MBA (Married By Accident)

MBA (Married By Accident)
Sah



Semenjak tahu jenis kelamin bayinya, Arfin tak henti-hentinya mengulas senyum. Pria itu terus terseyum karena rasa bahagia yang dia rasakan.


Kanaya yang melihat saja sampai geleng kepala, ini bukan Arfin yang dia tahu.


"Kenapa ke sini?" Tanya Kanaya melihat Mall terbesar di kota.


"Ada sesuatu yang harus aku beli, dan itu atas persetujuan darimu." Arfin menggandeng tangan Kanaya untuk masuk kesebuah toko perhiasan terkenal.


Kanaya hanya diam ketika Arfin membawanya masuk keruang VIP toko perhiasan itu.


"Perlihatkan perhiasan terbaik kalian." Ucap Arfin saat pelayan toko itu menyambutnya.


Mendengar itu para pelayan begitu antusias untuk menunjukan perhiasan terbaik yang mereka jual, mulai dari kalung, cincin, gelang dan juga anting.


"Ini semua perhiasan terbaik kami tuan, hanya di produksi masing-masing 5 pasang." Ucap pelayan itu menunjukan ada 4 macam perhiasan.


"Kamu pilih apa yang kamu sukai." Ucap Arfin pada Kanaya, membuat wanita itu tampak bingung dengan ucapan Arfin.


"Untuk apa?" Tanya Kanaya yang enggan untuk memilih perhiasan mahal itu.


"Anggap saja sebagai mas kawin, nanti malam kita akan menikah."


"Apa?" Kanaya begitu terkejut mendengar ucapan Arfin. "Kenapa mendadak dan buru-buru." Ucap Kanaya yang merasa keberatan.


"Jika tidak cepat, maka kamu akan mengulur waktu sampai anak kita lahir, dan aku tidak akan membiarkan itu terjadi, setidaknya kita menikah secara agama dulu." Ucap Arfin dengan nada yang tidak ingin kembali di bantah.


Kanaya menelan ludah, tapi tidak bisa berbuat apa-apa lagi.


"Silahkan di pilih nona." Ucap pelayan yang melihat Kanaya sepertinya bingung.


Kanaya menatap cincin sederhana dengan mahkota berlian kecil tapi sangat elegan, dan matanya menatap benda kecil itu dengan kagum.


"Berikan ini." Ucap Arfin menujuk cincin yang Kanaya inginkan.


Wanita itu menatap Arfin sekilas, dan pria itu hanya tersenyum samar.


"Cantik." Gumam Kanaya, saat cincin berlian itu sudah terpasang pas di jari manisnya. Begitu cantik dan indah.


"Bungkus yang ini, dan ini." Ucap Arfin pada pelayan itu.


Dengan senang hati pelayan itu membungkus pesanan pelanggan VIP itu.


Setelah selesai, Arfin kembali mengendarai mobilnya, Kanaya hanya duduk diam dengan segala pikiranya. Dia akan menikah dan dirinya tidak tahu di mana bapaknya berada.


"Apa yang kamu pikirkan?" tanya Arfin ketika melihat Kanaya hanya melamun.


"Em, tidak." Jawabnya berbohong.


Arfin menghela napas. "Belajarlah untuk saling terbuka, aku akan senang jika hal sekecil apapun yang kamu pikirkan aku tahu." Ucapnya dengan santai.


Kanaya menoleh sejenak, dirinya membuang napas perlahan. tidak ada salahnya kan untuk saling terbuka.


"Aku memikirkan bapak, semenjak kejadian itu. Bapak pergi entah kemana?" Ucap Kanaya dengan nada sendu.


Ada perasaan yang tiba-tiba membuatnya merasa rindu, walau bagaimanapun Herman adalah bapaknya, meksipun beliau begitu tidak adil padanya.


Kanaya adalah anak perempuan, dirinya pasti membutuhkan sosok ayah untuk menjadi walinya.


"Jangan di pikirkan, jika sudah saat nya kembali pasti bapak kamu akan pulang. Dan untuk wali mu nanti malam, papaku sudah mengaturnya." Ucap Arfin sambil menatap Kanaya dengan senyum sekilas.


"Ada yang kamu inginkan? makanan mungkin?" Tanya Arfin mencoba untuk mengalihkan suasana melow pada Kanaya.


Kanaya tampak berpikir, dirinya terkadang menginginkan sesuatu secara tidak mendadak, tapi jika di tanya rasanya Kanaya tidak ingin apa-apa.


"Tidak usah, kita pulang saja. Lagian aku tadi masak."


Arfin hanya mengangguk, menuruti Kanaya.


.


.


Siang cepat berlalu sore, dan kini langit jingga sudah berubah menjadi langit gelap dan berbintang.


Kanaya di temani Susi di dalam kamar sedang menatap pantulan dirinya didepan cermin lemari pakaiannya, Kanaya tampak lebih cantik meskipun hanya modal makeup sendiri.


"Pantesan pak bos, ngebet pengen nikah. Mbak Naya emang cantik." Ucap Susi memuji kecantikan Kanaya.


