MBA (Married By Accident)

MBA (Married By Accident)
Ayoo kita menikah



Kini keduanya sedang duduk didalam mobil Arfin, sejak tadi Kanaya maupun Arfin tidak ada yang membuka suara.


Saat Arfin datang, ojek yang dipesan Kanaya juga datang. Dan saat Kanaya akan pergi Arfin memilih untuk memberikan uang kepada ojek itu dan dirinya yang mengantar Kanaya.


Walupun sempat mendapat penolakan, tapi yang namanya Arfin tidak akan menyerah.


Kini keduanya dalam perjalanan menuju kontrakan Kanaya, sesaat kemudian mobil Arfin sampai di kediaman Kanaya.


Arfin keluar lebih dulu, sebelum Kanaya turun pria itu sudah membukukan pintu untuk Kanaya membuat wanita itu tertegun.


"Ayoo.." Ucap Arfin saat Kanaya hanya diam saja.


Kanaya turun dengan hati-hati, dan Arfin sejak tadi tidak mengalihkan tatapannya dari perut Kanaya yang menonjol.


Dadanya berdebar, ada perasaan membuncah yang dia rasa, dan Arfin hanya merasakan rasa haru dan bahagia.


Kanaya jalan lebih dulu untuk masuk kedalam rumah, meksipun tidak disuruh masuk, tapi yang namanya Arfin turunan sendal jepit tetap nyelonong boy.


"Kanaya Alifa!" Panggil Arfin saat Kanaya hendak masuk kedalam meninggalkannya.


Kanaya membelakangi Arfin dan memejam matanya, sungguh dirinya belum siap bertemu dengan Arfin yang notabennya ayah biologis dari bayi yang dia kandung.


"Duduklah, kita perlu bicara." Ucap Arfin dengan nada perintah.


Kanaya yang tidak bisa lagi mengelak akhirnya memilih untuk duduk.


Arfin menghela napas sebelum bicara. Dirinya belum pernah berada di posisi seperti ini. Apalagi pengalaman pertamanya menjadikan dirinya seorang ayah.


"Bagaimana keadaan mu?" Kata Arfin sambil menatap wajah Kanaya yang menunduk.


"Baik." Jawabnya singkat.


Arfin hanya mengangguk. "Apa aku melewatkan sesuatu di malam itu?" tanyanya lagi tanpa mengalihkan tatapannya pada Kanaya.


Kanaya mendongak, dan sesaat tatapan keduanya bertemu. Kanaya buru-buru mengalihkan pandangannya.


"Maksud kamu apa?" Ucap Kanaya menatap Arfin sekilas.


"Tentang bayi yang kamu kandung, apa aku tidak berhak tahu?" Ucap Arfin dengan nada tenang tapi terdengar tegas.


"Aku pikir kita tidak ada hubungan apapun, dan aku sudah mendapatkan apa yang seharusnya kudapat, dan masalah kehamilanku itu adalah kesalahanku yang tidak menggunakan alat kontrasepsi setelah berhubungan denganmu." Kanaya menjawab dengan santai, meskipun rasanya begitu sesak, sebisa mungkin dirinya menahan gejolak dimatanya yang kian panas.


"Dan tanpa benih premium ku, kamu tidak akan hamil. Jadi aku tetaplah pemeran utama yang tidak dapat kamu hilangkan." Kesal Arfin dengan nada geram.


Kanaya meremat kedua tangannya gusar, dirinya sudah tidak ingin berhubungan dengan masa lalunya, apalagi ini semua sudah diluar perjanjian dulu.


Arfin menghela napas, dirinya mencoba untuk tidak membuat Kanaya tersudut, apalagi wanita hamil tidak boleh stress yang akan berakibat pada kandungannya.


"Mana ponselmu?" tanya Arfin pada Kanaya.


Kanaya menoleh, "Untuk apa?" Katanya dengan bingung.


"Berikan saja, sebelum aku minta dengan cara lain." katanya dengan nada mengancam.


Kanaya yang malas berdebat memberikan apa yang Arfin minta.


Arfin mengambil ponsel yang Kanaya berikan, pria itu mengotak-atik sebentar.


"Jangan lagi-lagi kau melarikan diri." Ucapnya setelah memberikan ponsel Kanaya kembali.


Kanaya memberenggut dengan memanyunkan bibir.


"Aku kan di usir, bukan melarikan diri." Katanya dengan sedikit kesal.


Mendengar itu membuat Arfin menelan ludah kasar, dirinya lupa jika Kanaya pergi karena diusir dari tempat tinggalnya yang lama.


"Ya- ya pokonya kemanapun kamu pergi harus kasih tahu aku." Kata Arfin.


Kanaya melirik Arfin sinis, entah kenapa tiba-tiba dirinya kesal pada pria didepannya ini. "Memangnya kamu siapa? kenapa juga aku harus bilang sama kamu." Kanaya bicara dengan nada ketus.


Arfin mengangkat sebelah alisnya. "Jangan sok lupa, jika kamu membawa sebagian diriku didalam perutmu itu."


Kanaya mengatupkan bibirnya rapat-rapat, dirinya semakin kesal mendengar ucapan Arfin.


"Biar ngak mikir mau kabur kemana, lebih baik ayo kita menikah."


Kanaya membelalakkan kedua matanya.


.


TINGGALKAN JEJAK KALIAN 😘😘😘