroma tubuh wanita di bawahnya membuatnya merasa nyaman.
"Kau memakai parfum apa? kenapa wanginya membuatku candu." Katanya sambil menciumi lengan wanitanya.
"Apa kau tidak bisa bicara?" Katanya dengan sedikit kesal karena sejak tadi dirinya seperti bicara pada patung.
"Emh.." Kanaya meleguh saat Arfin mengecup lehernya dan meremat kelembutannya.
"Katakan, apa kau bisu." Arfin mengigit leher Kanaya membuat Kanaya menjerit bercampur mendesahh karena Arfin melakukanya dengan sangat keras karena gemas.
"Ahhh, tuan."
Deg
Arfin mengangkat wajahnya, dirinya seperti mengenali suara itu.
Cetek
Arfin beranjak dan langsung menekan saklar lampu, hingga kamar itu terlihat begitu terang benderang.
"Alifa..!!" Mata Arfin melotot melihat wanita yang sudah setengah ia telanjangi.
Seketika Kanaya langung menarik selimut untuk menutupi dadanya yang terbuka, Kanaya menuduk dengan wajah sedih.
"K-kenapa kamu bisa disini Alifa?" Tanya Arfin yang masih tidak percaya.
Arfin segera menyambar kemejanya dan memakainya, rudalnya yang sudah setengah tegak kembali kepengaturan awal ketika melihat wanita itu adalah Alifa.
Berjalan mendekati Alifa, Arfin hanya memakai celana pendeknya dan kemeja putih tanpa di kancing kan, sehingga Kanaya bisa kembali melihat tubuh Arfin untuk kedua kali setelah malam itu.
"Alifa." Arfin berdiri disamping ranjang. "Katakan Alifa, kenapa kau bisa ada di sini." Arfin mengusap wajahnya kasar. Dirinya benar-benar terkejut melihat wanita yang dia kenal ada di kamar hotelnya.
Arfin berdiri dengan tangan berkacak pinggang dan wajah gusar.
"Penebus hutang."
Deg
"Anda memberikan uang kepada bapak saya, dan saya adalah jaminannya." Kata Kanaya dengan wajah masam.
"Alifa jadi kau-"
"Anak seorang preman dan tukang judi." Kanaya menatap Arfin dengan rasa kecewa. "Dan saya di jual karena masih perawan."
"Alifa, bu-bukan seperti itu." Arfin merasa bersalah.
"Kalau saya tidak lagi perawan, apa anda juga akan tetap melakukanya?" tanya Kanaya dengan tatapan mata yang membuat Arfin merasa sedih.
"Alifa bukan seperti itu, aku hanya-" Arfin tidak melanjutkan ucapnya, dirinya bingung dengan apa yang dia lihat.
"Lakukan, karena uang anda sudah berhak untuk mendapatkan apa yang anda inginkan." Kanaya membuka selimut yang sejak tadi membungkus tubuhnya, dengan perasaan sesak Kanaya melepaskan semua yang melekat di tubuhnya.
"Alifa.."
Glek..
Arfin menelan ludahnya kasar, saat melihat Kanaya yang perlahan membuka pakaiannya hingga menampilkan tubuh polosnya, bahkan rudal di bawah sana sudah kembali mengeras hanya karena melihat tubuh polos Kanaya.
Tapi seketika hasrat dalam tubuhnya sirna melihat kedua mata Kanaya yang menjatuhkan buliran bening, Arfin yang melihatnya merasakan hatinya ikut sakit.
"Alifa.." Pria itu langsung memeluk tubuh polos Kanaya, membuat Kanaya langung menumpahkan air matanya di dada Arfin.
"Aku sudah kotor hiks...hiks..."
Kanaya tak kuasa menahan kesedihannya ketika sebuah pelukan terasa hangat di tubuhnya.
Arfin segera menyambar selimut untuk menutupi tubuh Kanaya yang dia peluk.
"Jangan seperti ini Alifa, aku tidak akan melakukannya." Arfin melilitkan selimut tebal untuk Kanaya, dan dirinya kembali memeluk tubuh Kanaya yang sudah berbalut selimut dengan erat.
"jangan takut, aku tidak akan melakukannya." Tanpa sadar Arfin mencium pucuk kepala Kanaya berulang kali, membuat Kanaya semakin terisak.
"Ano aku tidak mau melakukannya, dan aku tidak akan membuat mu terbebani dengan kehadiran dia. Aku tahu konsekuensi yang aku dapatkan, karena memang akulah yang menjual diriku untuk sebuah uang, dan itu sudah cukup bagiku untuk tidak meminta pertanggung jawaban darimu. Karena semua ini bukan salahmu."