Kanaya hanya tersenyum, memakai pakaian sopan dan menyanggul rambutnya agar lebih rapi, Kanaya sudah terlihat cantik tanpa disentuh Tim makeup profesional.


"Lebai ah kamu Sus." Ucap Kanaya membalas pujian Susi.


Kanaya malah tertawa. "Aku gugup Sus." Kanaya bicara dengan jujur.


"Pasti mbak, semua wanita pasti gugup jika akan menjelang akad nikah. Tapi rasa gugup mbak akan terbayar jika kata sah sudah berkumandang." Ucap Susi dengan senyum mengembang.


"Duh, kok kamu pinter banget sih Sus."


Susi hanya tertawa menanggapi ucapan Kanaya.


"Nay..!"


Suara seseorang di depan pintu kamar membuat Kanaya dan Susi menoleh.


"Sasi..!" pekik Kanaya yang terkejut sekaligus merasa haru.


"Kanaya." Sasi berjalan mendekati sahabatnya dan langsung memeluknya.


Keduanya berpelukan sangat erat, meluapkan rasa rindu mereka.


"Apa kabar Nay, kamu tega sekali pergi tanpa kabar." Sasi begitu terharu bisa bertemu dengan sahabatnya lagi.


Mata keduanya berkaca-kaca karena bahagia dan rasa haru ketika bertemu.


"Maaf." Hanya itu yang bisa Kanaya Katakan.


"Dan sekarang kamu akan menikah, jika Alex tidak memberi tahu, mungkin aku tidak akan pernah lagi bertemu denganmu." Sasi begitu senang bisa kembali bertemu dengan Kanaya, dirinya selalu menunggu kabar dari sahabatnya yang dia anggap saudara ini, dan sekarang mereka bertemu ketika Kanaya akan menikah.


"Aku bahagia jika kamu juga bahagia Nay."


Diruang tamu, semua sudah berkumpul, bapak penghulu dan juga saksi dan wali dari Kanaya diwakilkan pada penghulu, karena memang Kanaya tidak memiliki saudara dan bapak nya entah ada dimana, masih hidup atau tidak mereka tidak ada yang tahu.


Arfin menjabat tangan pak penghulu, pria itu menarik napas panjang sebelum mengucapkan kalimat sakral yang akan merubah status dan juga hidupnya.


Dan kata 'sah' begitu menggema ketika semua sudah berjalan lancar.


Kanaya yang mendengar dari dalam kamar, menangis haru, keduanya berpelukan dengan air mata yang mengalir.


"Selamat Nay, semoga kamu selalu bahagia." Ucap Sasi dengan memberi kecupan di kening Kanaya.


Kanaya sendiri tidak percaya jika dirinya akan menikah siri dengan ayah dari anak yang di kandung. Setidaknya anaknya nanti memiliki status yang jelas ketika lahir.


Arfin mengetuk pintu kamar Kanaya yang terbuka sedikit, membuat keduanya saling pandang.


"Nay, boleh aku masuk?" Tanya Arfin.


Sasi tersenyum jahil, sedangkan Kanaya merasa malu.


"Aku tinggal, sepertinya suami kamu sudah tidak sabar." Ucap Sasi dengan senyum jahil.


Sebelum keluar, Sasi mengusap perut Kanaya lebih dulu. Wanita itu begitu bahagia melihat Kanaya dan bayinya begitu sehat.


"Silahkan, tapi jangan anu-anu dulu ya." Ucap Sasi meledek Arfin saat dirinya keluar.


Arfin hanya mendengus kesal melihat wajah menyebalkan Sasi.


"Kenapa tidak keluar?" Tanya Arfin saat sudah menatap Kanaya setelah menutup pintu dan menguncinya.


"Em, tidak apa? aku hanya merasa malu." Ucap Kanaya jujur.


Kondisinya yang memiliki perut besar, membuatnya sedikit malu, apalagi tetangga tahu jika ayah dari bayinya pergi entah kemana.


"Kenapa?" Tanya Arfin sambil mengamati wajah Kanaya yang sudah menjadi istrinya secara agama.


"Entahlah." Ucap Kanaya menuduk.


Arfin berdiri didepan Kanaya, tangan pria itu menyentuh dagu Kanaya agar melihatnya.


"Kamu sedih?" tanya Arfin yang melihat tatapan sendu Kanaya. "Kamu tidak senang menikah denganku." Tambahannya lagi.


Kanaya menggeleng. "Bukan itu, tapi-"


"Ssttt, jangan pikirkan apapun yang membuatmu sedih, aku tidak ingin kehamilan mu terganggu." Arfin menyentuh kedua bahu Kanaya, dan membuat wanita itu berdiri saling berhadapan.


"Sekarang kau Istriku, tanggung jawabku." Arfin menatap lekat wajah cantik Kanaya.


Melihat bibir ranum Kanaya, membuat Arfin tidak dapat menahannya lagi, apalagi keduanya sudah menjadi pasangan halal, membuat Arfin tidak sabar untuk mencicipi bibir manis Kanaya.


"Emph.."