MBA (Married By Accident)

MBA (Married By Accident)
Pamit



Keesokan harinya terdengar kabar jika seorang pria berusia 65 tahun tertangkap karena sedang bermain judi dan juga mengkonsumsi alkohol, belum lagi ternyata pria tersebut juga tersandung kasus obat-obatan dan membawa kabur uang orang. Herman yang malam itu tertangkap di sebuah markas perjudian sedang mabuk dan main wanita. Kabar mencuat setelah beberapa korban juga melapor kerugian yang mereka alami akibat ulah Herman.


Ando yang memang dibalik kasus besan nya itu hanya tersenyum sinis, salah siapa berani mengusik kehidupan anak-anaknya. Maka akan berhadapan dengan dirinya.


Sedangkan Arfin yang mendapat kabar hanya tersenyum saja, dirinya hanya tinggal memberi tahu Kanaya nanti pelan-pelan.


Sekarang dirinya bisa fokus dengan istrinya dan calon anaknya yang akan lahir beberapa minggu kedepan, karena sekarang kandungan Kanaya sudah masuk bulan kesembilan, jadi Arfin harus menjadi suami siaga untuk istrinya.


Arfin memilih menyelesaikan pekerjanya dan segera kembali untuk memberi tahu sang istri.


Hingga dua jam lamanya dirinya berkutat dengan pekerjaan dan selesai waktunya pulang.


Arfin sudah tersenyum melihat buket bunga di tangannya, dirinya tadi keluar sebentar hanya untuk membeli buket bunga untuk sang Istri.


"Sayang! aku pulang!" Arfin membuka pintu dan masuk kedalam, seperti biasa sepi. Tapi Arfin bisa mencium aroma masakan dari sang Istri.


Kakinya melangkah ke dapur, Arfin melihat Kanaya yang sedang berkutat dengan kompor.


"Sudah pulang Mas." Kanaya menoleh sebentar dan kembali pada masakannya.


Dari belakang Arfin tampak tersenyum melihat penampilan Kanaya, daster tanpa lengan dengan perut membesar, tubuh bagian tertentu Kanaya terlihat begitu seksih dan menggoda, apalagi melihat rambut Kanaya yang dicepol ke atas tinggi.


"Harum sekali masak apa?" Arfin merangkul pinggang Kanaya dari samping, melihat apa yang dibuat Kanaya.


"Sambal udang kesukaan kamu." Jawab Kanaya sambil tersenyum. "Tumben sudah pulang." Kanaya mematikan api kompor dan menatap ke arah Arfin.


Arfin tersenyum dan mengulurkan tangannya yang sejak tadi bersembunyi di belakang tubuhnya.


"Untuk istriku." Ucapnya sambil mengulurkan buket bunga.


Kanaya Tentu saja tersenyum senang, wanita itu mencium wangi bunga mawar yang menguar.


"Hm, terima kasih." Kanaya mencium pipi Arfin.


"Aku ingin bicara sesuatu, bisa kita bicara sebentar." Ucap Arfin yang meminta Kanaya mengikutinya.


Kanaya sedikit berpikir, apa yang akan Arfin bicarakan.


"Ada apa Mas." Tanya Kanaya yang merasa was-was.


"Duduk dulu." Arfin menyuruh Kanaya untuk duduk di sampingnya, wanita itu menurut.


"Sebelumnya aku minta maaf jika aku tidak cerita, tapi jujur aku tidak ingin membuat mu kepikiran." Arfin menyentuh tangan Kanaya, sedangkan Kanaya dilanda kebingungan.


"Mas mau bicara apa, jagan buat aku penasaran." Kanaya menatap wajah Arfin cemas.


"Aku hanya bicara dengan papa jika bapak datang untuk meminta uang padaku, alasannya karena aku sudah mendapatkan kamu."


Kanaya menutup mulutnya tidak percaya, dirinya tidak menangis melihat bagaimana bapaknya di gelandang polisi dan beberapa menyebutkan tindak pidana yang Herman lakukan.


"Kamu memberinya Mas?" Tanya Kanaya dengan tatapan sendu.


Arfin mengangguk. "Karena aku tidak ingin terjadi sesuatu pada kalian." Arfin mengusap perut Kanaya.


Kanaya menghela napas kasar. "Itu hukuman untuk pria tidak punya hati dan serakah seperti dia, jika aku bisa memilih, aku tidak ingin terlahir dan memiliki bapak seperti dia."


Arfin memeluk tubuh Kanaya, menenangkan agar emosinya tidak naik. Mengingat Kanaya sedang hamil tua.


.


.


Di tempat yang berbeda, Alex baru saja turun dari lantai dua kamar pribadinya, jam menunjukan pukul sembilan malam keadaan klub begitu ramai, dua hari dirinya tidak ada di klub lantaran ada bisnis di luar kota.


"Malam bos." Seorang betander memberikan minuman untuk atasanya.


"Bagaimana aman terkendali?" Tanya Alex pada betander itu.


"Aman seperti yang bos perintahkan."


Alex mengangguk senang, matanya mengedarkan matanya menatap kesekeliling yang tampak ramai pengunjung, karena ini malam minggu.


Selain memantau keadaan klub mata Alex juga mencari seseorang yang sudah dua hari tidak dia lihat.


"Cari siapa bos?" tanya betander yang sepertinya mengerti dengan tatapan Alex.


Alex menatap betander itu dan tersenyum. "Sasi, kemana dia tidak terlihat, biasanya suka nongkrong sama kamu." Jawab Alex.


Betander itu hanya tersenyum, meskipun mereka bermain dengan rapi, tapi bagi pengamat jeli seperti betander itu mengerti apa yang mereka lakukan.


"Oh, Sasi cantik dan bohai. Udah pamit dua hari lalu saat bos pergi."


Alex menautkan kedua alisnya. "Kau bilang apa?" Mungkin saja telinganya salah dengar karena musik terlalu keras.


"Sasi sudah pamit, katanya mau pulang kampung."


Tangan Alex mencekram gelas dengan kuat, dadanya bergemuruh mendengar jika Sasi sudah berhenti selama dua hari.


"Siall!!"