
Kanaya menggandeng lengan Sasi dari dalam rumah, meninggalkan bayinya bersama Susi di dalam karena sedang tidur.
Dua wanita yang bersahabat dan saling menganggap saudara, Kanaya mengantarkan Sasi untuk duduk di kursi samping mempelai pria.
"Cantik pak." Ucap pria yang memakai jas rapi dengan peci di kepalanya, pria itu menatap Sasi dengan jari jempol di mulutnya.
Sasi hanya melirik sekilas tatapannya datar lurus kedepan.
"Iya bapak tau." Balas si bapak calon pengantin pria.
Tanpa mereka sadari ada seseorang yang menahan gemuruh di dadanya melihat apa yang terjadi di depan sana. Alex sampai meremat berkas yang ada di tangannya dengan perasaan campur aduk. Marah dan kecewa melihat wanita yang masih memenuhi kepalanya kini akan menikah.
"Eh jeng, dengar-dengar pengantin wanita teh sudah hamil dua bulan."
"Iya jeng, gosipnya begitu. Makanya dia mau nikah sama anak juragan sapi yang sedikit idiot itu, agar anaknya tidak menjadi anak haram."
Bisik-bisik para ibu-ibu di samping Alex membuat pria itu menajamkan pendengarannya.
"Iya, kalau ngak hamil mana mau wanita cantik begitu nikah sama pria idiot."
"Maaf, maksud anda apa? mempelai wanita sedang hamil?" Tanya Alex dengan jantung berdebar kencang, jika Sasi hamil sekitar dua bulan itu berarti-
"Eh, Mas nya siapa ya? kok kayaknya asing." Si ibu yang tukang gosip mendadak takut jika yang bertanya adalah bawahan juragan sapi.
"Saya kerabat dari mempelai wanita, jadi apa benar mempelai wanita sedang hamil dan bukan hamil dengan calon suaminya?" Tanya Alex memperjelas.
"Mempelai wanita baru pindah satu bulan mas di komplek ini, dan kebetulan anak juragan sapi menyukai wanita itu." Jelas si ibu.
Alex semakin merasakan dadanya sesak, jadi selama ini Sasi sedang mengandung anaknya, berani sekali dia menikah dengan pria idiot untuk menjadi suaminya, mau jadi apa anak nya nanti.
"Bagaimana saksi? sah?"
"Sah?"
"Tidak sah!!"
Alex berteriak lantang membuat semua orang menatap ke arahnya.
"Alex." Gumam Arfin yang melihat sahabatnya berdiri dengan tatapan menahan amarah.
Sasi yang mengenali suara Alex pun ikut berdiri dan menatap nanar Alex yang menatap nya dengan tajam, seperti ada kemarahan di kedua mata pria itu.
"Siapa kau berani mengacau di acara anak saya hah!!" Bentak si juragan sapi yang tidak terima acara pernikahan putranya berantakan.
Alex berjalan maju, tapi langkahnya terhenti saat dua orang berwajah sangar menahannya agar tidak mendekat.
"Lebih baik anda pergi, sebelum kami bertindak kasar." Ucap salah satu di antara dua orang itu.
Sasi menggenggam tangan Kanaya erat tiba-tiba kepalanya terasa pusing.
"Saya tidak ada urusan dengan kalian, lebih baik kalian yang pergi dari sini dan pernikahan ini batal!!"
"Lex." Arfin mendekati Alex dan meminta pria itu untuk tenang, semua orang sudah berbisik-bisik membicarakannya.
"Gue ngak rela anak gue punya bapak idiot seperti dia Fin, gue gak terima!!"
Bruk
"Sasi!!"
"Bapakkk!! Neng Sasi Kenapa pak!!" Mempelai pria hanya bisa menangis sambil menghentakkan kakinya seperti anak kecil.
Sedangkan Alex langsung berlari untuk mendekati Sasi.
Arfin menahan dua orang suruhan juragan sapi agar tidak ikut maju, dengan sengaja Arfin memberikan uang agar mereka pergi dari tempat itu.
"Ck, ini sih bisa libur kerja sebulan kita bro." Ucap dua orang bodyguard juragan sapi yang senang. Mereka akhirnya pergi setelah mendapat uang lumayan banyak, Arfin bernapas lega.
"Angkat kedalam Lex." Ucap Kanaya yang panik sekaligus khawatir.
Arfin memilih menghubungi dokter ataupun bidan terdekat dengan bantuan warga yang mau membantunya.
Sedangkan juragan sapi kini malah stres mengurusi anaknya yang tiba-tiba mengamuk sambil menangis histeris.
Alex membaringkan tubuh Sasi di atas rajang, pria itu juga kelihatan panik melihat wajah Sasi yang pucat.
"Sasi bangun Sasi." Alex menepuk pipi Sasi pelan, berharap wanita itu akan bangun.
"Kasih minyak ini." Kanaya menyodorkan minyak yang dia ambil dalam tasnya, memiliki bayi Kanaya sedia minyak dan perlengkapan bayi lainya.
Alex menempelkan jarinya di depan hidung Sasi yang sudah dia kasih minyak, berharap wanita itu akan sadar.
"Sasi bangun, kamu harus jelaskan semua padaku." Ucap Alex di sela-sela kepanikannya yang melihat Sasi belum sadar.
Tak lama dokter setempat datang, Arfin pun meminta Alex untuk keluar lebih dulu.
"Sabar bro, ibu hamil mungkin syok jadi pingsan." Ucap Arfin sambil menepuk pundak Alex.
Kedua pria itu memilih keluar dari rumah kontrakan Sasi. Dan di luar ternyata masih ada drama si bayi besar sedang mengamuk.
"Ini bagiamana? jadi di lanjutkan tidak nikah nya, kalau tidak saya mau pulang." Ucap pak penghulu yang sepertinya sudah pusing melihat kelakuan anak juragan sapi.
"Bantu saya memenangkan anak saya dulu, baru bisa menikah lagi." Ucap juragan sapi yang sudah kuwalahan dengan putranya.
Arfin dan Alex saling tatap, tiba-tiba keduanya tersenyum menyeringai.
"Sepertinya nasib baik buat Lo." Ucap Arfin menepuk pundak Alex.
"Saya terima nikah dan kawinya Sasi Sarawati binti almarhum Fahri dengan maskawin satu buah kartu black card di bayar tunai!"
"Bagaimana saksi? sah?"
"Sahhh!!"
Arfin dan Alex tertawa tanpa suara, saat kata sah menggema di ruang tamu Sasi. Alex tertawa bahagia dan haru mendapati dirinyalah yang menikahi Sasi.
"Selamat bro, Lo pengantin gokil yang memberikan mas kawin Balck card." Ucap Arfin diiringi tawa.
Alex ikut tersenyum, dirinya tidak membawa barang berharga apapun untuk menjadi maskawin, dan hanya menemukan black card di dalam dompetnya.
"Gue merasa tiba-tiba jatuh miskin Fin." Ucap Alex dengan nada sendu.
Arfin malah tertawa terbahak melihat wajah nelangsa Alex.
Kedua pria itu hanya menghabiskan waktu untuk tertawa demi hal-hal yang tidak penting.