
Herman hanya tersenyum sekilas, penampilan pria itu masih sama, seperti preman.
Arfin sendiri menatap tajam pria yang sudah membuat istrinya sengsara, membuat Kanaya pergi darinya sampai kehamilannya yang besar.
"Apa kabar menantu." Sapa Herman degan santai dan ramah.
Arfin mengepalkan tangannya, rasanya ingin meninju pria didepanya dengan sekuat tenaga.
"Mau apa kau!" Tanya Arfin tidak ada sopan santun ataupun sikap ramah.
"Apakah begini caramu menyambut dan berbicara pada ayah mertuamu." Herman tersenyum mengejek.
Cih
Arfin berdecih, dulu pria ini begitu sopan dan tunduk padanya, tapi lihatlah sekarang pria itu berani menatapnya remeh.
"Untuk apa menghormati orang yang tidak punya hati seperti mu." Jawab Arfin dengan dingin.
Herman hanya mecebikkan bibirnya. "Ya ku benar, gara-gara anak sialan itu aku harus menjadi buronan. Tapi sekarang sepertinya dia anak pembawa berkah karena menikah dengan pria kaya sepertimu, jadi sekarang berikan saya uang." Ucap Herman tanpa rasa malu.
Arfin tersenyum sinis, dengan tawa yang terdengar mencemooh.
"Apa kau tidak punya malu datang hanya untuk meminta uang? seharusnya kau datang untuk membayar hutang."
Herman menaikkan alisnya sebelah, pria yang terkenal sangar dan pemegang kendali wilayah preman itu tertawa mengejek.
"Ohh ayolah, jangan pura-pura bodoh menantu. Kau mendapatkan putriku bahkan dia sudah hamil anakmu, jangan sampai kau menyesal karena telah menzolimi mertuamu ini dan kehilangan kedua orang yang kau kasihi." Ucap Herman dengan santai, tapi tersirat akan makna ucapanya.
"Kau! jika kau berani menyentuhnya maka kau akan tahu akibatnya!!"
.
.
.
Di rumah yang letaknya tidak juah dari resort, Kanaya sedang asik membuat sesuatu untuk suaminya, kata Mama mertuanya nanti malam mereka akan datang, dan Kanaya menyiapkan sesuatu untuk suaminya dan kedua mertuanya.
"Apa aku suruh Sasi datang ya, pasti dia senang
Sudah lama kita ngak ketemu." Gumam Kanaya.
Tangannya pun megambil ponsel yang ada di meja sebelahnya, Kanaya mencoba menghubungi nomor Sasi yang dia ingat, siapa tahu masih bisa dihubungi.
"Kenapa nggak di angkat."
Kanaya pun mengirim pesan, agar Sasi mau datang setelah membaca pesannya.
Sedangkan di tempat yang berbeda, tepatnya disalah satu kamar VIP di bar milik Alex. Seorang wanita sedang bergerak naik turun dengan napas memburu, tubuhnya sudah basah oleh keringat tapi pria dibawahnya begitu sayang jika dilewatkan begitu saja.
"Ahh yess baby." Alex mengigit bibir bawahnya dengan kedua tangan membantu pinggang Sasi untuk naik turun dengan cepat.
"Alexxx ah aku mau pi-pis." Sasi merasakan miliknya yang akan kembali meledak jika Alex semakin mengeratkan pinggangnya dengan cepat.
"Keluarkan baby, aku suka melihatmu klim*maks." Dengan semakin cepat dan tidak perduli dengan jeritan dan desahann Sasi yang justru memancing gairah Alex semakin tinggi.
Hingga tubuh Sasi mengejang dan terkelepar saat gelombang kenikmatan meledak dengan kuat dan hebat.
"Uhhh alexxxs!"
Sasi terkapar di atas tubuh Alex dengan napas yang memburu, sedangkan Alex tersenyum puas melihat wanita di atasnya meledak hebat.
"Belum selesai Baby, rudal ku belum tidur."
Dengan gerakan cepat Alex membalikkan tubuh Sasi menjadi menungging, keduanya kembali dalam penyatuan yang tidak akan pernah puas satu sama lain.
"Ughhh Alex!" Desahh Sasi saat rudak yang besarannya diatas rata-rata itu kembali melesak dengan kasar.
"Kau membuatku candu Sasi, kau menjadi milikku sejak kau memberikan keperawananmu padaku ahh."
Ya, Sasi memberikan keperawanannya pada Alex, dimana saat dirinya untuk pertama kali tertarik dengan pria bertato dan wajah blasteran itu, hanya saja sejak pertama Alex selalu memberikannya uang setelah setiap kali bercinta membuat Sasi sedikit terluka, tapi tidak mengapa karena memang dirinya hanya melakukannya itu dengan Alex tidak ada pria lain yang menyentuhnya kecuali Alex. Dan sampai sekarang hanya Sasi yang menyimpan perasaanya sendiri.