MBA (Married By Accident)

MBA (Married By Accident)
Rumah sakit



Baru sampai, Arfin langsung menerima kabar jika Kanaya dilarikan kerumah sakit karena sudah akan melahirkan. Arfin yang panik akhirnya memutuskan untuk kembali.


"Fin Lo panik, biar gue yang nyetir." Ucap Alex yang saat itu memang bersama Arfin.


Alex membantu Arfin untuk bertemu klien yang ingin melakukan kerja sama dalam usaha yang keduanya mulai rintis. Karena selain mengurus resort Arfin diam-diam ingin mendirikan usahanya sendiri, mengingat dirinya sudah memiliki perusahaan kecil yang ia peroleh saat masih berkerja dengan Adam Malik Adhitama.


"Istri gue mau melahirkan Lex." Ucapnya dengan wajah cemas.


"Gue yang bawa mobil." Alex menyambar kunci mobil Arfin dan keduanya segera masuk kedalam mobil.


Di jalan Arfin tak lupa memberikan kabar pada kedua orang tuanya jika Kanaya akan melahirkan. Mendengar jika Arfin di kota yang sama membuat Olive panik, karena menantunya pasti sendiri melewati masa persalinan.


"Pah sudah Pah." Olive mendorong tubuh suaminya yang sedang melakukan olahraga siang hari.


"Sebentar lagi Mah." Ando tak akan melepaskan apa yang sebentar lagi akan di gapainya, tadi Arfin sudah mengganggunya lewat telepon, dan sekarang tinggal sedikit lagi istrinya sudah merengek.


"Ahh papah!!"


Meskipun usia mereka tak lagi muda, tapi Olive masih dibuat tak berdaya oleh Ando, pria itu selalu membuatnya Olive terkapar setelah penyatuan.


"Umm, lega sayang." Gumam Ando yang merasa puas.


.


.


"Lex lebih cepat!" Arfin tidak sabar, mobil yang dia naiki seperti berjalan lambat padahal Alex sudah menggunakan kecepatan maksimal karena sedang di jalan bebas hambatan.


"Tenang bro, pasti asal selamat." Hibur Alex yang fokus pada jalanan depan.


Beberapa kali Arfin mengirim pesan pada Susi yang memberikan kabar keadaan Kanaya dan sekarang Kanaya masih bukaan tujuh.


"Tunggu aku Nay." Gumamnya dalam hati.


Dirumah sakit Kanaya di temani Sasi dan juga Susi, kedua wanita itu berdiri disamping Kanaya yang sejak tadi merintih merasakan sakit.


"Mau minum Nay?" Tawar Sasi sambil mengusap peluh di kening Kanaya.


"Sakit Sas." Rintih Kanaya sambil mengigit bibir bawahnya.


"Sabar ya Nay, kamu pasti kuat." Sasi menatap Kanaya sendu.


Pria itu langsung keluar tanpa peduli jika mobil yang di tumpangi belum berhenti sepenuhnya, karena panik dan cemas Arfin segera berlari menuju tempat Kanaya.


"Ck, apa dia sepanik itu!" Alex geleng kepala melihat tingkah Arfin yang sangat kentara kepanikannya.


Mencari tahu lewat resepsionis, Alex menyusul Arfin dengan berjalan santai.


"Tuan!" Susi langsung berdiri saat Arfin sampai dengan napas ngos-ngosan setelah berlari.


"Di mana Kanaya?" tanya Arfin dengan suara tersengal.


"Di dalam sama mbak Sasi."


Arfin langsung masuk begitu mendengar suara Kanaya yang menjerit kesakitan.


"Sayang." Arfin langsung meraih tangan Kanaya dan menggenggamnya. Diciumnya kening Kanaya yang sudah basah oleh keringat.


"Mas sakitt." Lirih Kanaya dengan air mata yang menetes.


"Kamu kuat sayang, demi bayi kita." Ucap Arfin dengan senyum.


"Pembukaan sudah lengkap, pasien akan segera melahirkan." Ucap dokter yang baru saja memeriksa keadaan Kanaya.


Sasi memilih keluar karena sudah ada Arfin yang menemani Kanaya.


"Mas jangan tinggalin aku." Kanaya menatap Arfin dengan tatapan memohon.


"Ngak sayang, aku akan menemani mu. Kamu pasti bisa." Kecupnya seluruh wajah sang istri, Arfin terus memberikan semangat untuk Kanaya yang sedang berjuang nyawa demi melahirkan buah hati mereka.


Sasi tertegun saat melihat Alex yang ternyata duduk di kursi tunggu.


Sedangkan Alex langsung berdiri dan mendekati Sasi yang masih diam mematung.


"Sasi!"


Grep


Tubuh Sasi menegang saat tiba-tiba Alex memeluknya dengan erat.


"Jagan pergi lagi." Lirih alexa dengan suara beratnya.