MBA (Married By Accident)

MBA (Married By Accident)
Dia?



Disepanjang jalan Arfin tampak memikirkan ucapan Ibunya, dirinya juga merasakan keanehan dalam dirinya sejak beberapa hari yang lalu. Tapi Arfin pikir itu hanya efek karena dirinya kelelahan.


"Tidak mungkinkan jika wanita itu hamil." Katanya sambil membelokkan mobilnya ke resort.


"Tapi jika benar dia hamil, aku harus mencarinya ke mana."


Sedangkan hari ini pekerjaan Kanaya cukup banyak, karena kafe begitu ramai. Kanaya harus kerja ekstra untuk bisa bertahan dalam pekerjaan ini.


"Uhhh.." Tiba-tiba, perutnya terasa kram setelah dirinya mengantarkan pesanan.


Kanaya sejak pagi belum istirahat karena memang pengunjung sangat ramai dan mereka akan bergantian shif untuk istrirahat.


"Kay, kamu kenapa." Andre rekan kerjanya melihat Kanaya yang seperti kesakitan.


"Tidak, hanya saja perut ku sedikit sakit." Tutur Kanaya.


"Kamu istrirahat saja dulu, kebetulan aku sudah selesai." Kata Andre yang tidak tega melihat Kanaya menahan sakit.


"Tapikan kamu masih istirahat, masih nada 30menit." Kanaya melihat jam di dinding.


"Tidak apa, sudah sana kamu istirahat dan makan. Bila perlu minum obat." Andre menepuk pundak Kanaya sebelum berlalu pergi.


Kanaya hanya tersenyum, dirinya berjalan menuju tempat Istirahat untuk para karyawan, disana menyedikan tempat makan dan juga untuk melepas penat.


Kanaya langsung mengisi perutnya dengan makanan, tadi pagi dirinya hanya minum teh dan juga malam roti. Rasanya kepergian Fikri masih membuatnya berkabung.


"Yang kuat ya nak, hanya kamu yang ibu punya." Kanaya makan sambil mengusap perutnya, setelah pulang nanti dirinya ingin memeriksakan kandungannya ke bidan terdekat.


Rasanya begitu sesak di dadanya ketika dirinya harus kembali bekerja keras untuk biaya buah hatinya yang akan lahir ke dunia.


"Ibu akan bekerja untuk membuat mu bahagia." lagi-lagi tangannya mengelus perutnya yang masih rata.


Di resort Arfin baru saja mendapat laporan jika penginapan di atas bukit mengalami kerusakan setelah hujan lebat tadi malam yang mengguyur. Arfin harus datang untuk melihat kondisi beberapa penginapan yang hampir selesai di bangun. Tapi hujan deras mengakibatkan tanah longsor dan menimbun bangunan yang belum jadi itu.


Arif melihat para pekerja sedang membersihkan tanah yang menimbun bangunan, alat berat juga di gunakan untuk menyingkir pohon yang tumbang.


"Kita harus membuat cor-coran di bagian lereng tuan, agar tidak menimbulkan kerusakan parah saat longsor seperti ini." Kata Gandi yang menangani pembangunan resort.


"Baik tuan." Gandi melakukan apa yang atasanya inginkan.


"O ya, apa penjaga keamanan tidak bekerja. Saya lihat tidak ada." Tanya Arfin.


"Beliau ijin, karena beredar kabar anak nya meninggal dua hari yang lalu, dan nanti sore beliau sudah masuk kembali." Tutur Gandi memberi tahu.


Arfin hanya mengaguk saja.


"Jika dia datang suruh menemui saya."


"Baik tuan."


Arfin meninggalkan lokasi untuk kembali ke resort hotel penginapan, dirinya merasa lapar setelah berjalan sekitar dua ratus meter dari lokasi.


"Duh kenapa aku ingin makan bakso." Arfin bergumam. "Tapi disini tidak ada menu seperti itu." Katanya lagi.


Arfin mengambil kunci mobilnya untuk mencari makanan yang dia inginkan, cuaca yang mendung dengan membuat dirinya menginginkan makanan berkuah panas, apalagi menjelang petang seperti ini.


Setelah melihat tempat penjual yang cukup ramai, Arfin memutuskan untuk berhenti di sana. Tempatnya tidak terlalu besar, hanya ukuran ruko pada umumnya. Tapi pengunjung yang ramai membuat Arfin ingin mencobanya.


"Mbak saya pesan satu ya dibungkus, tidak usah pakai mie." Kanaya yang baru saja datang memesan makanan yang sepertinya menggugah selera itu.


"Iya mbak, tunggu sebentar ya."


Kanaya tersenyum dan berbalik, tapi saat berbalik tidak sengaja dirinya menabrak seseorang.


Bugh


"Ah, maaf saya tidak sengaja." Kanaya masih menunduk, belum melihat siapa yang dia tabrak.


"It's Oke, saya juga salah berdiri terlalu dekat di belakang anda." Kata orang itu.


Kanaya mendongak, dan alangkah terkejutnya ketika dirinya melihat siapa pria yang berdiri didepannya.


"Dia..?"